SAN FRANCISCO, CA - JUNE 13:  A gay pride and an American flag hang from a shoulder bag during a demonstration outside of the Phillip Burton Federal Building on June 13, 2011 in San Francisco, California.  Sponsors of Proposition 8, a California ballot measure that would deny same-sex couples to marry in the state, are back in court today to ask a federal judge to nullify U.S. District Judge Vaughn Walker's decision to overturn California's ban on same-sex marriage. (Photo by Justin Sullivan/Getty Images)

LGBT, Sengsara Membawa Laknat


gaulislam edisi 402/tahun ke-8 (19 Ramadhan 1436 H/ 6 Juli 2015)

 

Tepat banget! Udah mah hidup sengsara, eh membawa laknat pula. Itulah yang pantas buat para pelaku LGBT dan pendukungnya. Waduh, kok jahat ama sih, memvonis mereka sebegitu rupa? Bukankah mereka malah bahagia karena bisa mengekspresikan rasa cinta sesama jenis? Bukankah mereka itu manusia juga, yang berarti saudara kita? Hehehe.. ini bukan memvonis, lho. Tetapi faktanya memang demikian. Justru karena sesama manusia, kita saling mengingatkan. Walaupun memang banyak ragam cara mengingatkannya.

Sobat gaulislam, kalo dilihat dari sisi kebebasan berekspresi yang ditawarkan liberalisme saat ini, pelaku LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) merasa nyaman karena keinginannya terpenuhi. Nafsu rusaknya terpuaskan dengan dibolehkannya menikah sesama jenis (untuk mereka yang lesbian dan gay). Cowok ama cowok dan cewek ama cewek. Idih!

Para pelaku biseksual dan transgender juga merasa diuntungkan dengan adanya kebebasan berperilaku yang dilindungi HAM. Kenapa? Karena mereka yang memiliki penyimpangan orientasi seksual, yakni biseksual (suka kepada lawan jenis sekaligus sejenis) ada semacam legalisasi oleh negara. Selain itu, mereka yang transgender juga merasa aman untuk berpindah jenis kelamin. Alasan yang sering disampaikan adalah jiwa perempuan yang terjebak dalam tubuh laki-laki. Mereka ngotot bahwa dirinya sebenarnya perempuan, namun terperangkap dalam raga laki-laki. Lalu mencari pembenaran agar bisa pindah kelamin. Hadeuuh.. orang model gini ibarat seorang pengangguran tapi merasa dirinya jadi pengusaha. Faktanya dia nganggur tapi ngotot ingin disebut pengusaha. Ngawur baget ya?

 

Kasihan pelaku LGBT

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Sebenarnya kita pantas menaruh belas kasihan kepada mereka yang keukeuh dengan keyakinan bahwa LGBT itu bagian dari pilihan mereka dan orang lain harus memaklumi. Mereka sebenarnya sakit, tetapi anehnya tak mau diobati dan tak mau dinasihati oleh mereka yang normal, karena mereka sendiri merasa dan mengganggap diri mereka normal. Lha, kalo udah kayak gini gimana? Jelas ada yang salah dengan cara pandang mereka, Bro en Sis.

Oya, kita kupas satu per satu ya apa itu LGBT (buat kamu yang belum tahu). LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender). Lesbian dengan gay ini adalah homoseksual. Laki suka laki disebut gay. Perempuan suka perempuan disebuat lesbian. Maksudnya “suka” di sini adalah secara birahi ya. Bukan suka biasa. Apalagi setelah Amerika Serikat melegalkan pernikahan sejenis, kaum gay dan lesbian makin bersorak gembira karena nafsu buruknya bisa tersalurkan dengan adanya legalisasi yang disahkan undang-undang negara. Tetapi, mereka lupa bahwa sebenarnya itu awal bencana. Bahkan sejak mereka memiliki perasaan tersebut.

