Pernah dikejar waktu tenggat alias deadline? Saya sering. Terutama ketika harus menyelesaikan tulisan. Ada batas waktu yang ditetapkan. Jika saya telat menyelesaikan tulisan, sudah pasti telat juga mengirimkannya. Dulu, masih kerja di majalah, ya bisa merusak ritme kerja divisi lain jika tulisan telat dikirim. Hilanglah semua kesempatan.

Bagaimana dengan hidup kita? Ada batasnya juga, Bro. Tantangannya, kita sama sekali tak diberi tahu kapan akan berakhir. Blank. Jadi ini ujian betul. Kita harus bisa lebih baik dari hari ke hari, meski tak tahu sampai kapan waktu tepat hidup kita berakhir. Itu sebabnya, kita memang dituntut waspada. Jangan asal-asalan. Hilang satu kesempatan, merugi di banyak hal.

Waktu terus berlanjut, tak peduli kita sedang sibuk mengerjakan berbagai amanah atau sedang rebahan. Waktu terus berjalan lurus ke depan. Tidak pernah kembali walau kita berjalan lambat. Tak ada kompromi. Jadi, kita yang harus sadar diri lalu bergerak bersama waktu demi meraih berbagai kebaikan. Bekal untuk kehidupan berikutnya setelah di dunia ini.

Nah, karena waktu kita di dunia tidak diberikan sampai kapan batasnya, maka setiap saat kita jadikan sebagai kesempatan terakhir. Sehingga kita jadi waspada. Bila tak tercapai akan rugi. Bila tak terus berbenah jadi lebih baik, pasti hilang kesempatan.

Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan,

ابن آدم إنما أنت أيام كلما ذهب يوم ذهب بعضك

Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalahkumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.” (Hilyatul Awliya’, 2/148, Darul Kutub Al ‘Arobi)

Ja’far bin Sulaiman berkata bahwa dia mendengar Robi’ah menasihati Sufyan Ats Tsauri,

إنما أنت أيام معدودة، فإذا ذهب يوم ذهب بعضك، ويوشك إذا ذهب البعض أن يذهب الكل وأنت تعلم، فاعمل.

Sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari. Jika satu hari berlalu, maka sebagian dirimu juga akan hilang. Bahkan hampir-hampir sebagian harimu berlalu, lalu hilanglah seluruh dirimu (baca: mati) sedangkan engkau mengetahuinya. Oleh karena itu, beramallah.” (Shifatush Shofwah, 1/405, Asy Syamilah)

Semoga kita bisa tetap beramal shalih di sisa usia kita. Anggap saja, hari-hari kita adalah kesempatan terakhir dalam hidup kita. Agar kita selalu waspada tahu diri.

Salam,

O. Solihin