gaulislam edisi 694/tahun ke-14 (26 Jumadil Akhir 1442 H/ 8 Februari 2021)

Coronavirus (Covid-19) hampir mau ulang tahun keberadaannya di negeri kita. Sejak diumumkan awal Maret 2020 lalu, berarti sejak saat itu hingga sekarang—yang tanda-tandanya belum akan segera berakhir—kita hidup di masa wabah. Kerasa banget kan dibatasi di mana-mana. Nggak boleh bikin kerumunan, kalo perlu bepergian jauh ya kudu dites (rapid test dan swab) dan kudu menunjukkan hasil negatif. Kalo pas dites malah positif, ya nggak boleh pergi. Sebaliknya kudu dikarantina. Bahasa lainnya, diisolasi. Ada yang di RS ada yang di rumah, dikenal dengan isolasi mandiri. Minimal 14 hari. Duh, begitulah.

Sobat gaulislam, lalu mengapa edisi buletin kesayangan kita pekan ini bahas (pake tanda tanya) “Cinta Dunia Takut Corona”, ya? Emang ada hubungannya? Ssst.. jangan berisik. Nanti kalo ketahuan bisa dibubarin. Eh, emang kerumunan, ya?

Maklum Bro en Sis, sejak Coronavirus menyebar di berbagai negara, banyak orang takut tertular. Potensi tertular kian meningkat kalo nggak jaga jarak satu sama lain, begitu kata orang-orang yang tahu soal itu. Banyak dari kita, yang memang nggak tahu ilmunya, ya ikut-ikut aja biar aman. Pikiran kita kan begitu, juga masyarakat secara umum, ya. Sebentar, tapi apakah emang yakin aman? Berdoa juga, dong. Betul. Sebab, kita sebagai muslim memang kudu ikhtiar dan juga berdoa.

Nah, gara-gara informasi tentang virus ini udah kadung nyebar dengan menyebutkan bahwa sang virus sangat membahayakan, akhirnya yang muncul ketakutan. Takut kena, takut sakit, takut mati. Wajar sih, namanya juga manusia. Saya juga sama. Namun, jangan lupa, bahwa kita sebagai muslim punya penolong, Maha Penolong, yakni Allah Ta’ala. Jadi, takut manusiawi, khawatir ya wajar. But, jangan sampe bablas nggak minta pertologan kepada Allah Ta’ala. Kita kan makhluk-Nya, termasuk virus juga makhluk-Nya. Jadi, takut dan khawatirnya jangan berlebihan dan jangan sampe melupakan Allah Ta’ala. Oke?

Apalagi nih, ya. Mikirinnya duniawi mulu, akhirnya pas momen pandemi ini yang kepikiran gimana bisa selamat dan tetap menikmati dunia. Urusan akhirat jadi nomor dua ratus. Padahal, tetap ikhtiarnya yang bisa kita lakukan: jaga kesehatan, pola hidup bersih dan sehat. Nah, tambah tuh dengan dzikir dan doa, serta baca al-Quran. Insya Allah aman. Bahkan dzikir, doa dan membaca al-Quran jauh lebih baik karena kita kian mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Tawakal hanya kepada Allah Ta’ala. Ikhtiar praktis tetap dilakukan, tetapi keyakinan bahwa yang menolong adalah hanya Allah Ta’ala, itu jauh lebih penting diutamakan.

Oya, omong-omong soal cinta dunia dan takut corona, eh, takut mati, bisa nggak ngebahasnya dihubungkan dengan momen Valentine’s Day? Idih, kok tiba-tiba nyambung ke sini, sih? Maksain banget nggak kesannya, ya?

Ah, nggak juga kok. Ini tetap bisa dihubungkan. Why? Sebab, mereka yang biasa ngerayain V Day itu, masih dominan hawa nafsunya, kok. Urusanya dunia pula. Jadi, pertanyaan berikutnya: masihkah mau ngerayain V Day di tengah pandemi seperti sekarang? Nah, jawab deh tuh ama yang biasa ngerayain begituan.

