Belum Sesungguhnya Merdeka

gaulislam edisi 617/tahun ke-12 (18 Dzulhijjah 1440 H/ 19 Agustus 2019)

 

Duh, terpaksa kudu nulis tema ini lagi. Kalo dibilang bosen, ya bosen sih. Kayak nggak ada tema lain aja. Tetapi fakta yang dilihat, yang ditampilkan di negeri ini, juga nggak bosen gitu-gitu aja. Jadi, faktanya gitu-gitu juga, ya dikomen juga begitu. Aneh ya, kok nggak berubah walau banyak yang komentarin? Apa karena menerapkan ilmu cuek alias bodo amat sehingga tinggal kuat-kuatan aja antara yang kudu disadarkan dengan yang menyadarkan? Atau karena komentarnya nggak jitu? Bisa jadi keduanya seperti itu.

Sobat gaulislam, secara fisik, yakni adanya kekuatan militer yang menjajah negeri kita emang udah nggak ada. Tetapi secara politik, ekonomi, sosial, pendidikan, budaya, hukum, dan pemerintahan negeri kita ini belum sepenuhnya merdeka, belum sesungguhnya merdeka. Masih bisa dikendalikan bangsa lain. Beneran!

Indonesia belum benar-benar merdeka dari sisi ekonomi, pasalnya surat berharga negara (SBN) alias surat utang pemerintah belum sepenuhnya dimiliki oleh domestik. Arus modal asing yang masuk ke pasar SBN rupiah terus bertambah. Data terakhir menunjukkan kepemilikan asing di SBN rupiah mencapai Rp 1.000,39 triliun. Jumlah itu bahkan sudah lebih tinggi dari posisi 2 Juli sebesar Rp 991 triliun.

Kepemilikan asing sendiri saat ini sudah mencapai sekitar 40% dari profil SBN yang sudah diterbitkan. Hal itu menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira, membuat Indonesia masih semi terjajah dari sisi ekonomi.

“Kalau rasio utang semakin meningkat, jumlah utang secara nominalnya juga semakin tinggi. Nah kalau tidak diimbangi dengan kepemilikan domestik yang besar, maka akan terus menerus ya kita sebenarnya semi terjajah ya,” kata Bhima kepada detikFinance, Jakarta, Sabtu (17/8/2019).

“Karena hidup matinya perekonomian Indonesia setengahnya itu dipengaruhi oleh kepentingan kreditur asing, gitu,” jelasnya. (finance.detik.com)

Mirisnya lagi, SDA (Sumber Daya Alam) negeri ini banyak dikuasai pihak asing. Ambil contoh deh, tambang emas di negeri ini dikuasai perusahaan asing. Memang sih, konon kabarnya ada kerjasama, diteken bersama pemerintah negeri ini. Tetapi secara fakta yang menikmati keuntungan terbesar adalah bangsa lain. Tambang emas yang dikelola PT Freeport misalnya, ribuan ton emas digondol ke pemilik perusahaannya yang berada di Amerika Serikat. Negeri ini hanya kebagian kecil. Meski kabarnya pemerintah sudah mengakuasisi Freeport hingga 51,2 persen sahamnya, dalam kenyataannya belum terbukti. Baru sekadar wacana, bahkan sekadar janji-janji manis murahan di masa kampanye pilpres. Nothing!

Dalam situs rmoljatim.com, dirilis bahwa meski pemerintah Indonesia telah menguasai saham PT Freeport Indonesia sebesar 51,2 persen, namun Freeport McMoRan Inc (FCX) masih memiliki kuasa sebagai pemegang kendali operasional.

“Operasional PTFI ternyata masih dikelola FCX,” kata Wakil Ketua Dewan Kerhormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Dradjad Wibowo dilansir Kantor Berita Politik RMOL, Senin (24/12/2018).

Dradjad Wibowo mengungkapkan, salah satu situs media asing businesswire.com menyebutkan, perusahaan tambang emas di Papua ternyata masih dikelola asing.

