Ilustrasi

Zahra Baintner Terharu dengan Ritual Haji


Ilustrasi
Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Zahra Baintner lahir di Jerman. Ia dibesarkan dalam tradisi Katolik. Kedua orang tuanya cenderung religus, ini yang membuatnya rutin mengunjungi gereja. Namun, itu tak lama.

Perceraian kedua orang tuanya begitu memukul Zahra. Ia terpisah dengan ibunya. Itu lantaran, sang ibu tak mampu membiayai hidupnya. Sebagian besar masa kecilnya dihabiskan bersama keluarga asuh.  “Saya membantu orang tua asuh mengurusi masalah rumah tangga,” kenang dia seperti dikutip arabnews.com, Jumat (24/10).

Beruntung, ia tidak putus sekolah. Ini membuat Zahra bersemangat mengubah nasibnya. Tapi ia merasa kesepian. Apalagi ketika kedua orang tua asuhnya meninggal. “Waktu itu hari begitu panjang, tidak ada teman. Sebagian besar waktu dihabiskan untuk membaca dan berdoa,” kata dia.

Secara umum, kebutuhan pendidikan sudah terpenuhi. Namun, Zahra merasa kekurangan satu hal yakni spiritual. Sesekali ia mendatangi gereja, tapi bukan untuk beribadah melainkan hanya menikmati suasana saja.
“Di malam hari saya berdoa kepada Allah, Bapa, Yesus, Perawan Maria, orang kudus, tapi saya melupakan satu hal,” kata dia.

Semasa sekolah,  Zahra diperkenalkan dasar-dasar ajaran Katolik, Katekismus, seperti trinitas, penebusan dosa, anak Tuhan dan lainnya.  Fondasi itu tak lagi kuat, runtuh secara perlahan. Ia merasa ada yang hilang. “Saya bingung,” kata dia.

Zahra semakin bingung ketika guru sejarahnya memperlihatkannya film tentang Haji. Film ini menyebutkan bagaimana awal dan penyebaran agama Islam. Lalu membahas sisa-sisa peradaban Islam di Spanyol. Yang membuat Zahra kagum, bagaimana jutaan calon haji mengenakan ihram bersatu dan berbaur guna memenuhi panggilannya.

“Ritual ini begitu masuk akal, menenangkan jiwaku yang marah. Saya seolah mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan selama ini,” kata dia.

Sejak menyaksikan film tersebut, Zahra mulai mencaritahu informasi tentang Islam dan Muslim. Di akhir perjalanan itu, ia satu pada kesimpulan, yakni menjadi Muslim. “Saya merasa tidak beruntung, tidak lahir dalam komunitas Muslim. Karena, setiap anak yang lahir pada dasarnya telah berkomitmen menjadi Muslim, tapi karena orang tuanya, ia menjadi Yahudi atau Kristen,” kenang dia.

Zahra mengungkap, ketika lahir, anak itu dibisikkan suara azan. Mereka dikenalkan kepada pencipta-Nya. Dia itu satu tidak memiliki sekutu apalagi anak. “Hadiah yang tak ternilai adalah mengenalkan anak dengan ajaran Islam di hari pertama kehidupan anak.  Bagi yang tidak, Allah SWT akan memberikan hidayah kepada mereka yang mencari kebenaran,” ucapnya. [SUMBER: Republika]

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s