Corona dan Valentine’s Day

Begini. Momen bulan Februari ini, biasanya, yang udah-udah, pasti pada heboh ngomongin en siap-siap ngerayain Valentine’s Day. Para aktivis gaul bebas, sampai yang cuma heboh doang ikutan ngeramein ajang itu, pastinya hapal betul momen itu. Kami di gaulislam juga jadi kebawa ‘latah’ membahas fenomena ini, meski tentu saja dinilai dan dikritisi dari sudut pandang Islam. Namun, saat ini sepertinya tersebab Corona ajang itu nggak terlalu semarak. Bener nggak, sih? Eh, masih pekan depan ya?

Kalo melihat momen Valentine’s Day selama ini, memang selalu yang dijual adalah “cinta”, meski pada prakteknya sebenarnya syahwat, nafsu. Malah ada juga ajang bisnis. Konsekuensi sih. Kalo banyak peminat ya tukang jualan pasti menangkap pesan tersebut dalam arti kata peluang nyedot duit. Wajar, sih. But, apa iya nyari untung ngeruk fulus dari bisnis yang menjual budaya dari luar Islam? So, mestinya kita semua berpikir, ya. Mikirin jangka panjang dampaknya, juga mikirin orang lain, bukan sekadar mikirin diri sendiri.

Itu sebabnya, jadi penasaran bahas tema ini dengan pertanyaan besar: apakah nanti masih ada perayaan VD di tengah pandemi? Kalo masih ada, ya kebangetan sih kalo menurut saya. Why? Bisa jadi musibah wabah Covid-19 alias Coronavirus ini adalah bagian dari ujian bagi orang yang beriman, dan azab bagi kaum muslimin yang banyak maksiat, termasuk orang munafik. Kalo bagi orang kafir, pasti sebagai azab. Eh, silakan baca tema edisi dua pekan kemarin, ya. Biar lebih jelas.

Oke, berarti sebenarnya kita perlu introspeksi masing-masing, ya. Sebab, sangat mungkin adanya Coronavirus alias Covid-19 ini adalah salah satu bagian dari akibat perbuatan umat manusia selama ini yang jauh dari ajaran agama Islam. Sehingga keberadaannya sebagai bentuk musibah untuk mengingatkan agar kembali kepada ajaran Islam. Jauhi maksiat. Segera bertaubat. Kuatkan ikatan terhadap syariat.

Betul juga kayaknya. Sebab, selama ini kalo diingatkan dengan dakwah, kupingnya suka pura-pura bolot bin budeg. Malah ada juga yang nyolot melawan para pengemban dakwah. Dibilangin dengan teguran jangan pacaran, jangan banyak nonkrong nggak jelas dan nggak produktif, malah balik nyentak dengan songong: “ngapain elu urusin gue?”

But, sekarang ini, gara-gara Covid-19, banyak orang yang ogah keluar rumah, atau setidaknya berkurang jauh karena takut ketularan virus. Dugem di kafe or tempat disko udah berkurang jauh. Kongkow dan mejeng campur baur laki-perempuan pun udah jarang terlihat. Di satu sisi ini, kita patut bersyukur. Artinya, dengan adanya Coronavirus mereka takut kena, takut sakit, takut koit. Semoga juga makin takut sama Allah Ta’ala dan mau meninggalkan maksiat, lalu bertaubat dan terikat syariat. Insya Allah.

Eh, jadi gimana, masih mau ngerayain Valentine’s Day? Kebangetan aja kalo sampe ngotot tetap mau ngerayain V Day di tengah pandemi begini.

Jadilah muslim sejati!

