dakwahremaja

Masa Depan Dakwah Remaja


gaulislam edisi 449/tahun ke-9 (23 Sya’ban 1437 H/ 30 Mei 2016)

 

Banyaknya persoalan akan mengantarkan kita pada upaya mencari solusi alias pemecahannya. Masalah remaja ini kan lumayan banyak ya. Apa aja tuh? Tawuran, pergaulan bebas, pacaran, seks bebas, narkoba, miras, perundungan alias nge-bully, selera dan ekspresi musik, kecanduan game online, pornografi, penyalahgunaan internet, tren mode pakaian, dan lain sebagainya dan lain sejenisnya. Buwanyak buwanget. Namun, apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi semua itu? Memulai dari mana untuk bisa turut andil dalam menyelesaikan problem ini?

Jawabannya, dakwah. Tetapi, tentu saja sebelum kita terjun dalam dakwah, kita kudu punya ilmunya dulu dong. Nggak asal nyebur aja di arena dakwah. Nah, ilmu didapat dari belajar. Setuju ya? Ok. Jadi, untuk bisa ikut andil dalam dakwah, maka kita kudu mempermak diri kita dengan ilmu keislaman. Berarti kudu belajar dulu, kan? Ya, belajar dan mengkaji. Kalo untuk kegiatan belajar Islam, biasanya orang udah kadung pake istilah ngaji. Betul, dengan ngaji kita jadi bisa tahu mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Melalui ngaji, kita jadi tahu mana yang halal dan mana yang haram. Ngaji juga mengantarkan kita kepada pengetahuan dan pemahaman mana perbuatan yang terpuji dan mana perbuatan yang tercela. Mau kan jadi orang yang tahu dan paham? Harusnya mau, dong.

Ngaji, langkah awalnya

Sobat gaulislam, saya kebetulan mengajar di Pesantren Media untuk materi pelajaran Problem Anak Muda. Nah, dalam mapel ini santri dirangsang cara berpikirnya untuk mendata apa saja sih permasalahan remaja itu, lalu menilainya dan mencari solusi atas permasalahan tersebut. Ini standar lho. Sebab memang begitu adanya. Nggak ada asap kalo nggak ada api. Sebab-akibat terhadap suatu fakta itu menjadi langganan santri Pesantren Media dalam membaca dan memahami fakta. Maka, seharusnya cara pandang seperti ini bisa menghantarkan kita untuk tahu permasalahan dan solusinya.

Ngaji sebagai langkah awal kita untuk bisa nyebur di arena dakwah, adalah sebuah keharusan. Umpama kita mau renang, tentu saja nggak asal nyebur. Perlu sedikit teori dasar dan perlu bimbingan yang sudah tahu seluk-beluk renang. Sama halnya ketika mau nyebur dalam medan tempur, setiap individu prajurit kudu tahu teori pake senjata, bertahan di medan perang, strategi memukul mundur musuh, strategi gerilya, taktik menyerang melalui darat, laut, dan udara. Semua teori itu dipelajari terlebih dahulu. Bahkan, sebelum berperang pun tetap ada briefing untuk menyatukan tujuan dan target serta cara mencampainya. Semua butuh ilmu sebelum amal. Itu sebabnya, bagi para remaja wajib juga untuk mengkaji Islam, sebelum terjun langsung dakwah.

Melalui ngaji kita akan tahu kewajiban, keutamaan, cara, tujuan, target, dan bagaimana mencapainya. Selain itu, kita juga diajarkan untuk senantiasa menjadikan niat sebagai ukuran dalam melakukan perbuatan. Niatnya salah, maka salah pula hasil yang kita dapat meski caranya benar. Shalat nggak diterima kalo niatnya bukan karena mengharap keridhoan Allah Ta’ala, meski caanya benar. Rugi, kan? Ngaji dan dakwah juga nggak diterima sebagai amal shalih kalo niatnya bukan karena Allah Ta’ala. Tuh, tebelin dah catetannya.

Mungkin ada di antara kamu yang bertanya-tanya, gimana caranya bisa ngaji? Nggak usah khawatir, kini banyak kegiatan rohis yang bagus. Ikut aja kegiatan di rohis dan kamu bakal dapetin bukan saja ilmu, tetapi juga teman seperjuangan. Gabung juga di kegiatan remaja masjid yang hampir selalu ada di setiap masjid besar di desa atau kelurahan. Lembaga gaulislam yang menerbitkan buletin kesayangan kamu ini, insya Allah juga bisa membantu kamu untuk belajar seputar Islam dan ikut kajian-kajiannya. Ada tim yang bisa bantu kamu belajar Islam. Tunggu apa lagi? Bergegaslah menuju kebaikan.

