Yes! I am MUSLIM

[Prolog]

Hidup Mulia Bersama Islam

 

Alhamdulillah, atas ijin Allah Swt. akhirnya kelar juga buku yang coba saya kerjakan sejak akhir tahun 2005 lalu. Meski perencanaannya sudah saya susun sejak pertengahan awal tahun 2005, tapi berbagai kendala memaksa saya harus bersabar (sambil geregetan pengen cepet selesai) dalam penulisan buku ini.

Sebenarnya, dalam penulisannya nggak terlalu memakan waktu banyak. Tapi persiapan pengumpulan bahan pustaka dan menyusunnya untuk dijadikan tulisan yang terstruktur dan memiliki arti memakan waktu cukup lama. Tapi, semoga saja ini menjadi karya saya yang bisa bermanfaat untuk menunjang dakwah Islam dan memberikan pencerahan kepada kepada kaum Muslimin, khususnya teman-teman remaja.

Mungkin, yang agak berbeda dengan karya saya sebelumnya, tema ini tergolong serius. Bukan populer. Tapi saya berusaha untuk menerjemahkannya dengan bahasa yang populer dan penyajian fakta yang populer juga, meski sejatinya pembahasan yang digeber di buku ini lebih bersifat informasi “mati” jika tak dirangkai dengan pesan-pesan yang dikemas dengan gaya populer. Namun, saya berusaha menuliskannya dengan bahasa sederhana agar informasi tersebut bisa tergali dan tersampaikan dengan mudah.

Sobat muda muslim, buku Yes! I am MUSLIM ini pengennya sih sebagai karya masterpiece saya. Itu pun kalo boleh menganggap demikian (ciee.. paling nggak itu harapan saya, meski kayaknya agak jauh dari standar sebagai karya masterpiece).

Oya, alasan saya mengambil tema ini dalam sebuah buku adalah karena melihat banyak teman remaja yang minder menjadi Muslim. Itu bisa terlihat dari fakta yang ada di lapangan. Misalnya, ambil contoh soal nama. Ada teman kita yang nggak pede menyandang nama islami; nama yang sudah bagus dan berupa pengharapan dari ortunya diganti sesuai selera gaulnya. Mohon maaf, ada yang diberi nama Zakaria sama ortunya, dia malah menggantinya jadi Jack. Raihan berubah jadi Roy. Maryam malah disulap jadi Mariah. Khadijah jadi Dice. Waduh, nggak sampe dosa sih, cuma jadi geli aja dengernya.

Mungkin nggak semuanya berganti nama atau membuat nickname-nya karena alasan minder dengan nama islami, tapi karena ketidaktahuannya. Bisa jadi begitu, karena mungkin yang mereka pikirkan hanya stempel gaul atau modern. Padahal, justru karena ketidaktahuannya yang besar tentang Islam dan ajarannya, sangat boleh jadi bisa mengantarkan mereka secara nggak sadar untuk mencampakkan Islam yang agung dan mulia ini.

Jujur aja, saya sendiri suka prihatin ngeliat temen-temen remaja. Meski saya sendiri belum baik-baik amat, tapi saya sedih pas temen-temen remaja dengan bangga bisa ngapalin lagu-lagu Peterpan. Boleh-boleh aja sih, tapi kan harusnya semangat juga ngapalin dalil-dalil syariat. Tul nggak seh? Kalo ditanya nama-nama selebritis, terutama selebritis lokal, banyak yang tahu. Begitu ditanya, “Siapa sahabat Rasulullah saw. yang menjadi duta Islam pertama ke Madinah sambil menyebarkan Islam di sana?” Sedih. Banyak yang diam. Entah bingung, entah nggak tahu. Ya, ini PR kita bersama. Kita selesaikan bersama. Karena saat ini informasi yang masuk dan menjadi pedoman kita lebih banyak informasi umumnya ketimbang informasi Islam.

Sobat, gempuran informasi yang menyudutkan Islam dan mencitraburukkan Islam juga turut andil menjadikan sebagian kaum Muslimin merasa tertuduh, minder dan malu menjadi Muslim. Pemberitaan seputar terorisme yang dihubung-hubungkan dengan Islam, ikut memperkeruh suasana dan paling nggak menggoyahkan keyakinan kaum Muslimin yang masih lemah keimanannya. Karena saking malu dan merasa tertuduh, akhirnya menyembunyikan identitas kemuslimannya dengan cara ‘menjerumuskan’ dirinya dengan membaur dalam komunitas umum yang longgar akan nilai-nilai Islam. Sehingga lama kelamaan, identitasnya sebagai Muslim memudar dan bahkan bukan tak mungkin jika akhirnya lenyap tak berbekas. Tumbuh berganti sosok yang ngaku-ngaku moderat dan membela kaum minoritas dari agama lain. Mereka muncul menjadi tokoh yang menghalangi-halangi kembalinya Islam yang diterapkan sebagai ideologi negara. Bahkan mereka merasa khawatir dengan kebangkitan Islam. Wah, apa nggak kebalik tuh?

