gaulislam edisi 659/tahun ke-13 (16 Syawal 1441 H/ 8 Juni 2020)

Aduuuh temanya, lagi-lagi, berat bingitz! Hehehe… berat mana dengan bawa pasir sekarung ukuran 50 kg? Hadeuuh… sama-sama berat cuma beda kondisi. Kalo bawa karung mah berat secara fisik, kalo judul ini, kemungkinan bikin mumet pikiran.

Eit, tetapi tenang aja sih. Ini belum berat banget, kok. Beneran. Coba aja baca ampe tuntas isi artikel di buletin kesayangan kamu ini. Siap-siap, ya. Saya mau ngajak mikir kamu semua. But, insya Allah tetap disampaikan dengan gaya bahasa yang ringan, supaya gampang dipahami. Yup!

Wabah Coronavirus, yang kemudian sering disebut Covid-19, belum reda sepenuhnya, bahkan di beberapa negara masih banyak orang yang terjangkiti. Beberapa pekan terakhir ini, muncul juga pendapat atau mungkin ada yang berani menuding bahwa wabah ini bukan alami, tetapi hasil rekayasa. Baik virusnya memang diduga direkayasa di laboratorium, maupun upaya penyebarannya yang juga diduga ada konspirasi. Entahlah. Saya sendiri nggak tahu pasti. Hanya saja, kalo kita belajar dari pengalaman dalam membaca berita serta fakta, insya Allah akan ketemu ‘polanya’. Kerasa gejalanya.

Pandemic atau Plandemic?

Sobat gaulislam, pada awal Mei, berarti sebulan lalu, ya, beredar video berjudul Plandemic, sebuah film dokumenter. Dr Judy Mikovits menjadi salah satu narasumber yang dominan memberikan informasi terkait Covid-19. Namun, semua pernyataannya dalam film dokumenter itu dianggap sebagai klaim belaka, bahkan hoax. Videonya yang diunggah di Facebook dan Youtube dihapus pihak Facebook dan Youtube. Saya sendiri mencoba iseng upload video tersebut yang saya dapatkan dari sebuah grup WhatsApp ke youtube. Eh, ternyata benar, video tersebut langsung dihapus pihak youtube, alias nggak bisa tayang. Saya coba unggah ke salah satu Page yang saya kelola di Facebook. Ini agak mendingan, tidak dihapus, tetapi hanya ditandai sebagai informasi hoax. Video masih bisa dilihat. Namun, disertai banyak informasi yang membantah klaim Judy Mikovits dan pembuat video tersebut.

Oke deh, terlepas dari kontroversi tersebut, saya mencoba membaca fakta (yang tercantum dalam berita, bahkan klaim dan opini). Ini memang mirip kasus lainnya jika dampaknya melibatkan dunia. Dulu, kasus terorisme, yang diyakini bahkan beberapa fakta terbukti bahwa ada konspirasi di dalamnya. Namun, di ranah ini tak banyak orang yang peduli, karena tak menyangkut urusan hajat hidup mereka secara langsung, karena memang urusan lebih ke politis dan jelas yang diberikan stigma adalah kaum muslimin. Sedikit orang yang mau ngelibatin diri dalam polemik tersebut, lalu saling berargumen: apakah ada konspirasi atau memang faktanya demikian.

Nah, ternyata kalo urusan kesehatan, karena di dunia ini semua orang nggak mau sakit–apalagi koit—maka ketika ada yang melemparkan tuduhan bahwa Covid-19 ini adalah bagian dari rekayasa pihak tertentu dan diduga kuat ada konspirasi di dalamnya, banyak yang ikutan heboh. Ada yang membabi buta membantah, ada pula yang bernafsu mendukung. Pro dan kontra tak bisa dihindari. Wah, kok bisa? Jangan-jangan antara yang pro dan kontra terhadap konspirasi adalah bagian dari konspirasi itu sendiri, ya? Bisa jadi. Dan, mungkin juga jika kedua kubu nggak tahu siapa yang sejatinya yang dibela dan dicelanya.

