Idih, Komunis!


gaulislam edisi 519/tahun ke-10 (12 Muharram 1439 H/ 2 Oktober 2017)

 

Akhirnya tergoda juga nih untuk nulis soal komunisme (orangnya disebut komunis). Namun, karena buletin gaulislam ditujukan untuk segmen remaja, maka bahasanya juga kudu khas gaya remaja. So, kamu jangan mencret-mencret ya atau malah stres membaca judulnya. Kalo baca judulnya saja udah diare dan stres, gimana baca isinya ya? Jangan-jangan kamu udah kejang-kejang. Huss! Jangan menuduh yang belum tentu salah, lho! Eh.

Bro en Sis rahimakumullah, hari Sabtu (30/9/2017) malam lalu akhirnya saya mengajak para santri Pesantren Media untuk nobar film “Pengkhianatan G30S/PKI”. Sebelumnya memang ada anjuran dari Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo yang sudah dipublikasikan media massa maupun tersebar di media sosial. Tujuannnya sih, buat remaja generasi sekarang yang memang banyak yang belum ngeh tentang apa itu PKI (Partai Komunis Indonesia), apa itu komunisme, bagaimana fakta dan sepak terjangnya selama ini. Meski nggak sedikit yang tepar karena durasi film ini yang luar biasa panjangnya (lebih dari 3,5 jam!), namun pesan seputar fakta sejarah di film ini bisa diserap walau tak maksimal. Tentu saja, saya memberikan prolog sebelum acara nobar dimulai dan memberi kesimpulan setelah nobar film tersebut.

Oya, di buletin kesayangan kamu ini, saya nggak bakalan ngupas tuntas gimana isi filmya, karena saya yakin banyak juga di antara kamu yang udah nonton filmnya. Dalam tulisan di edisi ini, saya ingin ngajak kamu semua untuk tahu apa itu paham komunisme dan mengapa banyak orang takut akan hadirnya kembali PKI (Partai Komunis Indonesia) dalam berbagai rupa. Mungkin saja kalo bangkit partainya agak sulit karena sudah dilarang. Namun, pemahaman seputar komunisme (termasuk sosialisme yang menjadi ibu kandungnya) sudah terserak di berbagai komunitas, termasuk terlibat langsung dalam perpolitikan di negeri ini. Waduh!

 

Seputar Sosialisme-Komunisme

Walah, jadi nostalgia deh kalo ngomongin sosialisme dan komunisme. Soalnya apa? Soalnya secara institusi nih ideologi udah “wasalam”. Udah nggak diemban lagi oleh negara besar sekelas Uni Soviet atau USSR (Union of Soviet Socialist Republics) yang udah bubar pada tahun 1991. Banyak yang seneng dengan bubarnya Uni Soviet, terutama negara-negara pengemban kapitalisme. Oya, grup rock sekelas Scorpion juga ikutan bikin satu lagu manis berjudul Wind of Change sebagai bentuk ‘syukuran’ berakhirnya era sosialisme-komunisme.

Saat ini, secara institusi sosialisme-komunisme praktis berakhir. Namun secara individu atau kelompok masih ada yang memperjuangkan. Negara kecil juga masih ada sih yang menerapkan, Vietnam salah satu contohnya. Nama resmi negaranya adalah Socialist Republic of Vietnam. Selain Vietnam, Korea Utara dan Cina adalah dua kekuatan negara Sosialisme yang masih dianggap sebagai ancaman bagi Amerika, meski Uni Soviet udah hancur.

Sobat gaulislam, pada dasarnya sosialisme tuh muncul sebagai tandingan kapitalisme, lho. Sosialisme sebagai bentuk perlawanan kepada kapitalisme yang udah bikin sengsara kaum buruh di Eropa pada abad 19.

