kartun ber2

Siapkan Diri untuk Menikah


kartun ber2Ada yang serius untuk menikah? Ya, serius! Sebagaimana ibadah lainnya, menikah memerlukan persiapan. Membutuhkan upaya serius untuk melakoninya. Tidak asal-asalan atau berpikiran “menggampangkan”. Tidak. Menikah itu butuh keseriusan. Sebab, nikah itu bukan hanya untuk didiskusikan atau diobrolkan sampai berbusa-busa yang sekadar wacana dan retorika belaka. Nikah adalah sebuah aksi. Sehingga, jika kita hanya terus menerus membicarakan nikah sebagai teori semata (tanpa dipraktikkan), itu artinya belum siap, dan mungkin tidak akan pernah siap jika kita tidak bertekad untuk mempersiapkannya. Karena, nikah bukan semata untuk dibicarakan dengan sangat bahagia dan berapi-api, tapi seharusnya dilaksanakan dengan penuh tanggung-jawab dan meminggirkan segala rasa khawatir dan ragu.

Jika kita sudah serius ingin menikah, maka kita harus menyiapkan segalanya untuk melaksanakan ibadah tersebut. Itu artinya, jika kita hanya berdiam diri, melamun, mengangankan merenda bahagia bersama kekasih impian kita, belum dikatakan berpikir serius. Itu baru melamun bahkan mimpi. Sama sekali tidak produktif. Karena waktu akan terus berjalan. Waktu tak akan peduli apakah orang-orang mengisinya dengan baik atau buruk. Waktu pun tak pernah kompromi dan memaafkan andaikata kita melakukan kesalahan atau kegiatan yang tidak produktif. Itu sebabnya, daripada berbincang dengan teman bagaimana rasanya punya pendamping hidup, lebih baik menyiapkan diri untuk merenda bahagia dengan kekasih kita dalam ikatan pernikahan. Nyata. Bukan melamun.

Persiapan untuk menikah itu adalah wujud nyata, bentuk peduli dan serius kita untuk menuju pernikahan. Itu sebabnya, menentukan target adalah sebuah keputusan penting yang akan mempengaruhi cara pandang, usaha, dan doa kita. Ketika menentukan target waktu tertentu untuk menikah, maka cara pandang kita tentang kehidupan yang sedang dijalani juga akan berporos pada target tersebut. Kita tidak akan pernah merasa santai untuk waktu yang lama, apalagi tidak jelas. Cara pandang seperti ini akan menggerakkan usaha kita dan tak lupa memolesnya dengan doa agar apa yang kita lakukan mendapat barokah dari Allah Swt.

Itu sebabnya pula, rasa-rasanya sudah saatnya kita melepaskan belenggu pikiran yang tidak produktif. Pernikahan tidak bisa dicapai hanya dengan mimpi. Indahnya pernikahan tidak bisa dilukiskan hanya dengan cerita menyenangkan yang terus menerus diobral dalam obrolan dengan teman di saat senggang. Karena pernikahan itu nyata. Bukan khayalan (kecuali di film, barangkali), maka usaha untuk menuju ke arah sana juga nyata. Dan, sangat membutuhkan keseriusan. Baik pemikiran, usaha, dan juga doa.

Oya, ketika kita berpikir serius bukan berarti kita harus kaku atau tak boleh sama sekali memikirkan yang ringan-ringan. Tidak. Bukan itu maksudnya. Karena arti keseriusan berpikir adalah adanya tujuan dan usaha untuk merealisasikan tujuan tersebut, di samping tentunya harus adanya gambaran yang baik tentang fakta yang akan dipikirkan.

Sebagai contoh, jika kita berpikir tentang bahaya, seharusnya bukan membahas tentang bahaya, akan tetapi bagaimana upaya kita untuk menjauhinya. Jadi, kalau kita tahu bahwa api itu jika kecil jadi ‘sahabat’, tetapi jika sudah besar menjadi musuh (baca: kebakaran), maka kita harus berpikir tentang bahaya yang sudah jelas dari sebuah kebakaran, lalu kita memikirkan bagaimana caranya supaya jangan sampai terjadi dan menimpa kita. Bisa saja kemudian serius berpikir untuk mencari model pengamanan, memikirkan juga bagaimana caranya agar tidak dekat-dekat dengan segala macam yang bisa memunculkan bahaya kebakaran.

Begitu pun, jika kita mulai serius memikirkan tentang nasib kita di dunia dan di akhirat, itu karena kita ingin agar kehidupan kita di dunia selamat dan sejahtera, begitu pula untuk kehidupan di akhirat. Akhirnya kita jadi berusaha berbuat untuk mendapatkan tujuan hidup kita itu. Iya kan? Itu namanya sudah berpikir serius. Jadi, jika sekarang kita mulai serius, itu tentunya dalam tindakakan pun kita harus membuktikan dengan antimalas dalam meraih dunia dan berusaha agar akhirat pun bisa kita gapai dengan baik. Berpikir dan bertindak.

Dalam kaitannya dengan pernikahan, maka seseorang yang dikatakan berpikir serius tentang pernikahan, bisa dilihat dan dibuktikan dari aksinya. Yakni, ia akan berusaha untuk merealisasikan target pernikahannya sebaik mungkin. Mempersiapkan kondisi pribadi: keuangan, ilmu, mental, dan juga fisik. Kemudian mencari calon pendamping hidup: baik bergerilya sendiri maupun mencari bantuan lewat teman atau guru ngaji. Ini namanya sudah taraf berpikir dan bertindak (berusaha) dengan serius.

Itu sebabnya, tidak dikatakan berpikir dan berusaha serius jika hanya menjadikan pernikahan itu sebagai obrolan santai dengan teman sambil mengkhayal. Bukan pula pernikahan itu hanya menjadi wacana dan retorika tanpa aksi. Dan, pernikahan itu harus dikondisikan untuk disiapkan. Jangan menunggu siap. Tapi harus disiapkan. Sebagaimana halnya ketika ingin lulus kuliah, tapi kita tidak pernah memberi tenggat dan target waktu untuk kelulusan, maka akibatnya kita akan abai terhadap kelulusan. Itu sebabnya, bagaimana mungkin bisa menyiapkan kelulusan, karena memikirkan untuk lulus saja tidak, belajar pun semaunya. Berbeda dengan mereka yang sudah mematok tenggat dan target waktu tertentu. Ia akan berusaha untuk meraihnya. Akan terus bersemangat dan mengobarkan semangat di hati dan pikirannya. Bagaimana kawan, apakah sudah serius menyiapkan diri untuk menikah?

Salam,

O. Solihin

Ingin berbincang dengan saya? Silakan via Twitter di @osolihin

*Gambar dari sini

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s