Ada Gempa Malah Bercanda


Selasa siang kemarin (23/1/2018) saya bersama seorang rekan pengajar ngobrol sambil berjalan di koridor bangunan tempat kami mengajar. Kawan saya berhenti tapi belum berkata apa-apa. Disusul beberapa peserta diklat yang berlarian dari lantai 2 dan lantai 1. Saya masih belum ngeh. Tapi kemudian rekan saya menyampaikan bahwa ada gempa. Saya tidak merasakan. Benar-benar tak merasakan getaran itu. Entah mungkin karena asyik ngobrol sambil berjalan. Namun, tak urung ikut berlari ke luar gedung.

Saya kemudian mengaktifkan paket data di smartphone sekadar ingin mengetahui update atas kejadian barusan. Benar saja, di beberapa grup WhatsApp sudah ada anggota yang kirim info terkini seputar gempa. Banyak yang mengutip dari situs BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika). Pusat gempa ada di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Lengkap dengan informasi skala gempa, jarak kedalaman gempa dan sejenisnya. Susul menyusul dengan pesan-pesan berikutnya yang isinya berupa foto-foto yang menggambarkan akibat gempa. Namun banyak di antaranya yang asal kirim tanpa dicek terlebih dahulu. Maka, terbukti beberapa foto dan video yang dikirim anggota grup bukan akibat gempa tersebut. Hadeuuh…

Nah, yang menyedihkan adalah ketika banyak kawan yang merespon gempa dengan bercanda. Ada editing foto yang menggambarkan Tugu Monas bengkok-bengkok. Patung di Tugu Pancoran loncat. Ada juga yang kirim video ‘getaran’ lain yang sifatnya bercanda, seperti adegan orang yang berjoget dan sejenisnya, termasuk komentar-komentar yang menyiratkan indikasi ‘hubungan suami-istri’ dengan embel-embel gempa lokal. Ah, kita memang tak jua bisa mengambil pelajaran dari peristiwa seserius ini. Tidak ada empati, terutama bagi korban gempa. Peristiwa yang seharusnya disikapi dengan muhasabah dan istighfar, ternyata jadi bahan candaan. Disebar pula info hoax berupa pesan, foto dan video. Sungguh terlalu!

Padahal, di antara bentuk peringatan yang Allah berikan kepada hamba-Nya, Allah wujudkan dalam bentuk musibah dan bencana alam. Terkadang dalam bentuk angin kencang yang memporak-porandakan berbagai bangunan, terkadang dalam bentuk gelombang pasang, hujan besar yang menyebabkan banjir, gempa bumi, termasuk peperangan di antara umat manusia. Semuanya bisa menjadi potensi untuk mengingatkan manusia agar mereka takut dan berharap kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS ar-Ruum [30]: 41)

Disebutkan oleh Imam Ahmad, dari Shafiyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan, “Pernah terjadi gempa di kota Madinah, di zaman Umar bin Khatab. Maka Umar bertanya kepada penduduk Madinah, “Wahai manusia, apa yang kalian lakukan? Betapa cepatnya maksiat yang kalian lakukan. Jika terjadi gempa bumi lagi, kalian tidak akan menemuiku lagi di Madinah.”

Yuk, kita muhasabah diri dan perbanyak istighfar. Ini bukan semata fenomena alam, tapi ada hubungannya dengan apa yang umat manusia lakukan (bisa jadi di antaranya malah kita yang melakukan maksiat). Maka, bertaubatlah. Selain itu, tetap berdakwah menyadarkan umat agar maksiat tak berkembang biak, jangan malah mati hati dengan ikut sebarkan canda terkait gempa. Naudzubillahi min dzalik.

Salam,

O. Solihin

FOTO: Rumah rusak akibat gempa 6,1 SR yang mengguncang Lebak, Banten, Selasa (23/1/2018) (Foto: Dok. Istimewa). Sumber: detik.com

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.