Muda Luar Biasa!

Politik Itu Nggak Kejam

[sebuah pengantar]

Alhamdulillah. Segala puji kita panjatkan hanya kepada Allah Swt. Bukan kepada yang lain. Kita berusaha merendahkan diri kita di hadapanNya, sebagaimana dalam setiap sholat kita membaca surat al-Faatihah. Ada pengakuan jujur dari kita bahwa hanya Allah Ta’ala sajalah, tiada yang lain yang disembah dan dimintai pertolongan: Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin.

Dalam ilmu balaghah, untuk menggambarkan makna “membatasi” atau pengkhususan dikenal dengan istilah “Taqdiimu maa ahaqqohu at-ta’khiiru” (mendahulukan yang seharusnya diakhirkan). Seperti dalam kalimat Iyyaka na’budu (hanya Engkaulah yang kami sembah). Berarti ini menutup kemungkinan bagi yang lain yang akan kita sembah. Akan berbeda jika ditulis: Na’budu iyyaka (kami menyembahMu). Rasa bahasanya lain, dan pernyataan itu masih ada kemungkinan untuk menyembah yang lain selain Allah.

Itu sebabnya, saya cuma ingin menekankan bahwa dalam hidup ini, hanya kepada Allah Swt. sajalah kita menyerahkan segala urusan. Bukan kepada yang lain. Itu artinya pula, bahwa hanya kepada Allah azza wa jalla sajalah kita menghaturkan pujian sebagai rasa syukur atas karuniaNya kepada kita selama ini.

Sobat muda muslim, sayangnya saat ini kita masih menyaksikan begitu banyak kaum muslimin yang masih belum bisa meyakinkan dirinya bahwa hanya Allah yang wajib disembah. Buktinya, nggak sedikit kaum muslimin yang masih menjadikan pelindung selain Allah. Masih banyak pula yang nggak yakin kalo Islam tuh pembawa rahmat bagi semua. Dalam kehidupan sehari-hari aja nggak mau ngikut apa kata al-Quran. Kehidupan kudu dijauhkan dari aturan agama. Dengan kata lain, agama cuma boleh diobrolkan dan diamalkan di masjid saja. Itu pun sebatas akidah dan urusan ibadah mahdhoh. Bukan urusan politik. Katanya sih politik ada bagiannya sendiri. Yakni yang ngurusin adalah negara.

Wah, kalo gitu berhasil banget tuh Prof Dr Snouck Hurgronje dalam upaya depolitisasi Islam. Saat menghadapi tekanan dari pribumi, pihak penjajah tentu saja tidak tinggal diam. Setelah mendapat masukan dari Prof. Dr. Snouck Hurgronje, yang diangkat sebagai Advisieur voor Inlandsche Zaken penjajah Belanda menerapkan Dutch Islamic Policy. Dari hasil riset Snouck, baik selama di Mekkah maupun di Aceh, diakuinya bahwa ulama dan santri adalah kelompok kecil yang sangat mempengaruhi pandangan politik rakyat dan raja-raja atau sultan-sultan di Indonesia. Snouck melihat bahwa Islam sebagai agama dan Islam sebagai politik. Ulama dan santri itu sendiri tidak berbahaya. Itu sebabnya, Belanda kemudian mulai menyusun program untuk memisahkan ulama dari politik. Snouck juga menyarankan agar pemerintah Belanda menjalankan “dwikebijaksanaan (twin policies), yakni menganjurkan adanya toleransi agama, dan menindak dengan kekerasan terhadap ulama yang masih melancarkan kegiatan politik dan militer.”[1]

Penolakan terhadap sistem politik Islam, kaum orientalis selalu beralasan karena hal itu akan menyebabkan kekuasaan berada di tangan para ulama yang akan memerintah secara teokrasi.[2] Itu sebabnya, pemahaman ini kemudian berkembang ke berbagai kalangan, terutama yang aktif adalah kalangan sekuler. Mereka bertujuan untuk menggiring kaum muslimin agar terpisah dari pemahamannya tentang Islam sebagai solusi atas seluruh aspek kehidupan.

Mereka sekuat tenaga ingin menciptakan sekularisme di tubuh umat Islam. Buktinya, ada pernyataan dari mereka bahwa tidak ada jalan kebangkitan kembali kecuali dengan meniru Eropa. Tidak perlu sampai kepada bentuk pemisahan total antara kegiatan pemerintahan dan keagamaan, tapi cukuplah dengan cara membekukan kegiatan para ulama hanya di masjid-masjid, membatasi pembahasan Islam semata tentang makarimul akhlaq, atau cuma menerangkan fiqh ibadah, atau mengerti syiar Islam sampai pada batas ritual perkawinan maupun pemakaman saja.[3]

Sobat, upaya depolitisasi alias meminggirkan politik dari kehidupan umat ini sangat berbahaya, lho. Salah satunya adalah yang paling kentara umat jadi cuek bebek aja ama urusan saudaranya yang lain. Padahal, memikirkan urusan kaum muslimin adalah bagian dari aktivitas politik. lho. Mohon jangan tega-teganya bilang kalo politik tuh cuma urusan kekuasaan aja. Nggak. Politik itu luas banget. Bukan hanya pemerintahan, tapi juga ngebahas hukum, pendidikan, sosial, budaya, ekonomi, pengadilan dan seluruh aspek kehidupan.