Emang sih, pada satu sisi industrialisasi–dengan kapitalisasinya–telah mendorong dengan pesat laju produksi barang dan jasa. Akan tetapi industrialisasi juga bertanggung jawab terhadap kesenjangan dan krisis sosial yang merugikan kaum buruh. Upah kerja rendah, jam kerja panjang, eksploitasi tenaga anak dan wanita, serta pabrik yang kurang–bahkan tidak–memperhatikan keamanan kerja dan kesejahteraan kaum buruh (Lihat Prof. Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik; ed. xvi; 1995; PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, bab v, Komunisme dan Istilah Demokrasi dalam Terminologi Komunis; hlm. 77-78)

Muncul kemudian Robert Owen (1771-1858) di Inggris, Saint Simon (1760-1825), dan Fourier (1772-1837) di Perancis berusaha memperbaiki kondisi buruk ini. Didorong rasa kemanusiaannya mereka memformulasikan teori-teori tentang sosialisme. Namun usaha mereka tidak dibarengi dengan tindakan nyata, maupun konsepsi nyata mengenai tujuan dan strategi dari perbaikan itu. Sehingga teori-teori mereka dianggap sebagai khayalan semata. Terutama oleh Marx dan Engels.  Muncul kemudian istilah Sosialisme Utopis.

Karl Marx (1818-1883) dari Jerman, tampil ke depan. Ia juga mengecam keadaan ekonomi dan sosial yang bobrok akibat diterapkannya sistem ekonomi kapitalistik. Untuk mengubah kondisi bobrok masyarakat tersebut,  Karl Mark berpendapat bahwa masyarakat harus diubah dengan perubahan radikal (revolusioner) bukan dengan perubahan tambal sulam. (Robert A. Isaak, International Political Economy–terj. Ekonomi Politik Internasional; pentj. Muhadi Sugiono; ed.I, Juli 1995, PT. Tiara Wacana, Yogyakarta)

Menurut Prof. Miriam Budiardjo, Marx menyusun teori-teori sosial bertumpu pada hukum-hukum ilmiah. Ia menamakan teori sosialnya dengan nama Sosialisme Ilmiah (Scientific Socialism), untuk membedakan pahamnya dengan Sosialisme Utopis. Dalam menyusun teori-teori sosialnya Marx banyak dipengaruhi oleh filsuf Jerman Hegel (1770-1831, terutama filsafat Hegel tentang dialektika. Kemudian ia dan Engels menerbitkan berbagai macam karangan, salah satunya yang paling masyhur adalah Manifesto Komunis dan Das Kapital.

Sobat gaulislam, sosialisme-komunisme nggak bertahan lama lho. Cuma 70-an tahun diterapkan sebagai ideologi negara oleh Uni Soviet. Karl Marx sebagai konseptornya, dan Stalin, Lenin dan pemimpin berikutnya sampe bubar di tahun 1991 adalah sebagai pelaksana aturan hukumnya.

Dalam kehidupan Kapitalisme terkesan banget individualistisnya. Sebab, kalo pun berkelompok atau berserikat, tapi kepentingan pribadi lebih menonjol. Kalo pun butuh bekerja sama, maka itu pasti ada niat lain. Nah, dalam sosialisme tuh prinsipnya kesetaraan. Nggak boleh ada ambisi pribadi untuk memiliki apa pun. Semuanya harus sama. Karena kepentingan pribadi bisa ngerusak kesatuan.

Tapi kenyataannya nih, pemikiran itu cuma teori doang. Prakteknya nol besar. Buktinya, para petinggi partai komunis berebut harta dan kekuasaan. Bukan hanya itu, pejabatnya juga sering mengeksploitasi rakyat dan mengatasnamakan rakyat untuk melanggengkan kekuasaan mereka. Itu sebabnya, jangan heran kalo muncul lelucon-lelucon satire (sindiran) oleh banyak rakyat Soviet. Kalo nggak percaya silakan baca buku Mati Ketawa Cara Rusia. Dijamin ngakak sendiri, tapi sekaligus bikin kita mikir walau humor itu singkat. Eh, ada contohnya nih:

Seorang lelaki berlarian di jalan raya Kota Moskow, dan berteriak, “Krushchev babi!”

Ia ditangkap, diadili, dan dijatuhi hukuman 21 tahun. Setahun untuk penghinaan, dan 20 tahun untuk “membocorkan rahasia negara.”

Ya begitulah, karena sosialisme-komunisme juga nggak ada bedanya ama kapitalisme kalo dilihat dari merusaknya.

