Andai Kamu Tahu

Kado Untukmu

 

Sobat muda muslim, moga kabar baik buat kamu semuanya. Met jumpa lagi dengan saya. Moga-moga kamu nggak ikut-ikutan jadi bebek ya? Iya dong, kan udah saya kasih tahu, “Jangan Jadi Bebek” He..he..

Sobat pembaca,  buku yang sedang kamu baca ini adalah sekuelnya dari buku tersebut. Cara penyajiannya sama, yakni meramu tulisan kemudian dikelompokkan ke dalam sub-bahasan dan dikasih solusi langsung. Hampir semua tulisan di buku ini adalah ‘fresh from the oven’, masih anget dan moga-moga saja ‘ever green’. Beberapa di antaranya adalah usulan dari pembaca. Insya Allah, ditanggung antimanyun deh.

Ngomong-ngomong soal semen, eh, soal budaya pop, saya kepikiran sama kamu-kamu, para remaja. Kenapa? Karena remajalah yang paling rentan termakan isu instant culture, yang juga biasa disebut budaya pop. Do you know budaya pop? Betul. Kamu pinter banget deh. Yup, budaya pop adalah budaya yang ringan, menyenangkan, trendi, dan cepat berganti. Nah, teman remaja paling doyan kalo udah njiplak gaya hidup hasil imbas budaya pop. Pokoke, cepet banget nyetelnya euy! Itu sebabnya, saya jadi kepikiran terus sama kamu-kamu. Khawatir kalo kamu terjerumus main ikut-ikutan aja tanpa memandang halal dan haram dalam berbuat.

Kritikus Lorraine Gam­man dan Marga­ret Marshment, keduanya pe­nyunting buku “The Female Ga­ze: Women as Viewers of Popu­lar Culture (1998)”, berse­pakat bah­wa bu­daya popu­ler adalah sebu­ah medan pergu­latan ketika me­ngemukakan bah­wa tidaklah cu­kup bagi kita untuk semata-mata menilai bu­daya populer se­bagai alat kapi­talisme dan pat­riarki yang menciptakan kesadaran palsu di kalangan banyak orang. Bagi mereka, budaya populer juga tempat dipertarungkannya makna dan digugat­nya ideologi dominan. Walah, moga kamu nggak error untuk memahami maksud kritikus ini. J

Celakanya, dalam pertarungan tersebut, siapa pun bisa terlibat dalam lingkarannya. Termasuk tentunya remaja. Perang ideologi nggak bisa dihindarkan lagi sobat, alias kudu pasti terjadi benturan. Lucunya, acapkali kita, kalangan remaja, udah merasa down duluan dari pada harus bertarung melawan budaya terse­but. Hmm.. ini untuk tidak mengatakan kalo remaja biasanya pura-pura tidak tahu apa-apa, dan lebih memilih “terbawa” arus budaya yang lebih kuat. Parahnya lagi, seperti diakui banyak pengamat, bahwa budaya populer yang sekarang lagi ngetren bergerak amat cepat. Saking cepatnya, sampe tanpa sadar kita dipaksa patuh dengan logic of capital, logika proses produksi, yakni hal-hal yang dangkal dan cepat ditangkap yang cepat laku. Inilah yang sering dijuluki sebagai instans culture.

Anthony Giddens menyebutnya sebagai dunia yang sedang berlari. Dan semua yang berlari selalu satu track lebih tinggi. Celakanya lagi, bagi penikmat produk akhirya tidak memiliki kesempatan untuk merenungkan lebih dalam. Yang penting dalam dunia ini adalah menjual dan membeli. Sekali lagi, menjual dan membeli. Mereka jual, kita beli dengan menerapkan budaya dan gaya hidup mereka. Nah lho.

Kamu bisa lihat gimana sregepnya teman-teman remaja saat gandrung dengan tren yang muncul saat ini. Cepet banget nyetelnya. Udah nggak pernah pake kalkulasi untung-rugi lagi. Apalagi mikir halal-haram, kayaknya blas deh. Pokoknya, kalo itu dianggap baru dan trendi, hajar aja. Nyang penting dapat label anak gaul. Habis perkara. Astaghfirullah…

Sobat muda muslim, nggak selamanya yang baru dan trendi itu baik lho buat kamu. Kalo soal ilmu pengetahuan dan teknologi, boleh aja kamu ikutan nyetel. Itu sebabnya, kamu jangan kuper-kuper amat dalam masalah ini. Tapi sayangnya, teman-teman remaja lebih mudah nyetel kalo urusannya dalam gaya hidup. Soalnya, memang mudah ditiru sih. David Beckham, suaminya Victoria Adams, cepat jadi idola. Model rambutnya dicontek abis. Pas doi kepalanya plontos, banyak para akhwat, eh, cewek langsung teriak histeris. Begitu ganti model lagi, cepet-cepet pengagumnya meniru total beliau. Aduh, jadi sesembahan deh. Ckckckck…

