gaulislam edisi 652/tahun ke-13 (27 Sya’ban 1441 H/ 20 April 2020)

 

Alhamdulillah, jumpa lagi dengan buletin kesayangan kita semua. Ya, saat terbit rutin di hari Senin pekan ini, kita udah memasuki tanggal 27 Sya’ban 1441 H. Artinya, Ramadhan tinggal 2 atau 3 hari lagi. Semoga kita semua bisa menikmati bulan suci Ramadhan dan mengisinya dengan beragam amal shalih; shaum, sedekah, tilawah al-Quran, dan shalat tarawih. Insya Allah.

Sayangnya, di tengah wabah Coronavirus di negeri kita dan juga di belahan dunia lainnya, suasana menjelang Ramadhan terasa kurang nampol. Ada banyak khawatir dan bahkan ketakutan. Maklum nih, sampe siang tadi (pukul 12:00 WIB), tanggal 20 April 2020 ini, berdasarkan data di website Covid19.go.id (yang juga mengutip data dari WHO untuk kasus dunia) tercatat kasus positif Covid-19 di Idonesia 6.760 orang, sembuh 747 orang, dan meninggal dunia 590 orang. Secara global alias di dunia, ada 213 negara yang terpapar Covid-19. Kasus terkonfirmasi 2.285.210 orang terjangkit. Jumlah kematian mencapai 155.124 orang. Luar biasa banyaknya.

Nah, bagaimana nih persiapan kita menghadapi Ramadhan tahun ini di tengah pagebluk (epidemi alias wabah) Coronavirus ini? Kita berharap sih, semoga wabah ini segera berakhir. Sehingga kaum muslimin bisa bergembira menyambut bulan Ramadhan dan mengisinya dengan beragam amal shalih. Namun, kalo pun belum juga reda wabahnya, kita tetap bersabar dan terus berdoa serta ikhtiar yang terbaik untuk menjaga diri agar tak terpapar Coronavirus ini. Insya Allah.

 

Jangan matikan Ramadhan

Sobat gaulislam, kalo tahun-tahun sebelumnya melalui buletin ini kita juga menghimbau bahwa sebagai muslim, khususnya para remaja agar tetap menghidupkan Ramadhan, dan jangan ‘mematikannya’ dengan maksiat. Iya, edisi tahun-tahun sebelumnya kita getol ngingetin bahwa jangan nodai Ramadhan dengan maksiat kita. Jangan matikan Ramadhan dengan kegiatan yang nggak ada bedanya dengan bulan sebelumnya, seperti tetap ramai perjudian, tetap marak pacaran, dan bahkan banyak orang yang makan dan minum di siang hari bulan Ramadhan. Kalo kayak gitu kan jadi nggak ada bedanya antara bulan Ramadhan dan bulan lainnya. Jadi, nggak spesial.

Kalo sekarang sih, lebih ke persoalan karena khawatir dan takut terpapar Coronavirus. Banyak orang khawatir dan was-was ketika harus ke luar rumah untuk urusan penting seperti ke rumah sakit, ke pasar, termasuk ke masjid karena dianggap sebagai tempat berkumpul manusia dalam jumlah banyak, yang katanya berpotensi memudahkan penularan virus.

Semoga Ramadhan nanti kita semua berharap segalanya tetap spesial karena Ramadhan adalah bulan mulia. Ramadhan nanti, saat amalan dilipatgandakan pahalanya, kita berdoa agar wabah ini segera berakhir bagi kaum muslimin dan menjadikannya sebagai azab bagi orang-orang kafir dan munafik serta orang-orang zalim.

Bulan ramadhan adalah bulan yang mulia. Bulan ini dipilih  sebagai bulan untuk berpuasa dan pada bulan ini pula al-Quran diturunkan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS al-Baqarah [2]: 185)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah tatkala menafsirkan ayat yang mulia ini dengan mengatakan, “(Dalam ayat ini) Allah Ta’ala memuji bulan puasa –yaitu bulan Ramadhan- dari bulan-bulan lainnya. Allah memuji demikian karena bulan ini telah Allah pilih sebagai bulan diturunkannya al-Quran dari bulan-bulan lainnya. Sebagaimana pula pada bulan Ramadhan ini Allah telah menurunkan kitab ilahiyah lainnya pada para Nabi ’alaihimus salam.” (Tafsir al-Quran al-‘Azhim, jilid 2, hlm. 179)

Ramadhan adalah bulan mulia dan ketika kita berdoa akan dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan, dan setiap muslim apabila dia memanjatkan doa maka pasti dikabulkan.” (HR al-Bazaar, dari Jabir bin ‘Abdillah)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiga orang yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi.” (HR at-Tirmidzi no. 3598)

Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan (dalam al-Majmu’, jilid 6, hlm. 375), “Hadits ini menunjukkan bahwa disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk berdoa dari awal ia berpuasa hingga akhirnya karena ia dinamakan orang yang berpuasa ketika itu.”

Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan pula, “Disunnahkan bagi orang yang berpuasa ketika ia dalam keadaan berpuasa untuk berdoa demi keperluan akhirat dan dunianya, juga pada perkara yang ia sukai serta jangan lupa pula untuk mendoakan kaum muslimin lainnya.”

