Jangan Bilang Cinta

Cinta? Ah, Bener Nih?

[sekadar pengantar]

Boyz and galz, jangan pernah ucapkan kata cinta jika kita masih tak bisa memberikan pengorbanan terbesar dalam hidup kita demi yang kita cintai. Jangan sampe keluar kata cinta jika kita tak berani membela yang kita cintai. Sebab, cinta bukan hanya ucapan yang manis di bibir, bukan kata yang kedengarannya indah di telinga, dan bukan pula tulisan yang membuat kita merasa bahagia. Bukan hanya itu. Karena cinta harus diwujudkan dalam perilaku. ‘Kalimah sakti’ itu harus tercermin dalam perbuatan dan pikiran. Sekali berani bilang cinta, maka seharusnya kita akan berani berkorban, berani membela, berani bertanggung jawab terhadap apa yang kita cintai.

Sobat muda muslim, tolong jangan menggombal atas nama cinta. Jangan pula pura-pura jadi orang yang penuh cinta dengan menipu diri karena sejatinya kita belum sepenuhnya mencintai apa yang kita cintai. Cinta itu bukan main-main, cinta adalah wujud dari keseriusan kita bahwa kita akan berusaha melakukan apa saja demi yang kita cintai. Kalo kita mengecewakan yang kita cintai, tentunya cinta kita palsu. Kalo kita mengkhianati apa yang kita cintai, tentunya bukan cinta sejati. Sebab, jika benar-benar cinta kepada apa yang kita cintai, kita nggak bakalan mengecewakan apalagi mengkhianatinya. Tul nggak sih?

Maka, jangan berani bilang cinta kepada Allah Swt., jika kita ternyata masih melanggar aturanNya. Sungguh sangat aneh jika kita berani mengatakan cinta kepada Allah, sementara kita doyan alias hobi banget menolak perintahNya, sementara laranganNya malah kita lakukan. Pastinya ada yang error alias tulalit kalo kita bilang: “Aku cinta kepada Allah Swt.”, tapi dalam kelakuan kita nggak mencerminkan kecintaan kita kepadaNya.

Misalnya nih, meski sholat rajin dan puasa rajin, tapi perintah Allah Swt. yang lainnya seperti menutup aurat kalo keluar rumah nggak kita lakukan. Anak cewek yang tertutup rapat dengan kain mukena ketika sholat, seharusnya menutup rapat auratnya pula ketika keluar rumah. Seringnya kan nggak ya. Rapi pada saat sholat, begitu keluar rumah malah tampil mengumbar aurat.

Bro, jangan bilang cinta kepada Rasulullah saw., jika ternyata kita masih melanggar aturan yang ditetapkan Rasulullah saw. Sebab, apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw. sejatinya adalah wahyu dari Allah Swt. Ditegaskan oleh Allah Swt. dalam firmanNya: “…kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS an-Najm [53]: 2-4)

Kalo kita masih mengumbar hawa nafsu dengan melakukan aktivitas pacaran, berarti selain melanggar aturan Allah Swt., juga melanggar aturan Rasulullah saw. Dan, tentu aja itu nggak mencintai Allah Swt. dan RasulNya. Allah menjelaskan larangan mendekati zina (lihat QS al-Isra ayat 32). Nah, hadis Nabi juga ada. Beliau saw. bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah tidak melakukan khalwat dengan seorang wanita yang tidak disertai mahromnya. Karena sesungguhnya yang ketiga adalah syaitan.” (HR Ahmad)

Sobat, jangan bilang cinta kepada Rasulullah saw., kalo kita nggak tersinggung ketika ada pihak-pihak yang dengan sengaja melecehkan Rasulullah saw. Aneh banget kan kalo kita ngakunya cinta mati sama Rasulullah saw., tapi kita nggak marah ketika ada orang yang menjelekkan Rasulullah saw.

Terus, jangan pula ngobral bilang cinta kepada ortu kita, Jika kita masih suka melawannya, mencelanya, merendahkannya, dan bahkan menghinanya. Bohong banget kalo kita ngaku-ngaku cinta sama ortu kita, tapi setiap ortu minta tolong untuk kebaikan kita malah menolaknya. Percuma bilang cinta sama ortu, tapi kalo diingetin untuk kebaikan dan kebenaran kita malah menghardiknya. Anak macam apa itu? (muhasabah diri yuk!)

Non, jangan pula kita dengan mudah bilang cinta kepada sesama muslim, kalo praktiknya dalam kehidupan ternyata kita nggak mau bekerjasama saling mengingatkan dalam kebenaran dan saling membantu jika di antara kita mengalami kesusahan. Bohong banget ngaku-ngaku cinta kepada sesama kaum muslimin, tapi ketika ada saudara seakidah kita minta tolong malah dicuekkin. Apalagi sesama aktivis dakwah, mentang-mentang beda kelompok dakwah, lalu nggak mau menolong jika beda kelompok dakwah. Lebih parah lagi jika para aktivis dakwah itu masih sodara kandung. Karena kakaknya beda kelompok dakwah dengan adiknya, lalu ketika mereka membutuhkan pertolongan malah disuruh minta ke temen-temen dari kelompok dakwah masing-masing. Yee.. mana ukhuwahmu? Bohong banget ngaku-ngaku cinta sesama muslim tapi dengan sesama kaum muslimin sendiri nggak mau menolong hanya karena yang akan ditolong beda kelompok dakwah. Kalo gitu caranya, jangan bilang cinta kepada kaum muslimin. Sadar ye akhi wa ukhti…

