gaulislam edisi 668/tahun ke-13 (20 Dzulhijjah 1441 H/ 10 Agustus 2020)

Kapan masa kegemilangan Islam itu? Saat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam memimpin umat ini. Berhasil menjadikan Madinah sebagai pusat kekuasaan dan kekuatan umat. Sepeninggal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepemimpin dilanjutkan oleh para khulafa ar-Rasyidin. Tercatat yang menjadi khalifah adalah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu. Diteruskan oleh Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu. Kemudian Usman bin Affan radhiallahu ‘anhu menjadi khalifah berikutnya. Diakhiri dengan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.

Disusul berikutnya para pemimpin kaum muslimin dari Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah, termasuk Turki Utsmani. Sejak Negara Islam berdiri di Madinah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam udah membentuk pondasi struktur negara. Bahkan termasuk modern pada zaman itu. Sebab, secara umum negara dalam istilah sekarang dimaknai sebagai suatu daerah teritorial yang rakyatnya diperintah oleh sejumlah pejabat dan yang berhasil menuntut dari warga negaranya ketaatan pada peraturan perundang-undangannya melalui penguasaan (kontrol) monopolistis dari kekuasaan yang sah (Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, hlm. 40)

Jelas banget sobat, ada 4 unsur hingga terbentuknya negara, yaitu: daerah/teritorial, pemimpin/pejabat, rakyat, dan hukum. Keempat unsur ini ternyata dibuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak mendirikan negara di Madinah. Sumpah!

Daerah/teritorialnya adalah Madinah, kemudian meluas ke Makkah, Yaman dan Jazirah Arab lainnya. Pada masa awal di Madinah beliau meminta 7 orang kalangan Anshor dan 7 orang kalangan Muhajirin sebagai tempat bermusyawarah (dalam Musnad Imam Ahmad, Jilid V, hlm. 314). Mereka adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Hamzah, Ibnu Mas’ud, Abu Dzarr, Bilal, Sa’ad bin Ubadah, Mu’adz bin Jabal, Abdurrahman bin Auf, Abu Ubaidah, Ubai bin Khalaf dan Zaid bin Tsabit.

Sobat gaulislam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertindak sebagai kepala negara, lho. Beliau mengirim utusan kepada para kepala negara saat itu (termasuk Heraklius) untuk menyebarkan Islam dan utusan tersebut disambut dengan upacara kenegaraan. Juga, beliau menunjuk para pejabat. Sa’ad bin Ubadah pernah diangkat mewakili Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengurusi pemerintahan saat beliau memimpin perang al-Abwa` pada tahun pertama Hijriyah, dan mengangkat Muhammad bin Maslamah untuk peranan yang sama saat beliau memimpin Perang Tabuk (dalam Sîrah Ibnu Hisyâm, Jilid I, hlm. 591 dan Jilid II hlm. 519)

Nah, apa saja kegemilangan Islam? Beberapa saya tulis untuk buletin kesayangan kamu ini. Meski ringkas dan belum sepenuhnya ditulis, tetapi setidaknya ada gambaran bahwa Islam pernah berjaya dan memberikan kontribusi besar bagi peradaban dunia.

Kegemilangan Islam di bidang kesejahteraan

Seiring perkembangan zaman, kepemimpinan Islam silih berganti. Semuanya memberikan warna tersendiri bagi perkembangan Islam. Islam menjadi peradaban yang maju (terutama pada masa kepemimpinan para khalifah dari Bani Umayyah dan Bani Abasiyyah).

Kemampuan untuk mengelola administrasi negara demi kesejahteraan masyarakat sebenarnya sudah dirintis sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Misalnya tentang perlunya sensus, Beliau saw. bersabda: “Catatlah orang-orang yang mengaku Islam” (dalam Muhammad Husein Abdullah, Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam, hlm. 164)

Demi mewujudkan kesejahteraan rakyat, telah dibangun banyak rumah sakit pada masa pemerintahan Bani Umayyah yang disediakan bagi orang-orang yang terkena penyakit lepra dan tunanetra. Ini tahap permulaan. Perkembangannya adalah di masa pemerintahan Bani Abasiyyah. Di masa ini, banyak dibangun rumah sakit di kota Baghdad, Kairo, Damaskus, dll. Oya, di masa ini pertama kali dipopulerkannya rumah sakit keliling. Perlu diketahui bahwa rumah sakit yang dibangun di masa pemerintahan Islam dibedakan antara bagian laki-laki dan wanita. Nggak dicampur. Di dalamnya juga disediakan kamar-kamar khusus bagi setiap pasien (catet: setiap pasien) ((dalam Muhammad Husein Abdullah, Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam, hlm. 175). Hebat kan?

