Jangan Jadi Seleb

Sebuah Pengantar

Istilah selebritis sudah melekat luar-dalam pada dunia kita, apalagi remaja. Selebritis ibarat besi magnet yang menarik perhatian banyak orang. Televisi, radio, koran, tabloid, majalah rajin memberitakan aktivitas selebritis, hingga yang sekecil-kecilnya. Gebetan (yang lama atau yang baru termasuk yang baru putus), pernikahan, perselingkuhan, perceraian, peliharaan (maksudnya binatang peliharaan), kebiasaan, sampai hal-hal  yang memalukan kalau bisa dan perlu juga dimuat.

Dalam dunia jurnalistik berlaku formula name makes news. Contohnya, putus cinta itu biasa, tapi kalau yang putus cinta itu adalah Justin Timberlake dan Britney Spears, itu luar biasa. Karena siapa yang nggak kenal dua nama itu? Yang cowoknya adalah personil boysband ngetop N’Sync dan satu dari “50 Bujangan Paling Top di Amerika” versi majalah People, sementara yang ceweknya adalah penyanyi yang juga lagi ngetop-ngetopnya. Maka ketika dua pasangan (nggak resmi) ini memutuskan untuk bubar, dunia juga seolah terguncang.

Atau ketika Aaliyah, penyanyi dan aktris cewek kulit hitam yang jadi ratu vampire di film Queen of The Damned, meninggal dalam kecelakaan pesawat, banyak orang tak percaya. Aaliyah masih muda, dan baru saja naik daun. Tidak sedikit remaja kita yang juga ikutan nimbrung. Padahal ketika ratusan mungkin ribuan muslim di Maluku dan Poso meregang nyawa nyaris tidak dipermasalahkan. That’s the power of celebrities.

Ketika Putri Diana meninggal dalam kecelakaan di sebuah terowongan di Paris bersama pacarnya Dodi Al Fayed, dunia terdiam seolah mengheningkan cipta. Jutaan ucapan bela sungkawa dan karangan bunga dikirim untuk Princes of Wales ini. Bahkan ibu-ibu berkerudung di Jakarta pun mengirimkan bela sungkawa. Padahal mereka belum tentu dikenal oleh Putri Diana. Tapi mantan mantu Ratu Elizabeth II ini sudah kepalang ditahbiskan sebagai seleb dan panutan.

Hal yang sama juga berlaku untuk selebritis di tanah air. Nicky Astria cerai, Iis Dahlia kawin lagi, Shandy yang drumer Jamrud tewas OD (overdosis), Jeremy Thomas masuk rumah sakit, semuanya jadi pemberitaan. Mengalahkan kisah Pak Udin yang anaknya masuk rumah sakit gara-gara TBC akibat rumahnya kumuh dan kurang ventilasi, sementara Pak Udin sendiri tidak punya cukup uang untuk menebus obat. Kita terpesona dengan gemerlap kehidupan selebritis, sampai lupa ada kehidupan yang lebih riil di sebelah rumah kita.

Lalu siapa sebenarnya yang berperan dalam kehidupan fantasi ini? Selebritis ataukah media massa? Sulit untuk mendapat jawaban yang benar, semuanya bisa serba subyektif. Selebritis membutuhkan media massa untuk publisitas, sementara media massa membutuhkan selebritis sebagai berita. Maka hiduplah tayangan macam KISS, GO-Show, Cek & Ricek, Kabar Kabari, dan yang sejenisnya. Edisi media cetaknya juga sama-sama mengeruk keuntungan. Tak heran, jika tabloid semacam Bintang Milenia, Bintang Indonesia, Citra, Star Nova, dan sejenisnya. Semuanya menjual kehidupan para seleb; dari yang krusial sampai yang remeh-remeh.

Tidak jarang terjadi saling tuding dan hubungan disharmonis antara pihak selebritis dengan media massa. Sang seleb merasa media terlalu mengekspose kehidupan pribadinya, sementara para ‘kuli disket’ merasa bahwa hal itu adalah bagian dari berita yang layak diketahui publik. Seorang seleb harus menyadari risiko menjadi seorang artis, ia telah menjadi milik publik, begitu kira-kira tanggapan para wartawan. Dessy Ratnasari misalkan, kepalang sudah dicap arogan oleh para jurnalis. Pernikahannya pun sempat diboikot pers dengan tidak meliputnya. Tapi mojang Sukabumi ini ‘maju tak gentar’. Febi Febiola juga hampir mengalami nasib serupa, gara-gara ia meminta pada wartawan untuk tidak meliput resepsi pernikahannya.

