Apa Karya Terbaikmu?


gaulislam edisi 496/tahun ke-10 (27 Rajab 1438 H/ 24 April 2017)

Sobat gaulislam, Bro and Sis yang insyaAllah muslim dan muslimah sejati. Aku mau nanya nih, udah punya prestasi apa aja sekarang? Wih, wih, salut deh buat yang prestasinya udah segudang. Kira-kira prestasi kayak gimana yang kalian punya, ya? Prestasi menangin lomba-lomba, juara kelas, peraih nilai tertinggi, atau karya kalian diakui oleh orang-orang ternama?

 

Berprestasi dengan karya

Dua jempol buat yang udah berprestasi, deh! Jarang-jarang loh, ada orang yang mampu berprestasi di zaman serba modern dan instan kayak sekarang. Coba aja bayangin sendiri, dari miliaran orang di Indonesia, cuma sedikit yang bisa mengharumkan nama sekolah, atau kota apalagi negara dengan prestasi. Kalo boleh jujur, aku aja belum mampu tuh buat bisa ngebanggain orangtua dengan prestasi.

Itu sebabnya aku heran, gimana sih, caranya buat ngukir prestasi? Haruskah aku nunggu ada perlombaan yang diadakan buat dapet juara dan berprestasi? Atau berusaha supaya nilaiku lolos dari kriteria kelulusan minimal (KKM) dan dapet gelar peraih nilai tertinggi atau juara kelas? Wah, pasti kamu semua sangat berjiwa kompetisi kalau alasannya memang karena itu. Betul?

Eh, tapi, kalau nggak ada perlombaan atau nilai KKM berarti kamu nggak bakalan punya prestasi, dong? Nah loh, gagal membanggakan orangtua, sekolah, kota, apalagi negara! Aku jadi mikir, yang berprestasi dengan alasan kayak gitu pasti berkarya dengan prestasi. Bukan berprestasi dengan karya. Kok bisa?

Sobat gaulislam, tahu nggak sih apa perbedaannya berkarya dengan prestasi sama berprestasi dengan karya?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia versi luring alias offline, salah satu pengertian ‘dengan’ adalah memakai (menggunakan) suatu alat. Kalau diurai, ‘berkarya dengan prestasi’ sama dengan ‘berkarya memakai (menggunakan) alat prestasi’. Untuk yang masih bingung apa maksudnya, aku jelasin, deh!

Jadi kalau kalian berkarya dengan prestasi berarti kalian membutuhkan event atau perlombaan buat bikin suatu karya. Dan tanpa event itu kalian nggak bakalan punya karya yang bisa bikin kalian berprestasi. Duh, duh, sedih banget deh, kalau nggak bisa berprestasi karena nggak ada event yang maksa kalian buat bikin karya.

Beda lagi sama ‘berprestasi dengan karya’ yang maknanya sama dengan ‘berprestasi memakai (menggunakan) alat karya’. Menurutku pribadi, yang satu ini lebih ngena dan mulia maknanya. Kenapa? Itu artinya, sebelumnya kita udah punya karya-karya yang dibuat karena alasan pengen bikin aja untuk memberi manfaat bagi orang lain, bukan bikin karena ada lomba atau event. Nah, ketika karya kita dilihat, didengar, dibaca, apalagi diakui banyak orang sampe bisa mengukir prestasi, berarti kita berprestasi dengan karya. Catet!

Kalau menurutku sih, dari pada nungguin event atau perlombaan yang nggak tahu kapan bakal diadainnya supaya kita bisa berkarya dan mencetak prestasi, mending bikin karya aja dulu. Terus kita share deh karya itu, yang insyaAllah bakal diliat banyak orang sampe kita diakui dan bisa berprestasi. Apalagi zaman demam medsos kayak sekarang, karya kita bisa dishare dengan mudah.

Aku kasih tahu ya, sobat gaulislam, kalau kita berkarya karena keinginan sendiri, bukan karena suatu event, dan tema yang diambil membawa kemaslahatan buat umat, pasti lebih berkah dan baaanyak manfaatnya. Dapet pahala, lagi, kan lumayan, nabung buat ke surga nanti! Hehehe… Sip! 2 jempol dah!

 

Menjauhi kendala

But, buat kamu yang belum punya prestasi kayak aku dan belum mulai untuk berkarya, aku mau nanya, nih. Kira-kira kenapa sih, kita belum bisa mengukir karya dan berprestasi? Padahal kayaknya orang-orang gampaaang banget buat bikin suatu karya yang bermanfaat buat banyak orang dan punya prestasi karena karyanya itu. #mikir

So, ternyata alesan yang paliiing besar yang menghambat kita buat berkarya dan ngukir prestasi adalah rasa males! Haduh, capek deh kalau ngebahas soal rasa males, nggak bakal ada abis-abisnya. Soalnya pasti adaaa aja alesan buat menangin rasa males itu. Nah, ini nih yang perlu kita hindari buat menangin rasa males. Masalahnya, sekali kita menangin rasa males, setelahnya kita juga bakalan menangin rasa males lagi. Teruuus aja begitu sampe akhirnya kita nggak punya semangat apalagi niat buat berkarya. Duh, berabe, kan? Banget!

Belum lagi nih, di zaman yang serba modern dan instan kayak gini, hampir semua penduduk Indonesia itu konsumen, bukan produsen. Cuma nikmatin apa yang ada, bukannya bikin sesuatu buat dinikmatin. Nah, gara-gara ini juga makanya banyak banget orang yang lebih milih nikmatin aja dari pada capek-capek dan pusing mikirin inovasi dan karya baru.