Sobat muda muslim, ngomongin soal kemusliman kita, rasa-rasanya emang seru neh. Kenapa? Karena identitas kemusliman kita bakalan jadi ukuran. Apakah kita akan minder atau justru tampil pede sebagai seorang muslim. Apalagi di tengah arus deras informasi dan perang opini yang kerap bikin kita ‘pusing-mual-mencret’ kalo dapet sebutan muslim radikal atau fundamentalis. Cuma orang yang rasa percaya dirinya tinggi dan keimanannya mantap aja yang bakalan tahan bantingan. Tul nggak?

Bener lho. Secara umum aja nih, bahwa rasa percaya diri itu bakalan bikin kita enjoy dalam menikmati hidup. Bikin asyik ketika berhasil menaklukkan tantangan dan rintangan. Percaya diri pun diyakini bisa menempatkan kita sebagai orang yang bisa mengelola emosi. Duileee sampe segitunya ya? Bener. Sebab, ketika kita memiliki rasa percaya diri, kita tahu apa yang kudu kita lakukan. Kita bisa ngukur diri. Itu sebabnya, orang yang percaya dengan kemampuan dirinya, biasanya bakalan rileks en tanpa beban dalam berbuat. Ini, tidak saja membawa hasil maksimal, tapi juga antistres. Nggak percaya? Silakan dicoba.

Sobat muda muslim, rasa percaya diri emang kudu ditumbuh-kembangkan dalam diri kita. Kita rawat, kita bersihkan, kita poles dengan apik, dan kita sirami agar terus bersemi. Yup, kita rawat dengan terus mengasah kemampuan yang kita miliki. Kita bersihkan segala yang kita anggap menghalangi semangat hidup kita. Kita pun rajin memoles dengan apik rasa malas yang bersemayam di hati kita agar berubah jadi energi positif yang akan menggerakkan turbin di hati untuk terus memproduksi ketekunan dan kekuatan untuk hidup. Jangan lupa, kita juga menyirami relung hati dan akal kita dengan asupan gizi tentang keyakinan akan masa depan. Terus disirami agar senantiasa tumbuh subur. Sehingga kita berani bilang, “Jangan pernah menatap masa depan dengan mata penuh ketakutan”. Bisa kan?

Insya Allah, semua itu akan membuat kita tak pernah merasa terbebani. Kita akan menatap masa depan dengan penuh semangat dan tentunya tak mudah goyah dengan berbagai godaan en rayuan. Nggak mudah percaya ama rayuan yang bakal melunturkan idealisme dan rasa percaya diri kita. Yakin itu.

Dalam buku ini, insya Allah saya paparkan beragam informasi yang bisa mengokohkan keyakinan kita kepada Islam, sehingga kita menjadi bangga dengan Islam dan tentunya sekaligus bangga menjadi Muslim. Kalo teman-teman yang hobi basket mengidolakan Yao Ming, maka seneng juga dong kalo make kaosnya klub Yao Ming, Houston Rockets (dulunya doi main ‘lonjak-lonjak’ di Shanghai Sharks). Kemana-mana merasa menjadi bagian dari klub NBA itu. Tul nggak?

Sama halnya ada teman yang cinta mati sama klub liga Spanyol, Barcelona. Maka, mereka bukan hanya apal nama-nama skuad tim Catalan itu, tapi juga akan bangga mengenakan seragam klub kebanggaannya dan sekaligus bersedia menjadi suporter fanatik dan siap membela klubnya.

Sekarang pertanyaan saya, bagaimana kecintaanmu kepada Islam? Saya sangat berharap jawaban kamu adalah: “Aku cinta banget sama Islam. Aku siap menjadi pejuang dan pembelanya. Dan, aku bangga menjadi Muslim. Karena dengan Islam, hidupku menjadi mulai dan berharga”. Hmm.. semoga saja kamu semua punya idealisme demikian. Semoga.

Sebab, ketika udah punya kecintaan kepada Islam dalam diri kita, akan tumbuh idealisme kita dalam membela Islam dan memperjuangkannya. Kita bangga menyandang gelar Muslim, dan sangat yakin bahwa Islam akan membawa pencerahan bagi kehidupan kita semua.

Nah, di buku ini, kamu bakalan dapetin lima tema utama: Islam bikin bangga; Islam adalah ideologi; Islam menghargai manusia; Ketika Islam digdaya; dan agar kita tetap bangga menjadi muslim. Wah, lima bab ini semoga bikin kamu puas. Jangan khawatir, tema besar itu masih mencantumkan subtema yang insya Allah bisa mencerahkan kamu semua.