Lapar ilmu

Kalo kamu lapar biasanya ingin segera menuntaskan rasa laparmu dengan mencari makanan. Kalo nggak punya duit buat beli makanan, bisa jadi kamu pinjam uang ke tamanmu. Bahkan dalam kondisi yang darurat sekalipun, banyak orang berusaha untuk memenuhi rasa laparnya walau sekadar memakan dedaunan. Kenapa hal itu dilakukan? Semata karena tuntutan kebutuhan bertahan hidup. Lalu bagaimana jika lapar ilmu? Hehehe saya menggunakan istilah ini karena kalo “haus ilmu” kayaknya udah terlalu sering kita dengar. Jika kita dalam memenuhi rasa lapar untuk kebutuhan fisik bisa mengupayakan secara maksimal, maka tak ada salahnya (malah lebih bagus juga) jika dipraktekkan dalam memenuhi kebutuhan akan ilmu pengetahuan. Jadinya, kondisi kita yang lapar ilmu akan menghantarkan untuk giat dan semangat mencari guru dan belajar demi memenuhi kebutuhan akan ilmu. Betul? Ya, seharusnya.

Itu sebabnya, kondisi lapar ilmu bisa menghantarkan kita giat dan semangat belajar. Ngaji bukan lagi sesuatu yang beban, tetapi sebagai tamasya, rihlah. Maka, bercerminlah kepada para ulama, kepada orang-orang yang secara keilmuan bagus. Belajarlah dengan mereka. Bila belum memungkinkan, teladani semangatnya dalam mencari ilmu dan mendapatkannya. Selain itu, ‘contek’ juga cara para ulama setelah mencari dan mendapatkan ilmu, yakni tiru bagaimana mereka mengajarkannya lagi kepada orang lain, atau mendakwahkannya. Sebab, orang yang sudah punya ilmu namun tidak memiliki semangat untuk menyebarkannya lagi atau menjadi bekal mereka untuk berdakwah, ilmu itu jadi nganggur dan mungkin sia-sia karena hanya dinikmati diri sendiri.

Ayo sobat gaulislam, mumpung punya kesempatan untuk belajar, kajilah Islam. Apalagi kondisi keluarga mendukung. Ayah-ibumu masih ada dan mampu untuk membiayai kehidupan dan proses belajarmu.

Bolehlah kita bercermin pada para ulama terdahulu. Mereka dididik oleh orang tuanya dengan sangat bagus dalam belajar tentang Islam. Kamu tentu tahu kan dengan sosok Imam asy-Syafi’i? Ya, ayah Imam asy-Syafi’i wafat dalam usia muda. Ibunyalah yang membesarkan, mendidik, dan memperhatikannya hingga kemudian Muhammad bin Idris asy-Syafi’i menjadi seorang imam besar. Ibunya membawa Muhammad kecil hijrah dari Gaza menuju Mekah.

Di Mekah, ia mempeljari al-Quran dan berhasil menghafalkannya saat berusia 7 tahun. Kemudian sang ibu mengirim anaknya ke pedesaan yang bahasa Arabnya masih murni. Sehingga bahasa Arab pemuda Quraisy ini pun jadi tertata dan fasih.

Setelah itu, ibunya memperhatikannya agar bisa berkuda dan memanah. Jadilah ia seorang pemanah ulung. 100 anak panah pernah ia muntahkan dari busurnya, tak satu pun meleset dari sasaran.

Allah Ta’ala memberikan taufik kepada Imam asy-Syafi’i sehingga dengan kecerdasan dan kedalaman pemahamannya, saat beliau baru berusia 15 tahun, Imam asy-Syafi’i sudah diizinkan Imam Malik untuk berfatwa. Hal itu tentu tidak terlepas dari peranan ibunya yang merupakan seorang muslimah yang cerdas dan pelajar ilmu agama.

Imam asy-Sayfi’i bercerita tentang masa kecilnya, “Aku adalah seorang anak yatim. Ibukulah yang mengasuhku. Namun ia tidak memiliki biaya untuk pendidikanku. Aku menghafal al-Quran saat berusia 7 tahun. Dan menghafal kitab al-Muwaththa saat berusia 10 tahun. Setelah menyempurnakan hafalan al-Quran, aku masuk ke masjid, duduk di majelisnya para ulama. Kuhafalkan hadits atau suatu permasalahan. Keadaan kami di masyarakat berbeda, aku tidak memiliki uang untuk membeli kertas. Aku pun menjadikan tulang sebagai tempat menulis”.