Oya, kayaknya kamu perlu tahu deh bahwa ‘akidahnya’ Sosialisme adalah materialisme. Prinsip materialisme menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada hanyalah materi belaka. Nggak ada Tuhan, nggak ada ruh, atau aspek-aspek kegaiban lainnya. Jadi, materilah asal-usul segala sesuatu. Materi juga merupakan dasar eksistensi segala macam pikiran. Dari ide materialisme inilah dibangun dua ide pokok dalam Sosialisme yang mendasari seluruh bangunan ideologi Sosialisme, yakni Dialektika Materialisme dan Historis Materialisme. (Ghanim Abduh, Kritik Terhadap Sosialisme-Marxisme, Pustaka Al-Izzah, 2003)

Nah, atas dasar ide materialisme ini, dengan sendirinya agama nggak punya tempat dalam Sosialisme-Komunisme. Sebab agama berpangkal pada pengakuan atas eksistensi Tuhan, yang jelas-jelas diingkari oleh ide materialisme. Bahkan agama dalam pandangan kaum sosialis hanyalah ciptaan manusia yang tertindas dan merupakan candu yang membius rakyat yang harus dimusnahkan dari muka bumi. (Coba deh lihat: Karl Heinrich Marx, Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophi of Right, 1957: 42, dalam kutipan di buku Kritik terhadap Sosialisme, Syamsuddin Ramadhan)

Itu sebabnya nih, menurut Sosialisme hubungan negara-agama dapat diistilahkan sebagai hubungan yang negatif. Dalam arti Sosialisme telah menafikan alias secara mutlak eksistensi dan pengaruh agama dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Agama merupakan candu masyarakat yang harus dibuang dan dienyahkan. Begitu deh singkatnya. Oke? Kalo pengen lengkap sekarang udah banyak buku-buku yang bahas tentang sosialisme, baik pandangan pemikir Kapitalisme, Islam, maupun dari praktisi Sosialisme-Komunisme sendiri. Biar mantep, gitu lho.

 

Islam melawan Kapitalisme dan Sosialisme

Sobat gaulislam, waktu nonton bareng film Pengkhianatan G30S/PKI Sabtu malam lalu, saya dan penonton lainnya menyaksikan adegan orang-orang PKI di daerah Lobang Buaya setelah berhasil menculik para jenderal angkatan darat. Bagi yang masih hidup saat diculik, diteriaki, “Jenderal kabir!” Hehehe.. terdengar seperti kafir ya? Padahal itu maksudnya jenderal kapitalis birokrat (kabir). Maklum, lawannya sosialisme-komunisme memang kapitalisme.

Nah, posisi Islam, tentu saja melawan keduanya. Sebab ketiga ideologi ini saling bersaing dan mengalahkan. Islam melawan kedua ideologi ini, maka kaum muslimin sama sekali tak boleh menjadi bagian dari ideologi kapitalisme maupun sosialisme (termasuk komunisme di dalamnya).

Kapitalisme adalah ideologi dan sistem yang lahir dari doktrin sekular yang diadopsi Eropa setelah runtuhnya kekuasaan gereja dalam arena politik. Kamu kayaknya pernah dengar deh semboyan pas revolusi Perancis: “Gantung kaisar terakhir, dengan usus pendeta terakhir”. Nah, itu sebagai protes dari rakyat untuk mengakhiri kekuasaan gereja terhadap urusan pemerintahan. Jadi, nih Kapitalisme tuh ‘akidahnya’ adalah sekularisme.

Konsep sekularisme ini berkembang, apalagi setelah diadopsinya HAM alias Hak Asasi Manusia. Nah, salah satu konsep fundamental  yang lahir dari sekularisme adalah adanya keharusan negara atau kelompok atau individu untuk melindungi hak manusia dalam kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan kepemilikan, dan kebebasan individu.