Yang mengejutkan, pembelian saham 51,2 persen oleh PT Inalum dengan nilai Rp 55,8 triliun, kata Dradjat, menggunakan dana pinjaman luar negeri (global bond) PT Inalum.

Utang korporasi berupa obligasi global dalam bentuk valas itu dinilai terlampau mahal.

“Apakah fakta di atas mencerminkan pro rakyat? Silakan disimpulkan sendiri,” ujar Dradjad. Apalagi di situs kemenperin.go.id, Freeport kabarnya hanya mau menyerahkan sahamnya 20 persen saja.

Bagaimana dengan tambang batu bara? Sama juga, Bro en Sis. Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara mengatakan, saat ini tambang batu bara Indonesia dikuasai oleh piha‎k asing dan swasta, sementara perusahaan BUMN hanya menjadi minoritas dalam mengelola tambang batu bara.

“90 persen lebih batu bara dikelola pihak swasta dan asing,” kata Marwan, dalam sebuah diskusi, di Jakarta, Rabu (21/2/2018–liputan6.com). Ini memang data tahun lalu, tapi ya, selama ini nggak ada perubahan. Berarti tetap dalam penguasaan asing.

Begitu pula dengan tambang migas. Memang, ada upaya sebelum pilpres kemarin bahwa blok-blok migas akan kembali ke Indonesia. Kabar baik ini masih perlu dibuktikan. Sebagai contoh, Blok Rokan, blog migas paling subur, yang pada Agustus 2018 lalu dikabarkan akan diambil dari Chevron dan diserahkan ke Pertamina, baru akan terwujud pada 2021. Kita tunggu saja, toh janji manis seperti itu sudah sering dilontarkan saat kampanye demi mendongkrak popularitas.

Sobat gaulislam, kamu yang masih remaja perlu juga lho tahu soal beginian. Ubah kebiasaan mewek bareng saat nonton drakor yang roman melow gitu. Atau yang cowok juga mulai tinggalin deh kebiasaan main game online. Walau sekarang ada ajang main game yang menghasilkan duit, tapi kok rasanya nggak asyik dapet duit dengan cara begitu. Berkarya bagi kemaslahatan umat itu keren. Atau minimal kamu ngabisin jatah sisa usia dengan kehidupan yang serius bagi diri dan keluarga. Ok?

Budaya pun dijajah

Ini memang aneh bin ajaib. Tetapi faktanya nyata. Banyak remaja yang justru gandrung dengan budaya asing. Mending kalo budayanya baik, yang terjadi adalah sekadar memuaskan nafsu diri, dan bahkan ada yang bermaksiat. Apa contohnya? Wah, kamu tahu soal cosplay? Ok, itu salah satu contoh penjajahan budaya! Kok, bisa? Kan kita cuma senang-senang pake doang? Justru itu, Bro en Sis. Berarti masih ada rasa kagum pada budaya luar bahkan menganggap itu baik dan menerapkannya. Dijajah itu namanya.

Cosplay itu berasal dari budaya Barat yang masuk ke Jepang, istilah tersebut berasal dari kata costume dan play dimana seseorang akan memakai riasan serta pakaian seperti tokoh kartun, komik, dongeng, atau artis. Ketika mulai merebak di Jepang, kata-kata cosplay ditulis dengan katakana dan ejaannya menjadi kosupure (karena orang Jepang sulit melafalkan konsonan). Orang yang melakukan aktivitas cosplay disebut sebagai cosplayer. Jadi singkatnya arti cosplay adalah permainan kostum (custome play) dimana orang-orang akan menggunakan baju dan kostum seperti tokoh game, anime, film kartun, dan juga musisi atau artis idola. (solusik.com)

Ada juga info di sebuah blog bahwa permainan kostum atau cosplay adalah istilah bahasa Inggris buatan Jepang (wasei-eigo) yang berasal dari gabungan kata “costume” (kostum) dan “play” (bermain). Di kalangan penggemar, cosplayer juga disingkat sebagai coser, salah satu cosplayer—katanya sih berbakat– di Indonesia adalah Yukitora Keiji.