Dr. Mustafa as-Siba’i mencatat beberapa rumah sakit yang termasuk keren (dalam buku Peradaban Islam; Dulu, Kini dan Esok, hlm. 168-176). Di antaranya RS adh-Dhudi di Baghdad. RS ini dibangun oleh Daulah bin Buwaihi pada tahun 371 H setelah ar-Razi, dokter yang amat terkenal waktu itu memilih tempatnya dengan cara meletakkan empat potong daging di empat penjuru Baghdad dalam semalam. Tatkala pagi tiba, ia mendapatkan daging yang terbaik baunya di tempat yang menjadi letak rumah sakit itu di kemudian hari.

Di rumah ini ditempatkan 24 orang dokter dan dibangun semua yang dibutuhkan rumah sakit, seperti perpustakaan ilmiah, apotek, dapur umum dan gudang-gudang. Udah modern banget kan?

Pada tahun 449 H, Khalifah al-Qaim Biamrillah memperbaruinya. Selain menambah jumlah dokter dan tenaga medis lainnya, fasilitas juga diperbagus. Di rumah sakit itu juga terdapat kolam besar yang berada di samping kebun yang penuh dengan aneka macam pohon buah-buahan dan sayur-mayur. Sehingga kesan rumah sakit itu nggak burem dan angker. Perahu-perahu berlayar mengangkut para pasien yang lemah dan miskin. Para dokter melayani mereka secara bergiliran pagi dan petang, juga malam hari.

Selain RS adh-Dhudi, ada juga RS an-Nuri yang didirikan oleh Malik Adil Nuruddin asy-Syahid pada 549 H (1154 M). RS ini termasuk yang terbaik di seluruh negeri dan khusus diperuntukan bagi pasien yang kurang mampu (kalangan miskin). Di RS ini para dokter dan tenaga medis lainnya sangat baik hati dan memperhatikan pasien.

Nah, ada lagi nih, Rumah Sakit Besar al-Manshuri (Bymaristan Qalawun). Dibangun oleh Khalifah Malik Manshur Saifuddin Qalawun pada tahun 683 H (1284 H). Bro, setiap tahun beliau mewakafkan untuk rumah sakit tersebut 1.000 dirham. Di rumah sakit ini, sebagian dokter mata yang bekerja di rumah sakit tersebut mengatakan, setiap hari pasien yang masuk dan yang keluar berjumlah 4.000 orang. Yang keren nih, setiap pasien yang sembuh dan yang ke luar dari rumah sakit tersebut selalu diberikan pakaian dan sejumlah uang untuk nafkahnya sehingga ia tidak perlu segera bekerja berat untuk mencari penghidupan. MasyaAllah. Udahlah gratis berobatnya, masih dikasih akomodasi lagi. Keren banget!

Terpenuhinya fasilitas penunjang pendidikan

Sobat gaulislam, untuk mencerdaskan kaum Muslimin dan rakyatnya secara umum, Khilafah Islamiyah menyediakan lembaga-lembanga keilmuan. Islam membangun ribuan al-Katatib, yakni wadah keilmuan untuk mempelajari al-Quran, menulis dan berhitung. Dibudayakan juga diskusi-diskusi keilmuan di masjid-masjid untuk melayani pertanyaan-pertanyaan dari masyarakat soal fikih, hadis, tafsir dan bahasa. Bahkan Muqri Rasy’an bin Nazhif ad-Dimasyqi mendirikan lembaga keilmuan Quran (untuk mempelajari al-Quran) pada tahun 400 H di Damaskus. Sementara khusus untuk hadis, didirikan oleh Nuruddin Mahmud bin Zanky, juga di Damaskus. Selain itu, madrasah (sekolah) dan Jami’ah (universitas) juga didirikan.

Al-Hakam bin Abdurrahman an-Nashir telah mendirikan Universitas Cordova yang saat itu menampung (mahasiswa) dari kaum muslimin maupun orang Barat. Selain itu dibangun pula Universitas Mustanshirriyah di Baghdad. Sekadar tahu aja, universitas-universitas ini telah mencetak para ilmuwan yang pengaruhnya mendunia hingga saat ini melalui berbagai temuan-temuannya, seperti al-Khawarizmi, Ibnu al-Haisam, Ibnu Sina, Jabir bin Hayan, dan lainnya (dalam Muhammad Husein Abdullah, Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam, hlm. 158-159)

Biar kamu tambah kagum sama Islam, ada perpustakaan lain yang dicatat oleh Dr. Mustafa as-Siba’i, yakni perpustakaan Al Hakam di Andalus (sekarang, Spanyol). Perpustakaan ini sangat besar dan luas. Buku yang tersedia di situ sampai mencapai 400.000 buku. Hebatnya, perpustakaan ini udah memiliki katalog-katalog yang sangat teliti dan teratur sehingga sebuah katalog khusus diwan-diwan syi’ir yang ada di perpus itu mencapai 44 bagian.

