gaulislam edisi 702/tahun ke-14 (22 Sya’ban 1442 H/ 5 April 2021)

Duh, judulnya panjang bener. Iya, soalnya bakal banyak menuliskan dari berbagai aspek. Eh, nggak juga, sih. Sesuai judul aja, ya. Ada tiga bahasan: Islam, medsos, dan kaum muslimin. Walau tentu nggak semua bisa terbahas dengan detil, tetapi setidaknya sebagai sarana introspeksi saja. Sejauh mana sih kita sebagai umat Islam memiliki dampak terhadap kehidupan kita dan lingkungan kita, khususnya dengan adanya teknologi komunikasi dan informasi ini. Selain itu, apakah citra Islam, sebagai agama mayoritas di negeri kita, akan pudar akibat kelakuan kita sebagai umatnya yang nggak mencerminkan ajaran Islam? Yuk, kita bahas langsung aja ya.

Dituduh teroris

Sobat gaulislam, kalo soal tuduhan ini sepertinya udah basi, sih. Boleh dibilang udah kenyang dilabeli begituan. Udah lama banget stempel itu melekat pada diri kita sebagai muslim. Hanya karena pelakunya (menurut fakta yang beredar) adalah beragama Islam. Lengkap dengan atribut Islam. Meski tak tahu pasti apakah benar mereka melakukan aksinya sesuai pemahamannya selama ini, atau memang disuruh (dimanfaatkan) pihak tertentu, bahkan lebih parah, yakni dihipnotis. Biasanya memanfaatkan kelabilan sisi psikologis seseorang yang kemudian didoktrin untuk melakukan tindakan sesuai arahan pihak tertentu yang emang benci Islam dan kaum muslimin.

Tentu saja, semua hal itu merugikan umat Islam secara umum. Sebab, stempel itu akan terus melekat. Nah, seringkali yang terjadi adalah stigma (cap negatif) itu sengaja disematkan pihak tertentu untuk tujuan tertentu yang intinya ingin memadamkan cahaya Islam. Mungkin mereka berpikir bahwa dengan diberikan stempel buruk akan memberikan dampak besar bagi umat Islam. Betul, ada pengaruhnya. Namun, saat ini tak mudah bagi musuh-musuh Islam (dari kalangan orang-orang kafir dan munafiq) untuk memberikan stigma kepada Islam dan kaum muslimin. Buktinya, banyak banget kaum muslimin yang memiliki kemampuan di bidang itu menghadirkan fakta-fakta yang justru membongkar skenario jahat pihak tertentu dalam proyek stigmatisasi (pencitraburukkan) terhadap Islam dan kaum muslimin.

Selain itu, boleh dikata dari pihak yang netral, ada John Pilger, yang pendapatnya (seputar terorisme) akhir-akhir ini sering dikutip berbagai media massa di Indonesia.

John Pilger menuturkan bahwa tidak ada perang terhadap terorisme, namun yang ada hanyalah alasan yang dibuat-buat.

“Korban terbesar terorisme adalah umat Islam. Hakikatnya tak ada perang terhadap terorisme, yang ada adalah perang menggunakan alasan terorisme,” katanya dilansir Galamedia dari situs John Pilger pada 2 April 2021.

John Pilger sendiri merupakan seorang jurnalis investigatif Australia dan produser film dokumenter pemenang penghargaan BAFTA.

Sebagian dari kita: korban medsos

 Nah, ini juga nggak bisa dimungkiri bahwa kita masih punya problem. Khususnya, saudara-saudara kita yang ternyata belum bisa bijak gunakan media sosial. Bukannya untuk tebar manfaat, ini malah terpedaya dan bahkan terlena karena terjerumus melakukan kemaksiatan di media sosial. Prihatin, tetapi itulah kenyataannya.

Jujur aja, kalo mau dieksplor ya banyak saudara kita yang pamer aurat, tabarruj, bikin konten miskin manfaat, joget-joget nggak jelas dan kelakuan tak beradab lainnya di berbagai platform media sosial: facebook, twitter, tiktok, instagram, youtube, dan sejenisnya. Miris, sedih, dan kasihan. Namun, karena dalam situasi nggak sadar (sebab iman dan ilmu lemah), nasihat dari saudaranya malah dianggap sebagai bentuk campur tangan urusan orang. Hadeuuh… padahal kita ini mencoba menolong sesama saudara.

