6827667631_5735bf1db9_z

“Aku Muslim, Kamu?”


gaulislam edisi 374/tahun ke-8 (30 Safar 1436 H/ 22 Desember 2014)
 

Sobat gaulislam, biasanya menjelang akhir tahun kaum muslimin disibukkan dengan hal-hal berkaitan dengan momen perayaan agama lain, khususnya umat Kristen, yakni perayaan natal dan juga perayaan tahun baru masehi. Mengapa jadi disibukkan? Ya, sejak awal Desember pro-kontra terhadap masalah ini runyam dan selalu nguras tenaga dan pikiran. Seharusnya sih nggak usah ada pro dan kontra karena sudah jelas fakta dan hukumnya. Namun sayangnya, temyata ada di antara orang yang mengaku muslim tetapi malah berlagak membela orang-orang kafir dengan alasan toleransi. Nah, tentu saja kaum muslimin yang masih lurus akidahnya nggak tinggal diam, maka terjadilah pro dan kontra. Kalo kamu ngikutin perkembangan di media sosial, pastinya udah nggak aneh dengan perang kata-kata di twitter dan juga di facebook.

Eh, sebenarnya ini ngomongin apaan sih? Hah? Jadi kamu belum ngeh detilnya? Oke deh, kalo gitu berarti saya lupa menjelaskan buat kamu yang masih belum tahu duduk persoalannya secara lengkap. Begini, alasan toleransi antar umat bergama sering jadi topik menjelang perayaan natal dan tahun baru masehi. Tetapi, karena berbeda dalam memaknai toleransi, akhirnya ‘berantem’. Kubu yang menganggap bahwa toleransi adalah mencampur-adukkan keyakinan antar umat beragama, mereka berpendapat bahwa merayakan acara natal bersama antara muslim dengan penganut Kristen jadi boleh, apalagi sekadar mengucapkan selamat natal kepada pemeluk Kristen. Itu sebabnya, menurut pendapat mereka, karyawan muslim di supermarket nggak masalah mengenakan atribut agama Kristen semisal mengenakan topi sinterklas. Waduh!

Sementara kubu yang lainnya, yang masih lurus akidahnya atau lebih memilih kehati-hatian dalam masalah tersebut berpandangan bahwa toleransi antar umat beragama bukan berarti mencampur-adukkan antar keyakinan umat beragama. Itu sebabnya, nggak boleh ikut campur dalam urusan ibadah. Seorang muslim haram hukumnya ikut merayakan natal bersama dengan teman-temannya yang beragama Kristen. Termasuk dalam hal ini terlarang mengucapkan selamat kepada pemeluk Kristen ketika mereka merayakan natal. Sebab, dengan mengucapkan selamat natal kepada pemeluk Kristen sama artinya ikut merayakannya atau membenarkan apa yang mereka lakukan sebagai ibadahnya. Padahal, sudah jelas dalam al-Quran surah al-Kaafirun (silakan kamu buka dan baca al-Quran surah tersebut ya). Tuh, Allah Ta’ala langsung menyebutnya orang-orang kafir, tetapi kenapa masih ada di antara kita yang enggan menyebutnya demikian, malah menggantinya dengan nonmuslim? Mikir! (backsound: ngikutin gaya Cak Lontong!)

 

Saya muslim, maka saya membela Islam

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Tersebab alasan di ataslah gaulislam pada edisi ke-374 juga ikut-ikutan nyebur membahas masalah ini dan ikut bersibuk-ria. Tetapi nggak masalah, toh ini bagian dari kepedulian kami sebagai muslim yang ingin menyelamatkan akidah muslim lainnya. Sebab, tanggung jawab orang yang mengetahui itu jauh lebih berat ketimbang mereka yang nggak tahu. Semoga ini menjadi bagian dari amal shalih yang manfaatnya bisa dirasakan oleh kaum muslimin lainnya (moga-moga saja di seluruh dunia, aamiin).

Oya, andai saja semua agama itu sama, maka tak ada yang namanya perbedaan. Andai saja semua agama itu benar, tak perlu ada yang ngotot ingin benar sendiri. Andai saja semua agama itu menyembah Tuhan yang sama, nggak perlu ada pertumpahan darah atas nama agama. Andai saja semua agama itu menuju ke jalan yang sama, tak perlu ada kitab suci yang berbeda. Tapi fakta dan sejatinya memang berbeda kok. Justru pertanyaan saya: kenapa harus dipaksakan untuk disamakan?