Perpustakaan Bani Ammar di Tripoli layak juga untuk dimasukkan sebagai perpus besar. Di sini terdapat 180 penyalin yang menyalin buku-buku. Mereka bekerja secara bergilirin siang dan malam agar proses penyalinan nggak berhenti. Jumlah buku di perpus ini mencapai satu juta buah.

Kegemilangan Islam di bidang iptek

Hasil pendidikan dan penyediaan fasilitas yang bagus ini paling nggak dalam sejarah tercatat beberapa perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan oleh ilmuwan-ilmuwan Muslim. Beberapa di antaranya (lebih lengkap lihat Muhammad Husein Abdullah, Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam, hlm 174-178): bidang kedokteran (kaum muslimin berhasil mengembangkan teknik pembiusan untuk pertama kalinya dalam sejarah kedokteran dunia, dikembangkan juga teknik operasi, pendirian rumah sakit dan obat-obatan).

Dalam ilmu kimia (di sini kaum muslimin mengenalkan istilah alkali, menemukan amonia, teknik destilasi atau penyulingan, penyaringan, dan sublimasi, memperkenalkan belerang dan asam nitrit, mempopulerkan industri kaca dan kertas, serta penemuan lainnya). Dalam ilmu tumbuh-tumbuhan (melakukan penelitian terhadap tumbuh-tumbuhan yang bisa digunakan untuk pengobatan, bahkan mengklasifikasikan berbagai jenis tumbuhan).

Terus, dalam ilmu pengetahuan alam (penemuan neraca, penemuan pendulum untuk jam dinding, ilmu optik, dan telah mampu merumuskan perbedaan antara kecepatan cahaya dan kecepatan suara, termasuk kaum muslimin berhasil menemukan teknologi kompas magnetis untuk mengetahui arah mata angin); matematika (berhasil dikembangkan perhitungan desimal dan kwadrat, juga menciptakan berbagai rumus).

Termasuk perkembangan dalam ilmu astronomi (kaum muslimin berhasil membangun observatorium—teropong bintang–di Baghdad, Damaskus, Iskandariyah dan tempat lainnya untuk mengamati bintang); dan geografi (melakukan penjelajahan ke tempat yang belum dikenal, dan membuatkan petanya). Wah,  keren banget kan?

Itu sebabnya, jangan heran kalo ada tokoh dunia yang ngasih komentar, “Dunia berhutang amat banyak kepada kaum Muslimin yang terus menyalakan obor ilmu pengetahuan pada zaman kegelapan. Kitab-kitab Aristoteles, Euclides, Ptolomeus diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Sehingga semua cabang ilmu pengetahuan tidak mati sampai datang masa kebangunan yang menyemarakkannya lagi untuk diterima ahli-ahli ilmu pengetahuan Eropa dalam bahasa mereka.” Ini komentarnya C.E. Storrs (M. Hashem, Kekaguman Dunia Terhadap Islam, hlm. 90)

Lahir banyak ilmuwan Muslim

Sobat gaulislam, Islam tuh udah maju ketika Eropa masih dalam zaman kegelapan. Montgomery menganalisa tentang rahasia kemajuan peradaban Islam, ia mengatakan bahwa Islam nggak mengenal pemisahan yang kaku antara ilmu pengetahuan, etika, dan ajaran agama. Satu dengan yang lain, dijalankan dalam satu tarikan nafas. Pengamalan syariat Islam, sama pentingnya dan memiliki prioritas yang sama dengan riset-riset ilmiah.

Granada juga telah melahirkan banyak ilmuwan muslim yang terkenal. Di antaranya Abu al-Qasim al-Majrithi sebagai pencetus kebangkitan ilmu astronomi Andalusia pada tahun 398 Hijriah atau sekitar tahun 1008 Masehi. Beliau telah memberikan dasar bagi salah satu pusat pengkajian ilmu matematika yang masyhur. Selain beliau, Granada juga masih memiliki sejumlah ilmuwan dan ulama terkenal, di antaranya adalah al-Imam as-Syatibi, Lisanuddin al-Khatib, as-Sarqasti, Ibnu Zamrak, Muhammad Ibnu ar-Riqah, Abu Yahya Ibnu Ridwan, Abu Abdullah al-Fahham, Ibnu as-Sarah, Yahya Ibnu al-Huzail at-Tajiibi, as-Shaqurmi dan Ibnu Zuhri. Di kalangan perempuan tercatat nama-nama seperti Hafsah binti al-Haj, Hamdunah binti Ziad dan saudaranya, Zainab (Majalah Permata, edisi Januari 2003)

Kontribusi ilmuwan Islam di bidang astronomi nggak kalah seru. Adalah az-Zarkalli, astronom muslim kelahiran Cordova yang pertama kali memperkenalkan astrolobe. Yaitu suatu instrumen yang digunakan untuk mengukur jarak sebuah bintang dari horison bumi. Penemuan ini menjadi revolusioner karena sangat membantu navigasi laut. Dengan begitu, transportasi pelayaran berkembang pesat selepas penemuan astrolobe.

