gaulislam edisi 660/tahun ke-13 (23 Syawal 1441 H/ 15 Juni 2020)

Kayaknya kamu udah pada tahu ya istilah “new normal”? Yup, karena sejak akhir Mei lalu sudah digembar-gemborkan oleh pemerintah bahwa pandemi covid-19 akan memasuki suatu kondisi normal, hanya saja normal yang baru, new normal. Maksudnya, hidup normal setelah sebelumnya nggak normal karena pandemi: isolasi diri, karantina, lock down, lebih banyak di rumah, nggak boleh pergi-pergi kalo nggak penting, karyawan dan siswa diliburkan, rumah makan, tempat wisata ditutup. Maka, ketika sudah lebih dari tiga bulan masa “mendem” itu, akhirnya bersiap “bebas”. Nah, konon ini disebut new normal.

Sobat gaulislam, kalo mau diperhatikan, kondisi karantina, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), lock down dan sejenisnya itu ada baiknya juga dalam beberapa hal. Selain dalam masalah kesehatan, juga dalam perilaku. Contoh yang bagus ya, misalnya penerapan PSBB, orang yang ngumpul-ngumpul nggak jelas, seperti bercampur baurnya laki dan perempuan yang bukan mahram, otomatis jadi berkurang. Semoga seterusnya begitu, bahkan nggak ada yang ngumpul-ngumpul model begitu lagi.

Pengendara sepeda motor yang berboncengan akan dicek KTP-nya. Kalo sama alamat rumahnya, dianggap aman, kecil kemungkinan menularkan covid-19. Begitu alasannya ketika pemberlakukan PSBB. Nah, dilihat dari sisi Islam, ada positifnya juga lho. Iya, coba kalo yang boncengan ternyata anak remaja putra dan putri, hanya punya kartu pelajar. Pas dicek, beda alamat. Otomatis dugaan pertama adalah bukan mahram. Maka, ini terlarang. Nah, adanya PSBB dengan poin ini, bisa menekan berboncengannya mereka yang bukan mahram. Semoga saat new normal nanti benar-benar diterapkan, khususnya pemahanan bahwa ada larangan pergaulan bebas, meski hanya jalan bareng atau boncengan di sepeda motor.

Nah, itu dari sisi sosial ya, khususnya pergaulan remaja muslim. Kalo untuk urusan shalat agak repot karena banyak juga yang takut ke masjid kemarin-kemarin. Namun, insya Allah seiring dengan berjalannya waktu, semoga shalat berjamaah di masjid, termasuk shalat Jumat berjalan seperti sebelumnya. Walau di beberapa daerah yang zona hijau sih, selama ini tetap jalan kok. Shalat berjamaah setiap hari di masjid, dan shalat Jumat juga di masjid, dengan shaf yang normal. Bukan jarang-jarang dengan alasan menganggap perlu jaga jarak.

Insya Allah di new normal nanti, siapa pun yang kemarin-kemarin mengajak warga agar tidak shalat di masjid, nanti harus lebih giat ngajak warga untuk shalat fardhu dan shalat Jumat di masjid. Harus lebih gigih ketimbang kemarin-kemarin saat bersemangat ngelarang warga ke masjid karena khawatir kena Corona. Tanggung jawab, lho. Beneran!

Iya sih, itu tanggung jawab semua. Namun yang kemarin paling getol ngajak warga shalat di rumah, lebih bertanggung jawab lagi untuk ngajak warga shalat di masjid. Khawatir jadi kebiasaan nggak di masjid, jadi pemalas. Pengen enaknya aja. Maklum, tipu daya setan itu selalu ada. Setan, tentu ngajak kepada keburukan, bukan kebaikan.

Normal or nggak normal

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Definisi normal menurutk KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) kata normal diartikan: menurut aturan atau menurut pola yang umum; sesuai dan tidak menyimpang dari suatu norma atau kaidah; sesuai dengan keadaan yang biasa; tanpa cacat; tidak ada kelainan. Bisa juga berarti waras alias bebas dari gangguan jiwa.

Nah, selama ini kehidupan kita normal nggak? Tergantung sudut pandang sih. Bisa beragam. Kalo menurut Islam, sebelum wabah, saat wabah, dan sekarang tetap nggak normal kehidupan masyarakat kita karena negara nggak menerapkan aturan Islam. Gimana bisa dibilang kehidupan masyarakat sekarang itu normal kalo pacaran dianggap biasa, padahal itu maksiat. Gimana bisa dibilang normal kalo judi dan perzinaan serta riba merajalela di tengah kehidupan kita. Padahal, menurut Islam ketiga hal itu jelas kemaksiatan. Iya, kan? Coba deh kamu pikir.

Jadi, penentuan normal nggak normal itu kudu ada standarnya. Nggak disesuaikan dengan cara pandang masing-masing. Itu sebabnya, sebagai muslim, standar kita dalam menentukan baik dan buruk, terpuji dan tercela, benar dan salah, halal dan haram suatu perbuatan, dinilai menurut aturan Islam. Bukan aturan yang lain. Ini yang dimaksud dengan standar yang benar.

