Acara-Sahur-di-TV

Ramadhan dan Media Massa


Acara-Sahur-di-TVKeberadaan media (saluran atau channel) dalam komunikasi massa, menurut pakar komunikasi politik AS Harold D. Laswell adalah mutlak. Saluran komunikasi atau media massa inilah yang akan menyalurkan atau menyebarkan pesan (massage) dari komunikator ke komunikan dan akan memberikan efek pada keduanya. Ada empat aktivitas pokok yang menjadi fungsi media massa antara lain: Pengawasan lingkungan; Korelasi antar bagian masyarakat dalam menanggapi lingkungan.; Transmisi warisan sosial dari suatu generasi ke generasi berikutnya.; dan Entertainmen.

Nah, di abad yang disebut Alvin Toffler sebagai abad informasi ini, media massa memiliki posisi strategis lho, dimana informasi merupakan sentral dari perhatian, pemikiran dan kegiatan manusia. Semua aktivitas manusia pasti membutuhkan informasi. Karena informasi memiliki efek yang mendalam terhadap berlangsungnya proses produksi konvensional, proses berfikir itu sendiri dan bahkan terhadap proses kehidupan kita.

Saat ini, fungsi televisi sama dengan fungsi media massa lainnya (surat kabar, majalah, tabloid, dan radio siaran), yakni memberi informasi, mendidik, menghibur dan membujuk. Tapi fungsi menghibur lebih dominan pada media televisi. Karakteristik televisi yang utama adalah audio-visual, yakni dapat dilihat dan sekaligus dapat didengar. Jadi dari segi pengaruh atau efek kepada masyarakat jelas sedikit lebih kuat ketimbang efek yang ditimbulkan media massa cetak.

Sebagai contoh adalah MTV (Music Television). Enam kata mengubah budaya Amerika selamanya, “Ladies and gentlemen, rock and roll!”. Dengan deklarasi singkat pada 1 Agustus 1981 itu sebuah generasi telah lahir; Generasi MTV. Bahkan generasi ini lebih heboh ketimbang generasi bunga (hippies) di tahun 60-an. Dengan menjadikan musik sebagai menu utama dalam siarannya selama 24 sehari itu, MTV telah berhasil memberikan warna tersendiri bagi kehidupan pemirsanya. Dan sampai tahun 2001 saja, MTV telah ditonton di lebih dari 350 juta rumah dan 70 persen di antaranya di luar AS. Pemasukan MTV pun kian menggelembung hingga mencapai angka 3 milyar dolar AS per tahunnya. Bayangkan, gede banget kan? (matamata.com, 1 Agustus 2001)

Profesor Robert Thompson, pengajar di Syracuse University, yang menonton dan menganalisis TV bagi kehidupan manusia, mengatakan bahwa MTV membidik kelompok masyarakat yang khusus dan memberi mereka identitas. Ketika MTV hadir, industri benar-benar berubah. Tiba-tiba musik tidak lagi sekadar suara yang bagus, tetapi juga yang terlihat bagus.

Maka, nggak heran banget kan kalo akhirnya televisi bisa menjadi guru bagi pemirsanya. Ini baru satu contoh kasus. Kasus lainnya yang hadir di televisi seringkali menginspirasi orang untuk berbuat hal yang sama dengan adegan yang ditayangkan di televisi. Anehnya, informasi yang kurang baik lebih banyak tersebar di sana.

Termasuk dalam rangka mengisi Ramadhan ini, akhirnya kita, sebagai bagian dari masyarakat yang tak bisa lepas dari televisi dalam hidup kita, entah untuk mendapatkan informasi keilmuan atau hiburan, seringkali tanpa sadar menjadikan televisi sebagai rujukan.

Kalo udah kayak gini, pengaruh televisi pasti udah menjasad dalam keseharian kita. Malah susah dibedain mana tayangan yang menginspirasi kita atau sebenarnya tayangan tersebut terinspirasi dari perilaku masyarakat yang dibidik pengelola televisi? Nggak tahu pasti alias rada susah ngelacaknya.

Sobat muda, kita sebenarnya nggak ingin banget kehilangan makna Ramadhan gara-gara terpengaruh tayangan Ramadhan di televisi yang malah kian ngejauhin kita dari ketakwaan yang coba ditumbuhkan di bulan mulia ini. Tapi, nyatanya memang demikian—bukan ketakwaan yang tumbuh, tetapi ketawaan yang nyaris ada di setiap acara televisi. Kita jadi merasa santai dalam menjalani Ramadhan ini karena nggak ada tambahan ilmu. Padahal, kita lebih banyak hobi nonton televisi ketimbang baca buku atau dengerin ceramah ustad kalo kultum tarawih dan kuliah subuh atau di acara sanlat. Nah, lho. Ayo, ngaku! Hehe..bukan nuduh nih.

Ah, andai saja televisi lebih banyak menayangkan acara keilmuan tapi dibikin fun suasananya. Misalnya, ustadnya yang gaul soal remaja, ngerti masalah kehidupan remaja, ada selingan nasyid yang oke. Terus, isinya yang membekas di benak pemirsa. Meski menjelaskan “hitam-putih”, tapi nggak terkesan kaku, garing dan menggurui. Tetep asyik dan cair. Ilmu dapat, hiburan berkualitas juga kita rasakan. Asyik banget kan? Betul itu! Tapi…

Eh, yang muncul malah hiburan an sich, bahkan seringkali melanggar hukum syara, seperti di acara menjelang sahur di beberapa stasiun televisi ada yang memerankan sebagai banci atau justru malah membuka aurat. Waduh!

Sobat muda muslim, jujur aja bahwa soal ini bisa menjadi pengaruh buruk dari tayangan televisi kepada pemirsanya. Bukannya mendidik, tapi malah menjerumuskan dan memelihara kebodohan masyarakat. Tragis banget kan?

 

Salam,
O. Solihin
Ingin berkomunikasi dengan saya? Silakan via Twitter di @osolihin

*Gambar dari sini

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s