Kok bisa? Bisa jadi aja sih. Ini mirip dengan anekdot yang pernah saya baca. Diceritakan bahwa Gus Dur menyampaikan anekdot kepada Fidel Castro tentang Che Guevara. Jadi, ceritanya begini. Dikisahkan ada tiga orang yang baru saja dimasukkan dalam satu sel di penjara. Dua orang tampak sedang ngobrol, bahkan adu argumen, dan seorang lagi hanya diam saja. Dua orang yang sedang ngobrol itu, salah seorang di antara keduanya bertanya, “Kenapa kamu dipenjara?” Dijawab, “Karena saya pendukung Che Guevara”. “Lha, kamu kenapa dipenjara,” yang barusan ditanya balik tanya. “Karena aku penolak Che Guevara,” ujarnya. Lho, pendukung dan penolak sama-sama dipenjara?

Keduanya berpikir lalu sepakat akan menanyakan kepada satu orang yang dari tadi hanya diam. “Kamu kenapa dipenjara?” tanya kedua orang tadi. Eh, dijawab begini, “Karena saya Che Guevara”. Kontan kedua napi itu kaget bukan kepalang. Konon dengan anekdot yang disampaikan Gus Dur ini, Fidel Castro pun terbahak. Eh, tadi lucu nggak sih anekdotnya? Jangan-jangan cuma saya aja yang merasa itu lucu. Hehehe…

Intinya, yang pro dan kontra saja nggak tahu siapa yang dibela dan dicelanya. Misterius banget, kan?

Nah, berarti dalam kasus ini, kita juga belum tahu pasti siapa yang bermain, dan siapa dalangnya? Namun yang jelas, banyak orang terbawa permainan ini, bisa jadi termasuk kita (pro dan kontra). Mungkin pemain sih bisa kita lihat, tetapi kan mereka bukan dalang. Sekadar tokoh awal yang harus muncul di permukaan, atau tokoh yang nanti muncul di babak berikutnya, tetapi dalangnya, nggak mungkin diperlihatkan. Ya, kalo diperlihatkan atau memperlihatkan diri, namanya bukan gawean rahasia lagi, tetapi lagi main film.

Covid-19 hasil rekayasa dan konspirasi? Pandemi biasa atau pandemi yang direncanakan? Pandemic or Plandemic? Saya nggak tahu pasti. Namun, saya akan mencoba mengajak kamu semua berpikir politis, sistemis, dan khas Islam. Wah, tambah berat kayaknya nih.

Praktik konspirasi

Jadi begini, sobat gaulislam. Sebagaimana yang sudah sering dibahas, konspirasi itu ya sama dengan persekongkolan. Teori ini bisa jadi muncul karena melihat fakta. Atau bisa juga, dibuat dulu teorinya baru dipraktikkan. Namun, saya melihat bahwa teori ini justru muncul dari fakta. Kok bisa? Definisi dari teori konspirasi itu adalah teori-teori yang berusaha menjelaskan bahwa penyebab tertinggi dari satu atau serangkaian peristiwa (pada umumnya peristiwa politik, sosial, atau sejarah) adalah suatu rahasia, dan seringkali memperdaya, direncanakan diam-diam oleh sekelompok rahasia orang-orang atau organisasi yang sangat berkuasa atau berpengaruh.

Nah, karena ini sifatnya berasumsi, memang tidak terlihat jelas faktanya, maka seringkali yang percaya akan adanya konspirasi dianggap halu, dianggap mengada-ada, dan kurang kerjaan, dianggap paranoid pula, dan anggapan atau tuduhan lainnya. Intinya diolok-olok, lah. Dinyinyirin juga, “Ente ngomongin konspirasi, siapa musuh ente sih. Wong, nggak terlihat, nggak jelas. Serigala yang mengancam di hadapan ente jelas tampak. Lha, ini siapa sih yang melakukan konspirasi itu? Emang ente tahu siapa pengendali konspirasi itu?”

Dan, masih banyak lagi pernyataan dan pertanyaan terkait konspirasi. Lalu gimana seharusnya kita bersikap?

Pernah dengar atau baca berita tentang berteberannya paku di beberapa ruas jalan di Jakarta? Coba, siapa yang sengaja nebarin paku? Nggak jelas. Apa langsung nuduh tukang tambal ban? Belum tentu juga. Bisa iya, bisa tidak. Namun yang pasti meski kelihatannya sepele, tetapi tentunya direncanakan. Ada pihak yang bermain di sana.

