‘PERPPU’ ala Kafir Quraisy


Sengaja saya beri tanda petik karena bukan Perppu yang sebenarnya. Sekadar menangkap momen yang kini sedang hangat dan maksudnya mirip-mirip. Walau, tentu saja di masa itu bukan tentang ormas. Tetapi larangan terhadap aktivitas dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yang hampir serupa dengan masa ini.

Oya, saya menuliskan ini bukan ingin mengganggu semangat teman-teman yang memperjuangkan penolakan terhadap Perppu Ormas tersebut. Sebenarnya sejak lama saya sudah memikirkan hal ini, bahwa berharap pada penguasa thaghut untuk mendapatkan keadilan rasanya mustahil. Saya menahan diri dengan pertimbangan menghargai gairah berjuang teman-teman yang tengah memuncak. Walau pada akhirnya saya harus menulis juga setelah mempertimbangkan hasil diskusi dengan kedua jodoh saya dan ustaz kami.

Di masa lalu, ribuan tahun silam, mereka, para pembesar kafir Quraisy itu duduk bersama di majelis terhormat mereka, “Darun Nadwah”. Mereka melakukan konspirasi untuk menekan dakwah Islam. Dalam rapatnya, mereka membuat kesepakatan bersama, sebuah “peraturan” di antara mereka, yang ditujukan untuk memboikot Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib. Intinya adalah larangan untuk menikah dan berjual-beli dengan Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib.

Kesepakatan mereka dituliskan di shahifah (nota perjanjian) yang ditempelkan di tengah-tengah Ka’bah sebagai bukti kesungguhan sikap mereka. Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib berpihak kepada Abu Thalib bin Abdul Muthalib, kemudian mereka bersama Abu Thalib masuk ke permukimannya dan berkumpul di sana. Namun dari kalangan Bani Hasyim yang membelot kepada orang-orang Quraisy dan mendukung sikap mereka ialah Abu Lahab Abdul Uzza bin Abdul Muthalib.

Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib menjalani pemboikotan orang-orang kafir Quraisy selama dua atau tiga tahun, hingga mereka mengalami kesengsaraan yang luar biasa, karena tidak ada makanan atau minuman yang bisa sampai pada mereka kecuali secara diam-diam dan siapa pun dari orang-orang Quraisy tidak bisa berhubungan dengan mereka kecuali dengan rahasia.

Inilah bentuk kezhaliman kesepakatan ‘demokrasi’ ala kafir Quraisy. Bentuk kesepakatan thaghut yang juga bisa terjadi pada masa-masa sesudahnya, bagi sistem pemerintahan yang menerapkan hukum demokrasi atau sejenisnya.

Sesungguhnya pelaku kezaliman akan menuai bencana bagi diri mereka sendiri. Akan terjadi ketidaksepahaman di antara mereka terhadap keputusan tersebut. Sebagai contoh, pada suatu ketika, Hakim bin Hizam bin Khuwailid berjalan bersama budaknya untuk membawa tepung yang akan diantarkan kepada bibinya, Khadijah radhiallahu ‘anha, istri Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang sedang bersama beliau di Syi’ib (celah antara dua gunung) pada masa pemboikotan tersebut.

Abu Jahal bin Hisyam merapat kepada Hakim bin Hizam, kemudian ia berkata kepadanya, “Apakah engkau akan membawa makanan ini kepada Bani Hasyim? Demi Allah, engkau tidak bisa meninggalkan tempat ini dengan makananmu hingga aku menjelek-jelekkanmu di Makkah.”

Pada saat itu, Abu al-Bakhtari bin Hisyam datang kepada Abu Jahal dan berkata, “Ada apa urusanmu dengannya?” Abu Jahal menjawab, “Ia akan mengantarkan makanan kepada Bani Hasyim.”

Abu al-Bakhtari berkata, “Makanan ini tadinya milik bibinya. Bibinya mengirimkannya kepadanya, kenapa engkau melarangnya mengantarkan makanan tersebut kepada bibinya lagi?”

Abu Jahal tidak menerima saran Abu al-Bakhtari, kemudian mereka berkelahi. Abu al-Bakhtari mengambil tulang rahang unta, kemudian memukul kepala Abu Jahal hingga mengucurkan darah dan menginjaknya keras-keras. Hamzah bin Abdul Muthalib yang berada di dekat lokasi melihat jalannya perkelahian dengan jelas.

