Save Our Soul

Selamatkan Kami!

[sekadar pengantar sederhana]

Alhamduillah, segala puji milik Allah Swt. dan hanya untuk Allah Ta’ala saja pujian yang paling agung layak kita ungkapkan. Ya, Allah Swt. adalah pencipta kita yang telah begitu banyak memberikan kesempatan kepada kita untuk hidup di dunia dan menikmati berbagai fasilitas yang telah Allah sediakan untuk kita semua. Alangkah tidak adilnya kita, jika tak pernah mengucap syukur kepadaNya. Alangkah tak tahu dirinya kita, jika tak pernah menyembahNya. Alangkah bodohnya kita yang tak pernah merasa takut kepadaNya.

Sobat muda muslim, rasa-rasanya kita nggak bisa menyalahkan secara mutlak kepada teman-teman kita yang rusak dan amburadul (mungkin saja termasuk kita di dalamnya) dalam meniti kehidupan dunia yang menawarkan begitu banyak gemelap. Kenapa? Karena ternyata kehidupan kita itu dikondisikan oleh kenakalan yang dilakukan oleh para orantua, baik di rumah, di masyarakat, dan juga orangtua yang menjadi pejabat negara. Intinya, rusaknya kehidupan remaja nggak murni salah remaja. Remaja hanya korban dari kerusakan sistem kehidupan saat ini.

Yup, kita kayaknya bosan banget kalo ngomongin kenakalan remaja en kenakalan anak-anak. Tapi, kita jarang dengar en ngomongin kenakalan orangtua. Padahal, kalo mo dirunut lumayan banyak juga lho kenakalan ortu dan emang sangat berpengaruh kepada kehidupan kita. Kenakalan orangtua ini bisa diperluas bukan hanya orangtua di rumah alias keluarga kita. Tapi orangtua di masyarakat seperti guru-guru di sekolah, orang-orang dewasa di lingkungan sekitar, orang-orang dewasa yang bisa kita lihat tampilan wajah dan aksinya di televisi, orang-orang dewasa yang saban hari kita temui di sekolah kehidupan kita, termasuk dalam hal ini adalah para orangtua yang menjadi pejabat di negeri ini.

Semua yang kita sebutin ini adalah orang dewasa dalam pengertian mereka adalah orangtua yang seharusnya menjadi contoh teladan kita dalam menjalani kehidupan ini. Tapi, gimana jadinya kalo ternyata mereka malah nakal? Lalu mengajarkan kepada kita dengan kenakalannya itu. Atau, mereka memfasilitasi apa saja yang akhirnya membuat kita juga jadi nakal. Yup, akhirnya kita juga kebawa nggak bener. Menyedihkan banget deh.

Sobat muda muslim, bukan maksud mo ngejelek-jelekkin ortu kita. Nggak. Ini sekadar renungan aja, betapa kita suka lupa bahwa kenakalan remaja nggak bisa lepas juga dari teladan yang sudah ada. Biar adil nih ye, kalo kita ngomongin kenakalan remaja sampe berbusa-busa atau nulis sampe berlembar-lembar lengkap dengan taburan faktanya, maka nggak ada salahnya juga dong kalo kita nyentil dikit kenakalan orangtua. Eh, sebenarnya bukan nyentil sih, tapi dikit aja kita bahas sebagai bahan renungan buat kita semua. Ya, semoga saja kita juga jadi bisa ngingetin para ortu yang mau nggak mau memang sudah dan akan mewarnai kehidupan kita saat ini. Ortu di rumah, ortu di masyarakat, dan tentunya ortu yang bertugas sebagai pengurus negara dan rakyat. Semua itu adalah ortu kita yang seharusnya menjadi teladan yang baik buat kita dalam menjalani kehidupan ini.

Itu sebabnya, jangan sampe keterusan nyalahin remaja aja yang kebetulan berbuat nakal. Sebab, kita yakin banget bahwa kenakalan remaja juga ada pemicunya. Kenakalan remaja nggak muncul dengan sendirinya. Pasti ada faktor “x” yang udah bikin mereka nakal. Bisa karena lemahnya pendidikan ortunya di rumah, bisa juga karena kedodorannya pengawasan ortu di masyarakat, bahkan sangat mungkin karena lemahnya tanggung jawab ortu yang mengurus negara dengan tak memberikan penerapan aturan dan sanksi yang tegas dan benar. Iya kan?

