Teman Sejati Tak Tinggi Hati

This image has an empty alt attribute; its file name is logo-gi-3.jpg gaulislam edisi 581/tahun ke-12 (3 Rabiul Akhir 1440 H/ 10 Desember 2018)

 

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Apa kabarnya, nih? Tema di edisi ini bakalan ngebahas tentang pertemanan di kalangan remaja. So, stay tune, yah!

Teman. Hmm… seperti yang kau tahu, teman itu banyak jenisnya. Ada teman sekelas, teman seangkatan, teman SD, teman di kampung, teman asrama, teman sekos, teman ngaji, teman nongkrong, dan lain-lain. Kalau diperhatiin lebih dalam, teman juga bisa macem-macem bentuknya. Ada pertemanan yang dangkal, deket, atau numpang status doang. Hmm… (ngangguk-ngangguk kayak boneka mainan di dashboard mobil)

Nah, dari sekian banyak teman yang kamu punya, pasti pernah ada cek-cok di antara kamu. Entah itu cuma karena salah paham atau sedikit singgungan. Dalam pertemanan, yang kayak gitu mah wajar, betul? Betul, dong! Tapi kan, nggak enak kalo setiap saat ada aja cek-cok di antara kalian. Itu sebabnya, wajib tuh ngejadiin cek-cok yang udah lewat sebagai pengalaman supaya di lain waktu kalian nggak bakalan cek-cok, apalagi sampe berantem. Sip!

 

Beda teman dan sahabat

Tapi sebenernya, teman itu apa sih? Apa bedanya sama sahabat? Nah, kalo menurut KBBI, teman dan sahabat itu artinya sama, tapi kalo secara fakta perbedaannya jauh, loh. Kok bisa begitu?

Coba deh renungin ke diri sendiri, kamu memperlakukan setiap teman itu sama atau nggak? Cara buat tahu kamu memperlakukan teman sama atau nggak dengan inget, ke siapa aja kalian curhat. Kalau udah tahu, di sini kita bisa ngebedain yang mana temen doang dan yang mana sahabat. Karena pada faktanya, kalau ke teman biasanya kamu nggak gampang buat curhat, sekadar teman main. Beda kalau ke sahabat, masalah sepele sampai masalah fallin’ in love aja diceritain. Hehe… ayo, ngaku!

Emh… jadi inget deh masa-masa SMP dulu, karena selama 3 tahun berturut-turut kami sekelas dan jadi deskmate terus, saaampe sekarang, tiap liburan pasti selalu ngeluangin waktu buat kumpul bareng. Padahal nggak pernah ada reuni kelas, tapi kita tetep punya jadwal sendiri buat silaturrahmi walaupun udah beda sekolah.

Nah, jelas banget beda antara teman dan sahabat. Nggak perlu dijelasin panjang lebar, kamu pasti ngerti deh perbedaannya. Kalau nggak ngerti, udah saatnya buat kamu merenungi lebih dalam, siapa aja sih yang pernah kamu jadiin tempat curhat dan layak menyandang gelar sahabat kamu.

Sayangnya, di zaman sekarang ini kadang remaja menyalahartikan gelar sahabat atau teman. Kenapa? Karena banyak banget remaja yang menganggap teman atau sahabat cuma sebatas batu loncatan buat eksistensi diri.

Walaupun nggak semua, tapi masih banyak remaja yang berpikiran, kalau dia berteman sama si ini nanti dianggep cupu, kalo sama si ini dianggep otaku, kalo si ini popular, begini, begitu, dan sebagainya. Karena cara berpikir yang kayak gitu, gelar teman dan sahabat jadi turun tingkat sebagai batu loncatan eksistensi, alih-alih hubungan saudara untuk bersilaturrahmi.

Padahal, walau secara fakta teman itu sekadar teman main biasa, ngobrol atau ngumpul sama teman-teman yang lain, teman itu bagus untuk menjalin silaturrahmi dan memperluas hubungan manusia. Udah jelas manusia itu makhluk sosial yang nggak bisa hidup sendiri dan membutuhkan orang lain. Jadi, udah seharusnya kita memperbanyak teman yang bisa membantu kita, dan kita juga bisa membantu mereka. Mantep, kan?

