Sejumlah warga yang tergabung dari Forum Umat Islam Boyolali (FUIB) berunjuk rasa menolak pasangan sejenis di halaman kantor DPRD Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (16/10). Mereka meminta aparat penegak hukum dan pemerintah Kabupaten Boyolali untuk lebih tegas menyikapi fenomena pasangan sejenis yang terjadi di Boyolali. ANTARA FOTO/ Aloysius Jarot Nugroho/aww/15.

LGBT Tidak Normal


gmailothergenderAllah Ta’ala telah menciptakan manusia itu dari dua jenis, yakni laki-laki dan wanita. Tak ada jenis ketiga. Kecuali orang yang berpikiran nyeleneh saja yang kemudian memaksakan ada jenis ketiga. Contohnya seperti ketika kita mendaftar untuk membuat email di GMAIL, ada pilihan “other” untuk kolom “gender”. Kita juga sudah mafhum bahwa dalam proses penciptaan itu manusia dilengkapi juga dengan potensi-potensi kehidupan. yang salah satunya adalah tertarik pada lawan jenis. Lelaki senang dan tertarik secara seksual kepada perempuan, begitupun sebaliknya. Jadi, kalau ada orang yang sama sekali tak punya nafsu birahi, berarti masih diragukan keasliannya sebagai manusia (yang normal).

Nah, potensi yang dimiliki oleh manusia itu tak bisa diubah lagi, karena itu adalah sunatullah. Ustadz Muhammad Muhammad Ismail dalam kitab Al Fikru Al Islamiy (Bunga Rampai Pemikiran Islam) menyatakan bahwa dorongan seksual pada seseorang merupakan tanggapan dari faktor eksternal bila indra menangkap rangsangan berupa gambar, cerita porno dan penampilan yang menyentuh syaraf seks. Makanya, bila tak disalurkan bisa mengakibatkan kegelisahan jiwa. Jadi berdasarkan sunatullah ini, otomatis manusia yang berlainan jenis kemudian hidup sebagai makhluk heteroseksual, yakni tertarik pada lawan jenisnya. Sehingga bila ada orang yang cuma bisa nempel dengan sesama jenis, jelas ini adalah kelainan yang sangat berbahaya. Nggak normal. Bila dibiarkan hidup dan berkembang, tak mustahil terjadi seperti apa yang pernah dialami kaum Nabi Luth. Naudzu billahi min dzalik!

photo_2016-02-11_06-08-06Itu sebabnya, gay dan lesbian ini melanggar fitrah manusia. Celakanya, sistem demokrasi yang menjadi pujaan banyak orang di dunia justru memberikan ruang gerak yang luas bagi kaum ini. Of course, populasi kaum homo dan lesbian malah tumbuh subur. Jangan kaget, di negeri yang konon katanya menjunjung tinggi budaya timur ini malah kebobolan juga. Lihat saja, gerakan kaum LGBT (Lesbian, Gay, Bisex, and Transgender) dan juga pendukungnya kian marak di negeri ini. Gerakannya sudah sistematis, terstruktur dan massif. Diskusi “Dialog Komunitas LGBT Nasional Indonesia” pada 13-14 Juni 2013 di Bali, menghasilkan rekomendasi gerakan memperjuangkan homoseks di Tanah Air. Di antaranya: menggencarkan promosi LGBT melalui teknologi informasi dan komunikasi sambil memastikan adanya sistem keselamatan dan keamanan dari organisasi untuk melindungi kelompok LGBT. Terbukti, Layanan pesan LINE mempromosikan LGBT via stikernya, Koran Tempo membela LGBT, dan banyak aktivitas liberal yang mendukung LGBT.

Mereka yang tidak normal jadi seperti normal, sementara kita yang normal malah seperti jadi tak normal di pusaran arus informasi dan opini sesat yang digelontorkan para pendukung LGBT. Sekarang pertanyaanya, apakah kita hanya akan diam dan menjadi wacana saja tanpa gerakan yang sistematis, terstruktur, dan massif untuk membendung dan memberantas ketidaknormalan gaya hidup mereka?

Salam,

O. Solihin

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s