gaulislam edisi 642/tahun ke-13 (15 Jumadil Akhir 1441 H/ 10 Februari 2020)

 

Masuk bulan Februari, biasanya yang sulit dihindari adalah, mengidentikan bahwa Februari itu bulan cinta. Opini soal ini terus digembar-gemborkan sejak lama. Sejak saya baru masuk SMK juga udah rame tuh, di akhir tahun 80-an. Ya, tahun 1989 saya masuk SMK (idih, ketahuan tuanya sekarang, ya). Persoalan Valentine’s Day udah dibahas. Kayaknya sih, sebelum itu udah juga deh. Cuma saya belum tahu waktu SMP. Saat saya tahu soal itu, pembahasannya sudah dalam sudut pandang Islam, lho. Jadi, pemahamannya sudah dalam bingkai Islam, sehingga nggak bablas ikut-ikutan ngerayain Valentine’s Day.

Sebentar, kok judulnya serem amat sih? Iya, memang sengaja. Why? Sebelum bahas alasannya, kita bahas dulu secara bahasa. Paling nggak, definisi cinta dan definisi gila. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), definisi cinta setidaknya ada empat pengertian.

Pertama, suka sekali; sayang benar. Contoh: orang tuaku cinta kepada kami semua; cinta kepada sesama makhluk.

Kedua, kasih sekali; terpikat (antara laki-laki dan perempuan). Contoh: sebenarnya dia tidak cinta kepada lelaki itu, tetapi hanya menginginkan hartanya.

Ketiga, ingin sekali; berharap sekali; rindu. Contoh: makin ditindas makin terasa betapa cintanya akan kemerdekaan.

Keempat, susah hati (khawatir); risau. Contoh: tiada terperikan lagi cintanya ditinggalkan ayahnya itu.

Mana yang pas atau mendekati untuk pembahasan kita saat ini? Poin pertama dan poin kedua. Ok, catet dulu deh.

Nah, sekarang definisi gila. Masih menurut KBBI, gila diartikan setidaknya enam poin.

Pertama, gangguan jiwa; sakit ingatan (kurang beres ingatannya); sakit jiwa (sarafnya terganggu atau pikirannya tidak normal). Contoh: ia menjadi gila karena menderita tekanan batin yang sangat berat.

Kedua, tidak biasa; tidak sebagaimana mestinya; berbuat yang bukan-bukan (tidak masuk akal). Contoh: benar-benar gila, masakan dia dapat melompat setinggi itu.

Ketiga, terlalu; kurang ajar (dipakai sebagai kata seru, kata afektif)

Keempat, ungkapan kagum (hebat). Contooh: gila benar, nilai rapornya semua di atas angka 80.

Kelima, terlanda perasaan sangat suka (gemar, asyik, cinta, kasih sayang). Contoh: ia gila membaca buku roman; tidak sedang gila asmara.

Keenam, tidak masuk akal. Contoh: menurut pendapat mereka, ide itu adalah ide yang gila.

Nah, kira-kira dalam pembahasan ini mana yang lebih pas atau minimal mendekati? Ya, poin pertama dan poin ketiga. Inget-inget, ya!

 

Cinta dan gila

Sobat gaulislam, ini persoalan berat. Gimana nggak berat. Cinta saja bisa membuat gila. Gila karena cinta. Mana yang benar? Rasa-rasanya semuanya benar. Tapi, sabar dulu. Ada penjelasannya kok. Kita sebagai muslim perlu tahu bahwa dalam ajaran Islam, cinta itu bagian dari naluri alias gharizah. Artinya, cinta itu rangsangannya dari luar dan pemenuhannya tak bersifat pasti. Tidak harus dipenuhi langsung. Kalo nggak terpenuhi, dalam jangka waktu tertentu bisa jadi hanya gelisah.

Pada kasus yang parah, bisa saja seorang lelaki jatuh cinta kepada seorang wanita, dia rela berbuat gila karena merasa ingin dipenuhi langsung rasa cintanya. Melakukan apa saja seperti orang hilang ingatan. Misalnya, setiap malam manggil-manggil nama orang yang dicintainya dengan berteriak, memandang fotonya saja jadi kejang-kejang (dih, ini sih penyakit). Update status di FB dan IG yang ditujukan kepada kekasihnya. Kok nggak malu, padahal kan bisa dibaca semua orang yang berteman atau folower dia. Atau, memang itu tujuannya agar diketahui banyak orang? Udah nggak punya rasa malu kalo gitu sih. Bahaya. Jangan-jangan, gi… oppss!