Beda sama gelar sahabat yang lebih tinggi statusnya dari teman. Nggak cuma teman main, sahabat biasanya bisa jadi tempat curhat. So, berbanggalah kamu semua yang udah dianggap sahabat sama orang-orang di sekitar kamu. Why? Ya, karena itu artinya mereka percaya sama kamu. Itu sebabnya, mereka mau dan bisa curhat plus minta saran atau tanggapan tentang curhatan mereka.

Tips nih, buat kamu yang punya gelar sahabat, jangan kecewakan sahabat kamu dengan pengkhianatan. Misal nih, diminta jangan kasih tahu siapa-siapa, eh malah diceritain ke siapa-siapa. Hadeuuh… itu bukan sahabat yang baik loh. Di zaman sekarang susah loh dapet gelar sahabat. So, jangan kecewain sahabat kamu, tapi juga jangan gunain alesan itu buat ngelakuin hal-hal yang dilanggar Allah. Karena sahabat yang baik itu yang bahu-membahu beramal shaleh untuk memasuki surga Allah. Yup, kayak Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wassalam dan para sahabatnya dulu.

Sobat gaulislam, punya teman itu enak yah, baik itu teman main atau sahabat. Karena ketika kita punya teman, ada orang lain yang lagi berbagi pengalaman yang sama. Ditambah lagi kita bisa cerita-cerita banyak hal, bercanda, nongkrong bareng dan sebagainya. Apalagi kalau sama teman yang seumuran. Sip deh, enaknya.

Saking enjoy-nya kita bergaul sama teman kita, kadang kita lupa sama yang namanya batas privasi, nih. Ini yang bahaya.

“Ah, kok dengan teman ada batas privasinya? Kita kan sama-sama perempuan.”

“Sama-sama laki-laki ini, privasi apaan?”

Eit, jangan sampe offside, ya. Kalau ada di antara kamu yang berpikiran kayak gitu, plis deh, setelah baca ini, saya harap kalian nggak berpikiran kayak gitu lagi. Karena nggak cuma pergaulan antara laki-laki dan perempuan aja yang ada batasannya, tapi pergaulan antara sesama jenis juga ada batasannya, loh. Termasuk bergaul dengan teman.

Nah, kalo dikelompokkin secara umum, ada 3 poin utama pergaulan antar teman. Apa aja?

 

Batas privasi

Oya, kamu pasti sering denger ungkapan, ‘setiap orang punya privasi’. Yup, yup, bener banget tuh! Setiap orang punya privasinya masing-masing. Apa maksudnya? Kalau dianalogikan sih, kayak stadion sepak bola. Ada lapangan dan ada kursi penonton. Lapangan ibarat zona privasi setiap orang, kecuali pemain utama, nggak ada yang boleh masuk ke lapangan. Sementara kursi penonton ibarat lingkungan di sekitar pemain utama, siapapun boleh duduk di kursi penonton tapi nggak boleh nerobos lapangan. Ngerti kan, maksud analogi ini? Ngerti dong, harus!

Tetapi privasi nggak cuma soal masalah. Tempat-tempat atau ruang-ruang tertentu, waktu-waktu tertentu, benda-benda tertentu dan sebagainya juga bisa jadi privasi seseorang, loh! So, karena setiap orang punya privasi, sebagai teman yang baik, kita harus mengerti privasi teman kita. Harus tahu kapan kita berhenti buat nge-kepoin hal-hal yang nggak mau teman kita bagi.

 

Batas bercanda

Nah, yang kedua ada batas bercanda. Hmm… di zaman sekarang ini, bercanda udah jadi hal yang biasa, selama hal itu bisa bikin orang lain ketawa. Teori kayak gini, jelas-jelas salah! Kenapa? Karena dalam Islam bercanda itu ada aturannya, ada tata caranya. Wuih, Islam keren banget, deh, sampai bercanda aja ada batasannya. Yup, yup.

Kalau ada yang mau protes, tahan dulu. Saya kasih tahu yah, sangat wajar bercanda itu ada batasannya, karena kita nggak tahu, apakah ada orang yang merasa sakit hati ketika kita bercanda atau nggak. Kalau ada orang yang sakit hati karena candaan kita, itu bisa menumpuk dosa loh! Iih… serem. Nah, udah saatnya kita hati-hati kalau bertutur kata khususnya ketika bercanda. Sakit hati itu susah sembuhnya!