Oya, rasa-rasanya kita perlu bertanya kepada diri sendiri, benar nggak sih kita cinta sama diri kita sendiri? Jangan ngaku-ngaku cinta sama diri sendiri, jika kenyataannya kita senang menjerumuskan diri dalam bahaya dan kerusakan. Bohong banget bilang cinta ama diri sendiri, tapi setiap hari kita nenggak minuman keras, sering juga mengkonsumsi narkoba, tubuh kita dipenuhi tattoo. Bahkan banyak di antara kita yang mengumbar auratnya dan dipajang di sampul majalah porno atau joget-joget kayak cacing kepanasan mempertontonkan keindahan tubuhnya di layar televisi (termasuk mereka yang menjerumuskan tubuh-tubuh mereka dalam perzinahan).

Menurut saya, mereka adalah orang-orang yang nggak cinta pada dirinya sendiri. Kalo dipikir-pikir, memang sih tubuh kita ya tanggung jawab kita sepenuhnya. Mau diapakan saja terserah kita. Wong, itu tubuh kita. But, kita kudu ingat sobat. Bahwa tubuh kita bukan milik kita. Tubuh kita sejatinya milik Allah Swt. Jadi, tuh tubuh kudu kita pelihara dan dijaga sesuai aturan dari yang menciptakan kita, yakni Allah Swt.

Termasuk nih, jangan bilang cinta kepada lawan jenis kalo dalam praktiknya ternyata kita malah menodai cinta tulusnya dengan ekspresi cinta yang dilarang agama: gaul bebas dengan lawan jenis bukan mahram dan bahkan sampe berzina. Naudzubillahi min dzalik!

Brur an Sis, jangan pula bilang cinta sama Islam kalo praktiknya kita malah nggak mau diatur sama aturan Islam. Bahkan mencampakkan ajaran-ajaran Islam. Naif banget bukan?

Oke deh, moga renungan dalam buku ini bisa ngingetin kita untuk mengevaluasi kehidupan kita: Apa benar kita udah cinta banget sama Allah, RasulNya, ortu kita, kaum muslimin, Islam, kepada lawan jenis, dan cinta kepada diri kita sendiri jika kita masih berperilaku yang justru menggambarkan bentuk pengkhianatan terhadap cinta yang kita ikrarkan?

Semoga kita menjadi orang-orang yang benar-benar mencintai Allah Swt., RasulNya, ortu kita, kaum Muslimin, dan diri kita sendiri. Nah, itu harus dibuktikan dalam pikiran dan perbuatan sesuai tuntunan ajaran Islam.

Sobat, selamat membaca risalah kecil dan sederhana dari saya ini dan mengambil manfaatnya. Semoga kita senantiasa diberkahi oleh Allah Swt. dalam kehidupan kita di dunia dan akhirat. Amin.

Bogor, 1 Maret 2007

O. Solihin

===

Isi Buku Ini:

Bagian Satu: Cinta kepada diri sendiri, tapi… [merusak bagian tubuh kita; nggak selektif pilih makanan dan minuman; mengkonsumsi narkoba dan miras; nggak peduli dengan kebersihan dan kesehatan; nekat bunuh diri; nggak menjaga fikrah dari ideologi kufur; nggak melindungi hati dan penyakit yang merusak]

Bagian Dua: Cinta kepada orang tua, tapi… [sering menyakiti hati mereka; nasihatnya nggak didengarkan; sering mengecewakannya; merasa diri lebih hebat dan pinter; sekadar mendoakannya saja nggak pernah]

Bagian Tiga: Cinta kepada lawan jenis, tapi… [mengedepankan cinta buta; nggak bertanggung jawab; nggak menghormati dan menghargainya; nggak saling menjaga kehormatan diri; lebih suka pacaran ketimbang menikah]

Bagian Empat: Cinta kepada Rasulullah saw., tapi… [nggak mau kenal pribadinya; berani menolak perintahnya; nggak tahu perjuangan dakwahnya; tak pernah menjadikannya teladan]

Bagian Lima: Cinta kepada Allah Swt, tapi… [setengah hati mengimani-Nya; senantiasa durhaka kepada-Nya; menduakan-Nya]

Bagian Enam: Cinta kepada Islam, tapi… [malu tampil islami; ogah jadi pejuang dan pembela Islam; nggak mau diatur oleh Islam]

Bagian Tujuh: Cinta kepada kaum muslimin, tapi… [sering membenci dan melukai; ogah amar makruf nahi munkar; menjadikan musuh sebagai teman]

Iklan

4 thoughts on “Jangan Bilang Cinta

  1. assalamu’alaikum, ustadz subhanallah isi buku ini sangat bermanfaat untuk diamalkan…

  2. Siipp.. Ustadz!! mantappp…
    Saya senang kalo baca tulisan ustadz yang temanya berbau-bau CINTA.. hehehe

    1. Ok deh Asep. Kalo senang, langsung praktikkan aja dengan pernikahan. Insya Allah lebih seru! 🙂

      1. Hohohoho….
        Lami keneh ustadz!

        Ustadz.. buku-buku yang berbau-bau Cinta masih ada ga? Insya Allah nanti beli deh… 🙂

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close