gaulislam edisi 662/tahun ke-13 (8 Dzulqaidah 1441 H/ 29 Juni 2020)

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Alhamdulillah jumpa lagi, di setiap hari Senin. Ya, ini adalah jadwal terbit buletin kesayanganmu ini setiap pekannya. Semoga ada manfaatnya. Nah, sekarang temanya agak adem dan cair alias ringan, ya. Kemarin-kemarin dituduh panas, keras, dan berat mulu, atau manas-manasin. Ah, nggak juga sih. Kan pas nulisnya kagak duduk di atas kompor lagi nyala. Oppss…

Duh, ini masa lalu kayak gimana sih? Lah, kamu masih belum ngeh, ya. Hmm.. ini memang judulnya belum spesifik. Itu sebabnya, kamu memang kudu baca ampe tuntas, ya.

Jadi begini. Orang kalo ngomongin masa lalu, dan itu harus ditinggalkan, berarti masa lalu itu kelabu, mungkin juga kelam, bisa juga gelap. Intiya nggak mau diinget-inget lagi. Malah seharusnya jangan ragu untuk ditinggalkan. Betul?

Gimana kalo masa lalu itu kebaikan? Nah, bukan saatnya dibahas sekarang. Insya Allah nanti aja lain waktu, kalo inget dibahas (hehehe…). Kalo untuk kebaikan di masa lalu, boleh aja sih diingat, sebagai bahan evaluasi buat sekarang dan masa yang akan datang. Iya, kalo dulu aja udah baik, seharusnya saat ini jauh lebih baik dan masa yang akan datang makin jauh lebih baik. Duh, ribet juga nulisnya. Intinya, terus bertambah kebaikannya, sepanjang hayat di kandung badan. Insya Allah.

Berusaha berbuat baik

Keburukan masa lalu, bila pun masih teringat, jadikan saja sebagai bahan evaluasi. Agar hari ini dan hari depan jauh lebih baik. Mengubur masa lalu yang buruk dengan cara menabur banyak kebaikan pada masa sekarang dan yang akan datang. Walau mungkin agak berat untuk bisa memulainya.

Namun, kita memang harus berusaha untuk bisa melakukannya. Jika dahulu kita bisa melakukan perbuatan buruk meski awalnya ragu, kenapa tidak bisa mencoba sekuat tenaga untuk melakukan perbuatan baik di masa sekarang, meski awalnya berat? Iya, nggak sih?

Kita mungkin juga sering mendengar nasihat, “ayo kamu bisa!”. Bukan sekali atau dua kali kita dengar, bisa jadi malah puluhan kali. Tapi kenapa kita tidak percaya diri untuk membuktikannya? Atau justru kita malah menyepelekan motivasi tersebut?

Hehehe.. saya sendiri pernah atau bahkan sering merasakannya. Bahwa saya bisa menulis, iya itu benar. Saya sudah punya kemampuan untuk menulis. Menulis untuk menyampaikan kebenaran, menulis untuk melawan kedzaliman. Namun, dalam beberapa kondisi selalu saja ada godaan yang memungkinkan saya tidak selesai-selesai dalam menulis atau justru malas menulis. Pada beberapa kondisi pula alhamdulillah saya berhasil mengalahkan rasa malas itu. Saya mampu menulis artikel bahkan buku. Tapi dalam beberapa kondisi pula saya gagal menulis satu artikel pun. Inilah sisi baik dan buruk yang bisa dimiliki siapa saja.

   Memang, banyak kendala yang menghalangi kita untuk bisa berubah menjadi lebih baik. Kita sebenarnya bisa. Tapi kita seringkali mengampuni diri sendiri bahwa kita belum bisa sebaik itu. Kita merasa bahwa apa yang kita lakukan sudah benar. Kita berpendapat sesuai pikiran kita sendiri bahwa apa yang kita lakukan sebelumnya sudah lebih dari cukup. Bahkan merasa bahwa kini saatnya menikmati hasil yang sudah dicapai. Saatnya santai.

Wah, itu namanya kendala internal yang kudu banget dijauhi. Nggak seru dong kalo setiap upaya untuk menjadi baik dan sebenarnya kita berpeluang bisa melakukannya, malah dibiarkan berlalu begitu saja.