Kita kudu bersyukur bahwa Islam amat disegani sekaligus dipuji di seluruh dunia. Sampe-sampe Prof. G. Margoliouth dalam De Karacht van den Islam menuliskan, “Penyeli­dikan telah menun­jukkan, bahwa yang diketahui oleh sarjana-sarjana Eropa tentang falsafah, astronomi, ilmu pasti, dan ilmu pengetahuan semacam itu, sela­ma beberapa abad sebelum Renaissance, seca­ra garis besar datang dari buku-buku Latin yang berasal dari bahasa Arab, dan Quran-lah yang, walaupun tidak secara langsung, mem­berikan dorongan pertama untuk studi-studi itu di antara orang-orang Arab dan kawan-kawan mereka” (Dikutip dalam M. Hashem, Kekaguman Dunia Terhadap Islam, hlm. 96)

Masih banyak ilmuwa lainnya, seperti Al Idrisi, Jabir Ibnu Hayyan, Al Khawarizmi, Nashiruddin ath-Thusi, Ibnu al-Haytsam, Muhammad bin Ahmad al-Maqdisi, al-Kindi, Ibnu Khaldun, dan ratusan ilmuwan lainnya.

Menurut Montgomery, cukup beralasan jika kita menyatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi ‘dinamo’nya, Barat bukanlah apa-apa. Wajar jika Barat berhutang budi pada Islam. (Majalah Mimbar, No. 8/November 2000)

Tinggal kenangan

Sayangnya, masa pencerahan bagi seluruh dunia ini kemudian dikotori oleh para pemimpin Eropa yang bersepakat ‘meninggalkan’ agama dalam segala aspek kehidupan dan mengembangkan dengan apa yang kemudian dikenal sebagai sekularisme. Akibatnya, keagungan peradaban Islam yang dibangun di Spanyol, berakhir dengan tragis. Yaitu saat penguasa kafir Eropa menghancurkan semua karya pemikiran para ilmuwan muslim. Tak hanya karya-karyanya yang dimusnahkan, para ilmuwannya pun disingkirkan.

Petaka Perang Salib juga telah membuat kita kehilangan perpustakaan-perpustakaan paling berharga yang ada di Tripoli, Maarrah, al-Quds, Ghazzah, Asqalan, dan kota-kota lainnya yang dihancurkan mereka. Salah seorang sejarawan menaksir, buku-buku yang dimusnahkan tentara Salib Eropa di Tripoli sebanyak tiga juta buah.

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Pendudukan Spanyol atas Andalusia juga telah membuat kita kehilangan perpustakaan-perpustakaan besar yang diceritakan sejarah dengan mencengangkan. Semua buku dibakar oleh pemeluk-pemeluk agama yang fanatik. Bahkan buku-buku yang dibakar dalam sehari di lapangan Granada menurut taksiran sebagian sejarawan berjumlah satu juta buku. (Dr. Mustafa as-Siba’i, Peradaban Islam; Dulu, Kini dan Esok, hlm. 187)

Granada tinggal kenangan, sejak berkecamuknya Perang Salib. Tepat pada 2 Januari 1492, Sultan Islam di Granada, Abu Abdullah, untuk terakhir kalinya terlihat di Istana al-Hamra. Granada jatuh ke tangan kaum kafir Eropa. Semua merasa kehilangan.

Amat wajar dong kalo ilmuwan sekelas Emmanuel Deutch berkomentar, “Semua ini memberi kesempatan bagi kami (bangsa Barat) untuk mencapai kebangkitan (renaissance) dalam ilmu pengetahuan modern. Oleh karena itu, sewajarnyalah jika kami selalu mencucurkan airmata manakala kami teringat saat-saat terakhir jatuhnya Granada.” (M Hashem, Kekaguman Dunia Terhadap Islam, hlm. 100)

Granada adalah benteng terakhir kaum muslimin di Andalusia (Spanyol) yang jatuh ke tangan bangsa Eropa yang kafir. Semoga Islam akan kembali berjaya. Jadi, yuk berjuang untuk membela Islam dan meninggikannya kembali. Ngaji yang rajin, amalkan ilmunya dengan dakwah, dan bila memungkinkan kita lakukan jihad. Tunggu apalagi, sobat? Siapkan bekal untuk bergerak dalam perjuangan mulia menyongsong era khilafah Islamiyah yang akan dipimpin Imam al-Mahdi! [O. Solihin | IG @osolihin]