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Lho, ini kok subjudulnya nulis begini? Apa hubungannya? Hehehe… dari tadi nanya mulu hubungannya apa. Ya, baik-baik aja, sih. Jadi, begini pejelasannya, ya. Benar bahwa kita sebagai manusia khawatir kena penyakit. Itu sebabnya, berusaha menjaga kesehatan. Bahkan ketika akhirnya harus sakit pun, berusaha untuk sembuh. Dicari dokter dan obat mujarab. Artinya, kita semua khawatir akan rasa sakit dan kematian. Namun, tetaplah tenang. Nggak usah panik. Sakit itu kehendak Allah Ta’ala. Kematian pun pasti akan menimpa setiap makhluk yang bernyawa. Intinya, nggak usah lebay. Istighfar aja yang banyak dan jangan maksiat.

Pertanyaannya, bagaimana menjadi muslim sejati dan harus bersikap seperti apa dalam kondisi saat ini?

Baik, muslim sejati adalah seorang muslim yang akidahnya Islam dan perilakunya jelas sesuai tuntunan risalah Islam yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wajib memiliki syakhsiyah islamiyah (kepribadian Islam), dengan memiliki aqliyah dan nafsiyah yang islami. Ketika menghadapi sebuah problem kehidupan, pastikan menyandarkan patokannya kepada akidah dan syariat Islam. Jadi, intinya kita nurut aja apa kata Islam. Sebab, memang itulah konsekuensinya menjadi muslim, mau diatur dengan ajaran Islam.

Nah, termasuk dalam persoalan ini, pandemi tersebab Covid-19 ini. Harus menyandarkan kepada ajaran Islam. Bukan semata taat prokes alias protokol kesehatan yang dibuat oleh manusia, tetapi yang utama adalah taat akidah dan syariat yang dtetapkan Allah Ta’ala. Jangan sampai taat kepada prokes, tetapi mengabaikan atau bahkan melupakan taat kepada Allah Ta’ala.

Oke, praktiknya begini. Sebagai muslim, mestinya kita tahu soal jaminan atau perlindungan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya. Misalnya nih ya, jaminan Allah Ta’ala terhadap orang yang melakukan shalat Subuh berjamaah, tentu di masjid, ya.

Dari Jundab bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Barangsiapa yang shalat subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu, janganlah menyakiti orang yang shalat Shubuh tanpa jalan yang benar.  Jika tidak, Allah akan menyiksanya dengan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.” (HR Muslim no. 657)

Selain shalat Subuh, juga shalat Ashar. Dari Abu Musa, Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Barangsiapa yang mengerjakan shalat bardain (yaitu shalat shubuh dan ashar) maka dia akan masuk surga.” (HR Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635)

Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Shalat shubuh akan membuat seseorang mendapatkan perhatian Allah pada hari kiamat. Kenapa dikhususkan dua shalat ini? Karena berkumpulnya para malaikat malam dan siang di dua waktu tersebut.”

Selain itu, bagi seorang muslim sejati sangat mengupayakan amalan dzikir pagi dan sore. Itu juga merupakan penjagaan dari Allah Ta’ala. Bacaan dzikir ini sudah sangat masyhur dan biasa diamalkan kaum muslimin sejak dulu. Silakan dicari, ya. Di antara doa dan dzikir pagi dan sore ada yang isinya seperti ini:

“Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fid dunyaa wal aakhiroh. Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fii diinii wa dun-yaya wa ahlii wa maalii. Allahumas-tur ‘awrootii wa aamin row’aatii. Allahummahfazh-nii mim bayni yadayya wa min kholfii wa ‘an yamiinii wa ‘an syimaalii wa min fawqii wa a’udzu bi ‘azhomatik an ughtala min tahtii.”

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari muka, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (oleh ular atau tenggelam dalam bumi dan lain-lain yang membuat aku jatuh).”

Kita juga diajarkan doa agar terhindar dari berbagai penyakit (termasuk penyakit buruk dan membahayakan) semisal Covid-19 saat ini. Doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini ada dalam hadits yang diriwayatkan Abu Dawud:

All?humma inn? a‘?dzu bika minal barashi, wal jun?ni, wal judz?mi, wa sayyi’il asq?mi.