Yuk, kita bersama-sama berdoa memohon kepada Allah Ta’ala, khususnya nanti di bulan Ramadhan bulan mulia dan dikabulkannya doa. Berdoa agar kaum muslimin diselamatkan dari wabah ini dan menjadikan wabah ini hanya menimpa orang-orang kafir yang memusuhi kaum muslimin, kaum munafik, dan orang-orang yang zalim saja (termasuk para pemimpin zalim di negeri kita). Boleh ya mendoakan keburukan bagi orang kafir, orang munafik dan orang zalim?

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Telah jelas kebolehan hal tersebut, yakni mendoakan keburukan kepada orang yang berbuat zalim berdasarkan nash-nash al-Quran dan as-Sunnah. Juga berdasarkan perbuatan generasi umat Islam terdahulu (salaf) maupun generasi terkemudian (khalaf).” (Imam Nawawi, al-Adzkar an-Nawawiyyah, hlm. 261)

Di antara doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memohon kemenangan terhadap kaum kafir adalah, “Ya Allâh, Dzat Yang menurunkan al-Quran, Yang menggerakkan awan, Yang mengalahkan komplotan tentara (kafir), kalahkanlah mereka dan menangkanlah kami atas mereka!”

So, berdoalah yang banyak di Ramadhan nanti, ya!

 

Gara-gara Corona?

Sobat gaulislam, akhir-akhir ini banyak kejadian yang dulu dianggap baik, jadi (dibuat) menakutkan di masa wabah. Ada pula yang sebelumnya dianggap buruk, di masa wabah malah jadi seolah baik. Apakah ini gara-gara coronavirus? Wallahu a’lam.

Contohnya aja nih, hari Jumat kemarin ada yang meninggal di sebuah masjid di Bogor saat shalat Jumat di rakaat kedua. Jamaah masjid diberitakan malah panik dan takut, katanya berhamburan ke luar masjid. Padahal sebelum-sebelumnya kalo ada orang yang meninggal saat shalat berjamaah di masjid dipuji-puji dan pada pengen meninggal dalam kondisi seperti itu. Bener, kan?

Di beberapa tempat juga ada yang merespon berlebihan. Kalo dulu, orang yang nggak Jumatan itu dinilai buruk. Kalo sekarang, seolah jadi baik karena ikut menyukseskan anjuran pemerintah agar tidak berkumpul di tempat umum untuk memutus penyebaran Coronavirus. Maka, banyak juga masjid ditutup dari penyelanggaraan shalat fardhu berjamaah dan shalat Jumat. Padahal, masjid tersebut bukan di zona merah penyebaran Covid-19.

Selain itu, sudah hampir sebulan ini warung makan dan restauran banyak yang tutup. Seorang teman pernah mengunggah foto di akun instagramnya yang menggambarkan sebuah food court di pusat perbelanjaan yang bukan saja sepi pengunjung, tetapi memang tidak buka. Ia tuliskan secara satire sebuah caption: “Hormatilah Corona. Dahsyatnya Corona, kedai-kedai makan pun bisa patuh tutup di siang hari, mengalahkan Ramadhan.”

Iya, biasanya sih yang udah-udah warung makan tetap buka meski di siang hari Ramadhan. Jadi, lebih takut sakit dan mati, daripada takut kepada Allah karena melanggar perintah-Nya. Waduh!

Ada lagi nih, boncengan di motor akan ditegur ketika melintas di jalan raya yang ada check point di saat PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Kalo alamat keduanya nggak sama sesuai yang tertera di KTP akan ditindak. Nah, ini sebenarnya bagus. Lebih bagus lagi kalo pas di hari-hari normal (tanpa adanya wabah Covid-19) ini akan menyelamatkan generasi muda tuh yang gaul bebas. Misalnya aja laki-perempuan bukan mahram boncengan di motor. Banyak banget itu. Nah, cegatin, dah. Cek KTP atau kartu pelajarnya. Lihat alamatnya. Tanya juga apakah pacaran, sekadar untuk meyakinkan. Kalo mereka mengaku pacaran, nasihatin dan bubarin. Bila perlu tahan motornya. Hmm.. mungkin nggak, ya?

Gara-gara Corona juga, banyak orang jadi rajin pake masker kalo pas mau keluar rumah karena diminta oleh petugas demi kesehatan diri dan orang lain. Bagus sih. Berarti peduli kepada kesehatan diri dan juga orang lain. Coba kalo diterapkan juga dalam masalah pelaksanaan syariat Islam.

Jadi gini, kalo kita peduli dengan diri sendiri karena nanti akan dihisab oleh Allah Ta’ala, maka kita akan mengikuti aturan Islam. Teguh dalamakidah, dan pelaksanaan syariat. Misalnya nih, shalat dan puasa serta amal shalih lainnya yang bersifat amal qashir (pribadi) getol dilakukan karena takut diri kita nggak punya amal baik ketika di akhirat nanti dihisab sama Allah. Begitu pula akan bersemangat melakukan amal muta’adi (manfaatnya dirasakan orang lain), seperti sedekah, zakat, menolong orang lain, dakwah dan sejenisnya. Keren, kan?

