30496_120529861317300_7576022_n

Muhasabah Diri


30496_120529861317300_7576022_nAllah Swt. berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Hasyr [59]: 18)

Ayat ini merupakan isyarat untuk melakukan muhasabah setelah amal berlalu. Karena itu Umar bin Khaththab ra berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab” (Ibnu Qudamah, Minhajul Qashidin (terj.), hlm. 478)

Nah, muhasabah di sini artinya senantiasa memeriksa diri kita sendiri. Sudah sejauh mana sih yang kita raih dalam beramal shalih. Sudah berapa banyak pahala yang kita perbuat, atau jangan-jangan malah sebaliknya kedurhakaan yang mengisi penuh pundi-pundi amal yang bakalan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah. Naudzubillahi min dzalik!

Jangan sampai suatu saat kita hanya bisa menyalahkan orang lain yang kita tuduh tak mengingatkan kita dari berbuat maksiat, padahal kita yang tak mau diingatkan dan malah menyalahkan yang mengingatkan kita. Kalo itu yang kita lakukan berarti kita sudah melakukan argumentum ad hominem, atau dengan kata lain ibarat “buruk muka cermin dibelah”.

Padahal, jika kita mau berpikir lebih dalam lagi tentang diri kita, tentunya kita bisa merasakan betapa lemahnya kita. Betapa ringkihnya kita sebagai manusia. Jika ingin membayangkan bagaimana lemahnya kita, bisa kita mengkaji diri bahwa seteliti-telitinya kita, selalu saja ada celah kosong yang bisa membuat kita teledor. Sepandai-pandainya kita, selalu saja ada peluang untuk berlaku bodoh dan salah.

Tetapi jangan khawatir, di balik kelemahan itu manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia. Potensi ini bahkan harusnya membuat kita lebih memahami dengan kondisi kita. Coba, dari jaman Nabi Adam diciptakan sampai sekarang ras manusia telah berhasil menciptakan berbagai kemajuan. Bandingkan dengan hewan, apakah pernah kita melihat kucing bisa membuat sepeda motor, terus makan dengan garpu (kecuali si Tom di film Tom and Jerry, hehehe), kemudian ada kucing yang sekolah sampai jenjang yang lebih tinggi. Belum pernah kita melihatnya, bahkan mendengarnya kecuali jika kita mau mengkhayal dalam sebuah cerita. Tapi manusia, banyak pencapaian yang berhasil diraihnya dari jaman ke jaman. Tentu saja itu juga berkat kemurahan Allah Swt. yang menjadikan manusia lebih mulia dari makhlukNya yang lain. Manusia diberi akal. Maka, berbahagialah memilikinya.

Allah Swt. menjelaskan dalam al-Quran (yang artinya): “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS al-Israa’ [17]: 70)

Subhanallah, betapa besar cinta Allah kepada kita. Allah memberikan segalanya buat kita. Itu sebabnya, sangat wajar jika kita harus pandai mengelola segala potensi hidup yang telah diberikan Allah Swt. Aneh jika masih ada manusia yang tak bisa memanfaatkan potensi yang dimilikinya. Sangat heran pula jika pun pandai memanfaatkan potensi yang dimilikinya tapi salah dalam mengamalkannya. Misal, ia memiliki potensi kreativitas yang tak ada hentinya, tapi kreatif dalam rangka mencuri barang orang lain atau kreatif mengolah kata-kata bernuansa pornografi. Wah, itu namanya memanfaatkan di jalur yang salah. Jauhi!

Nah, jika kita memanfaatkan potensi kita, tentunya tidak lepas dari rasa syukur kita kepada Allah Swt. yang telah memberikan segalanya buat kita. Artinya, amalan kita dalam memanfaatkan potensi pun harus benar sesuai tuntunan Allah Swt. Tak boleh berdasarkan hawa nafsu kita semata. Sebab, jangan lupa, apa yang kita lakukan tak akan lepas dari pengamatan Allah Swt. Jika di sekolah kita bisa membohongi teman atau guru, maka Allah tak akan bisa dibohongi. Jika di dunia ini para pembunuh bisa santai, bebas berkeliaran belum dihukum oleh negara, maka di akhirat ia pasti tak akan lolos dari hukuman yang diberikan Allah Swt. termasuk tentunya, Allah Swt. tak akan pernah salah dalam mengkalkulasi amalan kita. Oya, ‘terminal’ akhir di akhirat pun sudah jelas untuk tiap-tiap manusia sesuai amalannya. Surga diperuntukan bagi mereka yang amal baiknya banyak dan dengannya mendapat rahmat dan ampunan Allah Ta’ala. Sementara neraka, khusus untuk orang-orang kafir dan siapa saja yang berbuat maksiat ketika di dunia dan tak sempat bertaubat hingga akhir hayatnya. Yuk, senantiasa muhasabah diri.

Salam,
O. Solihin
Ingin berkomunikasi dengan saya? Silakan via Twitter di @osolihin

*Gambar dari sini

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s