Artinya, “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari penyakit lepra, gila, kusta, dan penyakit-penyakit buruk.”

So, nggak usah khawatir urusan dunia. Jangan pula cinta dunia dan takut mati (karena Corona). Fokus saja pada amalan utama sebagai muslim. Ibadah jangan melemah, banyak dzikir, doa, dan shalat berjamaah di masjid. Itu sebabnya, masjid mestinya tetap dibuka meski di masa pandemi. Insya Allah orang yang ke masjid itu akan selamat. Jangan takut. Tentu, melaksanakan shalatnya juga benar ya. Misalnya, jangan karena ikut-ikutan protokol kesehatan yang kudu jaga jarak, eh, shaf-nya juga dibikin jaga jarak. Nggak merapatkan shaf. Tapi, anehnya pas udah beres shalat malah saling salaman. Jadi? Begitulah.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata dalam Kitab Ighaatsatul Lahfaan, “Orang yang mencintai dunia (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (macam penderitaan): Kekalutan (pikiran) yang selalu menyertainya, kepayahan yang tiada henti, dan penyesalan yang tiada berakhir.”

Tuh, jadi nggak usah mikirin dunia dan mencintainya secara berlebihan. Nyari obat (vaksin) untuk virus, silakan saja, boleh saja. Namun ingat, vaksin bukan satu-satunya solusi. Sebagai muslim, kita tetap bertawakal kepada Allah, dengan meyakini seyakin-yakinnya bahwa hanya Allah Ta’ala yang memberikan perlindungan bagi kita. Maka, amalkan saja apa yang sudah Allah jamin bagi kita. Shalat berjamaah, dzikir pagi dan sore, membaca al-Quran. Pola hidup bersih dan sehat tentu diamalkan juga, tetapi tawakal lebih utama.

Why? Menurut Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah (dalam kitab Fawaidul Fawaid, hlm. 115), “Rahasia dan inti dari tawakal adalah menyandarkan hati kepada Allah Ta’ala semata. Mengupayakan suatu sebab tidak menodai tawakal selama hati tidak bergantung dan tidak condong kepada sebab tersebut. Karena, meskipun seseorang mengucapkan: “Aku bertawakal kepada Allah,” namun tawakalnya itu tidak ada artinya selama hatinya masih bergantung, condong, dan lebih percaya kepada selain Allah.

So, tetap tawakal, yakni menyandarkan hati hanya kepada Allah Ta’ala. Memang tetap mengupayakan sebab, tapi jangan sampe tuh sebab membuat noda pada tawakal kita.

Misalnya nih, agar terhindar dari Coronavirus, lalu hanya mengandalkan bersih-bersih diri, menjadikan social (termasuk physical distancing) sebagai satu-satunya cara memutus mata rantai penyebaran virus, lockdown jadi semacam keyakinan pasti untuk meyelesaikan wabah ini. Sehingga shalat di masjid shaf-nya jadi lebar-lebar banget padahal shalat jamaah. Nggak gitu. Karena, itu artinya kita masih percaya bahwa sebab tersebut sebagai keyakinan pasti, bukan tawakal kepada Allah, walau bilang: “ini tawakal kepada Allah”. Catet, ya!

Jadi gimana kesimpulannya? Jangan cintai dunia secara berlebihan, jangan cuma takut corona tapi nggak takut sama Allah. Setiap hari yang dipikirkan cuma usaha duniawi semata. Taat prokes tapi nggak taat syariat. Jangan sampe nanti di antara kamu ada yang tetap ngerayain Valentine’s Day dengan prokes ketat (masker dan jaga jarak), tetapi justru tetap campur-baur laki dan perempuan di satu tempat, gaul bebas, dan umbar syahwat. Itu sih namanya tetap maksiat, Bro en Sis! Sebab, cuma takut sama Corona, tapi nggak takut sama Allah Ta’ala yang udah menurunkan syariat Islam. Sadarlah! [O. Solihin | IG @osolihin]