gaulislam edisi 690/tahun ke-14 (27 Jumadil Awwal 1442 H/ 11 Januari 2021)

Sebenarnya ini versi lain dari pernyataan: “Emang Gue Pikirin?”. Sama-sama egois. Dulu pernah sih menulis yang versi “Emang Gue Pikirin?”, bahkan diperluas lagi menjadi buku kecil. Itu tahun 2005-an kayaknya (dih, penulisnya sendiri sampe nggak yakin gini ya?).

Egois? Eh, tapi tunggu dulu. Begini. Sebenarnya sih kalo mau diteliti lebih mendalam (ciee… kayak gali sumur aja). Bisa dilihat dari dua sisi. Ibarat mata uang. Ada dua bilah sisi, kan? Nah, anggap aja begitu. “Bukan urusan gue”, bisa berarti positif, bisa juga negatif.

Kok bisa? Bisa aja dong. Begini penjelasannya. Bisa negatif kalo ketika disodorkan kepadamu tentang tanggung jawab yang seharusnya kamu pikul namun kamu melalaikan dan banyak orang tahu kalo kamu memang lalai atas tanggung jawab yang udah diberikan, lalu bilang “bukan urusan gue”, itu namanya lari dari tanggung jawab. Jelek kelakuan model begitu, Bro. Eh, kok jadi inget seseorang yang sering bilang ini, ya?

Bagaimana dengan penilaian yang positif? Begini kasusnya. Teman kamu ngajakin ngegosip alias ghibah alias ngomongin kejelekan orang lain (tentu orang yang sedang diomongin nggak tahu), lalu kamu bilang, “bukan urusan gue” sebagai tanda penolakan untuk ghibah, itu bagus. Apalagi kalo kamu nasihatin juga teman kamu itu agar hobi ghibahnya di-delete aja. Idih, ghibah kok hobi?

Sampai sini paham? Oke. Lanjut. Jadi kita akan bahas sisi yang positif atau negatif? Keduanya aja sekalian, Bro en Sis. Iya, supaya nggak gagal paham. Kalo sampe gagal paham kan repot. Apalagi kayak media yang mengusung prinsip “klik bait”, cuma judulnya aja dibuat heboh padahal isinya zonk. Harapannya langsung banyak yang meng-klik. Perkara isinya benar atau nggak, “bukan urusan gue.” Eh.

Nah, edisi kali ini saya berusaha menulis semaksimal saya bisa untuk menjelaskan. Apalagi media ini khusus ditujukan untuk remaja, jadi selain isinya harus bermanfaat mengajak remaja jadi taat agama, juga harus disampaikan dengan “rasa” remaja, baik bahasa maupun contoh-contohnya. Waduh, ini yang berat sebenarnya. Why? Karena yang nulisnya tak lagi remaja, walau banyak ngasuh remaja anak orang lain. Ya, jadi guru untuk murid SMP dan SMA sebenarnya sedang mengamati perilaku remaja, karena obyek penelitiannya langsung. Pengamatan langsung. Sip. Semoga bisa dimudahkan untuk menuliskannya sehingga banyak remaja lainnya yang paham persoalan ini. Insya Allah.

Baik, enaknya nulis dari sisi yang negatif dulu ya, lalu nanti insya Allah dilanjut dengan yang positif. Tenang, jangan tegang. Tulisan ini insya Allah akan dipermudah bahasanya.

Sisi negatif

  Sobat gaulislam, ketika kamu diajak sama teman kamu untuk berbuat baik, ngajak teman-teman lainnya ikut kajian remaja, ikut kegiatan keislaman, lalu kamu bilang “bukan urusan gue”, itu artinya kamu nggak peduli. Why? Sebab, mengajak kepada kebaikan itu harus didukung, walau hal itu tak selalu langsung berhubungan erat dengan urusan kamu. Malah bisa jadi kamu kudu ngeluarin duit untuk melaksanakan kegiatan tersebut.

Kasus lainnya seperti kalo kamu diajak mikirin kondisi umat di negeri ini. Banyak ulama dipersekusi (eh, tahu kan istilah ini?). Ya, persekusi itu pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga yang kemudian disakiti, dipersusah, atau ditumpas. Contohnya ya Habib Rizieq Shihab. Beliau kini ditahan dengan berbagai alasan yang sepertinya dibuat-buat dan dicari-cari. Udah gitu, organisasinya dibubarkan, pesantrennya dibubarkan dan banyak lagi. Nah, kamu diajak untuk memikirkan kondisi umat Islam dan ulamanya, tapi kamu bilang “bukan urusan gue”, itu namanya kamu cuma mikirin dirimu sendiri. Model kayak gitu jelek, tahu. Nggak peduli urusan kaum muslimin, urusan ulama, dan juga agamamu sendiri. Padahal, berusaha memikirkan dan mencari solusi bagi kondisi umat Islam dan ulamanya saat ini adalah bagian dari kebaikan. Minimal banget kepedulianmu adalah dengan empati terhadap kondisinya dan berkirim doa. Lebih bagus bisa terjun dalam membela beliau. Catet, ya!