Di Jepang, peserta permainan kostum bisa dijumpai dalam acara yang diadakan perkumpulan sesama penggemar (dōjin circle), seperti Comic Market, atau menghadiri konser dari grup musik yang bergenre visual kei. Penggemar permainan kostum termasuk pemain kostum maupun bukan pemain kostum sudah tersebar di seluruh penjuru dunia, yaitu Amerika, RRC, Eropa, Filipina, maupun Indonesia.

Mirisnya, banyak lho remaja muslim yang keranjingan menjadi cosplayer. Duh, nggak asyik banget kalo pas lagi show merias diri dan berpakaian dengan menampilkan karakter Naruto, ajalnya datang. Udah gitu muncul dalam berita: “Remaja Muslim Tewas Saat Jadi Cosplayer Naruto”. Hadeuh, kebayang deh, sosok itu digotong jenazahnya mengenakan costum Naruto. Padahal, sebaik-baik cita-cita dan juga pelaksanaannya, adalah berjihad di jalan Allah. Ini kok malah jadi cosplayer.

Sobat gaulislam, menjadi remaja muslim itu kudu bangga dengan Islam, lho. Aneh aja kalo ngakunya muslim tapi pikiran dan perbuatan jauh dari ajaran Islam. Malah asyik bin semangat menerapkan budaya selain Islam. Rugi di akhirat, Bro en Sis. Semua itu akan dimintai pertanggungan jawabnya. Beneran!

Bro en Sis, gimana perasaan kamu kalo ternyata temanmu malah gandrung dengan budaya di luar Islam? Kalo punya ghirah alias semangat keislaman yang kuat, nggak bakalan ikut-ikutan gandrung. Sebaliknya malah nasihatin temanmu itu. Why? Karena seorang muslim itu hati dan pikirannya peka dan peduli. Peka alias sensitif kalo ada sesuatu yang nggak sesuai ajaran Islam, maka akan menolak dan mencari tahu sebabnya. Peduli akan ditunjukkan dengan nggak mau lihat temannya dijajah oleh budaya tersebut lalu berakibat terjerumus dalam kegiatan yang sia-sia, apalagi kegiatan maksiat. Nggak rela. Itu sebabnya, akan menasihati temannya.

Remaja muslim itu seharusnya hanya belajar dan memahami serta mengamalkan budaya Islam, bukan budaya dari selain Islam. Walau ada hal yang baik dari budaya selain Islam, tetap saja kita kudu waspada, jangan sampai ikut-ikutan lalu terbelenggu dengan budaya tersebut dan akhirnya menjadikan sebagai gaya hidup. Itu namanya dijajah, Bro en Sis.

 

Islam menyatukan semua

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Sebenarnya nggak masalah lho, mencintai tanah air. Tapi kalo kecintaan kepada tanah air lalu mengantarkan kita jadi berpaham nasionalisme, itu yang nggak boleh. Kenapa? Sebab, nasionalisme itu adalah sebuah ide dimana satu bangsa dengan bangsa lain hanya terikat dengan kesamaan ras atau etnis itu. Lalu merasa paling unggul, atau minimal ingin berbeda karena punya ciri khas masing-masing. Selain itu, wilayah negara juga dibatasi. Menurut Islam, ini yang nggak boleh. Bahkan diharamkan.

Lain halnya dengan mencintai tanah kelahiran, itu bagian dari fitrah manusia. Kecintaan terhadap tempat kelahiran menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup manusia sebagai makhluk sosial, begitu pula cinta terhadap tanah kelahirannya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam ketika ia diusir dari Makkah oleh orang-orang Quraisy:

“Telah menceritakan pada kami Qutaibah, telah menceritakan pada kami al-Laits dari Uqail dari az-Zuhri, dari Abu Salamah dari Abdullah bin Adi bin Hamra’ berkata:”Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam berdiri di atas al-Hazwarah sembari bersabda:Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah benar-benar sebaik-baik bumi Allah dan juga merupakan bumi-Nya yang paling Dia cintai. Seandainya saja aku tidak dikeluarkan darimu, niscaya aku tidak akan pergi (meninggalkanmu)” (HR at-Tirmidzi, no: 3860)

