logo-gi-3gaulislam edisi 643/tahun ke-13 (22 Jumadil Akhir 1441 H/ 17 Februari 2020) 

Aduh, jadi inget lagu jadulnya Broery Marantika dan Dewi Yul. Ehm… jadi ketahuan deh yang nulis udah berapa umurnya. Hehehe… soalnya kamu yang kini remaja belum tentu mengenal lagu-lagu Broery Marantika. Ini bukti kalo saya yang nulis berbeda jauh usianya ya. Uhuk-uhuk… *jadi ngerasa tua.

Mau tahu lagunya kayak apa? Judulnya sih sama dengan judul edisi buletin kita kali ini, “Rindu yang Terlarang”. Ini ini penggalan liriknya:

Sekian lama sudah kita telah berpisah/ Kurasa kini kau tak sendiri lagi/ Aku pun kini seperti dirimu/ Satu hati telah mengisi hidupku/ Tak perlu engkau tahu rasa rindu ini/ Dan lagi mungkin kini kau telah bahagia/ Namun andai kau dengar syair lagu ini/ Jujur saja aku sangat merindukanmu/ Memang tak pantas mengkhayal tentang dirimu/ Sebab kau tak lagi seperti yang dulu/ Kendati berat rasa rinduku padamu/ Biarkan kuhadang rinduku terlarang…

Eh, tapi kok jadi ujug-ujug nulis begini sih? Ngomong rindu segala? Ada sebab tentunya, Bro en Sis. Begini. Kemarin pas tanggal 14 Februari, bagi kamu atau siapa pun yang ngerayain Valentine’s Day, bisa jadi ada kejutan. Apa kejutannya? Diputusin pacarmu!

Kok bisa? Ya, bisa aja, kan. Pas pada dateng pesta, banyak yang dilihat deh. Terpesona, tergoda, lalu pindah ke lain hati. Begitu ceritanya. Padahal kamu masih demen bin sayang sama dia. Gimana rasanya? Awal-awalnya sih nangis bombay, berikutnya nangsih darah. Idih, parah bener!

Beda banget sakitnya antara yang ditolak cintanya dengan yang udah pernah jadian, lalu bubar. Hehe.. silakan saja tanya sama mereka yang pacaran (kalo saya belum pernah pacaran sebelum nikah). Kelihatannya sih begitu kalo berdasarkan fakta. Emang?

Coba aja lihat (biar tambah yakin tanya deh sama yang pernah ngerasain). Kalo yang cintanya ditolak, dia hanya kecewa bin gondok karena gagal dapetin sesuatu yang dia inginkan. Tetapi, kalo sudah pacaran lalu bubar jalan, rasa-rasanya lebih nyesek karena pernah jadian, pernah jalan bareng, pernah ngapa-ngapain bareng. Bener nggak? Apalagi nih, kalo bagi kamu yang cewek, apalagi ketika pas pacaran hot banget. Malah dicoba-coba segala macem, sampe kehormatan digadaikan. Lebih nyungsep lagi karena kehormatan diri sudah terlanjur diobral, tetapi dicampakkan di tengah jalan. Rugi banyak pastinya.

 

Cukup sekali berbuat maksiat

Sobat gaulislam, sori ya kalo saya ngasih penggalan lagu di atas, jadinya kamu melow lagi. Ini bukan maksud bikin kamu mewek mengingat mantanmu. Nggak ada maksud. Cuma ngasih contoh aja. Sebab, biasanya kan sebuah syair, lagu, atau bacaan dan sejenisnya bikin pikiran dan khayalan kita melayang ke masa lampau, termasuk dengan mantan pacarmu.

Namun, sebenarnya rindu kamu pada pacarmu saat masih menjalin pacaran juga terlarang, lho. Sebab, pacaran itu ilegal. Nah, itu artinya kalo kini kamu jadi mantan dan merindukan mantan pacarmu, jadi terlarangnya banyak. Itu kalo mau diukur dengan tuntunan Islam, lho. Kalo nggak mau dituntun dengan aturan Islam, itu namanya menghina Islam (aduh, jleb! Galak banget, pula).

