Jadilah Santri yang Sesungguhnya


[bukan sekadar memperingati Hari Santri Nasional] 

Menjadi santri itu pilihan, bukan kebetulan. Saya pernah jadi santri kalong (bukan santri sungguhan yang mondok di pesantren) atas pilihan saya. Dulu sekali, masa SMA (awal tahun 90-an). Waktu itu saya sedang senang-senangnya belajar Islam. Ghirah Islam menggerojok gairah muda saya untuk ikutan semangat ngaji. Meski sekadar santri kalong, tetapi rasanya tetap nikmat. Meski ilmu yang didapat tak sebanyak santri sungguhan, tapi saya merasa harus amalkan.

Takdir kemudian mengikat saya untuk terus berdekatan dengan dunia santri dan pesantren walau kualitas kesantrian saya biasa-biasa saja. Hingga pada Juli 2011 silam, saya ikut mendukung gagasan sahabat saya, Umar Abdullah, untuk mendirikan Pesantren Media. Waktu itu saya sekadar ikutan mengajar. Menulis dan website praktis adalah dua mapel yang saya pegang sesuai keterampilan yang saya bisa. Pada Juni 2013, Umar Abdullah wafat. Pihak yayasan kemudian meminta saya melanjutkan perjuangan yang dirintis beliau. Hingga saat ini, alhamdulillah Pesantren Media masih tegak berdiri dengan segala “apa adanya”, baik fasilitas maupun santri dan gurunya, termasuk pengelolanya.

Tulisan ini sekadar nasihat bagi saya pribadi dan juga para santri (khususnya di Pesantren Media), agar tetap semangat mengikatkan diri kepada tali agama Allah, yakni Islam. Menjadi santri semestinya memberi peluang untuk menjadi lebih baik karena pengkondisiannya serba islami, dan itu berbeda dengan sekolah biasa. Di pesantren kita belajar tsaqafah Islam lebih banyak dan lebih sering ketimbang di sekolah umum. Meski di Pesantren Media ‘tampilan’ santri agak berbeda dengan santri di pesantren lainnya, tetapi pada setiap briefing rutin pekanan saya berusaha mengajak santri untuk tetap tampil menjadi islami. Lebih baik dari hari ke hari. Insya Allah.

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), san•tri n 1 orang yg mendalami agama Islam; 2 orang yg beribadat dng sungguh-sungguh; orang yg saleh. Nah, jadi sebenarnya setiap muslim bisa menjadi santri. Namun, relatif lebih sulit mendalami agama Islam selain di pesantren. Sulit beribadah dengan sungguh-sungguh jika kondisi keluarga atau lingkungan sekitar tak mendukung. Di pesantren, lebih memungkinkan. Walau, tentu saja, pengkondisian saja belum cukup jika para santri tak berusaha untuk meningkatkan kemampuan dan berupaya keras menjadi lebih baik. Tak akan ada artinya sama sekali tempat yang mengkondisikan kita menjadi baik jika kita tak ada kesungguhan hati untuk membangun kesadaran diri penuh agar menjadi baik.

Semoga tak sekadar memperingati Hari Santri Nasional setiap tanggal 22 Oktober, tetapi juga perlu mengingat apa yang menjadi dasar penetapan tanggal tersebut, yakni peran KH Hasyim Asy’ari saat mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 untuk melawan penjajah Belanda yang ingin kembali bercokol di negeri ini. Maka, jadilah santri yang sesungguhnya: bersemangat mengokohkan tauhid, bergairah dalam menuntut ilmu agama, berlomba dalam takwa, mulia akhlak (adabnya), mengasah keterampilan yang diminati, dan senantiasa menggelorakan semangat jihad agar siap ketika dibutuhkan. Oya, satu lagi, dakwahkan ilmu yang didapat agar maslahat bagi kebangkitan umat.

Salam,
O. Solihin

Iklan
Kategori Coretanku, OpinikuTag , , , , , ,

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close