Jangan Ragu, Cobalah Hal Baru


190113-DD1-berani-mencoba-hal-hal-baruBro en Sis, waktu saya kelas 3 sampe kelas 5 SD (tahun 1983-1985), sering banget diajak sama ayah saya naik bis ke Jakarta. Paling nggak sebulan sekali. Maklum, ayah saya adalah seorang sopir bis AKAP (Antar Kota Antar Propinsi), trayeknya Kuningan-Jakarta. Dulu mah belum ada jalan tol Jakarta-Cikampek. Terus terminalnya juga masih di Cililitan. So, jauh banget kan? Bisa seharian di bis untuk perjalanan PP. Berangkat abis subuh, pulang lagi ke rumah menjelang isya. Lelah banget. Tapi, kelelahan saya itu terbayar dengan banyaknya pengalaman merasakan jauhnya perjalanan dan apa saja yang bisa dilihat di jalan. Lalu yang paling seneng dan membahagiakan adalah ketika menceritakan pengalaman tersebut ke teman-teman saya. Mereka sih terbengong-bengong aja sambil berusaha ngebayangin tentang kota Jakarta yang saya ceritakan.

Oya, sejak kecil saya termasuk senang ‘bertualang’ dengan hal baru. Selain pengalaman pergi ke kota dengan ayah naik bis, pengalaman belajar naik sepeda, saya juga sama ibu saya diajarkan untuk berjualan. Nah, saya waktu SD kelas 3 sampe kelas 6 setiap bulan Ramadhan pasti dikasih modal sama ibu saya untuk jualan. Jualannya juga keren. Mungkin kalo dulu saya udah kenal Adnan Kasoghi–pedagang senjata saat perang Iran-Irak itu—boleh juga masok barang dari dia. Ciee.. maklum waktu itu ibu saya modalin saya untuk berjualan petasan! Hehehe…

Sebulan penuh saya jualan petasan. Saya udah belajar prihatin sejak SD. Itu semua jadi pengalaman saya. Banyak pengalaman berharga yang saya dapatkan. Mulai bagaimana mencari tempat belanja dan barang yang murah, jenis petasan yang sedang jadi tren, sampe gimana masarin petasan itu agar lebih laku dijualnya. Belanjanya bareng ibu saya. Seminggu dua kali ke pasar. Jualan tiap hari mulai jam 4 sore. Sekalian ngabuburit. Waktunya buka puasa sampe shalat tarawih dan ikut tadarusan di masjid saya nggak jualan. Setelah itu sampe sekitar jam 10-an malam dilanjutkan lagi jualannya. Wah, seru deh. Saya yang jualin petasan, teman-temen saya yang ngebakarnya. Saya dapet duitnya. Temen-temen yang ‘ngasih’ duit ke saya. Dikumpulin tuh duit sampe lebaran. Jadi, ketika temen-temen dibelikan pakaian baru sama ortunya, saya malah bisa membeli pakaian sendiri selain yang dikasih dari ortu, plus bisa jajan di hari lebaran dan masih bisa nabung. Seneng banget deh. Ini kok jadi nostalgia ya? Halah!

Kebiasaan saya jualan kebawa juga sampe di SMA. Saya kebetulan sekolah di sekolah kejuruan kimia di Bogor, tapi karena padat dan harus konsentrasi belajar, saya baru bisa jualan mulai kelas 4, berarti tahun terakhir sekolah di sana. Waktu itu memang terdesak juga dengan kebutuhan hidup karena uang kiriman dari ortu di kampung sering telat dan kalo pun udah keterima, eh nggak nyampe hitungan sebulan uang tersebut udah habis. Bukan karena boros, tapi karena SPP di sekolah tersebut menurut saya cukup mahal dan biaya hidup sebagai anak kos termasuk gede, lho. Apalagi jumlah uang yang dikirim juga ngepas banget. Maka, saya jualan nata de coco deh demi nambah-nambah uang saku. Barangnya saya ambil dari guru ngaji saya yang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Bogor yang juga wirausahawan. Duh, seru deh pokoknya. Itu yang harus saya lakukan jika tak ingin bokek di kota yang jauh dari ortu saya. Ya, saya menyadari karena saya anak pertama dan adik saya ada 5 orang yang juga masih sekolah dan ortu udah cerai. Jadi, saya yang harus berjuang lebih keras dibanding adik-adik.

BTW, ini sekadar berbagi aja ya. Bahwa pengalaman yang kita alami akan menjadi modal berharga bagi kehidupan kita di kemudian hari. Sampai sekarang pun, saya masih selalu mencoba dan ingin mendapatkan pengalaman baru. Maka, selain menjadi penulis, saya juga jualan buku saya dan pernah juga buku orang lain. Seru juga sih. Sebab, dengan menjalani aktivitas ini, saya jadi bisa dapetin pengalaman gimana berhubungan dengan pembaca atau konsumen lainnya. Saya bisa mengeksplorasi keinginan pasar, selain tentunya jadi banyak kenalan dan relasi dalam bisnis. Namun ketika saya terjun ke dunia pendidikan, menjadi pengajar di salah satu pusdiklat dan juga pesantren akhirnya urusan jualan saya delegasikan ke istri saya, baik secara offline maupun online. Kalo mau mampir boleh ke situs www.geraisausan.com ya. Ditunggu lho. Hehehe.. (sekalian promo).

Bro en Sis, jangan pernah ragu untuk mencoba hal baru (tentunya yang bermanfaat dan sesuai syariat ya). Baik dalam kondisi “normal” alias nggak ada masalah lain yang mengharuskan terjun ke situ, maupun karena terpaksa mencoba hal baru itu dengan alasan terdesak kebutuhan hidup. Insya Allah pengalaman yang akan didapat menjadi sangat berharga. Dalam kondisi seperti ini, kita nggak bisa terus ngandelin ijazah atau gengsi karena menekuni pekerjaan yang bertolak belakang dengan keahlian bidang akademik yang diajarkan di sekolah atau perguruan tinggi tempat kita belajar.

Pengalaman memang guru yang terbaik. Sensasinya akan memberikan tambahan wawasan, tambahan informasi, dan tambahan inspirasi dalam menjalani kehidupan kita. Tak perlu ragu atau bimbang. Yakin sajalah. Karena tak ada yang sia-sia dengan pengalaman yang kita jalani jika kita mau mengambil hikmahnya, mengambil pelajarannya dan menjadikan sebagai evaluasi untuk kemajuan kita di masa yang akan datang. Jangan diam, ayo bergerak. Lakukan apa yang memang bisa kita lakukan. Kerjakan dengan ikhlas, kerjakan dengan keras, efektif dan efisisenkan dengan cerdas, lakukan hingga tuntas dan tak kenal lelah. Juga, resapi setiap jengkal pengalaman hidup sebagai sesuatu yang sangat luar biasa yang akan mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik dan meraih ridha Allah Swt. Percayalah!

Salam,
O. Solihin
Ingin berkomunikasi dengan saya? Silakan via Twitter di @osolihin

*Gambar dari sini

Iklan

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s