Kehidupan saat ini, jika dinilai menurut ajaran Islam, adalah kehidupan yang tidak islami. Bukan masyarakat Islam, bukan negara Islam. Apakah ini normal? Kalo menurut Islam, ya nggak normal. Salah. Seperti yang udah ditulis di paragraf sebelumnya, bahwa maraknya pacaran, perjudian, perzinaan, riba adalah bagian dari kerusakan masyarakat liberal saat ini. Sebab, dalam pandangan Islam, semua itu adalah bentuk kemaksiatan. Oya, edisi dua pekan kemarin buletin kesayangan kamu ini udah bahas sebenarnya. Itu lho, yang judulnya “Mengislamkan Negara”. Iya, sebab negara saat ini bukan negara Islam, jadi agar disebut negara Islam, ya kudu menerapkan akidah dan syariat Islam untuk mengatur kehidupan rakyatnya.

Islam itu menyelamatkan

 Sobat gaulislam, beneran. Islam adalah penyelamat kehidupan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Bagaimana Islam menyelamatkan umat manusia? Begini, Islam itu memiliki seperangkat aturan. Terutama yang tercantum dalam al-Quran dan as-Sunnah (hadits). Kalo ninggalin al-Quran dan as-Sunnah, itu artinya nggak menjadikan keduanya sebagai pedoman kehidupan. Iya, kan? Padahal, sudah disampaikan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam, bahwa kita wajib berpegang teguh pada al-Quran dan as-Sunnah.

Dalil untuk berpegang teguh dengan al-Quran dan as-Sunnah disebutkan dalam Kitab al-Muwatha’ Imam Malik rahimahullah, “Aku telah tinggalkan bagi kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selamanya jika berpegang teguh dengan keduanya yaitu: al-Quran dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam” (HR al-Hakim, sanadnya shahih kata al-Hakim)

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari (kalangan) orang-orang muhajirin dan anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada-Nya, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS at-Taubah [9]: 100)

Ini memang menjelaskan karakter para sahabat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, ini juga membuktikan bahwa Islam memang menyelamatkan manusia. Seorang muslim akan mendapat kebahagiaan di akhirat dengan pahala mendapatkan surga. Maka, jadilah muslim terbaik! Inilah yang disebut normal. Maka, kalo sekarang gembar-gembor new normal, maka yang pantas adalah new normal bersama Islam. Beneran!

Oya, kita pasti sering membaca surah al-Fatihah, dan itu minimal kita baca sehari 17 kali dalam shalat wajib lima waktu. Sesuai pembahasan pada subjudul ini, adalah ayat ke-6 dan ke-7, yang artinya, “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS al-Fatihah [1]: 6-7)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir diterangkan yang diminta dalam ayat di atas adalah hidayah al-irsyad wa at-taufiq, yaitu hidayah untuk bisa menerima kebenaran dan mengamalkannya, bukan sekadar hidayah untuk dapat ilmu. Jadi maksudnya kata beliau, kita minta pada Allah, tunjukkankah kita pada jalan yang lurus.

Adapun makna shirathal mustaqim, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir dengan menukil perkataan dari Imam Abu Ja’far bin Jarir bahwa para ulama sepakat bahwa shirathal mustaqim yang dimaksud adalah jalan yang jelas yang tidak bengkok.

Adh-Dhahak berkata dari Ibnu ‘Abbas bahwa jalan tersebut adalah jalan yang diberi nikmat dengan melakukan ketaatan dan ibadah pada Allah. Jalan tersebut telah ditempuh oleh para malaikat, para nabi, para shiddiqin, para syuhada dan orang-orang shalih. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya (yang artinya), “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS an-Nisa’ [4]: 69)

Mengikuti Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, berarti menjadikan al-Quran dan as-Sunnah sebagai pedoman hidup kita. Itu sebabnya, memang hanya Islam yang bakalan menyelamatkan umat manusia. Menyelamatkan di dunia dan juga di akhirat. So, berbahagialah dan bersyukurlah menjadi muslim.

Cuma persoalannya nih, banyak kaum muslimin sendiri yang saat ini malah jauh dari Islam. Kenapa? Ya, gampangnya, karena kehidupan bernegara dan bermasyarakat saat ini tidak islami, tetapi sebaliknya dikendalikan dalam kehidupan bernegara yang kapitalistik, akidahnya sekular nan liberal. Celakanya, sebagian besar kaum muslimin justru menikmatinya. Tugas berat memang bagi kita. Namun jangan khawatir, yang perlu kita lakukan adalah kesungguhan dalam berjuang dan mengharap ridho serta pertolongan Allah Ta’ala. Semoga mendapat hasil terbaik.

Jadi bagaimana? Ok. Dicatat, ya. Kehidupan sebelum wabah nggak normal, saat wabah lebih nggak normal, saat ini belum normal juga. Maka, jika pun mau pake embel-embel new normal, manfaatkan sebagai kesempatan untuk menjadikan Islam sebagai pedoman hidup kita, secara individu, dalam bermasyarakat, dan tentunuya lebih afdhal dalam bernegara. Itulah sejatinya new normal, yakni bersama kebangkitan peradaban Islam. Yuk, sama-sama kita perjuangkan! [O. Solihin | IG @osolihin]