Oya, ampir lupa ngejelasin definisi nakal. Nakal tuh artinya suka berbuat kurang baik (tidak menurut, mengganggu dsb, terutama bagi anak-anak). Juga berarti buruk kelakuan.[1] Kalo kenakalan adalah kata sifat dari nakal atau perbuatan nakal. Bisa juga berarti tingkah laku secara ringan yang menyalahi norma yang berlaku di masyarakat.[2]

Bahkan di kamus tersebut langsung dicontohkan bahwa yang nakal terutama anak-anak. Juga, ketika menjelaskan kenakalan, contohnya adalah kenakalan remaja. Itu sebabnya, biar adil ya kita bahas kenakalan orangtua juga. Setuju nggak? Kudu setuju (maksa banget ya?)

Wahai para orangtua di rumah, orangtua di masyarakat dan orangtua sebagai pejabat negara, tolong selamatkan kami. Tolong dong jangan salahkan kami terus. Seolah yang salah tuh remaja, yang selalu nakal tuh pasti remaja. Padahal, kami adalah korban dari kondisi yang ada saat ini. Banyak ortu di rumah yang kurang peduli, kurang menyayangi kami, dan nggak serius mengarahkan kami ke jalan yang benar. Memang nggak semua dari ortu di rumah itu nakal, tapi sayangnya ortu yang baik tuh kalah jumlahnya dengan ortu yang nakal.

Begitupun dengan para ortu di masyarakat, mohon dengarlah keluhan kami. Sudah begitu banyak masalah yang ditimbulkan akibat kenakalan para orangtua di masyarakat yang seharusnya menjadi pilar kedua dalam penegakan hukum. Tapi, mereka malah menyediakan sarana kemaksiatan, menciptakan budaya yang nggak produktif, dan membiasakan malas belajar serta mendidik yang setengah hati. Belum lagi para orangtua di masyarakat yang menjadi pemilik media massa (baik cetak maupun elektronik: koran, majalah, tabloid, radio, televisi, dan juga internet) yang ‘hobi’ menampilkan bacaan, gambar dan tontonan yang merusak akhlak (pornografi, kekerasan, dan seks bebas) yang berlindung atas nama bisnis. Duh, tolong jangan salahkan kami secara mutlak akibat kenakalan ortu di masyarakat ini. Kami udah cukup menderita.

Juga kepada para ortu di pemerintahan, yakni ortu yang menjadi pejabat negara. Seharusnya ini adalah pilar paling kuat dalam penegakan hukum, tapi nyatanya malah ikut-ikutan nakal. Padahal kenakalan yang dilakukannya berdampak lebih besar bagi seluruh rakyat. Wahai para pejabat negara, dengarlah kesedihan kami akibat kenakalan yang bapak-ibu lakukan dengan menerapkan aturan kehidupan yang nggak benar dan nggak baik, yakni Kapitalisme-Sekularisme (termasuk juga Sosialisme-Komunisme). Karena yang benar adalah Islam. Pasti.

Semoga buku sederhana ini bisa menyadarkan kita semua. Termasuk kita-kita sebagai remaja. Oya, meski yang kita sorot adalah kenakalan orangtua, tapi bukan berarti kemudian sebagai remaja kita berusaha mengampuni diri sendiri dengan menimpakan semuanya kepada kalangan orangtua, karena kita juga wajib belajar dan wajib menjadi benar dan baik dalam hidup ini. Itu sebabnya, meski sekarang kenakalan para orangtua marak, tapi remaja yang tetap baik insya Allah masih ada. Bahkan insya Allah akan terus berjuang mengingatkan para orangtua di rumah, di masyarakat, dan ortu di pemerintahan untuk nggak nakal lagi. Yuk, perbaiki diri kita dan jangan ikut-ikutan nakal. So, mari bina diri kita dengan cara mengkajiIslam dengan lebih semangat dan lebih serius lagi. Semoga pembahasan demi pembahasan di buku ini menjadi renungan bagi kita semua. Amin.