Oya, setelah Coronavirus mewabah, para petugas berwenang akan membubarkan kerumunan dalam bentuk apa pun di tempat-tempat umum. Nah, ini bagus juga. Akan lebih bagus diterapkan meski wabah Covid-19 udah nggak ada. Gimana maksudnya?

Gini, jadi nanti tujuan membubarkan kerumunan yang nggak jelas itu dasar tujuannya sesuai syariat Islam. Misalnya nih, anak-anak muda yang gemar nongkrong di café, campur baur laki dan perempuan, bubarin aja (eh, tapi sebelumnya dinasihatin dan diedukasi dulu, ya).

Nah, bagus juga Minggu dinihari kemarin (19/4) aparat menggerebek 16 gay yang lagi mandi bareng di pemandian air panas di Gunung Panjang, Bogor. Keren tuh, yang kayak gituan digerebek aja karena bisa bikin mudharat buat yang lain. Bukan sekadar membubarkan kerumunan dalam rangka pencegahan Covid-19, tapi ini karena melanggar syariat Islam.

Mereka yang pacaran di tempat-tempat umum ditegur dan dinasihati, juga ditindak. Kalo ada yang bikin konser musik atau sejenisnya yang melibatkan ikhtilat (campur baur laki dan perempuan) dan banyak maksiat lainnya, jangan diberi izin. Kalo tetap ngadain, bubarin aja. Jadi bagus, kan? Eh, tapi mungkin nggak ya dalam kondisi kehidupan liberal seperti saat ini?

Eh, sebagai muslim nih, mengapa kita bisa sepakat untuk hal-hal yang akan mengancam kesehatan diri kita ketika masa wabah Covid-19 ini, tetapi tidak bisa sepakat atau setidaknya nurut dan takut untuk hal-hal yang terkait dengan pelaksanaan syariat Islam? Coba tanya kepada diri kita masing-masing.

Kebaliknya saat ini, malah untuk pelaksanaan shalat Jumat aja dilarang secara pukul rata. Tempat yang bukan di zona merah aja ikut-ikutan nggak ngadain, atau tepatnya sih diancam agar jangan menyelenggarakan shalat Jumat dengan alasan mengikuti anjuran pemerintah agar penyebaran wabah terkendali.

Okelah kalo di zona merah alias banyak yang terkena wabah dan banyak yang sakit serta meninggal. Mungkin masih agak masuk akal walau tetap aja sih wajib melaksanakan shalat Jumat karena ada yang mengambil dalil minimal 4 orang (1 orang jadi imam dan khatib, 3 lagi jamaahnya) untuk bisa melaksanakan shalat Jumat di masa darurat. Intinya, tetap shalat Jumat. Walau pendapat jumhur ulama, minimal 40 orang yang layak untuk berjamaah mengadakan shalat Jumat.

Beberapa kawan saya tetap semangat mencari masjid yang menyelenggarakan shalat Jumat di tempat lain karena di tempat tinggalnya (biasanya di komplek perumahan), masjid sudah ditutup.

Padahal, kalo khawatir kan bisa menerapkan protap seperti kalo ke pusat perbelanjaan, misalnya seluruh jamaah masjid diperiksa suhu tubuhnya dengan thermometer gun (tahu kan, yang ‘ditembakkin’ ke jidat?), diminta bawa hand sanitizer atau disediakan sabun dan airnya di halaman masjid. Kalo di mal aja bisa, kenapa di masjid nggak? Padahal, ke masjid untuk ibadah shalat dan berdoa. Di situlah kita berdoa memohon perlindungan dan pertolongan dari Allah Ta’ala. Jadi nggak usah panik ikut-ikutan menutup masjid dan meniadakan pelaksanaan shalat Jumat dan shalat fardhu lainnya. Iya, kan?

Kalo yang sakit (apalagi menular) ya jangan nekat ke masjid bergabung dengan yang sehat walau tujuannya untuk shalat berjamaah dan shalat Jumat, karena memang ada dalilnya. Berdiam diri saja di rumah. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan dikumpulkan yang sakit dengan yang sehat.” (HR Bukhari, no. 5771 dan Muslim, no. 2221)

Akhirul keyboard, eh, akhirul kalam. Datangnya bulan Ramadhan di masa wabah tetap harus disambut meski tidak perlu kumpul-kumpul yang tak perlu. Tetap melaksanakan puasa juga lho. Jangan sampe tuh ada usulan di masa wabah minta dispensasi nggak puasa. Duh, di masa normal juga yang model begitu biasanya juga malas puasa. Sekarang pake atas nama di masa wabah. Bener-bener pemalas.

Shalat tarawih dan tadarus al-Quran tetap dilaksanakan dong, ya. Jangan sampai Ramadhan kayak nggak ada rasa-rasanya, gitu. Yuk, sambut Ramadhan dengan gembira. Siapkan diri secara fisik dan mental agar bisa melaksanakan seluruh kewajiban di bulan mulia nanti. Laa haula wa laa quwwata illa billaah. Semangat! [O. Solihin | IG @osolihin]