Dilan, Bukan (sosok) Pilihan


“Jangan pacaran. Ini berat. Kau tak akan kuat balasan dosanya.”

Zaman saya SMA, mungkin seumuran dengan tokoh fiksi bernama Dilan. Hanya beda gaya. Saya tahun 1990 sudah ikut-ikutan jadi anak rohis, bukan anak gang motor. Saya tidak pernah pacaran. Rasa suka terhadap lawan jenis? Tentu saja saya juga punya rasa itu. Tapi pacaran tak pernah saya lakukan meski banyak teman saya yang melakukannya. Sebab, budaya pacaran generasi 90-an hanya melanjutkan generasi sebelumnya. Hanya berbeda gaya, tapi hampir sama caranya, dan yang sudah pasti dosanya.

Oya, apa benar cewek tahun 90-an suka dengan cowok tipe badboy tapi romantis? Bisa jadi zaman now juga ada. Itu soal cara pandang. Tentu saja, cara pandang dipengaruhi cara berpikir. Dilan (tokoh fiksi di novel dan filmnya), menurut Milea memang bukan anak baik-baik, tapi tidak kasar. Berarti kebalikannya, bisa saja ada anak baik-baik namun kasar. Memang keduanya memungkinkan. Tetapi sebenarnya kita bisa mengupayakan untuk mencari anak baik-baik dan tidak kasar. Bukankah kita umumnya selalu ingin yang ideal, apalagi ideal menurut pandangan ajaran agama? Termasuk dalam menilai seseorang yang dijadikan pasangan hidup dalam pernikahan (bukan dalam pacaran).

Pacaran zaman now tak jauh berbeda. Ada pelakunya, ada kontennya, ada medianya, dan ada imbal balik di antara para pelakunya. Sebenarnya bagi generasi saya, masa remaja sudah tertinggal jauh di belakang. Nostalgia mungkin sekali-kali diperlukan, tetapi mengungkit kemaksiatan dan mengenangnya sebagai sesuatu yang istimewa, itu salah niat. Memprovokasi remaja untuk pacaran, itu perbuatan jahat dan berbahaya.

Hal yang perlu diingat oleh para pelaku pacaran adalah, “Sekarang mungkin kau berpacaran, nanti belum tentu menikahinya.” Banyak banget kan yang pacaran bertahun-tahun eh nikahnya sama orang lain. Sudah dicobain “luar-dalam” mirip ngepasin mau beli sepatu tanpa segel. Cocok dibeli, nggak cocok ditinggal. Lha, itu sepatu, gimana dengan kehormatanmu?

So, pikir lagi ya, “Cinta itu indah, jika kemudian diwujudkan dengan pacaran, berarti kamu salah milih jalan hidup.”

Dilan, bukan (sosok) pilihan.

Salam,

O. Solihin

Sumber gambar dari sini

Iklan

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.