Saya pernah ngobrol dengan salah seorang guru di salah satu sekolah. Dulu sekali. Pada saat itu, beliau bercerita bahwa akhir-akhir ini sering ada yang datang menawarkan jasa keamanan. Namun, beliau dan pihak sekolah belum menerima tawaran tersebut karena belum merasa perlu. Saat itu beliau menyampaikan dugaan (berdasarkan pengalamannya), bahwa kelompok tersebut sepertinya akan membuat kegaduhan agar pihak sekolah terpaksa menggunakan jasa keamanan mereka. Obrolan cuma sampai di situ. Berarti asumsi, lagi. Namun, masuk akal.

Coba kita beralih ke yang level lebih tinggi sedikit. Sejak Kasus 911 dan Bom Bali, kita dicekoki terus dengan terorisme. Tuduhan selalu pada umat Islam. Semua informasi hanya satu pintu, yakni kepolisian. Wartawan ikut saja memberitakan. Umumnya begitu. Bahkan setiap kali ada fakta krusial, muncul lah aksi terorisme sehingga menutup pemberitaan fakta krusial tersebut, biasanya jika melibatkan pejabat atau pemerintah. Seperti nggak selesai. Kesannya kan jadi: teroris selalu ada. Akhirnya, jadi wajar kalo orang berpikiran, mungkin ini dirakayasa atau sengaja dipelihara, mungkin ini dikendalikan pihak tertentu. Namun, ya, memang sulit dibuktikan, tetapi emang bisa dirasakan akibatnya. Bener nggak, sih?

Terus, tahun kemarin saat Pilpres, banyak kasus juga kan? Mulai dari perhitungan suara yang sepertinya memenangkan–sebut saja, Jokowi, KPU servernya eror, pemberitaan yang menghabisi lawan politiknya, survei yang memenangkan si dia, bahkan di awal sebelum dilakukannya pemungutan suara. Belum lagi, kematian ratusan petugas KPPS. Ada apa? Banyak pihak saat itu yang curiga ada konspirasi. Namun, tetap tak bisa atau belum terbongkar apa betul itu konspirasi. Secara fakta belum terlihat, tetapi gejala dan akibatnya terasa. Iya, kan?

Sobat gaulislam, untuk kasus Covid-19 ini, saya memilih mengamati dulu. Namun, jika kita terbiasa membaca fakta akan terasa berbeda pemberitaan akhir-akhir ini. Bagi para saintis (khususnya bidang biokimia), memandang bahwa wabah ini memang terjadi dan alami. Obat satu-satunya adalah vaksin. Ya, wajar-wajar aja sih berpendapat demikian. Sebab, sesuai dengan kapasitas keilmuan mereka dan pengalaman di bidangnya.

Namun, kalo ada orang (entah siapa orang itu, makin tinggi level kekuasaannya makin berpengaruh) yang kemudian berpikir politis, misalnya gimana caranya agar manusia sejagat resah dan takut, lalu mengambil untung dari keresahan dan ketakutan manusia, dengan menawarkan obat, sebagaimana yang disampaikan para saintis. Intinya dia bisnis. Bisa saja, kan? Sangat bisa. Cara berpikir politikus yang umumnya demikian. Bergejolak bin dinamis. Nggak lurus-lurus aja kayak alur kerja teknis di kantor atau di laboratorium.

Hal ini sama kayak pengemban dakwah yang cuma di belakang layar dengan yang terjun di lapangan. Pasti berbeda pengalamannya, berbeda pula cara memandang persoalan. Di lapangan, bisa sangat jauh berbeda dengan di belakang meja kerja. Di lapangan terlibat langsung dengan banyak orang dengan ragam karakter, sehingga memungkinkan berbeda dalam menyikapinya.

Nah, fakta inilah yang memungkinan para politikus memainkan peran konspirasinya dengan memanfaatkan isu kesehatan. Sangat mungkin, kan? Namun, kalo saya ditanya siapa mereka, saya nggak bisa jawab pasti. Bisa juga keduanya (baik yang pro maupun kontra) justru bagian dari permainan elit global itu sendiri demi tujuan tertentu. Biar rame. Banyak asumsi, banyak kemungkinan. Ya, memang demikian.

