Ngaji; Sampai Nanti Sampai Mati

[karena cinta kita mengaji]

Ba’da salam dan tahmid. Aku persembahkan buku ini dengan cinta, agar bisa dicerna bahasanya, dipahami maksudnya, diamalkan isinya. Karena cinta adalah gerak. Ia akan mampu hasilkan berjoule-joule energi untuk meraih sebuah keinginan, harapan, cita-cita. Cinta juga akan meyakinkan diri kita bahwa tak ada satu pun yang lebih wajib dicintai kecuali pencipta kita dan pemilik seluruh alam raya, Allah Swt. Cinta menumbuhkan bunga-bunga indah di taman hati, yang akan terus mekar karena disirami dengan kasih yang suci. Bunga-bunga indah di taman hati adalah perlambang, bahwa kita masih memiliki kepedulian dan cinta di hati kita. Kepedulian bukan hanya untuk diri kita. Sebagaimana kembang yang tumbuh di taman, ia menginspirasi banyak lebah untuk hinggap dan bermesraan dengannya. Cinta yang tumbuh di hati kita, akan menyegarkan setiap orang yang berdekatan dengan kita.

Cinta kepada sesama bukan semata terwujud dalam kedekatan dengan mereka, tak selalu harus membaur menjadi satu dan hidup bersama. Tidak sebatas itu. Tapi kepedulian dan cinta adalah memberikan manfaat bagi orang yang berada di sekeliling kita. Kepedulian dan cinta adalah menjadikan setiap jiwa yang belum menerima cahaya keimanan terinspirasi mengikuti cahaya kebenaran yang kita bawa atau kita mengikutinya dari teman kita. Kepedulian dan cinta, adalah gambaran tentang aktivitas dakwah. Mereka yang memilikinya, pastilah orang-orang terpilih yang rela membagi kesenangan diri demi orang-orang yang dicintainya. Mereka juga memiliki rasa cumburu yang tinggi ketika orang-orang di sekitarnya tak peduli lagi dengan kebaikan, senantiasa mencampakkan ketakwaan, dan merendahkan keimanan. Mereka adalah orang terdepan yang mengajak siapa pun untuk berpikir, merasakan, menyadari, dan interospeksi diri. Inilah kuatnya cinta.

Buku Ngaji; Sampai Nanti Sampai Mati adalah catatan-catatan ringan dan kecil tentang pengajian dan dakwah. Goresan pesan yang tertanam dengan kuat demi cinta. Pengabdian tak bertepi dari mereka yang peduli dengan dakwah, cinta dengan sesama. Jalan ngaji dan dakwah adalah jalan kecintaan para pejuang. Tak bisa dibeli dengan harga murah, karena tak bisa ditukar dengan begitu mudah. Butuh keberanian dan pengorbanan untuk menebusnya. Pengemban dakwah bukan berarti mereka tak suka dengan harta. Tetap sajalah, mereka juga mencintai pernik keindahan dunia. Namun, tak berobsesi menjadikannya sebagai tujuan utama dan terakhir. Tidak. Dunia itu indah dan perhiasannya boleh dimiliki. Tetapi sesuai keperluan dan sebatas kebutuhan saja. Andaipun diberikan harta berlimpah, namun keinginannya berbagi dan menginfakkan harta dengan sesama dan di jalan perjuangan dakwah tetap menjadi prioritas. Sebagaimana kecintaan Umar bin Khaththab ra yang ingin berbagi separuh hartanya di jalan perjuangan. Sebagaimana Abu Bakar as-Shiddiq ra yang bahkan memberikan seluruh hartanya untuk perjuangan Islam. Beliau merasa yakin bahwa Allah Swt akan menjamin hidupnya. Kecintaan tak terbatas dari orang-orang berpunya juga dimiliki Abdurrahman bin ‘Auf.

Abdurrahman bin Auf mendengar Rasulullah saw. berkata kepadanya: “Wahai Ibnu Auf sesungguhnya kamu termasuk orang yang kaya raya, akan tetapi kamu akan memasuki surga dengan merangkak. Maka berilah pinjaman kepada Allah (yaitu menafkahkan hartanya di jalan Allah), niscaya Allah akan menolongmu membebaskan kedua kakimu.” (HR Imam Ahmad)

Semenjak mendengar itu Abdurrahman menjadi sahabat yang paling ‘royal’ dalam bersedekah. Suatu hari dia membeli tanah seharga 40.000 dinar kemudian membagikan semuanya kepada keluarga Bani Zahra, kepada isteri-isteri Rasululah saw. dan kaum muslimin yang fakir. Pada kesempatan lain, dia menyediakan 500 ekor kuda untuk berjihad fisabilillah. Pada hari yang lain lagi, ia menyerahkan 1500 ekor kuda. Pada saat meninggalnya, dia mewasiatkan 50.000 dinar dan berpesan pula agar para pejuang Badar yang masih hidup, masing-masing diberi 400 dinar.