Memang sih, anggapan beberapa kalangan masyarakat bahwa politik tuh dianggap selalu berurusan dengan tujuan menggapai kekuasaan semata. Sehingga cara apa pun bisa ditempuh asalkan dapetin kekuasaan. Boleh dibilang politik tuh najis or kotor. Mungkin nggak salah-salah amat karena prakteknya kan begitu selama ini. Udah ada di atas dan duduk tenang malah nggak mikirin urusan rakyat. Mungkin benar juga pernyataan Hans J. Morgenthau bahwa apa pun yang menjadi tujuan akhir kekuatan politik, kekuasaan selalu merupakan tujuan yang paling seketika. Para negarawan atau rakyat akhirnya dapat berusaha memperoleh kemerdekaan, keamanan, kemakmuran atau kekuasaan itu sendiri.[4]

Pendapat yang agak sedikit berbeda disampaikan Joyce Mitchell, dalam Political Analysis and Public Policy, menyatakan bahwa, “Politik adalah pengambilan keputusan kolektif atau pembuatan kebijakan umum untuk masyarakat seluruhnya.[5] Sementara menurut David Easton dalam bukunya A System Analysis of Political Life, menyatakan bahwa, “Sistem politik adalah keseluruhan interaksi yang mengatur pembagian nilai-nilai secara autoritatif (berdasarkan wewenang) untuk dan atas nama masyarakat.”[6]

Tuh kan, seharusnya emang politik itu alat untuk mensejahterakan kehidupan masyarakat umum yang dilakukan oleh negara. Teorinya kan begitu, meski praktiknya emang jauh banget. Maklum, dalam kehidupan kapitalisme-sekularisme saat ini, meski teorinya ‘berniat’ baik, tapi prakteknya sering tulalit.

Oya, kamu juga kayaknya perlu mengenal definisi politik yang lainnya. Ini jarang-jarang lho dipelajari dalam Islam. Padahal, ulama-ulama Islam juga jagoan soal politik. Salah satunya adalah pendapat Syaikh Abdul Qadim Zallum rahimahullah yang menyatakan bahwa, “Politik (siyasah) mempunyai makna mengatur urusan umat, baik dalam maupun luar negeri. Politik dilaksanakan baik oleh negara maupun umat. Negara mengurus kepentingan umat, sementara umat melakukan koreksi terhadap pemerintah.[7]

Jadi, nggak usah ngebayangin en ngasih cap kalo politik tuh kejam, najis, kotor hanya karena melihat perilaku aktivisnya. Apalagi kalo udah denger lrik salah satu lagunya Bang Iwan Fals yang kayak gini nih, “Setan-setan politik yang datang men­cekik, walau di musim paceklik tetap mencekik, Apakah selamanya politik itu kejam. Apakah selamanya dia datang ‘tuk meng­hantam…”

Nggak kok. Politik nggak kejam. Berpolitik itu justru upaya memberikan perhatian lebih kepada urusan kaum muslimin. Kita semua bisa. Meski nggak harus belajar dulu di perguruan tinggi. Insya Allah. Tapi tentunya politik ini akan lebih kuat dan kokoh jika diterapkan oleh negara.

Sayangnya, sejak hancurnya negara Islam, Khilafah Islamiyah di Turki Utsmaniy pada 3 Maret 1924, kaum muslimin udah kehilangan gairah untuk berpolitik. Seiring dengan propaganda dari musuh-musuh Islam untuk menjauhkan umat ini dari urusan politik. Upaya pemisahan politik dari agama ini kian gencar saja sampai sekarang. Menyedihkan banget, Bro. Padahal, umat Islam ini akan bisa bangkit dan membangun kembali kejayaan Islam jika sudah mau bergelut dengan urusan politik.

Nah, di buku kecil inilah selain dibahas secara singkat tentang pengertian politik, pentingnya berpolitik, juga semoga bisa meluruskan kembali pemahamannya tentang politik. Tidak memandang jijik atau takut terhadap politik. Dan, kamu semua rasa-rasanya siap untuk dapetin informasi dan wawasan ini. Itu sebabnya saya sudah berusaha meyakin-yakinkan diri bahwa masalah politik ini juga harus disampaikan kepada remaja. Remaja juga butuh politik. Semoga tecapai.

Dalam pengantar singkat ini, saya juga ingin menyampaikan ungkapan rasa syukur hanya kepada Allah Swt. yang telah memberikan kekuatan, kesempatan, dan ilmu kepada saya untuk menuliskan buku ini. Kemudian saya bagikan lagi kepada kamu semua. Karena menurut Imam Ali bin Thalib, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Semoga tulisan ini menjadi pahala bagi penulis dan ilmu bagi pembaca lainnya. Amin.