Genderang perang budaya udah ditabuh saudara-saudara. Ini globalisasi Bung! Semua wajib seragam. Di Amrik heboh Harry Potter, Spiderman, The Lord of The Ring, X-Men United, Matrix Reloaded, sampe Hulk, di sini juga ‘wajib’ ikutan heboh. Nggak seru dan afdhol kalo cuma diem. Semua serentak ngobrolin hiburan kelas dunia ini. Begitu pun ketika rumah-rumah mode Eropa memamerkan busana oke karya perancang dunia, di sini seperti tersihir; ikutan heboh pake. Sekali lagi, inilah globalisasi.

Emang sih, nggak seluruhnya globalisasi itu salah. Nggak semuanya dampak globalisasi bikin kita gerah. Ada kok yang baiknya. Contoh: perkembangan teknologi informasi dan sejenisnya. Namun, teknologi memang ibarat pisau bermata dua; bisa baik, bisa juga buruk. Tapi anehnya, mengapa yang buruk van jelek yang cepet menular dan kadernya beranak pinak? Jawabannya sama: ringan dan trendi. Wasyah! Itu pula yang bikin saya ketar-ketir ngeliat tingkah polah remaja sekarang. Bener.

Oke deh sobat, kamu bisa baca ampe puoool buku ini. Kuliti ampe abis bagian-bagian pembahasannya. Jangan ada yang kelewat. Pokoknya, saya ngasih semuanya buat kamu, sobat muda muslim harapan Islam. Pahami dan amalkan dalam kehidupan, biar kamu nggak jadi bebek.

Atas rasa syukur kepada Allah Swt. saya mengucapkan alhamdulillah. Dengan keridhoan dan cinta-Nya, saya bisa menyelesaikan buku ini. Shalawat serta salam untuk junjungan kita semua, Nabi Muhammad saw. yang telah membawa risalah agung ini bagi umat manusia.

Nggak lupa, saya mengucapkan terima kasih kepada istri, anak, dan keluarga yang ikut memberi semangat supaya saya tetap menulis. Nggak lupa, makasih banget buat Kang Hari Mukti yang bersedia kembali ngasih pengantar dan mengomentari beberapa tulisan di buku ini. Juga buat Kang Iwan Januar, terima kasih atas beberapa tema yang diusulkan. Temen-temen di Permata dan di milis majalah-permata (termasuk temen-temen di Studia dan di milis buletin-studia), yang secara tidak langsung menjadi inspirator dalam penulisan buku ini. Makasih juga buat Penerbit Gema Insani Press, yang terus mendukung penerbitan buku saya, utamanya special thanks buat Pak Hakim dan Mbak Mimin yang selalu ‘ngomporin’ untuk urusan buku saya ini. Pokoknya, untuk semuanya deh, saya berdoa kepada Allah, semoga amalan saudara semuanya diganjar oleh Allah Swt. dengan kebaikan yang berlipat-ganda.

Semoga tulisan ini bermanfaat buat kamu, remaja muslim. Mari kita isi hidup ini dengan amal baik. Jangan menyerah, keep ukhuwah, dan tetap semangat!

 

Bogor, Agustus 2003

O. Solihin

===
Isi Buku ini:

Pengantar Kang Hari Mukti

Pengantar Penulis

 

Bagian 1. Kamu dan Pergaulan

01.  Dari Temen Jadi Demen

02.  Gaya Cinta Valentine’s Day

03.  Incest, Apaan Tuh?

04.  Married by Accident? Ih, Syerem!

05.  Remaja Dugem

06.  Teman Baik

 

Bagian 2. Kamu dan Hiburan

01.  Tamiya Vs Beyblade

02.  Ada Apa dengan Film Remaja?

03.  VCD Porno Bikin Melongo

04.  Komik Kok Porno?

05.  Agama? Soccer!

06.  Beware Nasyider!

07.  Klenik Yang Makin Dilirik

08.  Jajanan Baru; Infotainment!

09.  Digoyang Dangdut Digoyang

 

Bagian 3. Kamu dan Pengajian

01.  Ideologi Ustadz Jaka

02.  Gaya Si Kerudung Gaul

03.  Ngaji Getol, Pacaran Puool!

04.  Optimis Jadi Anak Rohis

05.  Dicari; Remaja Militan!

 

Bagian 4. Kamu dan Orangtua

01.  Cintai Ortumu

02.  Marahan Sama Ortu?

03.  Mengukur Kasih Ibu…

 

Biodata Penulis

Iklan

3 pemikiran pada “Andai Kamu Tahu

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s