Kalo dipikir-pikir sebenarnya mereka yang homoseksual itu nggak mikir kok. Coba saja tanyakan, mereka lahir dari pasangan sejenis atau pasangan beda jenis? Kalo mereka jujur—apalagi melihat ayah dan ibunya (yang pasti beda jenis), pasti menjawab lahir melalui ‘kontribusi’ ayah dan ibunya yang sudah jelas berbeda jenis, bukan sejenis. Sebab, manusia itu proses berkembang-biaknya melalui proses generatif alias diturunkan dengan cara kelahiran. Bukan melalui membelah diri, dicangkok, apalagi bertunas (pohon pisang keless….).

Oya, bisa dipastikan juga kalo pernikahan sejenis (homoseksual) dilegalkan dan banyak orang yang melakukannya, perkembangan manusia akan terhenti. Mungkin 30 tahun yang akan datang sudah nggak ada manusia. Industri apapun bakalan bangkrut karena nggak ada orang yang lahir dari tahun ke tahun. Memangnya yang sekarang bekerja di berbagai industri nggak bakalan tua atau mati? Industri perlu tenaga baru. Tapi kalo nggak ada, mau pake robot? Itu malah bikin ribet. Begitu pula yang akan terjadi pada kehidupan sosial lainnya: sekolah dan perguruan tinggi gulung tikar dan pemerintahan tak berjalan karena kekurangan orang. Ini kan namanya kesengsaraan alias kesulitan dalam hidup. Udah gitu, mengundang laknat pula bila dilihat dari sudut pandang Islam.

Bagaimana dengan yang biseksual dan transgender? Ini juga perlu dikasihani karena sebenarnya mereka juga sakit. Namun sayangnya, mereka merasa normal tak merasa sakit. Jadi, susah juga dinasihatinnya. Coba aja dipikirkan. Kalo ada seorang lelaki yang biseksual (berhasrat pada wanita dan sekaligus pada pria), apa jadinya kehidupan rumah tangga mereka (kalo pun seandainya mereka menikah). Parah. Di satu sisi dia bisa jadi suami dari istrinya di rumah, tapi di tempat lain dia juga menjalani kehidupan sebagai gay.

Nah, yang tak kalah memilukan lagi mereka yang menganggap bahwa transgender itu normal dan sah-sah saja. Gawat! Padahal, kehidupan tak sesederhana itu jika dilihat dari sudut pandang Islam. Meski aturan Islam ada yang untuk universal (bisa laki dan bisa perempuan), tetapi Islam juga mengatur kehidupan laki-laki dan perempuan. Ada batasannya, ada kekhususannya. Itu semua akan berdampak pada pelaksanaan syariat. Misalnya kewajiban mengenakan busana muslimah. Lha, gimana jadinya kalo ada yang tadinya cowok tapi merasa dia perempuan lalu melakukan operasi ganti kelamin hanya untuk memenuhi nafsunya agar dianggap sebagai perempuan? Mau disuruh pake busana muslimah, tapi faktanya dia laki. Ribet kan? Terus kalo meninggal dunia, doanya (kalo pun ada yang mau mendoakan), gimana? Allahumaghfirlahu atau allahumaghfirlaha? Ribet dan bikin sengsara kan? Udah gitu, dilaknat pula. Idih, ngeri!

Itulah jika masalah seks dijadikan hal utama. Padahal, dalam menikah tak melulu soal seks. Tetapi ada juga tanggung jawab mendidik dan hal lain terkait dengan konsekuensi pernikahan. Selain itu, khusus yang transgender, apalagi sih yang dicari kok kesannya memaksakan nafsu melulu? Kenapa nggak mau taat syariat?

Mengapa tak jua sadar?

Sherina Munaf, menuai kritikan. Gara-garanya bikin pernyataan bernada dukungan melalui akun twitternya (@sherinasinna): Banzai! Same sex marriage is now legal across the US. The dream: next, world! Wherever you are, be proud of who you are. #LGBTRights, tulisnya pada 28 Juni 2015. Kontan saja menuai kontroversi. Ada yang pro dan ada juga yang kontra.