Untuk Dik Nur Handayani, istri saya tercinta. Terima kasih ya atas segala kesabaran, perhatian, dan kepeduliannya. Juga semangatnya agar saya tetap istiqomah dalam menyampaikan kebenaran via tulisan ini. Semoga Allah memberkahimu. Ngak lupa buat Qais, Rafi, dan Sausan, keceriaanmu semangatku.

Keberhasilan saya selama ini juga tak lepas dari doa orangtua. Itu sebabnya, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada ayah dan ibu. Terima kasih karena sejak kecil saya sudah dilatih untuk mau belajar tentang Islam.

Nggak lupa kepada Mas Burhan Shadiq yang telah bersedia menjadi “jembatan” untuk memberi kesempatan kepada saya dalam proses penerbitan buku sederhana ini. Semoga kebersamaan kita terus terjalin dan mendapat ridho dan berkah dari Allah Swt. Amin.

Terakhir, makasih buat teman pembaca yang senantiasa semangat dalam belajar Islam. Semoga buku ini memberikan alternatif bacaan yang benar dan baik. Ditunggu tegur-sapa hangat dan kritik membangunnya buat penulisan saya selanjutnya. Terima kasih dan tetap semangat! Salam perjuangan dan kemenangan ideologi Islam!

Bogor, 14 Nopember 2008

O. Solihin


[1] Ahmad Mansur Suryanegara, Menemukan Sejarah, hlm. 241[2] Dr. Abdul Ghafar Aziz, Islam Politik, Pro & Kontra, hlm. 1

[3] Dr. Abdul Ghafar Aziz, idem, hlm. v-vi

[4] Hans J. Margenthau, Politik Antar Bangsa, hlm. 41

[5] Prof. Miriam Budiarjo MA, dkk, Pengantar Ilmu Politik, Universitas Terbuka, 1999, hlm. 1.16

[6] Prof. Miriam Budiarjo MA, dkk, idem, hlm. 1.17

[7] Abdul Qadim Zallum, Pemikiran Politik Islam, hlm. 1

===

Isi Buku Ini:

Bagian Satu: Icip-icip Politik

Ngomongin politik itu asyik

Pengertian politik

Perlunya kesadaran politik

Politik Yes, Agama Yes!

Buah sekularisme

Agama dan negara: wajib kompak dong ya

Islam, Ya Islam!

Ketika Islam dipertanyakan

Islam for All

Islam… I’m in Love

Bukan cinta biasa

Kenali, sayangi!

Bring ISLAM Back!

Umat ini sedang sakit

Islam yang bagaimana?

Wah, nanti dicap radikal, dong?

Bagian Dua: Sadar Politik Itu Perlu

Bedanya Tawuran dan Intifadhah

Pahala dan dosa

Masihkah kita peduli?

Antara kecintaan dan kebencian

Percaya HAM? Nggak Deh!

Sekilas sejarah HAM

Atas nama HAM

Islam mengatur HAM

Demokrasi Sudah Basi!

Kita tak butuh demokrasi

Kobarkan revolusi!

Cuma Islam di Hati Gue

Bela siapa? Tentu belain Islam, dong!

Mengingkari kemungkaran

Islam the way of life

Ayo Bangkit!

Mengapa harus bangkit?

Mulai dari mana?

Kebangkitan yang hakiki

Bagian Tiga: Takut Politik? Nggak Jaman!

Masihkah Kita Punya Idealisme?

Nggak murni salah remaja kok

Perlu idealisme

Kudu dibina dari sekarang

Jangan Mau “Dipolitikin”

Kita telah jadi korban

Upaya depolitisasi

Remaja Militan, Siapa Takut?

Yang muda yang militan

Pilihan mana, jadi militan atau pengecut?

Jangan ngerasa lebih istimewa

Kaum Muslimin Teroris? Asal Deh!

Targetnya: Mencitraburukkan Islam

Siapa sebenarnya teroris?

Sabar dan tetap berjuang

Indahnya Jadi Syuhada

Bukan teror

Bukan bunuh diri

Mau dong jadi syuhada…

Misteri “Bom Kuningan”

Tuduhan yang nggak kreatif

Teroris dan agenda Amerika

Bagian Empat: Politik? Gue Banget!

Amerika, Islam, dan Kita

Amerika sebagai musuh?

Islam sebagai kekuatan

Kita sebagai pejuang

Palestina, Riwayatmu Kini

Taktik Israel

Palestina bagian dari Islam

Butuh perjuangan bersama

Afghanistan; Lukamu, Lukaku

Jahatnya Amrik

Lukamu, lukaku

Lalu bagaimana?

Irak Today

AS menyerbu Irak demi minyak?

Semangat Perang Salib?

Save Irak!

Saudara Kita di Mana-mana

Sayangnya, saat ini kita lemah

Gimana caranya?

Islamnya Satu, Pejuangnya Banyak

Dirintis Rasulullah saw.

Satukan perjuangan!

Bangkit dong, sobat!

Epilog

Daftar Rujukan

Profil Penulis

Iklan

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s