Sayangnya, sekarang banyak usaha-usaha yang menjurus ke arah sana dengan alasan perdamaian dunia. Karena menurut para penggagasnya, seluruh agama akarnya satu, yakni dari sang pencipta, sehingga mereka berdalil: “Kenapa harus berbeda? Berbeda itu bikin konflik dan itu sangat berbahaya!”

Tapi yang jelas, kalo kita mau berpikir lebih dalam lagi (gali sumur kali!), kita justru akan menemukan bahwa masing-masing agama memang beda. Beda banget. Bahkan bukan hanya beda, tapi juga bertentangan, dan bahkan saling menentang satu sama lain.

Itu sebabnya, tentu nggak bisa mendefinisikan atau membuat pernyataan yang cuma berdasarkan logika dan hawa nafsu kita. Tapi kebenaran adalah muncul dari yang membuat kebenaran itu sendiri, yakni pencipta kita, Allah Ta’ala. Sebab nih, kalo kebenaran diserahkan kepada masing-masing manusia, maka yang muncul bukan kebenaran, tapi pembenaran. Udah gitu miskin makna dan kaya dengan salah persepsi.

Sobat gaulislam, ngomongin soal agama kata sebagian kalangan dianggap sensitif. Saking sensanifnya, eh, sensitifnya maka kita nggak boleh ngomongin agama secara vulgar di tempat umum. Misalnya, kamu nanya sama teman kamu di sekolah dalam forum umum: “Agama kamu apa?” Wuih, kayaknya kita dianggap arogan atau sok, atau dicap sebagai orang yang melontarkan pertanyaaan dengan nada sentimen atau tendensius serta SARA dan macam-macam pikiran lainnya.

Kenapa? Karena kita terbiasa menabukan hal tersebut. Dianggap bahwa agama adalah urusan masing-masing individu. Nggak boleh ada individu lain yang mempertanyakan dan mempersoalkan status agama seseorang. Alasannya, untuk menjunjung kebersamaan. Jadi jangan heran pula kalo kemudian muncul istilah toleransi, anak bangsa, dialog lintas agama dan iman, dan lain sejenisnya untuk mengkampanyekan tentang pentingnya persamaan. Padahal jelas sangat berbeda jauh. Wong dasarnya juga beda kok. Jadi apa yang mau disamakan? Betul ndak? Semoga kamu bisa memahaminya.

Nah, kita singgung sedikit tentang subjudul “Saya muslim, maka saya membela Islam”. Yup! Wajar dan bahkan sudah seharusnya seorang muslim bangga dengan Islam dan siap menjadi pembelanya. Seorang muslim yang mencintai Allah Ta’ala dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pastinya akan membela Islam. Apalagi sudah ada jaminan dari Allah Ta’ala bahwa agama yang diridhoi di sisi Allah hanyalah Islam dan rugilah mereka yang mencari agama selain Islam. Firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali Imran [3]: 19)

Juga dalam firman-Nya, “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS Ali Imran [3]: 85)

Kedua ayat ini sudah cukup menjadi dalil bagi kita, kaum muslimin, untuk kian yakin dengan Islam. Maka, tunjukkan deh dengan kualitas terbaik dari pikiran dan perasaan kita agar menjadi muslim yang juga mukmin. Siap ya? Sip!

 

Hati-hati jadi munafik

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Kalo kamu perhatikan dengan seksama, saat ini kaum muslimin banyak yang tipis imannya. Buktinya, masih ada kaum muslimin yang menganggap enteng ucapan selamat natal kepada penganut Kristen. Alasan mereka, toleransi. Padahal nih, mengucapkan selamat berarti mengakui kebenaran ajaran agama mereka. Padahal, kalo kamu baca ulang kedua surat Ali Imran di atas, tak ada keyakinan atau agama yang benar kecuali Islam. Selain itu, dalam surah al-Kaafiruun sudah pula dijelaskan bahwa ada batas antara mukmin dan kafir. Perkara keyakinan itu jalan masing-masing, jangan saling memaksakan. Pelaksanaan ibadah suatu agama tidak boleh dipaksakana kepada pemeluk agama yang lain. Itu bukan toleransi, tetapi menghancurkan toleransi. Sungguh heran kalo ada muslim yang mengucapkan selamat pada hari perayaan agama lain dengan alasan toleransi. Parah!

