gaulislam edisi 639/tahun ke-13 (25 Jumadil Awwal 1441 H/ 20 Januari 2020)

 

Sobat gaulislam, manusia itu memiliki potensi kehidupan yang terdiri dari naluri dan kebutuhan jasmani. Allah Ta’ala sudah menetapkan bagi semua orang potensi kehidupan tersebut. Manusia memiliki naluri atau gharizah yang terdiri dari: naluri mempertahankan diri (Gharizah al-Baqa’), naluri melestarikan jenis (Gharizah an-Nau’u), naluri mensucikan sesuatu (Gharizah Taddayun). Selain naluri, manusia memiliki kebutuhan jasmani seperti makan, minum, kentut, buang air kecil, buang air besar, tidur dan sejenisnya.

Nah, ada perbedaan antara naluri dan kebutuhan jasmani, yakni dalam rangsangan dan pemenuhan. Naluri itu rangsangannya dari luar. Namun pemenuhannya tidak mutlak. Artinya kalo pun nggak terpenuhi tak bakal menyebabkan sakit atau mati. Sementara kebutuhan jasmani, rangsangannya dari dalam diri manusia, dan pemenuhannya bersifat mutlak alias kalo nggak dipenuhi bisa menyebabkan sakit atau bahkan koit alias mati.

Buktinya nih ya. Bahwa benar naluri mempertahankan diri itu dimiliki oleh setiap orang, namun cara memanifestasikannya (mewujudkannya) bisa berbeda-beda pada setiap orang. Misalnya nih, perwujudan dari naluri mempertahankan diri itu berupa ingin dihargai, ingin dihormati, menghindari bahaya, tak suka cacian atau makian, ingin dipuji, tak hanya dianggap sebagai bilangan (tapi ingin diperhitungkan), memiliki keinginan untuk berkuasa, ingin diberikan wewenang dan sejenisnya. Semua hal yang ujungnya ingin agar dirinya bisa bertahan hidup. Termasuk di dalamnya nih, menjadikan kekayaan yang sudah didapat sebagai bentuk dari naluri mempertahankan diri agar tetap dianggap berharga oleh orang lain.

Kita membatasi pembahasan ini pada naluri mempertahankan diri ya. Kalo naluri melestarikan jenis (keturunan) kan udah pernah saya bahas di tulisan saya yang lain. Silakan cek di arsip buletin ini di website, ya. Naluri mensucikan sesuatu juga bisa dibahas di lain waktu (walau pernah sedikit disinggung pada tulisan-tulisan di buletin ini juga).

Namun, kita sepakati bersama bahwa naluri itu rangsangannya dari luar dan pemenuhannya tak bersifat mutlak. Jika tak terpenuhi sekalipun, nggak bakalan menyebabkan kerusakan pada tubuh atau jasmani. Paling-paling gelisah atau kecewa saja. Berbeda dengan kebutuhan jasmani yang rangsangannya dari dalam tubuh kita dan pemenuhannya bersifat mutlak. Kalo lapar ya segera makan, kalo haus buruan minum. Kecuali apa? Ya, kecuali lagi menjalankan puasa wajib. Meski lapar dan haus, ya wajib ditahan. Nggak boleh makan. Nggak boleh minum.

Begitu pula kalo ada dorongan untuk buang air kecil atau buang air besar yang segera keluarkan jangan ditahan-tahan, kalo udah ngantuk ya tidur aja. Udah jelas kan perbedaannya?

Itu sebabnya, kalo ada di antara kamu yang ngotot pengen menampilkan citra diri kamu di hadapan teman-teman kamu, rasa-rasanya memang perlu dipertimbangkan lagi. Khawatir kamu malah jatuhnya jadi sombong, jadi riya’, dan bahkan ‘ujub alias bangga dengan diri sendiri. Memang sih, semua orang nggak mau dalam sebuah komunitas itu hanya dianggap sebagai bilangan aja, tetapi ingin juga diperhitungkan. Misalnya aja di kelasmu jumlah muridnya 30 orang. Nah, nggak mau kan kalo cuma dianggap sebagai bilangan aja bahwa ada nama kamu di daftar hadir di kelasmu. Umumnya, setiap orang (termasuk kamu) ingin juga diperhitungkan sebagai murid yang pinter, murid yang santun dan berakhlak, ingin juga diperhitungkan karena memiliki berbagai keahlian dan keterampilan.