Sobat gaulislam, kita bisa kok untuk jadi lebih baik dalam hidup ini. Siapa nggak capek kalo hidup gitu-gitu aja. Nggak ada kemajuan. Kalo pun ada, ya sebatas bisa dinikmati sendiri dan kita nggak peduli dengan yang lain. Apa yang kita jalani sebatas memuaskan keinginan kita dalam hal-hal yang sifatnya miskin manfaat bahkan nyerempet-nyerempet maksiat. Kita hanya bisa berbuat untuk hal-hal yang buruk, sementara untuk mencoba yang baik, kita malu, malas, dan belum siap berubah karena merasa akan ada teror kata-kata berupa ejekan dari teman-teman kita.

So, nggak ada salahnya kalo kita menanamkan dalam pikir dan rasa kita, “aku harus bisa!”. Kalo kamu udah ngerasa sadar diri, berbahagialah. Sebab, kamu bisa untuk berubah menjadi lebih baik. Seorang pelajar yang menyadari kekurangan dirinya dalam bidang akademik tertentu, lalu ia berusaha belajar dengan giat dan serius agar bisa, insya Allah akan bisa. Bukan halangan. Kita mungkin pernah belajar naik sepeda. Jatuh bangun saat belajar adalah hal yang wajar. Kita berusaha dan bertekad agar bisa naik sepeda dan pada akhirnya, dengan proses belajar yang benar kita bisa mewujudkan keinginan tersebut.

Saya waktu belum bisa baca al-Quran, merasa penasaran. Kenapa penasaran? Karena teman-teman saya yang sebaya dengan saya sudah bisa lancar membaca al-Quran sementara saya masih terbata-bata membacanya. Saya berusaha untuk lebih giat dan serius belajar. Hingga akhirnya alhamdulillah bisa membaca al-Quran dengan lancar setelah mengorbankan waktu, tenaga, pikiran. Pengorbanan itu tak sia-sia karena berbuah prestasi.

Begitu pula saat saya ingin bisa menulis. Banyak sudah waktu yang saya korbankan, tenaga, pikiran, bahkan harta untuk membeli buku-buku sebagai sarana menambah wawasan saya. Tapi saya puas karena saya pada akhirnya bisa mewujudkan harapan itu.

Nah, seharusnya kita juga bisa mengubah diri kita. Kepribadian kita. Akhlak kita. Juga tentunya meng-‘create’ masa depan kita di akhirat kelak. Awalnya memang berat, tapi kita harus bisa. Saya sebelum belajar Islam, bukan siapa-siapa. Jangankan menulis untuk mensyiarkan Islam seperti sekarang, karena bisa jadi saat itu sayalah yang harus didakwahi. Saya tak bisa apa-apa. Ilmu sedikit, menulispun masih sekadar mengeluarkan unek-unek. Tak ada idealisme, tak ada harapan bisa menjadi lebih baik secara hakiki.

Waktu teman-teman ngajak saya untuk ngaji, sebenarnya saya malas. Nsmun saya salut dengan beberapa rekan saya yang tak putus semangat untuk mengajak saya belajar Islam. Saya sempat merenung mengapa ada orang yang begitu peduli dan mengajak orang lain untuk baik, sementara yang diajaknya malah cuek. Seperti halnya jika ada orang yang mau menunjukkan jalan yang benar, tapi yang ditunjuki tak merespon, bahkan menolak mentah-mentah. Saya sadar, memang tak mudah untuk berubah. Tapi bukan berarti tak bisa mencobanya. Saya harus bisa.

Alhamdulillah, dengan proses yang cukup panjang akhirnya saya bisa mencintai Islam, bisa mencintai ilmunya, dan berbagi ilmu dengan media yang bisa saya kuasai. Saya yakin ada banyak cerita lain dari kawan-kawan yang bisa menjadi inspirasi dalam hidup ini. Beberapa orang yang pernah belajar dengan saya merasakan hal yang sama. Awalnya sulit mengubah kebiasaan. Tapi dengan berusaha mengalahkan ego diri sendiri (yang belum tentu selalu benar), insya Allah bisa mengubah kebiasaan buruk menjadi baik. Percayalah. Banyak orang sudah berubah. Kini saatnya diri kita. So, jangan ragu untuk tinggalkan masa lalu yang buruk, lalu songsong masa depan yang lebih baik.