Dari prinsip kebebasan kepemilikan muncul sistem ekonomi kapitalis. Demokrasi, atau konsep ‘kedaulatan rakyat’, adalah sistem politik yang juga lahir dari keyakinan sekular, tapi sebagai sistem politik demokrasi kurang menonjol dibandingkan sistem ekonomi kapitalis.  Meskipun secara teoretis demokrasi memberikan kekuasaan legislasi kepada rakyat, tapi pada kenyataannya mereka yang memiliki kekayaan ekonomi adalah pihak yang secara riil memiliki kekuasaan.

Lihat deh, Ketua Partai Golkar yang juga Ketua DPR, Papa Setnov alias Setya Novanto yang sakti karena kebal hukum meski setumpuk bukti diajukan. Ia bebas dari jeratan hukum pada 29 September 2017 lalu. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kalah dalam sidang praperadilan yang diajukan oleh Setya Novanto. Hakim Cepi Iskandar memutuskan penetapan tersangka Ketua DPR itu dalam kasus e-KTP tidak sah dan batal demi hukum. Tuh, bukti bobroknya sistem hukum dalam kapitalisme yang bisa dibeli dengan fulus dan jenis harta lainnya.

Islam, tentu saja berbeda dengan kedua ideologi tersebut. Secara singkat bisa dijelaskan begini. Islam adalah ideologi. Itu sebabnya, jangan lagi kita menganggap bahwa Islam cuma ngurus soal akhirat aja. Islam lihai juga lho ngurus dunia. Tapi dengan catatan, yakni kalo Islam diterapkan sebagai ideologi negara. Jadi, mulai sekarang biasakan untuk memahami Islam sebagai ideologi. Oke?

Sekadar menekankan aja nih, bahwa nggak ada keraguan kalo akidah Islam tuh menjelaskan bahwa sebelum ada kehidupan dunia ini ada Allah Pencipta manusia, alam semesta, dan kehidupan; bahwa Allah Pencipta manusia telah menurunkan aturan-aturan-Nya ke dunia ini untuk mengatur kehidupan manusia; dan bahwa manusia akan menuju alam akhirat dengan dimasukkan ke dalam surga atau neraka—begantung pada terikat-tidaknya dirinya dengan aturan-aturan-Nya. Itulah realitas akidah Islam yang harus diyakini oleh setiap Muslim.

Itu sebabnya, Islam tidak boleh dipisahkan dari kehidupan. Seorang Muslim diperintahkan untuk menaati Allah Ta’ala di rumah, di pasar, di mal, di kendaraan, di kantor, di sekolah, di masjid, di ruang pertemuan, di mess, di hotel, dan di setiap tempat. Demikian juga ketika makan, minum, berpakaian, berakhlak, beribadah, dan berbagai muamalah.

Bro en Sis rahimakumullah, Islam adalah agama yang nggak bisa diceraikan dari politik (baca: negara). Itu sebabnya, Imam al-Ghazali berkata: “Karena itu, dikatakanlah bahwa agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Dikatakan pula bahwa agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang yang tidak berpenjaga niscaya akan hilang lenyap.”

Jelas beda banget dengan Sosialisme-Komunisme dan Kapitalisme-Sekularisme. Bukan hanya bertentangan, tapi saling menentang. Kaum komunis selalu melakukan permusuhan terhadap orang kaya tanpa reserve, menafikan hak milik pribadi, publik dan negara. Semua harus sama rata sama rasa. Lambangnya saja palu dan arit, selain manifestasi dari kaum tani dan kaum buruh, juga bisa diartikan: terlalu bawah dibabat, terlalu atas dipalu biar sama kondisinya. Padahal ini tidak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata karena kondisi setiap orang berbeda-beda (rezekinya, misalnya atau keinginannya).

Maka, kalo ada muslim takjub dengan komunisme, perlu juga kita bilang, “idih, komunis!” Begitu pula muslim yang gandrung dengan kapitalisme, “idih, kapitalis!”

So, muslim ya ideologinya Islam. Bukan yang lain. Ok? BTW, sori ya artikel gaulislam edisi ini panjangnya pake banget, hingga bikin kamu sesak nafas bacanya (sama, saya juga pegel nulisnya). Tapi bukan karena latah ikutan durasi film Pengkhianatan G30S/PKI yang panjang itu, lho! [O. Solihin | Twitter @osolihin]

Iklan

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close