Kalaupun mau bercanda, liat-liat sikon dulu. Liat apakah teman kita lagi serius atau santai. Kalau lagi santai, boleh lah, bercanda. Tapi kalau lagi serius? No, no. Lebih baik jangan ajak bercanda, yang ada kita malah mengganggu mereka. Bisa gawat kan, kalau ternyata mereka lagi dapet amanah yang penting, dan amanahnya nggak selesai karena kita bercandain mereka. Duh, duh.

 

Mencintai teman

C-I-N-T-A. Cinta. Ai. Saram. Love. Hehe… walaupun kata ‘cinta’ itu lekat banget sama lawan jenis, tapi ternyata cinta itu punya arti yang luas dan bisa ke siapa aja, loh. Salah satunya, teman. Bedanya adalah cara menunjukkan rasa cinta kita untuk teman. Gimana cara nunjukkin kalau kita itu cinta sama teman kita? Hmm… (mikir keras).

Teman yang baik adalah yang mengajak kita menuju apa yang diridhai Allah. So, cara kita menunjukkan rasa cinta kita ke teman adalah dengan mengajak dia untuk beramal shaleh supaya semakin dekat kepada Allah dan surga-Nya.

Nggak cuma itu, sebagai teman yang baik kita juga harus menghormati dan menghargai teman kita. Dalam Islam, ada yang namanya perbedaan pendapat (selama itu bukan yang berhubungan dengan akidah), kayak sholat subuh pakai qunut atau nggak. Nah, untuk yang kayak gitu, kita harus menghargai pendapat teman kita dan menghormatinya. Ini masuknya wilayah fikih, ya. Kalau teman kita melenceng dari akidah baru deh kita wajib menasehatinya. Sip!

 

Pergaulan dan adab

Sobat gaulislam, udah disebutin 3 poin utama pergaulan antara teman yang berhasil aku kesimpulkan dari berbagai sumber. Tapi bukan berarti kamu cukup hanya mengetahui 3 poin itu. Wajib banget buat cari adab-adab dalam bergaul antar teman lainnya, karena semakin kita tahu insyaa Allah kita bakalan dapet lebih banyak teman dan sahabat. Kok bisa? Bisa, dong!

Iya, karena kalo kita tahu adab bergaul antar teman, kita juga tahu peraturan yang Allah Ta’ala kasih ke kita. Allah Ta’ala ngasih perintah bukan tanpa sebab, selalu ada sebab-akibat di baliknya yang baik untuk kita.

Salah satu alasan kita harus mengikuti peraturan Allah dan Rasul-Nya dalam bergaul antar teman adalah supaya kita mendapat lebih banyak teman. Ketika kita udah tahu adab bergaul, memahami ilmunya dan melakukannya, maka orang lain pasti bakalan ngerasanya nyaman sama kita dan senang berteman sama kita. Kenapa? Karena setiap orang suka berteman dengan orang-orang yang perhatian, peduli, sayang, dapat dipercaya, pandai menghargai orang lain. Setelah kita belajar adab bergaul insyaa Allah kita dapetin sifat-sifat itu, loh. Aamiin.

Nah, hampir semua orang nggak suka tuh sama orang yang punya sifat tinggi hati, egois, ngerasa dirinya lebih baik dari orang lain, ngerasa dunia berputar di sekelilingnya, daaan sebagainya. Maka, ayo deh cepet-cepet belajar adab bergaul supaya semua sifat buruk itu hilang, digantiin sama semua sifat baik. Jadi kita bisa berteman sama orang-orang yang baik juga. Aamiin.

So, jadilah teman yang baik buat teman kita. Jangan tinggi hati kalau mau disebut teman sejati. Jangan juga egois dan ngerasa diri sendiri itu pemeran utama dan yang lain adalah figuran. Berteman itu ibarat mitra kerja, nggak boleh saling mendominasi tapi harus saling menghargai. Kalau ada perbedaan, cari persamaannya. Jangan malah membesarkan perbedaan dan ngelupain persamaan yang kalian punya. Ok? Sip deh! [Zadia Mardha | IG @willyaaziza]