Selain kedua hal tadi, masih ada nih untuk menilai bahwa ungkapan “bukan urusan gue” adalah negatif. Apa lagi contohnya? Begini. Ada teman kamu yang minta tolong menyelesaikan problemnya. Banyak pula problemnya: dengan temannya (dibully, misalnya), dengan pihak sekolah (karena beberapa bulan nggak bayar SPP), dengan ortunya (misalnya ortunya cerai), lalu dia minta saran kamu untuk menyelesaikan, atau setidaknya memberikan sedikit bantuan untuk mencari jalan keluar dari masalahnya tersebut, tetapi kamu bilang “bukan urusan gue”, itu artinya kamu bukan saja egois, tetapi udah nyakitin hati teman kamu. Kok, teman berasa musuh? So, nggak baik punya sikap model gitu.

Padahal nih ya, kalo kamu minimal mau menghibur saja, dengan kata-kata penyemangat, kayaknya teman kamu berusaha untuk bersabar, walau kamu belum bisa memberikan solusi jitu atas masalahnya. Apalagi kalo sampe memberikan solusi. Pasti lebih bagus lagi. Kalo kamu menolak memberikan bantuan, itu artinya kamu melewatkan kesempatan berbuat baik atau beramal shalih. Rugi.

Pertanyaannya, dari semua contoh tadi, “mengapa kegiatan baik harus didukung?” Ya, sebenarnya kamu bisa jawab sendiri, bisa langsung jawab. Betul. Karena kebaikan bukan saja kita yang ikhlas melakukannya akan mendapatkan pahala dari Allah Ta’ala, juga karena manfaatnya bisa dirasakan oleh orang lain. Mengajak teman untuk ikut kajian remaja atau kegiatan keislaman, berarti sedang berusaha untuk mencarikan jalan hidayah bagi teman kamu yang belum tahu banyak tentang ajaran Islam. Kalo teman kamu berhasil ikut kegiatan tersebut, selain dia dapat manfaat dan juga pahala belajar, kita yang ngajak juga dapat pahala. Sama-sama diuntungkan. Alhamdulillah.

Itu sebabnya, kalo untuk kebaikan kamu justru mengatakan “bukan urusan gue”, itu artinya kamu nggak suka dengan kebaikan itu. Atau minimal kamu nggak mau dipusingkan dengan urusan tersebut karena merasa bukan tanggung jawab langsung buat kamu. Bro en Sis, jangan egois. Hidup kita nggak sendirian, lho. Masih ada, dan mungkin banyak orang yang perlu kita bantu, kita ajak untuk menjadi baik. Membantu mereka yang kesulitan dalam hidup, memang tak akan mengubah dunia seluruhnya, tetapi setidaknya bisa mengubah dunia orang yang kita bantu, walau sedikit. Ia merasa ada saudara atau tetangga dekatnya yang mau menolongnya. Itu poinnya.

Sisi positif

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Kita bakalan menilai dan memberi contoh tentang ungkapan “bukan urusan gue” dari sisi yang positif. Tadi sebenarnya udah dicontohkan juga secara umum, ya. Itu lho yang tentang menolak ajakan untuk ghibah. Itu dinilai positif dengan alasan nggak mau terlibat ngomongin kejelekan orang lain. Bagus. Mengatakan demikian juga masih dikategorikan benar walau mungkin bahasanya kurang halus. Namun, intinya nggak mau terlibat dalam proyek dosa. Menghindar dari ghibah adalah keselamatan, sementara asyik ngobrolin kejelekan orang lain mendekatkan pada jalan ke neraka. Naudzubillahi min dzalik.

Contoh lainnya, jika kamu menolak ajakan teman kamu untuk mempersekusi seseorang, lalu kamu bilang “bukan urusan gue” sebagai bentuk penolakan dan nggak mau diajak, maka justru di situ kamu udah bagus mengambil keputusan, walau dengan kata-kata yang kedengerannya kasar dan pahit: “bukan urusan gue”.

Ini dinilai positif karena kamu nggak mau melukai atau mencederai orang lain yang belum tentu kamu tahu kesalahannya apa, hanya berbekal ajakan yang lebih bersifat hasutan agar kamu ikut dengan mereka yang zalim. Kamu terselamatkan.

