gaulislamedisi 661/tahun ke-13 (1 Dzulqaidah 1441 H/ 22 Juni 2020)

Aduuuuh serasa diguyur air panas (sori, lebay!). Dari edisi ke edisi temanya bikin panas ubun-ubun. Eit, sabar dulu Bro en Sis. Jangan keburu nepsong, ye. Kamu kudu belajar realistis menghadapi kenyataan hidup. Jangan ngerasa kudu nyantai akibat terlalu lama stay at home, lalu menjadi generasi rebahan tingkat master. Idih, amit-amit, dah!

Eh, sebenarnya kalo ngomongin urusan perang, para gamer sih udah biasa ya? Apalagi yang sering maen pabji (PUBG) alias PlayerUnknown’s Battlegrounds. Ya, PUBG adalah sebuah permainan dengan genre battle royale. Sebuah game dimana kamu harus bertahan hidup bertempur melawan 100 pemain lain dan menjadi yang terakhir untuk hidup. Duh, kalo cuma di game sih, kayaknya kurang seru, ya. Perang tapi virtual. Maka, ada aja kan yang kemudian diwujudkan dalam tawuran di dunia nyata. Oppss… kalo soal tawuran sih, waktu belum ngetop PUBG juga udah pada lancar jaya bin sregep dah. Gawat!

Di Jakarta, kemarin juga ada keributan. Walau bukan perang sih, tapi lebih ke aksi premanisme. Kalo urusan duit or harta emang nggak kenal saudara, ya. Buktinya John Kei berseteru dengan Nus Kei. Bahkan menurut pengadilan terbukti secara sah John Kei and the gang akan melakukan pembunuhun berencana terhadap pamannya sendiri, Nus Kei. Ngeri!

Kalo urusan istilah perang mah kita juga udah kenal ya, ada Perang Dunia. Udah dua kali terjadi. Kalo kamu belajar sejarah mestinya inget, ya. Soalnya perang ini melibatkan banyak negara. Perang Dunia I terjadi mulai 28 Juli 1914 sampai dengan 11 November 1918. Konon kabarnya ini genjatan senjata. Itu sebabnya, bara perang masih menyala. Sampai akhirnya terjadi Perang Dunia II, yang berlangsung 1 September 1939 sampai dengan 2 September 1945.

Ngomongin perang sebenarnya nggak ada abisnya ya. Banyak banget peristiwanya. Termasuk di negeri kita sejak zaman penjajahan Portugis, Inggris, Belanda, dan Jepang. Ada saja perlawan rakyat terhadap penjajah. Itu artinya ya, ada perang.

Persia dan Romawi juga udah sering berperang, bahkan pernah sampai 7 abad lamanya. Tetapi pada akhirnya, Persia dan Romawi juga harus berhadapan dengan pasukan kaum muslimin (tahun 633-644). Bahkan Persia kalah total sehancur-hancurnya di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu (tahun 644). Salah satu pertempuran yang terkenal adalah Pertempuran Qadisiyyah. Oya, kalo kamu mau nonton filmnya juga ada lho, tapi siap-siap aja capek, sebab banyak perangnya. Hehehe…

Kaum muslimin di masa yang hampir bersamaan saat memerangi Kekaisaran Persia, juga berperang melawan Kekaisaran Romawi. Kamu mestinya tahu ya, Perang Yarmuk. Nah, ini perang dahsyat dan menjadi catatan penting dalam sejarah dunia. Melalui Pertempuran Yarmuk (tahun 636), Islam berhasil masuk ke Palestina, yang dahulu merupakan wilayah kekuasaan Romawi.

Selain Perang Yarmuk, ada Perang Tabuk. Walau sejatinya perang ini urang terjadi karena pasukan Romawi udah ngeper alias gentar duluan. Padahal jumlahnya ratusan ribu, melawan pasukun kaum muslimin yang jumlahnya jauh di bawah itu. Sejumlah riwayat menyebutkan peristiwa Tabuk terjadi pada musim panas di bulan Rajab sekitar tahun ke-9 Hijriyah. Pemicu awal adalah kekalahan pasukan Romawi dari tentara Islam dalam Perang Mu’tah pada tahun ke-6 Hijriyah.

