senyum

Senyuman yang Menyejukkan


senyumDahulu, seorang teman dari sebuah penerbitan Islam pernah berkomentar, “Pak Solihin kalo bertemu selalu membungkukkan badan dan tersenyum.” Diceritain gini sebenarnya rada risih juga ya. Karena apa? Karena pujian itu seperti meminum air laut. Makin sering diminum makin haus. Atau dalam istilah budayanya Shahrukh Khan, “Pujian itu seperti minyak wangi. Hanya boleh dihirup, tak boleh diminum” (dialog ini pernah saya dengar dan lihat di salah satu film India).

Seorang teman waktu sekolah dulu sering komentar yang hampir sama dengan teman yang saya ceritakan tadi tentang kebiasaan saya itu,: “Someah amat ente!” (terj. “Ramah amat kamu”). Saya tak hendak memuji diri sendiri dengan memaparkan cerita ini. Saya yakin teman-teman pasti lebih baik lagi dari saya. Ini sekadar berbagi. Karena saya jadi empati sama temen-temen. Saya melakukan ‘kebiasaan’ seperti itu selain sudah diajarkan sejak kecil sama ibu saya, juga saya sering merasa “senang diberi senyuman oleh orang lain”. Jadi, nggak adalah salah dong kalo saya juga ingin menyenangkan orang lain. Minimal dengan senyuman. Iya kan?

Sobat muda muslim, dalam buku komunikasi yang pernah saya baca (The Art of Communication that Works, karya Ponijan Liaw) disebutkan bahwa dalam public speaking ada hal-hal di luar kata-kata (verbal) yang dapat membuat komunikasi berjalan elegan dan menyenangkan. Apa itu? Senyuman, postur terbuka, mencondongkan badan, sentuhan, kontak mata, dan anggukan. Jika diprosentasikan, ternyata komunikasi lewat kata-kata (verbal) hanya 7%, sementara non-verbal (senyuman, postur terbuka, mencondongkan badan, sentuhan, kontak mata, dan anggukan) memetik angka 58%! Sisanya intonasi suara, 35%.

Itu sebabnya, mungkin orang Jepang saking sopan dan menghormati orang, mereka akan membungkukkan badan sampai seperti posisi sedang rukuk dalam sholat. Senyuman dan gerakan tangan yang digerakkan membentuk formasi mempersilakan tamu juga kerap diperagakan penjaga toko atau karyawan di bagian front office.

Inilah salah satu bahasa manusia yang berkomunikasi dengan manusia lainnya. Sehingga tercipta komunikasi yang menyenangkan. Sayangnya, sejak dulu sampe sekarang masih ada saja orang yang nggak ngeh dengan bentuk komunikasi non-verbal. Entah mereka nggak tahu atau memang nggak mau tahu. Sejak SMP sampai sekarang saya hampir selalu menemukan kasus seperti itu.

Ketika sekolah dulu, sebagai anak kos, saya selalu memposisikan diri sebagai tamu yang harus menghormati tuan rumah di daerah itu. Maka setiap kali saya melalui jalanan untuk menuju sekolah, pas ada orang yang duduk atau sekadar bediri di samping jalan, saya selalu menatapnya, senyum, lalu mencondongkan badan, dan bilang, “Permisi!”. Ada yang senang mendapat perlakuan seperti itu, ada juga yang cuek. Entah mungkin dia tidak mendengar. Tapi yang jelas matanya menatap saya juga kok. Sementara mukanya kayak nasi uduk yang udah empat hari: asem dan basi!

Tapi saya anggap biarlah. Toh semua orang punya persepsi sendiri. Lain budaya lain pula karakternya dan perilakunya. Meski sebenarnya sebuah senyuman itu universal kok. Artinya bahasa non-verbal itu pasti disukai semua orang yang menjadi penduduk bumi ini. Tragisnya, suatu hari saya sempat pula menerima perlakuan yang menyesakkan dada. Mungkin saya sensitif. Tapi saya rasa semua orang pasti keki juga diperlakukan seperti yang saya alami. Ketika saya dan istri menyusuri sebuah gang di sebuah kawasan tempat tinggal teman saya, banyak di situ berkumpul ibu-ibu. Entah sedang rapat atau sekadar ngerumpi.

Saya sudah kontak mata dengan salah seorang di antara mereka sekitar jarak lima meter, lalu saya berusaha untuk senyum begitu mendekat dan hendak menyampaikan kata “permisi”. Ajaib! Ia melengoskan mukanya lengkap dengan wajah cemberut. Orang itu memang tak saya kenal. Ketemu pun baru. Entahlah, karena bagi saya sendiri, kepada siapa pun (termasuk yang belum kenal) merasa harus tersenyum, kecuali dalam keadaan yang tak memungkinkan untuk itu (misalnya kalo lewat pake sepeda motor, nggak mungkin dong senyum kepada setiap pengguna jalan lain yang berpapasan?).

Saya berusaha meyakin-yakinkan diri bahwa apa yang saya lakukan adalah bagian dari komunikasi yang insya Allah menyenangkan orang lain sebelum menyimpulkan bahwa orang tersebut tidak mengerti masalah komunikasi non-verbal.

Sobat, sebenarnya senyum saja sudah cukup jika tak mampu dibarengi dengan bahasa tubuh lainnya seperti mencondongkan badan untuk menyenangkan orang lain. Ya, senyum saja sudah cukup. Bahkan Rasulullah saw. menilai bahwa bemanis muka (termasuk senyum di antaranya) itu sebagai kebaikan, dan insya Allah bagian dari ibadah. Sabda Rasulullah saw.; ”Jangan meremehkan perbuatan baik, meskipun sekadar menyambut saudaramu dengan muka yang manis.” (HR Muslim)

Sebagai seorang muslim yang berusaha untuk lebih baik dan terus baik dalam hidup kita, tentu apa yang kita lakukan benar-benar sebagai bagian dari ibadah. Nggak boleh disusupi dengan niat lain. Misalnya, kita jadi rajin senyum dan ramah kepada orang tertentu saja yang kita punya maksud lain kepadanya. Tepatnya, kita jadikan senyum sebagai senjata untuk menjilat. Ah, sayang sekali bukan?

Itu sebabnya, upayakan senyuman kita itu dengan maksud sebagai sarana untuk menyebarkan kebaikan karena Allah Swt. dan RasulNya mengajarkan untuk itu. Bukan karena yang lain. Tapi, apakah kita sudah terbiasa untuk tersenyum? Atau jangan-jangan kita sudah keras hatinya sehingga kebaikan yang paling mudah dan murah ini pun kita abaikan? Jangan-jangan pula, kita tak biasa menerima keramahan dari orang lain. Karena apa? Karena kita sendiri tak biasa ramah kepada mereka. Semoga ini menjadi renungan kita.

Salam,
O. Solihin
Ingin berkomunikasi dengan saya? Silakan via Twitter di @osolihin

*Gambar dari sini

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s