Hati-hati lho. Jangan sampe kita bergaul dengan orang-orang yang memperolok al-Quran—termasuk mereka yang tidak memperhatikan seruan Allah dalam surah al-Kaafiruun sehingga mengatakan boleh ngucapin selamat natal dan merayakan natal bersama—bisa kejeblos jadi munafik atau malah lebih mengerikan, jadi kafir. Firman Allah Ta’ala, “Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam” (QS an-Nisaa’ [4]: 140)

Waduh, ngeri banget, Bro en Sis. Ngeri gimana? Iya. Di ayat ini disampaikan bahwa kalo kita bergaul dengan orang-orang yang memperolok al-Quran dan bahkan menyetujui perbuatan mereka, berarti serupa dengan mereka. Ancemannya berat, karena dicap sebagai orang munafik dan nanti akan dikumpulkan bersama orang-orang kafir di neraka jahannam. Naudzubillahi min dzalik.

Ayo, jadilah muslim dan mukmin sejati. Tunjukkan identitas kemuslimanmu yang bukan hanya pada kulitnya saja, tetapi yang lebih utama pada isinya, yakni akidahnya lurus, ilmunya luas, dan indah akhlaknya. Semangat!

 

Islam itu khas, berbeda dengan yang lain

Sobat gaulislam, Islam memang beda. Beda banget dengan agama lain. Nggak bisa disamakan. Nggak bisa disatukan. Karena ibarat air dengan minyak, maka Islam nggak bisa dicampur dengan ajaran agama lain. Akan saling menolak dalam hal prinsip. Akan saling bertentangan dalam masalah akidah.

Ingin bukti? Sekarang coba kita bandingkan mulai dari yang sangat prinsip: yang disembah. Kita, kaum muslimin, cuma menyembah Allah Ta’ala. bukan yang lain. Sementara agama lain, Kristen misalnya, mereka punya konsep trinitas. Ajaran lain juga sama, menyekutukan Allah. Jelas beda kan? Ya, karena tauhid itu adalah pengakuan bahwa hanya ada satu tuhan yang haq (benar) untuk disembah sekaligus pengingkaran adanya tuhan selain Allah Ta’ala. Catet ya, Bro en Sis!

Oya, dalam pernyataan lebih jelas dan tegas, Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS al-Maaidah [5]: 72)

Nah, kalo dari akarnya aja udah beda, maka batang, ranting, daun, bunga dan buahnya jelas berbeda dong. Tul nggak? Lagian kita belum pernah tuh denger ada pohon mangga berbuah durian (mungkin Om Broery aja yang pernah mendendangkan lagu yang ada liriknya “buah semangka berdaun sirih”!)

Maka sangat wajar dan adil jika Allah Ta’ala mengajarkan bahwa keyakinan kita berbeda dengan keyakinan agama lain. Itu sebabnya, jangan bingung pula kalo syariatnya juga beda. Maka, apa hak kita menyatakan bahwa semua agama sama? Sehingga kita merasa kudu terlibat dan melibatkan diri dalam ibadah agama mereka. Nggak banget!

Kita perlu prihatin karena masih ada sebagian kaum muslimin yang latah ikutan perayaan natal bersama, misalnya. Malah dengan semangat dan gagah berani biar dianggap toleran menyambut dan menyampaikan ucapan selamat kepada mereka. Ah, itu namanya sudah salah menempatkan toleransi dong. Why? Karena dalam urusan keimanan dan ibadah ini nggak berlaku istilah toleransi. Sebaliknya, kita kudu keukeuh memegang prinsip. Allah Ta’ala udah wanti-wanti soal ini dalam al-Quran (yang artinya): “Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS al-Kaafiruun [109]: 1-6)

Sobat gaulislam, semoga kita tetap berpegang teguh dengan ajaran Islam. Bahkan kudu mengingatkan juga kalo ada teman kita yang muslim tapi kelakuannya justru bertentangan dengan Islam. Bolehlah disindir, misalnya, “Aku Muslim. Kamu?” [O. Solihin | Twitter @osolihin]

2 pemikiran pada ““Aku Muslim, Kamu?”

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s