Saling Memaafkan Itu Tanda Perhatian


saling-memaafkan_3584_lIya, kalo nggak mau ngasih maaf dan juga nggak mau minta maaf, itu tandanya udah nggak saling cinta dan sayang lagi. Udah nggak peduli dan perhatian. Itu sebabnya, saling memaafkan dan meminta maaf adalah bagian dari tanda perhatian kita. Bayangin aja kalo kita cuek kan nggak mungkin mau bela-belain nyambungin lagi persaudaraan yang putus. Bisa putus karena di antara kita nggak cocok lalu terjadi konflik. Nah, dengan mengevaluasi diri masing-masing lalu mengakui kesalahan dan kekeliruan yang membuat konflik dalam hubungan kita, lalu saling meminta maaf, maka insya Allah kita udah saling peduli dan perhatian. Tentunya, akan terus merawat hubungan yang ada di antara kita juga nggak ada benci di antara kita.

Sabda Rasulullah saw : “Jangan kamu saling dengki dan iri, dan jangan pula mengungkit keburukan orang lain. Jangan saling benci dan jangan saling bermusuhan, serta jangan saling menawar lebih tinggi atas penawaran yang lain. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim yang lainnya, dengan tidak mendzaliminya, tidak mengecewakannya, tidak membohonginya, dan tidak merendahkannya. Letak takwa ada di sini (Nabi saw menunjuk ke dada beliau, sampai diulang tiga kali). Seorang patut dinilai buruk bila merendahkan sudaranya yang muslim. Seorang muslim haram menumpahkan darah, merampas harta, dan menodai kehormatan muslim lainnya” (HR Muslim)

Sobat, sebagai muslim tentu malu dong kalo kita berseteru dengan saudara kita sesama muslim. Apalagi sampe ogah saling meminta maaf segala. Ugh.. itu sih nggak asyik benget deh. Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal berkasih sayang dan saling cinta-mencintai adalah seperti sebatang tubuh. Apabila salah satu anggotanya mengadu kesakitan, maka seluruh anggota tubuh yang lain turut merasa sakit” (HR Bukhari, Muslim)

Dengan begitu, rasa peduli kita sesama kaum muslimin memang kudu ditumbuhkan. Bukan malah dibinasakan lewat aksi saling diam nggak mau meminta maaf dan ngasih maaf pas lagi ‘musuhan’. Kita bersaudara kawan. Mengapa kita tega melukai teman kita sendiri? Ada baiknya kita menyimak firman Allah Swt.: “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS al-Hujurât [49]: 10)

Yup, kita memang berkawan, bersaudara. Sebagai muslim kagak pantes banget kalo saling memendam bara di hati dan pikiran. Kita hidup di lingkungan manusia, yang pastinya harus tahu betul karakter manusia. Kita akan bergaul dengan mereka. Dan pastinya ada saat-saat dimana kita terlibat dalam konflik yang diciptakan oleh kita atau teman kita. Kadang gara-garanya cuma ‘beda pendapat’ yang sifatnya masih bisa ditolerir, gitu. Karena nggak bisa mengendalikan emosi, akhirnya saling membenci.

Hmm.. jadi inget lagunya Naif neh, yang judulnya Air dan Api. Mau tahu liriknya? Ini dia: “Apa mauku, apa maumu. Selalu saja menjadi satu masalah yang tak kunjung henti. Bukan maksudku, bukan maksudmu. Untuk selalu meributkan hal yang itu-itu saja. Mengapa kita saling membenci, awalnya kita selalu memberi. Apakah mungkin hati yang murni, sudah cukup berarti. Ataukah kita belum mencoba memberi waktu pada logika. Jangan seperti selama ini. Hidup bagaikan air dan api.

Sobat muda muslim, hidup bersama pasti deh ada gesekan. Sekecil apa pun gesekan itu. Gaya geseknya tak bernilai “nol”. Ini wajar kok. Karena hidup bersama kan mengumpulkan banyak orang dengan banyak karakter dan (mungkin) juga kepentingan. Jadi, nggak usah darah tinggi dulu menyikapi kondisi ‘gesekan’ dengan temen-temen di sekolah atau di lingkungan rumah.

Riak-riak yang ada dalam hubungan kita selama ini berpotensi bikin ‘letusan dahsyat’. Jangan sepelekan kondisi yang kontraproduktif ini. Karena seharusnya kita bisa bersinergi dengan memberdayakan kemampuan yang kita miliki masing-masing.

Plis deh, nggak usah kayak anak kecil ketika melihat sebuah perbedaan yang biasanya akan mensikapinya dengan penuh kecurigaan dan bahkan merasa harus menjaga jarak. Seharusnya bertanya kenapa kita berbeda, apakah perbedaan itu dibolehkan (atau seharusnya tidak ada perbedaan). Kita diskusi untuk menyatukan pandangan. Iya kan? Semestinya itu yang kita lakukan. Bukan saling membenci apalagi saling menjaga jarak. Kalo gitu, kita cuma bisa bersama, tapi tak pernah bisa bersatu. Sayang banget kan?

Salam,
O. Solihin
Ingin berkomunikasi dengan saya? Silakan via Twitter di @osolihin

*Gambar dari sini

Iklan
Kategori Percikan, RagamTag , , , , , , , ,

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close