Eh, ini serius. Bukan galak, tetapi sekadar shock theraphy. Beneran. Sebab, menghina Islam bukan saja seperti melakukan pembakaran terhadap al-Quran oleh orang-orang yang benci Islam atau pelecehan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui penggambaran beliau dalam bentuk kartun dan pesan penghinaan seperti yang dilakukan kartunis-kartunis di majalah Charlie Hebdo beberapa tahun silam. Namun, ketika kamu nggak mau diatur dalam syariat Islam, itu juga sudah bentuk perlawanan, apalagi kalo sampe mengabaikan ajaran Islam, bisa terkategori menghina Islam. Hati-hati ya, jangan sampe kamu melawan Islam tanpa sadar. Gawat, euy!

Ngomong-ngomong soal rindu dengan mantanmu, rasa-rasanya itu berlebihan banget. Apalagi sampe nulis status di media sosial seperti ini, “Setiap orang mempunyai cara tersendiri untuk mencintai seseorang. Entah itu dalam diam ataupun dalam terpisahnya jarak.” Waduh, status model gitu di media sosial, apalagi ditujukan kepada mantanmu, bisa berdampak rumit ke depannya.

Why? Sebab, percikan-percikan rindumu bisa berpotensi membakar kembali cinta kamu pada mantanmu, yang ujung-ujungnya kamu dengan semangat ingin kembali menjalin pacaran dengan mantanmu. Hmm… jangan sampai ngulang berbuat maksiat, ya!

Itu sebabnya nih, kalo kondisi kamu sedang galau, jangan bawa perasaan, tapi bawa iman. Kalo baper mah selain nangis mulu karena inget mantan dan menggebu-gebu merindukan kembali masa-masa pacaran bersama mantanmu, juga bikin kamu kalap dan gelap mata. Berbeda kalo yang ditonjolkan iman. Keimanan akan menyelamatkan kamu dari perasaan yang sering disusupi oleh bisikan-bisikan setan. Jika iman yang dijadikan sebagai ukuran, maka perasaan akan tunduk meski terasa berat di hati. Beneran!

Mau contoh? Misalnya aja nih, mau shalat Subuh susah bangun pagi. Tetapi karena landasan iman, maka tetap melaksanakan shalat Subuh. Halangan berupa rasa malas, dingin, berat, dan sejenisnya ditepis keras-keras.

Maka, kalo ada perasaan rindu sama mantan dan berkeras ingin melanjutkan kembali masa-masa pacaran, jika ada landasan iman nggak bakalan lama-lama dirasakan. Sebaliknya, malah berusaha disingkirkan dari ruang hati. Berat memang, tetapi akan terasa ringan kalo kamu udah milih jalan keimanan kepada Allah Ta’ala. Percayalah!

Oya, sekarang coba dipikirkan jika yang terjadi adalah seperti ini: kamu masih menyimpan rindu pada mantanmu (padahal mantanmu nggak merindukanmu), lalu ngotot pengen menjalin kembali pacaran dengan mantanmu itu (padahal mantanmu nggak memikirkan lagi soal itu). Ini sih sama saja dengan merindukan sesuatu yang tidak saja terlarang, tetapi juga tak ada harapan. Bagai pungguk merindukan planet pluto. Sudah mah dosa, sia-sia pula. Sungguh terlalu!

Aduh, maafkan saya jika kata-katanya jleb banget. Abisnya gimana ya, faktanya memang ada yang begitu, kok. Kalo pun sama-sama memendam rindu, ketika semua sudah tak bersama seperti masa pacaran, ya itu juga rindu yang terlarang. Memang sih, seperti yang sudah saya tulis di awal pembahasan ini, bahwa menabur rindu saat pacaran juga dosa. Dosanya karena pacarannya itu.

Nah, sekarang saat sudah jadi mantan, namun tetap merindukan, ya terlarang juga. Serba salah dong? Ya iya lah, karena yang serba benar dalam hubungan model gini ketika sudah menikah. Jangankan sekadar rindu, mau berduaan lebih sering juga kalo udah nikah, ya halal. Dapat pahala pula. Ayo, silakan dipikirkan ulang. Nggak perlu jadi dilema yang nggak perlu.