Tapi nasionalisme, adalah bagian dari ashobiyah. Ini dilarang dalam Islam. Nasionalisme juga bagian dari upaya para penjajah (musuh-musuh Islam) untuk membuat lemah kaum muslimin. Jadi, meskipun negerinya banyak, lebih dari 50 negeri muslim, tetapi tak bisa bersatu apalagi punya kekuatan yang besar untuk mengusir musuh-musuh Islam. Apa sebabnya? Karena negeri-negeri muslim dibatasi wilayah, dibatasi kepentingan, dibatasi urusan negeri mereka sendiri. Ini jelas melemahkan dan membuat negeri muslim masih terjajah sampai sekarang. Artinya, memang belum sesungguhnya merdeka.

Oya, kamu perlu tahu larangan nasionalisme dalam Islam. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “man kharaja minath thâ’ati wa fâraqal jamâ’ata tsumma mâta mâta mîtatan jâhiliyyatan wa man qutila tahta râyatin ‘ummiyyatin yaghdhabu lil ‘ashabiyati wa yuqâtilu lil ‘ashabiyati falaysa min ummatî wa man kharaja min ummatî ‘alâ ummatî yadhribu barrahâ wa fâjirahâ lâ yatahâsya min mu`minihâ wa lâ yafî bidzi ‘ahdihâ falaysa minnî”

“Siapa saja yang keluar dari ketaatan dan memecah belah jamaah lalu mati, dia mati dengan kematian jahiliyah. Dan siapa yang terbunuh di bawah panji buta, dia marah untuk kelompok dan berperang untuk kelompok maka dia bukan bagian dari umatku. Dan siapa saja yang keluar dari umatku memerangi umatku, memerangi orang baik dan jahatnya dan tidak takut akibat perbuatannya terhadap orang mukminnya dan tidak memenuhi perjanjiannya maka dia bukanlah bagian dari golonganku-” (HR Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, an-Nasai)

‘Ashabiyah itu berasal dari ‘ushbah (kelompok) dan ‘ashabah (kerabat laki-laki). ‘Ashabiyah maknanya ikatan kelompok baik kelompok keturunan maupun yang lain. Nasionalisme, kesukuan, golongan, kedaerahan, jamaah, partai, kemadzhaban, dan lainnya, termasuk dalam makna ‘ashabiyah.

Hanya saja larangan atau keharaman ikatan ‘ashabiyah itu bukan berarti tidak boleh mencintai suku, daerah, keluarga, jamaah, kelompok, golongan, madzhab. Melainkan maknanya adalah tidak boleh atau haram menjadikan ikatan ‘ashabiyah itu di atas segalanya, di atas kebenaran dan di atas ikatan Islam dan keimanan, di atas ukhuwah islamiyah. (mediaumat.news)

Sobat gaulislam, dengan demikian, kalo kita masih meyakini dan menganggap bahwa nasionalisme itu baik dan benar (padahal bukan berasal dari Islam), maka kita bisa dikatakan masih terjajah. Mestinya, kita ini muslim dan seharusnya meyakini kebenaran ajaran Islam. Bukan ajaran yang lain.

Jadi, tugas kita dobel nih. Pertama, meyakinkan remaja muslim lainnya agar hanya percaya kepada Islam dan menjadikan Islam sebagai jalan hidup. Kedua, membebaskan negeri kita yang mayoritas Muslim ini dari segala bentuk penjajahan dari pihak asing: militer, budaya, sosial, pendidikan, ekonomi, budaya, politik, hukum, dan pemerintahan.

Sanggup? Harus bisa ya. Itu sebabnya, dibutuhkan kerjasama semua pihak untuk mewujudkan perjuangan ini. Oya, tegak dan diterapkannya Islam sebagai ideologi negara akan menyatukan semua dalam kebaikan. Banyaknya etnis di negeri kita bahkan di seluruh dunia bukan masalah, itu bagian dari pluralitas, yang penting hukum yang diterapkan adalah syariat Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah. Insya Allah, Imam Mahdi dalam waktu dekat akan menjadi khalifahnya. [O. Solihin | IG @osolihin]