Gimana nggak, buktinya sudah banyak. Kaum muslimin yang paham ajaran Islam dan berusaha memanfaatkan media sosial untuk sarana saling mengingatkan dengan sesama kaum muslimin lainnya juga bejibun, lho. Channel youtube beberapa ustaz terkenal, atau juga diisi para aktivis dakwah, kontennya bagus-bagus. Tinggal pilih sesuai selera gaya dakwah mana yang disuka. Sebab, pesannya pasti sama: mengajak kepada kebaikan dan istiqomah dalam ajaran Islam. Iya, kan?

Cuma masalahnya, seringkali banyak di antara kita yang senengnya ‘dikelonin’ setan, sehingga yang sering diterima adalah ajakan setan. Maka, media sosial malah dijadikan ajang maksiat. Naudzubillahi min dzalik.

Joget-joget yang sensual malah viral. Apa nggak tahu kalo itu dosa? Parahnya lagi, banyak muslimah yant mengenakan kerudung dan cadar yang melakukannya. Aduh. Ya, ini realitas. Harus diubah. Harus diarahkan kepada jalan hidayah. Gimana pun juga, itu saudara-saudara kita seakidah walau masih awam terhadap agama. Justru karena mereka awam, adalah lahan dakwah kita. Kita ajak agar mereka mau meninggalkan maksiat dan mulai mencintai ilmu. Memang nggak mudah, tetapi harus dimulai dari sekarang. Setahap demi setahap, sambil berharap Allah Ta’ala memberikan hidayah-Nya bagi saudara kita. Jadi, memang harus ada upaya kita dalam mendakwahi mereka. Nah, medsos bisa menjadi alternatif dakwah kita kepada saudara kita, dan juga senjata untuk melawan propaganda musuh-musuh Islam.

Medsos untuk dakwah

Sobat gaulislam, kamu sering dapetin pesan dakwah via WhatsApp? Saya sih cukup sering. Kebetulan saya ikut beberapa grup WhatsApp. Teknologi memang memudahkan. Jika dulu, sebelum ada ponsel yang terintegrasi dengan internet, kita harus memproduksi isi tulisan dalam jumlah banyak masih mikir-mikir biaya. Sebabnya, kalo dikirim via SMS tentu saja bakalan bikin menggelembung biaya pulsa. Tetapi, setelah di ponsel dibenamkan jaringan internet, lalu digabung lagi dengan teknologi kamera, maka revolusi sosial hasil kolaborasi teknologi komunikasi dan informasi ini membuat jarak antar negara nyaris tak lagi berarti. Maksudnya, jarak serasa dekat sekali. Di grup alumni sekolah saya saja, teman satu angkatan saat sekolah yang kini ada di belahan negeri lain, serasa di samping saya karena bisa saling kirim pesan di grup WhatsApp. Tuh, ini salah satu manfaat medsos.

Nah, karena di grup medsos tentu saja berisi kumpulan manusia yang merupakan makhluk sosial, maka akan sepi banget kalo nggak ada interaksi di antara mereka. Jadi, tak mustahil kan kalo akhirnya tanpa dipaksa saling berkirim pesan. Awalnya sekadar say hello, atau saling sapa karena lama tak jumpa, tetapi setelah terpuaskan rindu karena ketemu lagi, langkah berikutnya adalah saling berbagi ilmu atau hal manfaat lainnya, termasuk yang isinya dakwah. Itu nggak bisa dimungkiri, lho. Sebab, karakter seseorang yang sudah memiliki cara pandang pasti akan berusaha mengenalkan cara pandangnya kepada orang lain di sekitarnya. Itu tabiat manusia ingin berbagi dan ingin menjadi yang terdepan ngasih manfaat. Maka, konten dakwah yang beragam pun bisa kita baca dari hasil kiriman teman-teman dalam berbagai grup medsos yang kita ikuti.

Bro en Sis rahimakumullah, bagi kamu yang masih remaja kayaknya kalo ngomongin dakwah terasa berat, ya? Hehehe.. itu sebabnya, jangan memikirkan bahwa dakwah itu hanya bisa dilakukan oleh mereka yang ilmunya udah banyak dan mantap. Bahwa ilmu yang banyak, benar, dan mantap saat disampaikan itu bagus. Bisa jadi ini syarat utama dalam berdakwah. Namun, kamu juga kudu memiliki cara pandang bahwa dakwah juga butuh kemasan agar bisa diterima untuk berbagai kalangan.

Nah, cara pandang yang kreatif ini yang melahirkan berbagai ide dalam penyampaian pesan dakwah. Ada pesan yang ringan dan kocak, namun tetap berbobot isinya. Ada juga pesan yang berat namun dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami. Tentu saja ada juga tema yang berat dengan menggunakan bahasa rumit dan ilmiah yang ditujukan untuk kalangan yang cocok dengan gaya penyampaian pesan tersebut. Intinya, variasi dakwah bisa dikemas dan disebar hanya dengan menyentuh layar di ponsel pintar. Ya, sesuai kemampuan kita aja, sih. Masing-masing kan udah ada spesialisasinya.     