 

Bukan pencitraan

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Memiliki perasaan ingin diperhitungkan boleh-boleh saja. Nggak salah. Tetapi tentu memang faktanya kamu bisa diperhitungkan. Bukan melakukan pencitraan diri dengan cara meminta kepercayaan kepada orang lain bahwa kamu pantas diperhitungkan di komunitasmu. Bro en Sis, bedanya maaf dengan percaya itu pada diminta dan diraih. Kalo maaf, memang harus diminta, “saya minta maaf, ya”, misalnya. Sementara sebuah kepercayaan itu bukan diminta, tetapi diraih. Diraih dengan cara membuktikannya kepada orang lain bahwa kamu memang layak mendapatkan kepercayaan tersebut untuk memimpin suatu organisasi, misalnya.

Tuh, beda, kan? Coba kita saksikan di medsos, banyak orang meminta diberikan kepercayaan, minta dipuji atas apa yang telah dilakukannya, minta foto dirinya di-like atau dikomentari dengan hal-hal yang positif. Hmm…. kalo dalam taraf untuk memberikan inspirasi dan bisa menjaga niat baiknya, silakan saja. Namun, kalo udah ketagihan, bisa membahayakan. Ati-ati ya, Bro en Sis!

Oya, terkait ingin diperhitungkan, kalo kamu tak bisa mengendalikannya, bisa terjerembab dalam takabur, ujub, riya, termasuk sum’ah. Apa arti sum’ah? Kamu udah tahu? Yup, sum’ah itu adalah sikap atau sifat senang dan gemar memperdengarkan amal perbuatan yang telah ia lakukan kepada orang lain dengan harapan agar orang lain menyanjung dan memujinya. Sum’ah ini sebenarnya bagian dari penyakit riya’, ‘ujub, dan takabur. Tapi dengan fokus penjelasan yang sedikit berbeda.

Bro en Sis, sikap sum’ah ini memang nggak kerasa banget ya menyusup dalam hati dan pikiran kita. Kalo kita kebetulan pernah menolong orang, lalu orang bercerita tentang kebaikan kita, kita senang banget mendengarnya dan bahkan dengan sengaja kita berusaha mengungkit-ungkit masa lalu tersebut dan memancing-mancing agar orang yang tahu masalahnya untuk bercerita kepada orang lain di hadapan kita dengan harapan kita akan merasa bangga mendengar hal itu. Apalagi kalo kemudian di-upload juga di wall Facebook atau akun Instagram dengan maksud serupa. Waduh, kalo sampe kayak gitu, berarti kita udah kena tuh penyakit sum’ah ini. Waspadalah!

Contoh lainnya adalah ketika kamu pandai membaca al-Quran dengan tajwid yang benar, tahsin yang bagus, plus suara yang merdu. Nah, karena ingin agar orang-orang di sekitar kamu mendengar bacaan kamu itu, lalu kamu keraskan suaramu sambil berharap orang-orang yang ngedengerin tersebut berdecak kagum dan memuji amalan kamu itu. Ini dobel lho, bisa riya’ dan sum’ah sobat, nggak baik kamu melakukannya.

Memang sih ada manfaatnya yakni kamu bisa dikenal dan dipuji oleh orang lain karena kelebihan yang kamu miliki sehingga layak diperhitungkan. Tapi, manfaat itu jadi nggak ada artinya karena keikhlasanmu ternoda sifat itu, dan tentu aja Allah Ta’ala nggak suka kita berbuat demikian. Bahkan konsekuensinya, amalan kita terancam sia-sia karena berbuat bukan atas keikhlasan karena Allah Ta’ala. Sayang sekali bukan?

