golput

Mengapa Golput ‘Diharamkan’?


golputIni masalah yang sensitif bagi sebagian orang. Pro-kontra pasti selalu ada. Padahal, fenomena ini merupakan hal biasa. Mengapa biasa? Karena sebenarnya golput (golongan putih) adalah pilihan juga, cuma labelnya ‘memilih untuk tidak memilih’. Istilah golput di Indonesia disematkan kepada warga masyarakat yang tak ikut andil dalam proses atau mekanisme yang diatur sistem demokrasi dalam pemilu, yakni mengumpulkan suara sebagai bentuk nyata sebuah dukungan terhadap orang yang dipilih untuk menduduki jabatan di pemerintahan. Mereka yang memilih untuk golput berarti tak menggunakan hak pilihnya. Ingat, hak. Bukan kewajiban.

Saya berharap Anda tak langsung curiga atau mencibir mereka yang memilih golput atau tak langsung naik darah dengan tulisan saya yang judulnya bernada mempertanyakan. Sebab., bagaimana pun juga hal ini adalah sebuah realita yang tak bisa begitu saja dipandang enteng atau juga dianggap masalah berat. Mungkin saja bagi yang berkepentingan dengan pengumpulan jumlah suara agar pemilu berjalan normal, maka golput adalah ancaman serius. Walau sebenarnya bisa jadi mereka gagal bukan karena andil yang golput, tetapi memang masyarakat tak memberikan suara untuknya.

Berdasarkan informasi di lapangan (silakan cari sendiri data pastinya), kabar angka golput di beberapa pilkada selalu di atas 20 persen. Ini lumayan tinggi. Jika di suatu daerah jumlah pemilihnya ada 1 juta orang, maka angka 20 persen adalah 200 ribu orang. Itu artinya yang tak ikut menggunakan hak pilihnya sebanyak itu. Jumlah yang membuat ketar-ketir para caleg atau capres-cawapres dalam pemilu legislatif dan pilpres.

Lalu, apa dasarnya bagi sebagian kalangan berusaha mendesak agar golput dilarang, bahkan ada yang lebih jauh melangkah, yakni diharamkan? Cerita dari seorang kawan, malah ada orang yang asal-asalan berkomentar: “mereka yang golput tanda lemahnya iman”. Sungguh terlalu. Seolah-olah hak tak ada bedanya dengan kewajiban, atau hak sudah berubah jadi wajib. Ini kan aneh.

“Lha, bagaimana jika nanti yang menjadi caleg atau presiden dari kalangan nonmuslim atau dari mereka yang beraliran sesat?” pernyataan ini bernada kekhawatiran dan tekanan kepada mereka yang golput. Padahal, bisa dibantah juga, “Lha bagaimana dengan kaum muslimin yang tak memilih partai berlabel Islam, justru malah memilih partai nasionalis dan sekular. Bukankah mereka yang layak dicap tak bertanggung jawab? Mengapa yang disalahkan justru mereka yang golput?”

Pernyataan ini pun bisa jadi akan ada yang membalas lagi dari mereka yang mempermasalahkan golput, “Kan suara Anda bisa untuk partai Islam. Tetapi gara-gara golput akhirnya peluang kami berkurang dalam mendulang suara”. Eh, apakah benar suara itu (jika pun yang golput ‘bersuara’) akan diberikan ke partai berlabel Islam? Rasa-rasanya belum tentu. Bisa jadi malah yang golput itu jutsru tak mau ‘bersuara’ untuk partai mana pun karena dianggap tak sesuai harapannya.

Sudahlah, saya tak mau berpolemik soal golput atau tidak golput. Itu hak masing-masing. Lagi pula,  katanya sistem negara ini bukan Islam, tapi demokrasi, namun mengapa harus bersusah payah minta fatwa kepada Islam agar golput diharamkan? Tidak nyambung. Apakah karena hal itu dimaksudkan agar kaum muslimin memilih partai berlabel Islam ketimbang golput? Mungkin saja. Tetapi apa iya masyarakat bisa dengan mudah dikibuli?

Memang menjadi golput ada yang mengatakan bukan solusi atas permasalahan umat ini, tetapi apa iya jika menggunakan hak pilihnya berarti sudah memberikan solusi yang benar dan baik? Belum tenu dan tak ada yang bisa menjamin.

Jadi, Anda pilih mana? Golput atau akan menggunakan hak pilihnya? Keputusan ada di tangan Anda. Sebab, semuanya akan dimintai pertanggungan jawab di hadapan Allah Ta’ala. Bagaimana dengan saya sendiri? Ah,  itu sih rahasia. Anda tidak perlu tahu karena kadang tahu pun tak akan memberikan konsekuensi apa-apa bagi Anda. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk sesuai keinginan kita, yang bisa dilakukan adalah menyampaikan argumentasi ketika berpendapat. Bukan lagi urusan apakah akan diterima atau ditolak. Lagi pula, seingat saya di jaman orba (orde baru) dahulu, asas Pemilu adalah LUBER alias Langsung Umum Bebas dan Rahasia. Masih ingat?

Salam,
O. Solihin | Twitter @osolihin

*gambar dari sini

7 pemikiran pada “Mengapa Golput ‘Diharamkan’?

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s