Nggak cuma males dan berjiwa konsumen aja, kurangnya rasa peduli ke sesama juga termasuk salah satu penghambatnya, loh! Kok bisa, sih? Bisa lah, soalnya ide yang kita dapetin buat menghasilkan karya atau inovasi baru asalnya pasti dari orang-orang yang ada di sekeliling kita. Kalo kita nggak perhatian sama adik, kakak, orangtua, tetangga, dan orang-orang di sekeliling kita, ide buat bikin karya nggak bakal masuk ke otak. Walhasil, kamu semua nggak bisa mengukir prestasi, deh! Duh, duh…

 

Dalami potensi!

Well, potensi setiap orang pasti beda-beda. Jangan paksa diri sendiri buat pelajarin hal-hal yang bukan potensi kalian, cuma karena ngeliat orang lain kayak gitu, lalu ikut-ikutan pengen juga. Nggak lah! Temuin aja potensi yang kamu kuasai. Terus pelajari dan dalemin, deh. Terakhir, tinggal jadiin itu sebagai ladang berkarya yang bermanfaat buat umat.

Buat yang nggak tahu potensinya apa, nggak usah takut! Banyak kok, potensi yang bisa kamu ulik. Buat nemuin potensi itu, coba dari hal-hal yang kalian sukai. Misalnya, kalo ada di antara kamu yang sukaaa banget berselfie-selfie ria terus share fotonya di sosmed. Nah, daripada bosen karena isinya foto-foto diri sendiri aja, coba deh foto hal lainnya, kayak pemandangan alam. Mulai dari situ kalian dalemin seni fotografi sambil foto-foto hal-hal yang bisa bermanfaat buat orang lain. Kayak misalnya foto pemandangan gunung terus di-share dan dikasih caption: “kebesaran Allah yang tiada duanya, tidak ada yang mampu menciptakan kecuali Dia, nikmat mana lagi yang kamu dustakan?” Wuih, wuih… bikin merinding deh, captionnya, hehehe.

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Kalo boleh jujur, sebenernya aku juga termasuk korban dari mendalami hal yang disukai. Dari dulu aku sukaaa banget baca, tapi karena capek jadi pembaca terus aku jadi pengen buat tulisan yang dibaca sama orang lain. Akhirnya aku belajar cara buat nulis, deh. Eh, lama-kelamaan… terereng! Menulis jadi potensi aku buat berprestasi dengan karya yang insyaAllah juga bermanfaat buat kamu semua yang lagi baca sekarang. Hehehe…

 

Istimewa di mata Allah

Sekadar menegaskan aja, setiap orang itu istimewa. Tinggal diri sendiri yang nentuin, mau istimewa di mata siapa: dunia, atau Allah Ta’ala?

Kalau kita mau istimewa di mata dunia, berkarya dengan prestasi cukup jadi modal. Dikagumi banyak orang karena ngejuarain suatu perlombaan atau juara di bidang akademik demi kepuasan diri sendiri karena pengen dianggep ‘hebat’ sama orang lain. Ati-ati Bro and Sis, jatohnya bisa riya’, loh! Malah bikin dosa. Ih, naudzubillah.

Tapi kalau mau istimewa di mata Allah Ta’ala, berprestasi dengan berkarya yang bermanfaat buat orang lain itu salah satu caranya. InsyaAllah pahala yang didapet. Beuh… mantep! Mengalir terus pahalanya kayak sungai meskipun kita udah meninggal sekalipun. Daebak, lah!

So, jangan putus semangat cuma karena pendapat orang lain yang mandang sebelah mata potensi dan usaha kita buat berkarya. Ckckck… pura-pura tuli aja deh, kalo masih ada yang bilang berkarya itu udah nggak zaman soalnya udah banyak karya yang tinggal dinikmatin aja.

Oya, kamu masih inget nggak cerita tentang seorang ayah, anak dan keledai? Gini ceritanya. Pada suatu hari seorang anak dan ayahnya berjalan sambil menuntun seekor keledai. Tapi orang-orang di sekitar mereka bilang: sayang banget keledainya nggak dipake, cuma dituntun aja. Ngedenger itu, ayahnya nyuruh anaknya buat naik ke punggung keledai, terus mereka jalan lagi.

Tapi di tengah jalan ada orang lain yang bilang: ih, anaknya nggak sopan, masa dia enak-enakan naik keledai tapi ayahnya jalan kaki. Ngedenger itu, akhirnya sang ayah minta anaknya turun, gantian ayahnya yang duduk di punggung keledai dan anaknya jalan kaki.

Mereka melanjutkan perjalanan lagi, tapi di tengah jalan ada orang bilang: aduh, ayahnya jahat banget, masa anaknya disuruh jalan kaki tapi dia malah duduk enak-enakan. Ngedenger itu, ayahnya minta buat naik keledai berdua terus mereka jalan lagi. Tapi di tengah jalan ada yang bilang: aduh, kasian banget keledainya, dinaikin sama ayah-anak itu.

Hmm… dari cerita ini, udah bisa dipastiin kalo pendapat orang lain itu pasti berbeda-beda. Dan, belum tentu kalau kita ngikutin pendapat itu kita bakal baik-baik aja. So, ayo mulai jauhin semua hal yang jadi kendala kita buat berkarya. Tutup telinga sama pendapat orang lain yang nggak bikin kita produktif dan mulai gali potensi diri sendiri. Eh, tapi kalo nasihat sih boleh kok, diterima.

Sobat gaulislam, jangan cuma berkarya karena ngejar prestasi atau gelar semata, ya. Sebab, itu belum tentu bermanfaat buat banyak orang dan kaum muslimin, sehingga belum bisa disebut karya terbaikmu.

Oke deh, salam semangat buat yang terus ikhtiar buat jadi yang istimewa di mata Allah dengan karya terbaikmu untuk kemaslahatan kaum muslimin! Keep fighting! [willyaaziza]

 

Iklan

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s