Kalo faktanya memang kamu bisa seperti itu, nggak usah mikir akan dipuji orang lain. Lurus-lurus saja, toh kalo pun memang mereka memujimu, anggap saja bagian dari “efek samping” perbuatan baikmu itu. So, jagalah hati dan pikiranmu agar keikhlasanmu tak ternoda sikap sum’ah ini. Satu hal, jangan pernah pamer di medsos tentang kelebihanmu dengan maksud ingin diperhitungkan semata dan karena ingin mendapat pujian. Jaga keikhlasanmu, Bro en Sis.

Omong-omong, sedikit melenceng dari pembahasan tapi masih ada hubungannya yakni ketika kamu merasa bangga dengan dosa-dosa yang telah kamu perbuat. Kalo sikap sum’ah itu kan senang mendengar atau memperdengarkan amalan baik yang pernah kita lakukan. Nah, lebih parah kalo ada orang yang merasa bangga ketika perbuatan maksiatnya disebut-sebut orang (karena mungkin sudah ditulis di akun medsos-nya) dan dia berusaha untuk memberikan imej bahwa dirinya memang pernah berbuat dosa dan merasa bangga dengan dosa-dosa tersebut. Bangga ketika ada orang yang menyebut dirinya pezina, sering nenggak minuman keras, aktif sebagai pengguna narkoba dan jenis maksiat lainnya. Bukan hanya itu, ia merasa harus memancing-mancing perkataan kawan-kawannya agar membicarakan dosa yangtelah diperbuatnya agar orang lain tahu. Waduh, itu sih sama dengan membuka aib sendiri. Bukannya menyesal dan bertobat malah bangga dengan dosa. Udah gitu, masih jadi pelaku aktif lagi. Ih, naudzubillahi mindzalik.

Oya, ada penjelasan tambahan tentang sum’ah nih. Pengertian sum’ah secara istilah/terminologi adalah sikap seorang muslim yang membicarakan atau memberitahukan amal shalihnya–yang sebelumnya tidak diketahui atau tersembunyi–kepada manusia lain agar dirinya mendapatkan kedudukan dan/atau penghargaan dari mereka, atau mengharapkan keuntungan materi. Apalagi sekarang mudah, tinggal klik lalu ter-upload di medsos.

Dalam Kitab Fathul Bari, Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah mengetengahkan pendapat Izzudin bin Abdussalam yang membedakan antara riya dan sum’ah. Bahwa riya adalah sikap seseorang yang beramal bukan untuk Allah; sedangkan sum’ah adalah sikap seseorang yang menyembunyikan amalnya untuk Allah, namun ia bicarakan hal tersebut kepada manusia. Sehingga, menurutnya semua riya itu tercela, sedangkan sum’ah adalah amal terpuji jika ia melakukannya karena Allah dan untuk memperoleh ridha-Nya, dan tercela jika dia membicarakan amalnya di hadapan manusia.

Dalam al-Quran Allah Ta’ala telah memperingatkan tentang sum’ah dan riya ini: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia…” (QS al-Baqarah [2]: 264)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan dalam haditsnya: “Siapa yang berlaku sum’ah maka akan diperlakukan dengan sum’ah oleh Allah dan siapa yang berlaku riya’ maka akan dibalas dengan riya’.” (HR Bukhari)

Penjelasan hadits di atas adalah, diperlakukan dengan sum’ah oleh Allah maksudnya adalah diumumkan aib-aibnya di akhirat. Sedangkan dibalas dengan riya’ artinya diperlihatkan pahala amalnya, namun tidak diberi pahala kepadanya. Na’udzubillah min dzalik.

Tuh, masih mikir untuk pencitraan diri dengan cara ingin diperhitungkan demi meraih pujian? Di medsos, hal itu amat mungkin dilakukan dengan cara yang mudah. Maka, jaga niat jaga hati. Waspadalah! [O. Solihin | IG @osolihin]