Kalo mau cerita banyak tentang perang, ya silakan kamu bisa baca buku-buku sejarah, ya. Kalo baca sejarah kita jadi tahu masa lalu. Walau tentu saja kudu pilih-pilih juga ya, karena ada juga yang salah menyampaikan informasinya. Berarti kudu melek literasi juga, ya. Nggak asal baca dan nggak asal percaya.

Islam adalah ideologi

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Mungkin di antara kamu ada yang bertanya, sebenarnya ideologi tuh apa sih? Well, menurut kamus nih, ideologi adalah kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup. Oya, dijelaskan juga bahwa ideologi jika digabung dengan kata politik, berarti himpunan, nilai, ide, norma, kepercayaan, dan keyakinan yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang yang menjadi dasar dalam menentukan sikap terhadap kejadian dan problem politik yang dihadapinya dan yang menentukan tingkah laku politik. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi III, cetakan ketiga, 2003, hlm. 417)

Dalam Islam, istilah ideologi juga dikenal, lho. Mabda’ merupakan istilah bahasa Arab yang dapat diterjemahkan sebagai ideologi, namun bukan ideologi dalam pengertian yang sempit, sebagaimana dalam pandangan sekularisme. Menurut Muhammad Muhammad Ismail (dalam bukunya, al-Fikr al-Islâmi, hlm. 9–11), yang disebut dengan mabda’ adalah akidah/keyakinan yang digali dari proses berpikir, yang kemudian melahirkan sistem atau aturan-aturan (‘aqîdah ‘aqliyyah yanbatsiqu ‘anhâ nizhâm). Menurut definisi ini, sebuah akidah/keyakinan disebut sebagai mabda’ (ideologi) jika memiliki dua syarat: (1) bersifat ‘aqliyyah; (2) memiliki sistem/aturan.

Akidah, dalam hal ini, bisa dimaknai sebagai pemikiran yang bersifat integral (menyeluruh) mengenai alam semesta, manusia, dan kehidupan ini; mengenai keadaan sebelum dan setelah kehidupan dunia; juga mengenai hubungan antara kehidupan dunia dengan kehidupan sebelum dan sesudah dunia.

Sedangkan sistem aturan yang dimaksud mencakup berbagai pemecahan atas berbagai problem kehidupan (baik pribadi, keluarga, masyarakat maupun negara; menyangkut persoalan ibadah, akhlak, sosial, politik, ekonomi, dan budaya); juga mencakup cara untuk menerapkan berbagai pemecahan tersebut serta cara memelihara sekaligus menyebarkan akidah tersebut. (Taqiyuddin an-Nabhani, Nizhâm al-Islâm, hlm. 22)

Kayaknya sekarang kamu mulai ada bayangan ya soal ideologi. Beberapa pendapat di atas bisa disimpulkan bahwa ideologi itu boleh dibilang sebagai pandangan hidup. The way of life, deh. Jadi, sengaja nih saya geber pembahasan ini, selain karena memang inilah karakter Islam yang harus kita akui dan kita kenali, juga sekaligus untuk ngajak kamu semua mulai berpikir serius. Tapi, tetep santai dong, ya. Jangan tegang dulu. Kalem aja lagi.

Oya, kamu ngikutin berita sejak awal bulan ini nggak? Wah, kalo kamu rajin baca berita mestinya nemu tuh berita tentang pro-kontra RUU HIP (Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila). Sebab, ada kekhawatiran dengan disahkannya RUU HIP jadi Undang-Undang akan memberikan peluang ideologi komunis bangkit lagi di negeri kita dan dianggap sebagai bentuk pengkhianatan terhadap Pancasila.

