gaulislam edisi 648/tahun ke-13 (28 Rajab 1441 H/ 23 Maret 2020)

 

Judul buletin kesayangan kita kali ini sekadar merekam ingatan saja. Kalimat itu sering muncul di media sosial. Bikin takut dan malah ada yang panik nggak jelas. Tulisan ini melanjutkan edisi pekan kemarin yang membahas tentang Corona yang kian merajalela yang dihubungkan dengan ibadah agar jangan sampe melemah. Nah, edisi ini, nggak beda sih. Namun, penekanan pada banyak orang yang takut kena Corona. Wajar sih, saya aja takut. Semua orang takut kalo terinfeksi. Walau demikian, jangan juga panik apalagi piknik. Jangan, ya.

Pada tulisan ini, saya akan lebih membahas tentang rasa takut manusia akan bahaya. Kebetulan aja yang jadi fenomena saat ini seputar Covid-19. Intinya sih, ingin menjelaskan bahwa kita kudu waspada agar jangan sampai kena Corona. Pola hidup bersih dan sehat jelas jadi prioriotas, karena ini terkait masalah kesehatan. Namun, jang dilupakan bahwa sebagai muslim kita tetap berpikir jernih, sabar, dan berusaha menghadapinya dengan tenang. Ikhtiar secara fisik tetap dilakukan, tentu saja didukung dengan dzikir dan doa memohon pertolongan hanya kepada Allah Ta’ala.

Itu sebabnya, takut kena Corona, tapi pola hidup bersih dan sehat ditinggalin. Aneh aja sih. Disuruh diem di rumah, malah pada keluyuran di jalan rame-rame bareng temen-temen. Duh, jadi nggak efektif tuh anjuran supaya berdiam diri di rumah. Potensi terpapar Coronavirus jadi lebih besar. Waspada, ya Bro en Sis.

Kita memang hanya takut sama Allah Ta’ala, bukan kepada Corona. But, kita kudu mikir juga tentang sunatullah. Mikir sebab akibatnya. Kayak gini deh, ketika kita mau nyebrang di jalan raya pasti tengok kanan-kiri nunggu lalu lintas nggak padat baru nyebrang. Betul? Kita takut ketabrak kendaraan kalo nggak hati-hati, kan ya? Ya iyalah.

Nah, kondisi tersebut bukan karena kita takut terhadap kendaraan yang buatan manusia sebagai makhluk Allah Ta’ala. Bukan. Menghindari bahaya kudu alias harus. Jangan pula membahayakan orang lain gara-gara kita teledor. Dari Abû Sa’îd Sa’d bin Mâlik bin Sinân al-Khudri Radhyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR Ibnu Majah dan ad-Daruquthni)

Sobat gaulislam, Coronavirus tengah merajalela. Perlu dicegah. Cuma, persoalannya, virus ini kecil banget. Nggak kelihatan kalo tanpa bantuan mikroskop elektron. Selain itu, virus bisa menginfeksi manusia dan menularkannya kembali melalui manusia. So, waspadalah!

 

Tentang khauf dan raja’

Menurut saya pembahasan ini penting dan perlu dipahami. Sebagai muslim, mestinya kamu dan kita semua sudah paham soal ini. Tapi, nggak apa-apa diingetin lagi deh. Oya, khauf (rasa takut/cemas) dan raja’ (harap), ternyata perlu diikat dengan mahabbah (cinta).

Jadi begini. Misalnya nih, kamu takut kena Coronavirus, maka berharap agar tetap sehat, kan? Bagaimana supaya tetap sehat? Kamu butuh kecintaan kepada tubuhmu. Maka apa yang akan kamu lakukan? Mestinya menjaga kesehatan. Bentuknya bisa untuk diri pribadi, bisa juga secara massal alias masing-masing menjaga diri agar tak saling menularkan kepada yang lain. Betul nggak? Itu ikhtiar yang paling mungkin dilakukan. Selain itu, tentunya ada ikhtiar lain berupa doa dan dzikir.