Orang-orang Quraisy tidak ingin kasus perkelahian itu didengar oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat beliau. Jika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat beliau mendengar perkelahian ini, maka beliau dan para shahabat akan menertawakan. Mungkin seperti itu yang terpikirkan di antara kafir Quraisy.

Kendati mendapatkan embargo dari orang-orang kafir Quraisy seperti itu, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat beliau tetap berdakwah kepada kaumnya siang dan malam, secara diam-diam dan terang-terangan, menampakkan perintah Allah Ta’ala dan tidak takut kepada siapapun dalam menjalankan itu semua. (disarikan dari Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam).

Demikianlah, bila kita membaca riwayat ini sebenarnya bisa menjadi ibrah bahwa:

1. Peraturan apapun yang terlahir dari musyawarah demokrasi atau sistem kufur lainnya, seharusnya tidak akan mempengaruhi para pengemban dakwah Islam untuk tetap berjuang menyampaikan kebenaran Islam kepada seluruh umat. Tak perlu melemahkan semangat, apalagi baper dan malas berdakwah hanya gara-gara larangan aktivitas berdasarkan aturan mereka.

2. Kita tidak perlu meminta keadilan kepada sistem demokrasi, untuk membatalkan keputusan-keputusan zhalimnya kepada umat Islam, karena memang demikianlah demokrasi. Selamanya tak akan pernah adil, karena ia adalah hukum selain Allah (hukum thaghut). Sebagaimana Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berupaya berdialog dengan kafir Quraisy untuk membatalkan peraturan zhalim mereka. Beliau hanya tidak pernah berhenti menjelaskan hukum-hukum Allah Ta’ala, mengungkap keburukan dan rendahnya hukum-hukum thaghut dan seruan untuk mengatur kehidupan sesuai hukum-hukum Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Tetapi mereka masih menginginkan ketetapan hukum kepada Thaghut. Padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari Thagut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sejauh-jauhnya. Dan apabila dikatakan kepada mereka ,”Marilah (patuh) kepada apa yang telah diturunkan Allah dan (patuh) kepada Rasul,” (niscaya) engkau (Muhammad) melihat orang munafik menghalangi dengan keras darimu.” (QS an-Nisaa’ [4]: 60-61)

3. Kelak peraturan zhalim akan hancur dengan sendirinya, melalui pertikaian antarmereka. Sebagaimana lima orang pemuda Quraisy: Hisyam bin Amr, Zuhair bin Abu Umaiyyah, al-Muth’im bin Adi, Zam’ah bin Aswad dan Abu al-Bakhtari bin Hisyam yang merasa adanya kezhaliman yang sangat pada nota peranjian tersebut. Mereka pun bersepakat akan merobeknya. Namun pertolongan Allah Ta’ala telah mendahului mereka. Allah Ta’ala telah menguasakan kepada rayap-rayap untuk memakan nota perjanjian tersebut, kecuali BismiKa Allahumma (dengan nama-Mu ya Allah).

Jangan khawatir. Teruslah berjuang saudara-saudaraku, sebagaimana yang diteladankan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Berpegang teguhlah “hanya” pada jalan-jalan dan langkah yang diteladankan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Innallaaha ma ’ana.

Perppu Ormas yang sudah disahkan DPR menjadi Undang-Undang biarlah sesuka mereka membuat dan memberlakukannya. Tak perlu meminta keadilan kepada para penipu dan pelaku kezaliman agar dakwah tetap berjalan. Mintalah pertolongan hanya kepada Allah Ta’aa dan fokus saja pada perjuangan dakwah sampai tegaknya khilafah ‘ala minhajin nubuwwah, yang tentu saja (berdasarkan pengalaman selama ini) tidak bisa diperjuangkan melalui jalur demokrasi. Jika pun alasannya sebagai bentuk dakwah kepada penguasa, namun bukan dengan cara memanfaatkan jalur hukum yang berlaku saat ini. Abaikan juga saran-saran dari pihak tertentu agar menempuh jalur hukum dalam memperjuangkan keadilan melalui sistem thaghut. Tak ada gunanya mengikuti irama yang mereka tabuh karena sekadar jebakan untuk menjauhkan dari inti tujuan perjuangan dakwah kita.

Salam,

O. Solihin

Iklan

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close