Apa sebab jadi polemik? Karena draf RUU itu memuat klausul Trisila dan Ekasila di salah satu pasalnya. Oya, kamu tahu istilah klausul? Kalo menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), klausul itu artinya ketentuan tersendiri dari suatu perjanjian, yang salah satu pokok atau pasalnya diperluas atau dibatasi.

Komunisme sebenarnya bagian dari ideologi Sosialisme. Sederhananya gini deh. Eh, beneran sederhana atau malah rumit ya? Jadi begini, menurut Marx dan Engels, yang memandang komunisme sebagai tahap akhir perkembangan masyarakat, suatu keadaan yang akan tercapai setelah tercapainya sosialisme. Nah, dalam pokok-pokok ajaran Marx, masyarakat berawal dari komunisme primitif dan akan berakhir dengan digulingkannya negara. Untuk mencapai tujuan ini harus terjadi revolusi dan kediktatoran proletariat. Tuh kan, beneran jadi rumit. Hehehe.. ya udah telen aja dulu. Kamu silakan belajar dulu.

Selain Sosialisme-Komunisme, ada yang namanya Kapitalisme-Sekularisme. Kedua ideologi tersebut saling bertentangan. Bahkan lawannya adalah Islam. Nah, antara ketiga ideologi ini: Sosialisme-Komunisme; Kapitalisme-Sekularism; dan Islam, sudah pasti nggak akan bisa berdampingan dengan benar. Maka, akan saling mengalahkan. Inilah yang kemudian kita sebut perang ideologi.

Kapitalisme-Sekularisme itu kayak gimana, sih? Secara singkat saya coba jelasin buat kamu nih. Yup, Kapitalisme adalah ideologi dan sistem yang lahir dari doktrin sekular yang diadopsi Eropa setelah runtuhnya kekuasaan gereja dalam arena politik. Kamu kayaknya pernah dengar deh semboyan pas revolusi Perancis: “Gantung kaisar terakhir, dengan usus pendeta terakhir”. Nah, itu sebagai protes dari rakyat untuk mengakhiri kekuasaan gereja terhadap urusan pemerintahan. Jadi, nih Kapitalisme tuh ‘akidahnya’ adalah sekularisme.

Jadi, sebagaimana dahulu, Islam melawan dominasi Romawi dan Persia, maka di zaman modern ini Islam akan (selalu) melawan negara-negara berideologi Sosialisme-Komunisme dan negara-negara berideologi Kapitalisme-Sekularisme. Sebenarnya ideologi yang berpengaruh di dunia itu ya cuma tiga itu. Kalo Pancasila saya nggak tahu, masuknya ke mana itu. Ada yang bilang ‘kosong’ jadi bisa diisi ideologi mana pun, termasuk Islam. Hmm.. tapi ya gimana urusannya itu. Namun yang jelas, ideologi Islam akan melawan semua yang menentang dan bertentangan dengan Islam.

Saya pernah menulis buku yang diterbitkan tahun 2007, judulnya “Yes! I am Muslim”. Di buku tersebut saya menulis cukup lengkap, dari mulai akidah, akhlak, syariat, dakwah, dan juga ideologi. Nah, ada poin yang saya tulis dalam buku tersebut, dan sepertinya cocok dengan pembahasan kita di buletin edisi kali ini. Kalo pengen tahu lebih dalem, silakan kamu cari bukunya, ya.

Konflik ‘abadi’

Sobat gaulislam, bukan maksud ngomporin atau ngajak berantem dengan menuliskan subjudul seperti ini. Karena faktanya memang terus terjadi dan akan senantiasa terjadi. Inilah yang disebut dengan benturan peradaban. Sekecil apa pun pasti akan berbenturan, karena dasarnya juga memang berbeda. Jadi, wajar dong kalo kemudian selalu terjadi benturan. Jangankan dalam suasana seperti sekarang yang udah bisa dibilang “Siaga 1”, ketika Islam berjaya dan menerapkan prinsip toleransi dengan umat beragama lain dan dengan peradaban lain, tetap aja banyak rongrongan. Ini menjadi bukti bahwa konflik antar peradaban ini sudah bisa diangap ‘abadi’.