Iya, dipikirkan ulang. Tak ada gunanya memendam rindu pada mantanmu. Apalagi kalo rindu itu diniatkan agar bisa kembali berpacaran. Niatnya aja udah salah, maka langkah berikutnya kemungkinan salah juga besar. Saya meragukan kalo kamu yang masih SMP atau SMA, ketika teringat mantan, ujungnya adalah ingin menikah dengannya. Biasanya dan memang umumnya ya karena ingin kembali menjalin masa pacaran. Ini berbahaya Bro en Sis. Jangan ngulang maksiat. Jadi, beryukurlah kalo putus pacaran. Artinya, udah jangan diulang maksiat. Kemarin-kemarin karena khilaf, sekarang saatnya taubat. Oke?

 

Jangan ngikut setan

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Cobalah kamu baca al-Quran, surah al-Baqarah ayat 208, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.”

Setan emang ‘pintar’ kalo urusan jebak menjebak. Allah Ta’ala dalam ayat tersebut sudah mewanti-wanti kita agar tak mengikuti jejak langkah setan. Apa kamu rela, misalnya ada musuhmu tetapi kamu ikuti perbuatannya, apalagi perbuatannya tersebut membuatmu terjerumus ke jurang kesnistaan dan terjebak di dasarnya dalam kesusahan?

Oya, hati-hati juga temanmu yang tipenya setan. Idih, emang ada? Ya, ada dong. Contohnya nih, teman yang tipe setan ketika kamu galau gara-gara nggak bisa lupain mantanmu, dia malah ngomporin kamu supaya jadian lagi dengan mantanmu. Kalo nggak berhasil, dia ngakalin gimana caranya manas-manasin mantanmu dengan menyarankan kamu cari pacar baru. Kedua solusinya itu bisa menjerumuskan kamu. Waspadalah!

Dalam ‘biografi’ setan yang saya tahu, setan tuh nggak ada baik-baiknya sedikitpun. Selalu bikin rese dengan cara menggoda manusia untuk ngajak or berbuat maksiat. Keahlian dan tugasnya adalah sangat lihai dalam ngomporin manusia untuk urusan yang gelap nan maksiat. Jadi, kalo sepasang kekasih gelap (ini barang BM kali ya? You know BM? BM tuh black market alias pasar gelap—nggak ada ijinnya) berdua-duaan di tempat gelap, setan paling aktif jadi provokator. Sepasang kekasih lawan jenis tak punya ijin syar’i ini jadinya makin lupa diri. “Mumpung kagak ada orang, hajar aja bleh. Kapan lagi elo dapetin kesempatan emas ini” setan dengan penuh semangat membisiki telinga pasangan gelap itu.

Walhasil, begitu kedua anak manusia itu melakukan perzinaan, setan tertawa sambil lari ngibrit. Baru deh dua bocah dimabuk asmara yang berhasil digoda setan itu bingung tujuh keliling lapangan sepakbola standar internasional. Cuuape dweh! (dosa pula). Ruginya dobel-dobel tuh.

Setan, menurut sebagian ulama, berasal dari kata syathana; maknanya adalah ba’uda, yakni jauh. Maksudnya, setan adalah sosok yang jauh dari segala kebajikan (Ibn Katsir, I/115, az-Zamakhsyari, I/39).

Setan juga berarti sosok yang jauh dan berpaling dari kebenaran. Karena itu siapa saja yang berpaling dan menentang (kebenaran), baik dari golongan jin ataupun manusia, adalah setan (al-Qurthubi, I/90, al-Alusi, I/166). Gawat!

Itu sebabnya, jangan terjebak godaan setan. Model kamu yang lagi baper gara-gara sulit lupain mantanmu, bisa jadi sasaran empuk bangsa jin dan bangsa manusia yang kelakuannya kayak setan. Sedikit demi sedikit perangkap yang mereka buat bisa jadi melemahkan kamu. Jadi, kudu hati-hati. Kalo ada ranjau aja kan kudu waspada. Ini udah lebih dari ranjau, Bro en Sis. Bisa merusak kehidupan dunia, sekaligus mengurangi peluang bahagia di akhirat. Ih, siapa sudi begitu rupa. Betul nggak?

Jadi, lupakan mantanmu, jangan lagi nyoba merindukannya, apalagi sampe pacaran lagi, jangan ngikut setan. Bahaya. Sebaliknya kudu segera sadar diri, tambah semangat beribadah dan beramal shalih. Siap, ya. Kuy! [O. Solihin | IG @osolihin]