Hebat ya, dakwah jadi mudah. Bikin video dakwah yang kreatif lalu diupload ke youtube. Link-nya dishare via twitter, path, instagram, facebook, dan medsos lainnya. Boleh juga bikin dakwah via podcast alias siniar yang dikemas menarik di platform Anchor yang hasilnya di-share di Spotify dan sejenisnya. Hasil share yang di-share lagi itulah yang membut konten bergerak cepat, bahkan liar tak terkendali. Dakwah semakin gampang dan memberi arti lebih. Keren banget ya? So, nggak usah bengong aja. Manfaatkan usia mudamu dengan banyak beramal shalih dan berbagi dengan orang lain. Dakwah, tak harus menyampaikan sesuatu dengan rumit dan berat, bisa juga kok dengan cara mudah dan ringan namun tetap tak tertinggal sisi ideologis dalam penyampaiannya.

Kamu, bisa juga lho melakukannya. Kalo kamu sering berselancar di youtube dan mencari dakwah kreatif remaja, insya Allah menemukan tuh syiar Islam dengan kemasan yang ringan, menghibur, namun isinya berbobot. Kesan yang muncul pertama kali ketika melihat tayangan video dakwah yang kreatif itu adalah enjoy. Nggak terasa sedang digurui atau dihakimi. Fakta yang disodorkan sehari-hari dalam kegiatan kita. Isinya juga disusun dengan cara yang mudah dipahami.

Oya, omong-omong soal dakwah buat remaja, saya juga punya lho akun youtube dan saya isi dengan konten tips seputar menulis dan dakwah buat remaja, lho. Sebagian isi program siar “Salam Remaja” dimana saya jadi narasumbernya, saya upload ke youtube. Harapannya, bagi teman-teman yang belum bisa menyaksikan via televisi, bisa juga gelar tiker sambil nonton saya cuap-cuap ngomongin masalah remaja, dan tentu saja lengkap dengan solusi Islam. Seru ya? Silakan deh langsung ke TKP di youtube dengan keyword “osolihin salam remaja” insya Allah kangsung ketemu deh karena ada di halaman pencari daftar pencarian. Jangan lupa komennya, ya. Sip.

Selain saya, banyak juga tentunya orang-orang yang peduli dengan nasib saudara seakidahnya. Maka, nggak usah heran kalo di berbagai medsos dipenuhi juga dengan pesan dakwah. Saya memiliki akun di facebook, twitter, instagram, linkedin, google+, youtube, whatsapp, telegram, spotify, dan termasuk di blog. Alhamdulillah bisa saya gunakan untuk berbagi pesan dakwah.

Kebanyakan kontennya ditujukan untuk remaja. Sebab, meski usia tak lagi remaja tetapi saya berharap bisa tetap menemani remaja. Selain karena saya sudah memiliki anak-anak usia remaja, juga serangan budaya dan pemikiran dari ideologi selain Islam sangat gencar dilakukan. Sementara yang menghadang serangan tersebut masih bisa dibilang sedikit. Jadi, ceritanya saya ingin menjadi orang yang bisa berkontribusi untuk dakwah remaja, walau dengan cara yang terbatas: sebatas celotehan melalui video, tulisan dan hasil jepretan kamera ponsel tetapi disisipkan pesan dakwah. Semoga jadi amal shalih bagi saya dan menjadi pengantar jalan hidayah bagi pembaca dan follower atau teman-teman saya di medsos. Insya Allah.

Jadi, sesuai judul di edisi kali ini, sebagai muslim yang melek teknologi, jadikan media sosial sebagai sarana untuk mensyiarkan ajaran Islam. Berdakwah untuk saudara-saudara kita yang masih awam, dan menjadi senjata untuk melawan segala tipu daya dan konspirasi musuh-musuh Islam. Kita songsong era kebangkitan Islam.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Perkara ini (Islam) akan merebak di segenap penjuru yang ditembus malam dan siang. Allah tidak akan membiarkan satu rumah pun, baik gedung maupun gubuk melainkan Islam akan memasukinya sehingga dapat memuliakan agama yang mulia dan menghinakan agama yang hina. Yang dimuliakan adalah Islam dan yang dihinakan adalah kekufuran” (HR Ibnu Hibban)

Yuk, siapkan diri kita untuk menyambut kemenangan Islam. Siapkan ilmu, adab, dan tentu saja keimanan dan ketakwaan yang dibanjiri ghirah yang menggelora. [O. Solihin | IG @osolihin]