Belum lagi Ade Armando, seorang dosen yang berpikiran liberal juga bikin pernyataan nyeleneh terkait dukungannya terhadap pelaku LGBT. Dalam judul berita di Republika online (4/7/2015), “Ade Armando: Allah Tidak Mengharamkan LBGT!” yang juga menuai kritikan. Ade Armando berdalih, bahwa golongan pecinta sesama jenis bukanlah penyimpangan. Dia malah berargumen, rasa itu datang dari Sang Pencipta. “Pertanyaannya: dari manakah datangnya perasaan tersebut selain bahwa memang Allah menciptakan manusia dengan potensi perasaan itu? Dengan kata lain, bisa jadi ketertarikan terhadap sesama jenis itu adalah suatu hal yang alamiah dan memang diciptakan Tuhan.”

Sherina dan Ade Armando adalah contoh orang yang mendukung LGBT. Setidaknya bila dilihat dari apa yang disampaikannya. Sebab, apa yang disampaikan pasti sesuai dengan apa yang dipikirkan. Apa yang terlihat dari perilaku adalah cerminan dari pikirannya. Nggak mungkin banget kalo orang yang cara pandangnya tentang Islam baik, bakalan ngelakuin hal yang dipandang buruk oleh Islam. Betul nggak? Lagian nih, kalo emang Ade Armando konsisten dengan alasan ngawurnya yang mengatakan bahwa perasaan suka sejenis juga datangnya dari Allah, harusnya dia jangan protes ketika ada orang yang benci dia lalu tiba-tiba orang tersebut nabok atau gebukin dia, karena perasaan benci juga datangnya dari Allah. Mau ngapain dia? Mikir!

Sobat gaulislam, para pelaku dan pendukung kampanye LGBT adalah orang-orang yang sedang sakit namun tak mau diobati. Ini lebih dsebabkan sakit cara pandangnya, bukan sakit secara fisik. Lesbian, gay, biseksual dan transgender muncul karena salah cara pandang dalam menyikapi kehidupan ini. Mereka menjadikan rujukan hawa nafsu dan akalnya semata, bukan kepada aturan Islam yang seharusnya menjadi tuntunan melalui keimanan. Ini kan namanya udah sakit tapi nggak mau berobat. Tul nggak? Obatnya sederhana: taat aturan Islam. Selesai.

Dikutip Islampos.com, Pimpinan ar-Rahman Qur’anic Learning (AQL) Center Bachtiar Nasir, Lc., mengatakan bahwa munculnya gerakan Lesbian Gay Biseksual dan Transgender atau LGBT dikarenakan ada orang yang tak bisa menjawab dua pertanyaan dalam hidup ini.

“Pertanyaan pertama: ‘Tahukah kamu kenapa kamu dilahirkan?’. Pertanyaan kedua: ‘Kenapa kamu harus mati?’” jelas Bachtiar mengungkapkan dua pertanyaan saat membuka acara Nuzulul Quran di Masjid Istiqlal, Jakarta pada Jumat (3/7/2015).

Ustaz Bachtiar menambahkan karena dua pertanyaan tersebut tidak terjawab menyebabkan orang-orang Barat (Eropa) bingung cara menggunakan kemaluannya.

“Manusia kalau tidak bisa menjawab pertanyaan pertama maka kelaminnya sendiri pun akan diubah,” ujarnya.

Ustaz Bachtiar Nasir membocorkan jawaban soal pertama adalah ayat pertama surat al-‘Alaq: “Bacalah dengan nama Rabb-mu yang telah menciptakanmu” dalam artian setiap muslim harus menggunakan apa yang telah Allah berikan melalui cara-Nya bukan cara manusia. Inilah yang disebut manusiawi.

Sedangkan jawaban soal kedua adalah al-Mulk ayat kedua: “(Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” ayat ini juga dapat menjawab soal pertama.