Kok bisa? Nggak mungkin kalo sampe nggak ada yang ngendaliin. Oke, jika masih penasaran, maka saya akan sampaikan bahwa konon ada elit global yang sangat berpengaruh. Baik secara kekuasaan maupun finansial. Siapa saja mereka, belum pasti. Kan, rahasia. Namun, sepak terjangnya bisa dirasakan. Jika persoalan virus nanti ujungnya pada vaksin yang kemudian dipaksakan harus menggunakan dari produsen vaksin tertentu, ya itu bisa menjadi indikasi ada konspirasi. Apalagi orang-orang yang terlibat nanti sudah berkoar-koar sejak sekarang. Ini baru asumsi, ya, bukan tudingan.

Bagaimana dengan Covid19 ini karena ada yang menganggap ini bagian dari konspirasi elit global? Siapa elit global itu? Pengusaha farmasi dunia? Pembuat vaksin? Dibilang orang-orang Yahudi. Bisa iya, bisa tidak. Ujungnya, Dajjal. Nah, bagaimana membuktikannya? Saya sendiri nggak punya kapasitas menelusuri hal itu. Lalu?

Begini deh. Konspirasi memang ada, tetapi untuk membuktikannya perlu keahlian dan pengamatan mendalam. Harus dipahami pula bahwa mempercayai adanya konspirasi bukan berarti menafikan peran Allah Ta’ala. Sebab, kita yakin dengan istilah istidraj. Jadi orang-orang jahat dibiarkan berkomplot untuk melakukan kejahatan, justru bagian dari istidraj (ditangguhkan hukumannya). Bukan dimenangkan.

Nah, terakhir berarti kita harus ngomongin dajjal. Wah, kalo ujungnya ke sini mah, udah banyak yang bahas, atuh. Hehehe ya nggak apa-apa, kan jadi bisa diingat lagi. Dajjal itu fitnah terbesar sebelum kiamat. Bisa saja ini awal-awal akan munculnya Dajjal, manusia dibuat bertikai, bahkan kubu-kubuan, banyak konspirasi, karena nanti juga memang ada pengikut dajjal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Tidak ada satu pun makhluk sejak Adam diciptakan hingga terjadinya kiamat yang fitnahnya (cobaannya) lebih besar dari Dajjal.” (HR Muslim no. 2946)

Nah, ternyata Dajjal adalah sosok raja yang ditunggu-tunggu oleh kaum Yahudi. Iya, orang-orang Yahudi meyakini Dajjal sebagai raja yang akan menguasai lautan dan daratan. Mereka juga meyakininya sebagai salah satu tanda daripada tanda-tanda kebesaran Allah. Orang-orang Yahudi menamainya dengan nama Al-Masih bin Dawud.

Ini perbedaan yang sangat mencolok antara mukmin dan yahudi. Orang-orang beriman, menunggu kedatangan Imam Mahdi dan turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam. Sementara mereka menunggu sang pendusta yang buta sebelah, penebar fitnah, yang bernama Dajjal.

Dari sahabat ‘Utsman bin Abil ’ash radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahualaihi wa sallam bersabda, “Kebanyakan pengikut Dajjal, adalah orang yahudi dan kaum wanita” (HR Ahmad)

Lalu? Mestinya bisa dibaca dan disimpulkan ya, dari baris-baris tulisan tadi. Hehehe.. Tapi ya, sudah fokus saja kepada persiapan jika harus mengalami masa munculnya Dajjal nanti. Sebab, Dajjal tak bisa dibuktikan secara sains, tetapi dengan dalil (al-Quran dan as-Sunnah). Ini baru permulaannya. Beragam konspirasi suatu saat akan terbongkar atas izin Allah Ta’ala. Tugas kita sekarang: kuatkan akidah, perbanyak dzikir dan tilawah al-Quran, shalat Subuh berjamaah rutinkan, shalat malam jangan ditinggalkan. Sedekah, bergairah menuntut ilmu, dan semangat beramal shalih lainnya. Semoga kita diberikan perlindungan oleh Allah Ta’ala.

Oya, jangan dilupakan bahwa untuk melawan konspirasi dari elit global, kita perlu juga peran negara. Nggak bisa individu. Nah, Daulah Islam atau Khilafah Islam yang bakalan layak melawan hegemoni elit global saat ini. Jadi, memang Islam harus diperjuangkan agar tegak kembali sebagai negara adidaya di dunia ini. Bagaimana? Siap, ya! Ayo ngaji dan dakwah! [O. Solihin | IG @osolihin]