Jadi jangan heran kalo para pakar politik dunia masih menganggap bahwa Islam, meski sekarang belum diemban lagi oleh sebuah negara yang menerapkannya sebagai ideologi, tapi tetap sebagai ancaman bagi Kapitalisme dan tentunya Sosialisme-Komunisme. Meski harus diakui saat ini yang paling nafsu untuk menghancurkan Islam tuh adalah Kapitalisme-Sekularisme, peradaban yang diemban Barat. Jadi benturan antara Islam dan Barat ini nggak bakalan berhenti. Akan terus dan boleh dibilang sebagai konflik yang nggak pernah selesai.

Itu sebabnya, Sekjen NATO Willie Claise pernah mengatakan, ”Islam fundamentalis adalah bahaya yang mengancam geopolitik masa depan.” Sedang orientalis Bernard Lewis menyatakan pandangannya  tentang Islam dan Kapitalisme, ”Keduanya bertentangan satu sama lain. Tak mungkin ada dialog di antara keduanya.” Samuel P. Huntington, profesor ilmu-ilmu politik di Universitas Harvard Amerika, dan direktur Institut John M. Ulin untuk Studi-Studi Strategis di Universitas Harvard berkata, ”Sesungguhnya benturan antar peradaban nanti akan mendominasi politik luar negeri. Batas-batas pemisah antar peradaban di masa depan nantinya akan menjadi batas-batas konfrontasi antar peradaban.” Dia kemudian mengatakan, ”Agama telah membedakan manusia dengan amat tegas dan jelas. Seseorang bisa saja setengah Perancis setengah Arab…Tetapi sangat sulit seseorang menjadi setengah Katholik setengah muslim.” (Abdul Qadim Zallum, Persepsi-persepsi Berbahaya; untuk menghantam Islam dan mengokohkan peradaban Barat, hlm. 24)

Sementara Francis Fukuyama, pemikir AS, dalam bukunya ”The End of History”, menyatakan ”… Akan tetapi Islam meskipun dalam kondisi lemah dan tercerai-berai, sesunguhnya tengah mengancam agama baru yang menang ini (yaitu kapitalisme)”.

Bahkan, strategi global “perang melawan Islam” sudah diset banget sama Barat. Sebagaimana dirumuskan ilmuwan ‘neo-orientalis’ Samuel P. Huntington, dalam bukunya, Who Are We? (2004). Dalam buku ini, Huntington menempatkan satu sub-bab berjudul “Militant Islam vs. America”, yang menekankan, bahwa saat ini, Islam militan telah menggantikan posisi Uni Soviet sebagai musuh utama AS: (This new war between militant Islam and America has many similarities to the Cold War. Muslim hostility encourages Americans to define their identity in religious and cultural terms, just as the Cold War promoted political and creedal definitions of that identity). (Catatan Akhir Pekan Adian Husaini ke-124, 28 November 2005)

Sobat gaulislam, beberapa fakta ini udah nggak meragukan lagi bahwa benturan peradaban (bisa selamanya), khususnya antara Islam dengan Barat sudah menjadi bagian dari kehidupan. Jika kita hanya diam, apalagi tidur mulu, kita bakalan dilindes mesin-mesin perang Barat yang disebar lewat pemikiran yang rusak dan budaya yang bobrok yang bertaburan di media massa mereka sebagai intsrumennya. Nggak kebayang deh, kalo kita akhirnya jadi korban peradaban Barat.

Lalu gimana? Ya, sadar aja dulu. Bahwa Islam adalah ideologi, bahwa ideologi Islam wajib diperjuangkan, bahwa dalam perjuangan akan terjadi benturan dengan ideologi lain, harus berperang melawan ideologi lain, maka harus menyiapkan diri. Ok? Yuk, ngaji dan dakwah ya, sebagai bentuk persiapan perang ideologi! [O. Solihin | IG @osolihin]