Walaupun memiliki keterbatasan materi, ibu Imam asy-Syafi’i tetap memberi perhatian luar biasa terhadap pendidikan anaknya. Buat kita nih, nggak ada alasan lagi untuk malas belajar. Yuk, mulai dari sekarang kita ngaji.

Dakwah bagi remaja

Ya, persoalan penting lainnya, sesuai judul di buletin gaulislam edisi 449 ini, maka kita perlu adanya dakwah khusus buat remaja. Sebab, permasalahan manusia ini banyak banget. Kadang, tergantung tingkatan usia dan latar belakang pendidikan untuk bisa masuk pesannya. Ya iyalah, kan nggak mungkin kita cara berdakwah ke anak-anak disamain dengan cara dakwah buat orang dewasa. Malah, untuk orang dewasa aja, perlu ada trik berbeda ketika dakwah kepada yang masih awam dan kepada yang udah terpelajar. Betul nggak?

Nah, bagaimana prospek dakwah buat remaja? Bagus. Bagaimana masa depan dakwah remaja? Insya Allah bisa bagus juga kalo ditangani dengan benar dan baik sejak dari sekarang (atau saya sih yakin sejak lama sudah dilakukan para pendahulu kita). Sudah ada sejak lama. Kita tinggal melanjutkan saja dan menyesuaikan dengan kondisi masyarakat saat ini. Betul?

Kalo ngeliat fakta sekarang, maka dakwah bagi remaja kudu rajin digeber. Menyatukan banyak komponen. Kalo saya dan kawan-kawan sebagai penulis yang memperhatikan permasalahan remaja, maka cara utama saya berdakwah dalam menyelesaikan problem tersebut adalah melalui media, khususnya tulisan yang saya sebar di blog, di buletin, dan tentu saja di buku. Kadang, saya juga sampaikan di radio dan televisi, termasuk di Youtube. Alhamdulillah, selama ini saya fokuskan untuk menemani kamu semua–remaja muslim–dalam belajar Islam. Walau, kalo harus jujur, saya bukan lagi remaja. Tetapi insya Allah akan terus saya fokuskan dakwah untuk remaja, apalagi saya sudah memiliki anak usia remaja (SMA dan SMP). Jadi tambah semangat deh buat sharing ilmu dengan kamu semua para remaja muslim.

Insya Allah banyak banget kaum muslimin yang peduli dengan remaja. Mereka berdakwah bahu membahu dengan banyak pengemban dakwah lainnya. Saya sendiri alhamdulillah sudah sejak 1994 mulai tertarik ke dunia dakwah remaja. Ada rentang waktu 22 tahun sampai sekarang. Jejak tulisan saya insya Allah bisa kamu temukan di Majalah Remaja PERMATA, Majalah SOBAT Muda, Buletin STUDIA, juga di Buletin gaulislam saat ini. Insya Allah bisa kamu temukan juga di buku-buku yang saya khususkan untuk remaja (alhamdulillah ada lebih dari 45 buku) sejak buku Jangan Jadi Bebek, yakni buku pertama saya yang diterbitkan tahun 2002. Kemudian disusul buku lainnya, baik yang ditulis sendiri maupun hasil kolaborasi dengan penulis lain. Alhamdulillah, di usia yang tak lagi muda, Allah Ta’ala memudahkan saya untuk menulis beberapa buku baru bagi remaja. Silakan cari di toko buku ya. Ada tiga buku baru saya, lho (hehe.. promo nih jadinya). Pertama, Sosmed Addict (Oktober 2015). Kedua, Jomblo’s Diary (edisi re-make, April 2016). Ketiga, Lupakan Mantanmu! (Mei 2016).

Semoga apa yang saya lakukan ini bisa membuat kamu lebih semangat mencari ilmu, untuk kemudian mengkaji lebih dalam, dan akhirnya bisa ikutan berdakwah. Sesuai kemampuan maksimal yang bisa kamu lakukan. Lebih keren lagi kalo kamu bisa melampaui apa yang saya dan kawan-kawan lakukan. Sebab, generasi kamu lebih berpeluang besar untuk terus berkiprah dalam dakwah ketimbang generasi kami. Semangat menjemput masa depan dakwah remaja dan kebangkitan Islam yang benar dan baik. Insya Allah. [O. Solihin | Twitter @osolihin]

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s