Selain itu, masih dinilai positif ungkapan “bukan urusan gue” ketika kamu ditawari untuk memuluskan kecurangan atau proses penipuan yang dilakukan teman kamu atau seseorang yang berurusan denganmu, tetapi kamu tolak mentah-mentah ajakannya.

Bener banget tuh sikap. Nggak boleh alias haram bekerjasama dalam kecurangan dan penipuan. Itu perbuatan dosa. Maka, ketika kamu bilang “bukan urusan gue” sebagai tanda penolakan atas ajakan tersebut, berarti itu adalah bagian dari memuliakan kebaikan. Kamu sudah tepat. Bila perlu, kecurangan itu kamu ungkap agar orang lain tidak tertipu. Sampai sini paham, ya? Sip.

Masih banyak contoh lainnya. Rumusnya gampang: “bukan urusan gue” untuk menjawab ajakan atau permintaan dalam keburukan. Berarti ini positif. Kalo “bukan urusan gue”, ketika diajak kepada kebaikan atau permintaan untuk berbuat baik tapi kamu tolak, berarti ungkapan ini dikategorikan negatif menurut syariat Islam. Semoga bisa memahami, ya.

Sekadar penutup

Sobat gaulislam, menolong orang lain yang membutuhkan, adalah kebaikan. Jadi kalo diajak atau ada yang meminta tolong kepada kita, jangan bilang “bukan urusan gue”. Itu nggak baik. Bukan ciri seorang muslim.

Begitu pun dengan memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Sangat mulia. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya.” (HR Muslim no. 2699)

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Siapa yang biasa membantu hajat saudaranya, maka Allah akan senantiasa menolongnya dalam hajatnya.” (HR Bukhari no. 6951 dan Muslim no. 2580)

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” (HR Thabrani di dalam al-Mu’jam al-Kabir no. 13280, 12: 453)

Oya, ada dua amalan yang perlu kita kenal, yaitu: amalan muta’addi dan amalan qashir. Jadi, sebaiknya berpikir ulang sebelum jadi egois, dengan mengatakan “bukan urusan gue”.

Amalan muta’addi adalah amalan yang manfaatnya untuk orang lain, baik manfaat ukhrawi (seperti mengajarkan ilmu dan dakwah ilallah), bisa juga manfaat duniawi (seperti menunaikan hajat orang lain, menolong orang yang dizalimi).

Amalan qaashir adalah amalan yang manfaatnya hanya untuk pelakunya saja, seperti puasa dan iktikaf.

Menukil dari laman rumaysho.com, para fuqaha menyatakan bahwa amalan muta’addi yang manfaatnya untuk orang lain lebih utama dari amalan qaashir yang manfaatnya untuk diri sendiri. Apa dalilnya?

Dalil pertama. Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti perbandingan bulan di malam badar dari bintang-bintang lainnya.” (HR Abu Daud, no. 3641; Ibnu Majah, no. 223; Tirmidzi, no. 2682)

Dalil kedua. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Seorang mukmin itu adalah orang yang bisa menerima dan diterima orang lain, dan tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak bisa menerima dan tidak bisa diterima orang lain. Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath, no. 5949)

Nah, amal muta’addi ini banyak banget. Tentu, itu nggak muncul dari orang yang egois dengan selalu bilang “bukan urusan gue”. Dakwah nih, itu amal muta’addi, banyak manfaatnya. Jadi kalo diajak dakwah jangan nolak. Kalo ada orang yang sedang berdakwah jangan dinyiyirin. Dukung dan bela seharusnya. Kalo diajak bangun masjid, segera ikut nyumbang harta, bahan bangunan, atau tenaga dan pikiran, atau minimal banget ngedoain agar banyak orang yang bantu dan pembangunan segera selesai. Hati-hati ya, jangan sampe ketika ada yang ngajak bangun masjid malah kamu bilang “bukan urusan gue”. Ngeri!

 Memberi nasihat, mendamaikan yang berselisih, menolong yang kesulitan ekonomi, membela orang yang dizalimi dan masih banyak lagi. Itu adalah amalan muta’addi. Namun, nggak akan tergerak melakukan amalan tersebut jika masih bilang “bukan urusan gue”. So, teruslah berbuat baik sampai akhir hayat. Insya Allah. Semoga bisa dipahami dan bisa diamalkan, serta bisa disebarkan lagi. Sehingga manfaatnya kian tersebar luas di berbagai negeri. Insya Allah. [O. Solihin | IG @osolihin]