Alhamdulillah, atas cinta, kasih sayang, dan ijin Allah Swt., buku SAVE OUR SOUL yang merupakan sekuel ketiga buku Jangan Jadi Bebek bisa saya selesaikan. Semoga bisa diambil manfaatnya. Terima kasih juga kepada ibu saya yang telah begitu banyak memberikan dorongan dan doa agar saya tetap maju. Nggak lupa, istri saya yang terus menyemangati agar saya membanjirkan ide-ide untuk menyampaikan dakwah via tulisan ini. Buat anak-anak saya: Muhammad Qais, Muhammad Rafi, dan Sausan Afrasana, semoga ini menjadi bekal kalian di masa depan. Teruslah bersemangat mencari ilmu.

Eh, makasih juga buat semua kru Gema Insani (khususnya Pak Iwan Setiawan, Pak Hakim, Pak Kusmanto dan Mbak Mimin serta Mbak Woro), semoga nggak bosan menerbitkan buku saya, termasuk sekuel Jangan Jadi Bebek ini. Semoga niat dan usaha kita semua untuk mendakwahkan Islam, khususnya bagi remaja, diberkahi oleh Allah Swt. Amin.

Semua teman dan guru saya yang telah memberi banyak inspirasi dalam hidup, termasuk untuk penulisan buku ini. Mohon maaf tak bisa saya sebutkan satu per satu. Namun, meski tidak saya sebutkan nama satu persatu, insya Allah tidak mengurangi rasa hormat saya kepada teman-teman semua. Terima kasih buat semuanya ya.

Nah, buat temen-temen remaja, semoga buku ini menjadi teman kamu menimba ilmu Islam. Semoga buku ini bisa melengkapi wawasan kamu semua dan sebagai penambah koleksi buku-bukumu dari hasil karya saya. Jujur saja, karena banyaknya permintaan dari temen-teman pembaca lewat e-mail dan SMS, juga dari pertemuan langsung dengan saya ketika mengadakan bedah buku, yang menanyakan: “Kapan Jangan Jadi Bebek 3 muncul?”, maka setelah merenungkan dan setelah sekian lama mengevaluasi perjalanan serial Jangan Jadi Bebek ini, akhirnya saya kepikiran: “Ah, nggak ada salahnya kalo dicoba. Siapa tahu bisa mengobati rasa penasaran pembaca buku-buku saya”. Maka, jadi deh buku ini. Dengan gaya penulisan dan setting yang sama untuk mencirikan kekhasan dengan edisi sebelumnya.

Tapi teman-teman, saya berharap buku ini adalah edisi terakhir dari sekuel Jangan Jadi Bebek. Itu sebabnya, pembahasan di buku ini lebih menukik alias lebih dalem dikit dari edisi pertama (2002) dan edisi kedua (2004). Sehingga diharapkan ada benang merah pembahasan yang semakin utuh membentuk kerangka berpikir. Selain itu, tentu agar pembaca bisa mendapatkan sesuatu yang baru dari buku ini. But, bagi yang pernah membaca buletin STUDIA, beberapa naskah di buku ini adalah hasil “permak” yang saya dihadirkan dalam bentuk buku. So, jadi tetep spesial deh. Insya Allah. Semoga ada manfaatnya. Terima kasih.

Bogor, 20 Oktober 2006

O. Solihin


[1] Lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, cetakan ke-III, 2003, hlm. 772

[2] ibidem

===Isi buku ini===

Bagian Satu: INILAH Kita [ketika groupies memburu bintang; mencipta bintang hiburan; ilmuwan vs penghibur; cowok tebar pesona; cinta, bisnis, dan hiburan; go! muslimah go!]

Bagian Dua: DUNIA Kita [perang semesta melawan ADIS; pornografi (lagi); ratu sejagat; narkoba kian menggila; SOS dari dunia remaja]

Bagian Tiga: Untuk Kita RENUNGKAN [Dosa-dosa kita; yuk, muhasabah diri!; kita lebih kuat dari samson!; jangan ada benci di antara kita; jangan tinggalkan islam!; kita tak sendiri; jalan masih panjang]

Iklan

2 thoughts on “Save Our Soul

  1. Lina samhina 8 Mei 2012 — 17:29

    buku ini tuh termasuk fiksi pa nonfiksi?

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close