Ada juga yang jatuh cinta tapi mewujudkan rasa cintanya dengan perbuatan yang dianggap gila. Misalnya, dia melupakan agama, datengi dukun kalo cintanya ditolak, lupa diri, pacaran jadi pilihannya, bahkan seks bebas tujuannya. Kalo kayak gitu, benar-benar gila deh. Maksudnya, berbuat gila hanya demi cinta. Parah bener!

Itu sebabnya, kalo cinta jangan gila. Cinta membabi buta. Bahaya. Cinta buta adalah cinta yang tak mengikuti aturan Islam. Ia bebas berbuat apa saja. Terumasuk saat orang yang model begitu tuh jatuh cinta, maka ia akan buta dan gelap mata. Berbuat sesukanya dan mencampakkan norma agama.

Ada beberapa kerusakan akibat cinta buta ini. Menurut Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Kitab al-Jawabul Kafi Liman Saala’ Anid Dawaaisy-syafi (edisi terj.), hlm, 242-244:

Pertama, lupa mengingat Allah. Ya, karena lebih sibuk mengingat makhluk-Nya, yakni orang yang dicintainya, misalnya. Jika dia lebih kuat mengingat Allah, insya Allah mengingat makhluk-Nya jadi terkendali. Tapi jika lebih kuat mengingat makhluk-Nya, maka mengingat Allah akan dikalahkan.

Kedua, menyiksa hati. Cinta buta, meski adakalanya dinikmati oleh pelakunya, namun sebenarnya ia merasakan ketersiksaan hati yang paling berat.

Ketiga, hatinya tertawan dan terhina. Ya, hatinya akan tertawan dengan orang yang dicintainya. Namun, karena ia mabuk cinta, maka ia tidak merasakan musibah yang menimpa. So, ati-ati deh kalo jatuh cinta. Jangan sampe hati kita tertawan dengannya, hingga lupa segalanya.

Keempat, melupakan agama. Tak ada orang yang paling menyia-nyiakan agama dan dunia melebihi orang yang sedang dirundung cinta buta. Ia menyia-nyiakan maslahat agamanya karena hatinya lalai untuk beribadah kepada Allah. Kalo ada teman kita ketika jatuh cinta tuh sampe nggak sholat, nggak sekolah, dan nggak belajar, karena cuma mikirin dia, maka itu udah dibilang cinta buta. Jadi, kita kudu ingatkan supaya jangan keterusan.

Kelima, mengundang bahaya. Bahaya-bahaya dunia dan akhirat lebih cepat menimpa kepada orang yang dirundung cinta buta melebihi kecepatan api membakar kayu kering. Ketika hati berdekatan dengan orang yang dicintainya secara buta itu, ia akan menjauh dari Allah. Jika hati jauh dari Allah, semua jenis marabahaya akan mengancamnya dari segala sisi karena setan menguasainya. Jika setan telah menguasainya, maka mana ada musuh yang senang lawannya senang? Semua musuh ingin musuhnya dalam bahaya. Duh, jangan sampe kejadian. Cukup fakta-fakta soal perzinahan dan penularan penyakit seksual itu menjadi perhatian bagi kita untuk nggak melakukan hal yang sama. Naudzubillahi min dzalik.

Keenam, setan akan menguasai. Jika kekuatan setan menguasai seseorang, ia akan merusak akalnya dan memberikan rasa waswas. Bahkan, mungkin tak ada bedanya dengan orgil alias orang gila. Mereka nggak menggunakan akalnya secara layak. Padahal yang paling berharga bagi manusia adalah akalnya yang membedakan ia dengan binatang. So, nggak heran dong kalo banyak yang kejerumus berbuat maksiat karena mikirnya instan banget. Cuma kepikiran enak aja menurut hawa nafsunya. Nggak mikir jauh ke depan: soal dosa dan akibat dosa tersebut.

Ketujuh, mengurangi kepekaan. Cinta buta akan merusak indera atau mengurangi kepekaannya, baik indera suriya (konkret) maupun indera maknawi (abstrak). Kerusakan indera maknawi mengikuti rusaknya hati, sebab jika hati telah rusak, maka organ pengindera lain, seperti mata, lisan, telinga, juga turut rusak. Artinya, ia akan melihat yang buruk pada diri orang yang dicintainya secara buta itu sebagai sebuah kebaikan dan juga sebaliknya. Disebutkan oleh Imam Ahmad, “Cintamu kepada sesuatu membutakanmu dan membuatmu tuli.” Ibnu Abbas pernah mendengar berita ada seorang laki-laki yang sangat kurus sehingga yang tersisa hanya kulit dan tulang. Ibnu Abbas berkata, “Kenapa ia?” “Ia terkena jatuh cinta, isyq (cinta buta)”, jawab seseorang. Ibnu Abbas berdoa dan berlindung kepada Allah sepanjang hari dari penyakit isyq.