Belajar berubah

Sobat gaulislam, seorang pimpinan perusahaan yang tidak tanggap akan perubahan dunia usaha dan dinamika pasar, bisa saja perusahaan yang dikelolanya gagal bersaing dengan perusahaan lain, dan bukan tak mungkin menemui kebangkrutan. Kita juga sama. Ya, manusia juga sama. Perubahan itu selalu ada. Baik dari dalam diri kita maupun dari luar diri kita. Kita harus menyiapkan diri untuk berubah menjadi lebih baik. Berkembang dengan sangat pesat meraih prestasi dunia-akhirat.

Pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. tentang lima hal sebelum datang lima hal sangat tepat jika kita ingin mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik. Insya Allah kita harus bisa melakukannya. Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: 1) waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu; 2) waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu; 3) masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu; 4) masa luangmu sebelum datang masa sibukmu; 5) hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR al-Hakim dalam al-Mustadrak)

Nah, kita coba jelasin satu per satu ya. Pertama, waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, maksudnya: “Lakukanlah ketaatan ketika dalam kondisi kuat untuk beramal (yaitu di waktu muda), sebelum datang masa tua renta.” Jadi, ayo tanamkan dalam diri kita untuk bisa berubah menjadi lebih baik: “aku harus bisa!” Jangan sampe nunggu udah tua dan bau tanah. Selain belum tentu usia kita nyampe tua, juga kelamaan. Mau berubah kok susah. Iya nggak sih?

Kedua, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, maksudnya: “Beramallah di waktu sehat, sebelum datang waktu yang menghalangi untuk beramal seperti di waktu sakit.” Iya dong, kalo udah sakit (apalagi parah), jangankan beribadah dengan khusyuk, mau makan dan minum aja susah. So, mumpung masih sehat, lakukan perubahan diri dan perbanyak amal baik.

Ketiga, waktu luangmu sebelum datang masa sibukmu, maksudnya: “Manfaatkanlah kesempatan (waktu luangmu) di dunia ini sebelum datang waktu sibukmu di akhirat nanti. Dan awal kehidupan akhirat adalah di alam kubur.” Selain itu, jangan biasakan menunda-nunda pekerjaan saat waktu luang. Lakukankan yang bisa dilakukan saat itu, sebelum suatu saat nanti kita sibuk dan tak punya banyak waktu untuk mengerjakan yang seharusnya sudah kita kerjakan sejak lama. Abdullah ibn Mubarak memberikan nasihat, “Orang bijak adalah dia yang hari ini mengerjakan apa yang orang bodoh akan mengerjakannya tiga hari kemudian”

Keempat, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, maksudnya: ”Bersedekahlah dengan kelebihan hartamu sebelum datang bencana yang dapat merusak harta tersebut, sehingga akhirnya engkau menjadi fakir di dunia maupun akhirat.”

So, kesadaran dari kita sangat menentukan, apakah saat ini kita bisa mencoba untuk bisa berubah menjadi baik, atau menunda saat kita tak punya apa-apa yang bisa dikorbankan demi meraih kebaikan. Kita yang menentukannya sendiri. Ok?

Kelima, hidupmu sebelum datang kematianmu, maksudnya: “Lakukanlah sesuatu yang manfaat untuk kehidupan sesudah matimu, karena siapa pun yang mati, maka akan terputus amalannya.” Yo ayo sebelum datang kematian, yang bisa tiba-tiba datang karena kita tak pernah tahu kapan ajal kita, kita berbuat untuk kehidupan lebih baik. Sadar sesadar-sadarnya dan berusaha untuk bisa mengubahnya.

Bro en Sis, semua orang dilahirkan hebat. Tinggal kita mau berusaha atau tidak untuk menunjukkan bahwa diri kita hebat. Terlahir sebagai pemenang dan menjadi keren karena mau berubah dari buruk menjadi baik. Perlu kesadaran tingkat tinggi agar mau berhasil mewujudkan keinginan itu. Kita bisa melakukannya. Insya Allah. Kalo orang lain saja bisa, mengapa kita tidak bisa untuk berbuat lebih baik?

Lupakan masa lalu yang buruk. Isi dengan beragam kebaikan amal shalih kita. Jadi, jangan ragu tinggalkan masa lalu, semai harapan untuk meraih kebaikan di masa depan. Pastikan, kebaikan bersama Islam. Semangat! [O. Solihin | IG @osolihin]