Sobat gaulislam, penjelasan singkat namun pas dari Ustaz Bachtiar Nasir seharusnya menjadi nasihat bagi para pelaku dan pendukung gerakan LGBT. Namun, kalo nggak juga sadar, hati-hati, bisa jadi memang sudah terlalu jauh melangkah akhirnya tersesat. Naudzubillahi min dzalik.

 

LGBT harus dimusnahkan

Waduh, kejam juga ya? Ya, gimana lagi, kalo udah dinasihatin nggak mempan juga, disuruh bertaubat nggak mau, ya Islam punya aturan untuk membereskan masalah beginian. Kalo nggak? Kamu bisa lihat sekarang malah sepertinya mendapat ttempat karena memang dibebaskan oleh negara yang menganut sistem liberal ini. Mengerikan banget lho, soalnya bisa menular.

Itu sebabnyanya, prosedur yang dipakai untuk ‘membereskan’ masalah penyimpangan ini adalah dengan mengubah lingkungan. Terbukti, meningkatnya populasi kaum homo di negeri ini diakibatkan aturan yang berlaku di negeri ini. Alih-alih mengatur kehidupan bermasyarakat dan berne­gara, eh malah memberikan kebebasan untuk ber­buat seperti itu. Di sinilah letak rusaknya sistem kapitalisme yang memang ber­akidah sekuler-liberal ini. Lingkungan dalam sistem kehidupan seperti inilah yang turut membidani lahirnya budaya kaum homo dan lesbi (termasuk biseksual dan transgender) sekaligus melestarikannya.

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Seharusnya, setiap kejahatan, apapun bentuknya, kudu ada sanksinya. Dalam pandangan Islam, homoseksual dan lesbian (termasuk di dalamnya biseksual dan transgender) adalah suatu kejahatan. Maka, kalau tradisi kaum homo dan lesbian yang merusak kehidupan ini dibiarkan, maka selamanya mereka akan tumbuh dan berkembang biak dengan baik. Malah tak mustahil pula bila mereka tambah belagu.

Apa hukuman yang bakal dikenakan kepada kaum homo dan lesbian ini? Imam Syafi’i menetapkan pelaku dan orang-orang yang ‘dikumpuli’ (oleh homoseksual dan lesbian) wajib dihukum mati, sebagaimana keterangan dalam hadis, “Barangsiapa yang mendapatkan orang-orang yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth (praktik homoseksual dan lesbian), maka ia harus menghukum mati; baik yang melakukannya maupun yang dikumpulinya.” (HR Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Baihaqi). (dalam Zainuddin bin Abdul ‘Aziz Al Malibaary, Irsyaadu Al ‘ibaadi ilaa Sabili Al Risyaad. Al Ma’aarif, Bandung, hlm. 110).

Adapun teknis (uslub) yang digunakan dalam eksekusinya tidak ditentukan oleh syara’. Para sahabat pun berbeda pendapat tentang masalah ini. Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu memilih merajam dan membakar pelaku homoseks, sedang Umar dan Utsman radhiallahu ‘anhuma berpendapat pelaku dibenturkan ke dinding sampai mati, dan menurut Ibnu Abbas dilempar dari gedung yang paling tinggi dalam keadaan terjungkir lalu diikuti (dihujani) dengan batu.

Kejam? Boleh jadi menurut hawa nafsu kita demikian. Tapi lebih kejam mana dibandingkan membiarkan korban-korban homoseks terus berjatuhan. Apalagi akibat ulah kaum Sodom ini penyakit mematikan, AIDS, kian merajalela. Lagipula sebagai seorang muslim yang beriman, kita wajib mentaati segala ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

So, jika kita setuju menerapkan syariat Islam, nggak bakalan pelaku LGBT ‘berkembang-biak”. Masalahnya, mau nggak umat manusia diatur dengan syariat Islam yang akan mengantarkan mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan sekaligus di akhirat? Kalo nggak mau, ya siap-siapa aja risikonya. Sebab, LGBT itu udah bikin sengsara, eh membawa laknat pula. Naudzubillahi min dzalik. [O. Solihin | Twitter @osolihin]

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s