Jadi, jangan asal takut dan harap aja, tapi takut karena Allah dan berharap juga hanya kepada Allah. Maka, yang dilakukan untuk mewujudkannya adalah dengan kecintaan kepada Allah berupa melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Khauf (takut) dan raja` (pengharapan) seorang mukmin akan selalu ingat bahwa dirinya akan kembali ke hadapan Sang Penciptanya (karena adanya rasa takut), disamping ia akan bersemangat memperbanyak amalan-amalan (karena adanya pengharapan). Cemas atau takut kalo pas datang ajal nggak bawa bekal amal shalih. Takut kalo pas ajal datang sedang maksiat. Maka, ia akan terus berusaha untuk senantiasa melakukan ketataan kepada Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) tuhan mereka, dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat tuhan mereka, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan tuhan mereka (dengan sesuatu apapun), dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS al-Mukminun [23]: 57-61)

‘Aisyah radhiallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam apakah mereka itu (yang dimaksud dalam ayat di atas) adalah orang-orang yang meminum khamr, berzina, dan mencuri? Rasulullah menjawab, “Bukan! Wahai putri ash-Shiddiq. Justru mereka adalah orang-orang yang melakukan shaum, shalat, dan bershadaqah, dan mereka khawatir tidak akan diterima amalannya. Mereka itulah orang-orang yang bergegas dalam kebaikan.” (HR at-Tirmidzi)

Seorang muslim mestinya juga senantiasa berharap hanya kepada Allah Ta’ala. Berharap amalnya diterima, berharap dosa-dosanya diampuni, berharap kesehatan bagi tubuhnya, berharap keselamatan, berharap pertolongan Allah Ta’ala. Senantiasa mengharapkan rahmat dan ampunan dari Allah. Maka, ia pun akan senantiasa menjadikan Allah Ta’ala sebagai satu-satunya Dzat yang Maha Penolong.

Oya, pada prakteknya, pertolongan Allah bisa datang melalui orang lain. Contoh nih. Kita lagi jalan, tiba-tiba ban motor bocor akibat ‘nginjek’ paku. Lagi bingung gitu, ada pengendara lain yang membantu kita mendorong atau sekadar ngasih tahu bahwa ada tukang tambal ban di depan. Hakikatnya itu pertolongan dari Allah. Sama ketika rezeki kita dari Allah Ta’ala dianter lewat orang lain. Misalnya, lagi di rumah ada tetangga yang tiba-tiba ngetuk pintu rumah dan ngasih makanan.

Nah, terkait kasus Coronavirus saat ini, pertolongan Allah Ta’ala tetap ada. Kita diberikan kesehatan. Hati yang tenang. Diberikan pula kemudahan untuk menghindari potensi-potensi terpapar wabah. Diberikan kemudahan untuk tetap berdoa dan berdzikir serta rajin tilawah al-Quran agar terhindar dari penyakit mengerikan. Semua itu karunia dari Allah Ta’ala.

Jadi, tetaplah menanamkan khauf dan raja’ hanya kepada Allah Ta’ala. Ikhtiar secara fisik atau tindakan nyata dengan menjaga kesehatan dan meminimalisir kontak fisik dengan orang lain di area publik tetap dilakukan sebagai bagian dari kecintaan kepada tutunan Islam agar memelihara jiwa.

Raja’ (harapan/mengharap) tidaklah menjadikan pelakunya terpuji kecuali bila disertai amalan. Menurut Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitab Madarijus Salikin, “..bahwa raja` tidak akan sah kecuali jika dibarengi dengan amalan. Itu sebabnya, tidaklah seseorang dianggap mengharap apabila tidak beramal”.

Allah Ta’ala berfirman, “Barang siapa mengharap perjumpaan dengan tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan sesuatupun dalam beribadah kepada tuhannya.” (QS al-Kahfi [18]: 110)

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah membagi raja` menjadi tiga bagian, dua di antaranya raja’ yang benar dan terpuji pelakunya, sedang yang lainnya tercela. Raja` yang menjadikan pelakunya terpuji, pertama: seseorang mengharap disertai dengan amalan taat kepada Allah, di atas cahaya Allah, ia senantiasa mengharap pahala-Nya; kedua: seseorang yang berbuat dosa lalu bertaubat darinya, dan ia senantiasa mengharap ampunan Allah, kebaikan-Nya dan kemurahan-Nya.