Ya, cinta kepada Allah Swt., Rasululullah saw., dan kepada dakwah Islam akan memberikan nilai lebih bagi orang yang merasakannya. Dalam satu riwayat disampaikan bahwa Anas r.a. berkata: “Tidak pernah Rasulullah dimintai sesuatu melainkan pasti ia memberikannya. Sungguh telah datang seorang peminta kepadanya, maka diberinya kambing yang berada di antara dua bukit, hingga ia kembali kepada kaumnya dan mengajak kaumnya: Hai  kaumku segeralah kamu masuk Islam, karena Muhammad memberi seperti pemberian orang yang sama sekali tidak kuatir habis atau menjadi miskin. Sungguh dahulunya seseorang masuk Islam tidak lain karena ingin dunia, tetapi tidak lama kemudian mendadak ia cinta pada Islam melebihi dari semua kekayaan dunia.(HR Muslim)

Catatan-catatan ringan tentang ngaji dan dakwah ini, aku kumpulkan dari pengalaman yang berserak. Baik pengalamanku maupun pengalaman orang lain yang aku temui atau aku baca kisahnya di manapun. Selain catatan pengalaman, di buku ini juga catatan pesan tentang ngaji dan dakwah yang semoga menjadi bekal tambahan ilmu dan wawasan. Semoga saja memberikan kesadaran dan kecintaan kepada ngaji dan dakwah. Memang ngaji dan dakwah itu berat. Tetapi bukan berarti sulit untuk dilakukan. Jalan dakwah juga terjal dan banyak godaan. Tetapi bukan berarti harus menyerah. Tidak. Bahwa anak ngaji dan pengemban dakwah adalah manusia biasa, itu benar. Bahwa anak ngaji dan pengemban dakwah memiliki sisi kebaikan dan juga ada sisi buruknya, juga tidak salah. Manusiawi. Tapi yang terpenting adalah kesadaran untuk terus menjadi yang terbaik, dan kemauan untuk mengubah perilaku buruk menjadi baik.

Ngomongin tentang beratnya kehidupan, Aa Gym, dalam narasi awal di salah satu lagu The Fikr bertutur: “jalan berliku, terjalnya tebing, curamnya jurang, bukanlah sesuatu yang mengerikan. Yang paling mengerikan adalah kehilangan keberanian untuk mengarungi kehidupan. Siapapun yang berani mengarungi kehidupan, dia harus menikmati hiruk-pikuk kesulitan, terjalnya masalah, dalamnya kepiluan, karena di balik semua itu tersimpan hikmah yang dalam. Bagi pencari kebenaran, kenikmatan adalah untuk terus mencari, mengarungi samudera kehidupan.”

Buku sederhana ini terdiri dari lima bagian (bab) dengan judul setiap bagiannya kutulis dengan singkat: kesadaran; keinginan; keyakinan; kenyataan; dan keniscayaan. Ya, kutulis singkat. Selain supaya mudah mengingatnya, juga agar lebih mudah memahami setiap sub-bab yang ada di dalamnya. Lebih fokus pada setiap masalah dan solusinya yang dibahas sesuai dengan tema dari setiap bagian yang ditulis.

Tak banyak yang kutulis dalam pengantar ini, tapi semoga bisa memberikan sedikit gambaran isi buku ini. Satu hal yang perlu dicatat, bahwa catatan-catatan ringan ini sekadar refleksi. Khususnya bagiku sebagai penulisnya. Tak hendak menggurui atau mengajarkan, tapi aku sekadar berbagi pengalaman dan sedikit tambahan ilmu. Semoga bisa menjadi pemicu agar akupun selalu berusaha menjadi yang terbaik dalam mengkaji Islam dan mengemban dakwahnya ini. Semoga catatan-catatan ringan ini pun menginspirasi pembaca dan mengambil manfaatnya.

Bogor, September 2010

O. Solihin

===

Isi Buku Ini:

Episode Satu: Kesadaran

# betapa berat meninggalkan maksiat

# “aku harus bisa”

# godaan itu datang

# “bukan aku tak cinta”

# kesempatan terakhir

Episode Dua: Keinginan

# ingin bebas, tapi tak mungkin

# jika mudah, mengapa dipersulit?

# “andai aku bisa memilih”

# tundukkan nafsu dengan cinta

# “kan kuraih bintang-bintang”

Episode Tiga: Keyakinan

# “aku masih bisa”

# jalan ini terjal, tapi menyenangkan

# peduli dakwah, kenapa tidak?

# yakinlah, bahwa Allah cinta kita

# Harapan itu masih ada

Episode Empat: Kenyataan

# karena kita manusia

# tak selamanya bisa bahagia

# berdakwah kok dicurigai?

Episode Lima: Keniscayaan

# seberapa kuat kita berjuang?

# kemenangan itu amat dekat

# karena surga itu manis

Profil Penulis

Iklan

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close