Sobat gaulislam, inilah beberapa mafsadat alias kerusakan akibat cinta buta. Cinta  buta adalah seseorang yang mencintai secara berlebihan, sehingga orang yang dicintainya sudah pada level menguasai dan mengendalikannya. Seperti kata orang, cinta buta itu awalnya ringan dan manis, pertengahannya sedih, kesibukan, dan sakitnya hati, dan ujung-ujungnya adalah kebinasaan dan kematian, jika nggak diselamatkan oleh Allah Ta’ala. Jadi, kalo cinta jangan gila. Ati-ati, deh.

 

No Valentine’s Day

Merayakan Valentine’s Day adalah salah satu cara mewujudkan cinta dengan cara gila (udah gitu, haram pula). Ya, karena hal itu melupakan ajaran agama. Perayaan jenis itu terkategori yang dilarang karena melanggar ajaran Islam. Tak ada perayaan semacam itu dalam ajaran Islam. Jadi, tentu saja bagi seorang muslim merayakannya menjadi terlarang.

Alhamdulillah, sebenarnya sejak 2016 lalu sudah marak pelarangan merayakan Valentine’s Day. Beberapa pemerintah daerah (Aceh, Padang, Jawa Barat, Makasar, NTB) melarang remaja merayakan Valentine’s Day di wilayahnya. Bagus juga nih. Semoga ke depan bisa seluruh wilayah di negeri kita melarang perayaan yang emang nggak ada manfaatnya ini. Eh, tapi bagi produsen dan penjaja pernak-pernik Valentine’s Day sih adanya perayaan ini menuai untung berlipat. Maka, kalo ada pelarangan di berbagai wilayah, bisa jadi pendapatan mereka berkurang.

Oya, mungkin ada pertanyaan, “Kita nggak merayakan, tapi cuma ngasih hadiah cokelat buat orang yang kita cintai. Gimana tuh?”

Hmm… sebenarnya itu bagian dari merayakan, ya. Cuma nggak heboh doang. Sama aja atuh. Memang sih, hukum asal memberi hadiah itu sunnah alias dianjurkan. Sebagaimana dalam hadits, “Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.” (HR Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 594)

But, bisa beralih jadi haram, lho. Why? Ya, karena merayakan Valentine’s Day itu haram. Maka, apapun yang terkait dengan hal itu, walau memberi hadiah berupa bunga atau cokelat jadi terhukumi haram.

Dalam kaidah fikih disebutkan oleh Syaikh as-Sa’di rahimahullah, “Wasaa’ilul umuri kalmaqaasidi. Wahkum bihadzal hukmi, lizawaaidi” (Hukum perantara sama dengan hukum tujuan. Hukumilah dengan hukum tersebut untuk tambahan lainnya)

Berarti menjual cokelat untuk keperluan perayaan Valentine’s Day juga nggak boleh dong? Tepat.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Janganlah kalian saling tolong menolong dalam dosa dan melanggar batasan Allah” (QS al-Maaidah [5]: 2)

Syaikh Abu Malik berkata, “Cukup dengan sangkaan kuatmu, jika orang tersebut terlihat adalah orang yang sering membeli perasan untuk dijadikan khamr, jadilah haram menjual barang tersebut padanya. Karena jika kita tetap menjualnya berarti kita telah menolongnya dalam berbuat dosa dan melanggar batasan Allah. Padahal Allah melarang bentuk tolong menolong seperti ini. Jika orang tersebut menurut sangkaan kuat tidak demikian, maka jual beli tersebut tetap sah dan tidak terlarang” (Shahih Fiqih Sunnah, jilid 4, hlm. 409)

Nah, umumnya kalo jualan cokelat atau pernak-pernik di bulan ini, apalagi jelas ada ikon yang mengidentikan Valentine’s Day, jelas itu bagian dari merayakan kegiatan tersebut. Catet, ya!

Apa yang kita lakukan? Jangan jadi gila. Punya rasa cinta, biasa aja, lagi. Nggak usah ikut-ikutan perayaan tersebut. Lebih bagus lagi kalo mampu mendakwahkan bahwa perayaan tersebut haram dilakukan bagi kaum muslimin. Kalo nggak mampu, ya minimal sebarkan artikel di buletin ini atau artikel sejenis lainnya yang banyak tersebar di internet. Semoga menjadi amal shalih dan bisa menyadarkan banyak orang. Gimana, bisa ya? So, semangat dalam ketaatan dan bergairah dalam mendakwahkan Islam! [O. Solihin | IG @osolihin]