Adapun yang menjadikan pelakunya tercela: seseorang terus-menerus dalam kesalahan-kesalahannya lalu mengharap rahmat Allah tanpa dibarengi amalan; raja` yang seperti ini hanyalah angan-angan belaka, sebuah harapan yang dusta.

Itu artinya, khauf dan raja’ ini emang kudu sepaket. Ditambah dengan mahabbah alias kecintaan. Kecintaan kepada siapa? Tentu saja kepada Allah Ta’ala karena khauf (cemas/takut) kepada Allah dan berharap (raja’) juga kepada Allah Ta’ala.

 

Takut mati tapi tetap maksiat?

Sobat gaulislam, kalo takut mati mestinya menghindari segala risiko yang umumnya bisa mengantarkan kepada kematian. Jangan sengaja mencari penyakit. Selain itu, jangan maksiat. Sebab, maksiat adalah bentuk pembangkangan terhadap aturan Allah Ta’ala. Larangan Allah malah dilaksanakan. Itu namanya melakukan kemaksiatan, Bro en Sis.

Di tengah gempuran Coronavirus saat ini, aneh aja sih kalo ada orang (khususnya yang muslim) malah tetap maksiat. Nggak shalat, malah doyan minum khamr, hobi berjudi, gemar mencuri, getol korupsi, senang menipu, sering berbuat zalim. Mereka takut kalo virus menginfeksi mereka, tetapi hanya sekadar takut biasa yang nggak mengantarkannya menjadi sadar karena sering berbuat maksiat lalu taubat kepada Allah Ta’ala. Berdoa minta dijauhkan dari Coronavirus karena takut mati, tapi shalat aja nggak. Aneh banget, kan?

Lebih aneh lagi kalo takut mati terpapar Coronavirus tapi tetap nggak shalat dan nggak menjaga kesehatan diri dan malah keluyuran bareng teman-teman campur-baur alias ikhtilat laki-perempuan yang bukan mahram. Piye iki, Jal?

Oya, hati-hati dengan kemaksiatan, lho. Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitab Fawaidul Fawaid (terjemahan), hlm. 407, menyampaikan bahwa pangkal berbagai kemaksiatan, baik yang besar maupun yang kecil, ada tiga, yaitu: 1) ketergantungan hati kepada selain Allah Ta’ala; 2) menuruti amarah; 3) mengikuti dorongan syahwat. Ketiga hal tersebut, secara berurutan, mengantarkan pada kemusyrikan, kezaliman, dan kekejian. Sebagaimana dimaklumi, puncak ketergantungan kepada selain Allah adalah berbuat syirik dan mengklaim adanya ilah atau sesembahan lain selain Allah; puncak menuruti amarah adalah pembunuhan, yang termasuk kezaliman; dan puncak mengikuti dorongan syahwat adalah perzinaan, yang merupakan perbuatan yang sangat keji.

Allah Ta’ala menjelaskan gabungan ketiga perkara ini dalam firman-Nya (yang artinya), “Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina.” (QS al-Furqaan [25]: 68)

So, jangan maksiat, ya. Semoga kita nggak kena Coronavirus. Yuk, tawakkal hanya kepada Allah Ta’ala dengan banyak berdoa, berdzikir, dan membaca al-Quran. Selain itu, kita ikhtiar dengan menjaga kesehatan diri dan lingkungan (cuci tangan pakai sabun di air yang mengalir—setidaknya 20 detik, jauhi keramaian di tempat umum, karantina diri).

Oya, ini perlu juga diingatkan. Ini tentang akidah kita. Ya, jangan sampe ketika media massa atau orang-orang bilang bahwa Coronavirus sedang mewabah, kita anggap bahaya lalu kita panik. Namun, saat al-Quran mengabarkan tentang hari kiamat, banyak di antara kita yang nyantai aja, bahkan nggak melakukan persiapan apa pun. Gawat!

Terakhir, tentu saja tinggalkan dan jauhi maksiat agar selamat dunia akhirat. Laa hawla wa laa quwwata illa billah. [O. Solihin | IG @osolihin]