Namun apa yang terjadi di tanah air untungnya belum ‘separah’ keadaan di Barat sana. Para selebritis di luar negeri nyaris kehilangan privasi mereka. Diintai dan dikuntit untuk diambil fotonya diam-diam (meski sedang berada di rumah sendiri), adalah bagian kehidupan selebritis yang jauh dari menyenangkan. Kasus yang menimpa Lady Diana–terlepas dari praduga politik seputar kehidupannya–adalah kejadian paling tragis yang menimpa seorang ‘selebritis’. Diana bersama pacarnya Dodi Al Fayed menemui ajal di kolong jembatan layang, Prancis, setelah berusaha menghindari kuntitan sejumlah paparazzi.

Dibalik gelimang harta, ketenaran dan kehormatan, rasanya kita juga patut merasa kasihan pada kaum selebritis. Karena selain mendapat ketenaran, mereka juga telah kehilangan privasi dan ruang gerak yang bebas. Sulit rasanya bagi seorang seleb untuk bisa sekadar duduk nongkrong di warung tegal seperti kita-kita, atau keliling pasar ‘becek’ dengan rasa aman tanpa kejaran, cubitan atau teriakan penggemar. Atau bisa jadi dibalik tawa ceria atau senandung merdu mereka jangan-jangan tersimpan kesunyian atau malah luka hati yang mendalam. Siapa tahu?

Maka bagi para pembaca, khususnya para remaja yang berniat jadi selebritis, alangkah baiknya merenung dalam-dalam sebelum mengambil cita-cita tersebut. Setidaknya, bacalah buku ini dengan hati ikhlas dan pikiran yang jernih. Karena buku ini kami buat dengan rasa cinta dan ukhuwah, bukan kebencian dan iri hati.

Terakhir, ucapan terima kasih kami haturkan kepada keluarga kami berdua, istri-istri dan anak-anak, orang tua yang selalu memberi support tanpa henti agar kami berdua menjadi orang yang benar, berani berkata benar dan bertindak benar. Juga pada rekan-rekan di ‘klub’ Permata yang telah membantu secara teknis dan pemikiran sehingga buku ini kelar juga digarap, khususnya untuk akhi Andi atas ketekunannya menelusuri data-data di dunia nyata dan ghaib (baca: maya). Dan rekan lainnya yang tak bisa kami sebutkan satu per satu di buku ini. Terima kasih atas support Anda semua berupa sumbang saran dan pemikiran dalam proses pembuatan buku ini. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan yang lain.

Dan tak lupa, meski ini yang utama, syukur kami kepada Allah Swt. yang telah menurunkan risalah Islam sehingga menjadi pegangan hidup kita semua. Sehingga kita bisa mengukur benar-salah dari sudut pandang yang benar dan riil, bukan absurd.

Akhirnya, kepada para pembaca, khususnya sobat remaja, jangan pernah berhenti untuk berpikir serius tentang kehidupan, dan jangan pernah malu untuk berhenti dari ketidakbenaran. Selagi masih ada waktu.

Bogor, Agustus 2002

O. Solihin & M. Iwan Januar

==

Isi buku ini:

Pengantar Penulis                                                

Daftar Isi                                                                   

Bab 1, Siapa Sih Seleb?

01. Menurut Kamus

02. Menurut Masyarakat

Bab 2, Kenapa Ingin Jadi Seleb?

01. Cepat Tajir

02. Ngetop dan Beken

03. Dipuja Cowok dan Cewek

Bab 3, Kelakuan Gila Seleb

01. Atraksi Panggung

02. Hari-Hari Narkoba dan Miras

03. Perlombaan Pamer Aurat

04. Ulah Aneh dan Menyebalkan

05. Perceraian dan Seks Bebas

Bab 4, Alasan Jangan Jadi Seleb

01. Beken + Kaya=Bahagia?

02. Beken + Kaya= Sombong?

Bab 5, Untuk Kita Renungkan

01. Teladan dan Dosa? Jangan La Yauw

02. Kenapa Cari Yang Lain?

03. Nikmati Dirimu Sendiri

04. Catatan Bagi Orang Tua: Selamatkan

Generasi Tasya

Biodata Penulis

Iklan

5 pemikiran pada “Jangan Jadi Seleb

    1. Hehehe…baru ngeh ya? 🙂 Terima kasih ya atas kunjungannya ke blog saya. Semoga bermanfaat. Oya, semoga buku Jangan Jadi Seleb menambah wawasan ya. Terima kasih sudah membelinya.

      1. saya kan baca bukunya sudah beberapa tahun yg lalu. bener2 ga nyangka klo suatu saat bisa ketemu langsung dengan penulisnya.

        pasti pak… buku2 bapak selalu bermanfaat, ngajarin tapi ga menggurui 😀

        1. Hehe gitu ya? Alhamdulillah akhirnya bisa ketemuan juga antara penulis dengan pembacanya. 🙂
          Terima kasih Mbak Dewiyani atas apresiasinya thd buku2 saya.

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s