Sobat, kini kita hidup di tengah gelombang globalisasi yang ditebar Barat yang secara tidak langsung melemahkan kekuatan kaum Muslimin. Memang, tak semua globalisasi berbahaya bagi kita, hanya saja, justru yang indah dan mudah diterima adalah pesan yang membahayakan yang dikemas menarik bagi kaum Muslimin. Sehingga tanpa sadar udah kebawa arus globalisasi yang di-setting ama Barat deh.

Simbol-simbol modernisasi dan sebutan “anak gaul” menjadi magnet globalisasi untuk menarik kita dan larut di dalamnya. Banyak di antara kita yang tanpa sadar sebenarnya udah melepaskan identitas kemusliman kita dan berganti dengan identitas budaya Barat. Memang masih berstatus muslim, tapi pikiran dan perbuatannya jauh dari nilai Islam. Duh, bahaya banget kan? Inilah yang saya khawatirkan sobat, karena dengan begitu Islam dan kaum Muslimin jadi lemah. Islam udah kehilangan cirinya sebagai ideologi, sekaligus citra sebagai Muslim memudar.

Ngomongin soal globalisasi ini, cendekiawan muda Adian Husaini pernah menuliskan dalam artikelnya di Harian Republika[1], bahwa Presiden Consumer Association of Penang (CAP), SM Idris, menulis dalam bukunya, Globalization and the Islamic Challenge, bahwa globalisasi merupakan ancaman yang sangat serius terhadap kaum Muslim. (Globalization poses a serious threat to Muslims. It not only brings about economic exploitation and impoverishment, but also serious erosion of Islamic beliefs, values, culture, and tradition).

Menurut Idris, globalisasi bukan hanya mempraktikkan eksploitasi ekonomi dan pemiskinan, tetapi juga mengikis keyakinan, nilai-nilai, budaya, dan tradisi Islam. Kapitalisme global mempromosikan nilai-nilai individualisme, materialisme, konsumerisme, dan hedonisme. Paham-paham itu jelas langsung menusuk jantung ajaran Islam.

Pasca Perang Dingin, menurut Idris, satu-satunya kekuatan yang tersisa yang diharapkan mampu memberikan tantangan terhadap proyek globalisasi adalah dunia Islam. Ironisnya, sejak dulu, hingga kini, di kalangan Muslim, ada saja yang terpesona dengan pandangan dan jalan hidup Barat. Abdullah Cevdet, seorang tokoh sekuler Gerakan Turki Muda menyatakan: “Yang ada hanya satu peradaban, dan itu adalah peradaban Eropa. Karena itu, kita harus meminjam peradaban Barat, baik bunga mawarnya mau pun durinya sekaligus.” Banyak hal yang dapat dicontoh dari Barat. Tetapi bukan jalan sekular-liberal yang telah mengantarkan Barat pada relativisme dan skeptisisme kepada kebenaran agama.

Jika melihat kenyataannya, rasa-rasanya benar banget apa yang disampaikan Ibnu Khaldun tentang perilaku bangsa-bangsa yang kalah, ““Yang kalah cenderung mengekor yang menang dari segi pakaian, kendaraan, bentuk senjata yang dipakai, malah meniru dalam setiap cara hidup mereka, termasuk dalam masalah ini adalah mengikuti adat istiadat mereka, bidang seni; seperti seni lukis dan seni pahat (patung berhala), baik di dinding-dinding, pabrik-pabrik atau di rumah-rumah.”

Sobat, atas dasar inilah saya menuliskan buku Yes! I am MUSLIM yang kini ada di tangan kamu semua. Semoga kamu bisa mengambil banyak manfaat dari buku ini (tentu saja bagi yang mau mengambil manfaat). Semoga pula kita bisa bersama-sama dapat berjuang untuk kejayaan Islam dan umatnya ini. Sehingga kita dapat merasakan kemuliaan hidup bersama Islam.

Sebelum mengakhiri pengantar sederhana dan singkat ini, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Nur Handayani, istri saya tercinta. Terima kasih atas hari-hari yang menyenangkan dalam menemani hidup saya. Juga kejeliannya dalam membantu saya mengedit naskah-naskah di buku ini sebelum dikirim ke penerbit.

Terima kasih saya sampaikan kepada kedua orangtua saya yang tak bosan mendoakan kebaikan buat saya. Juga untuk semua teman saya yang mohon maaf, saya nggak bisa menyebutkannya satu per satu. Terima kasih atas semua kebersamaan dan inspirasinya selama ini. Nggak lupa kepada tim editor dan penerbitan di Gema Insani Press (khususnya Pak Hakim, Pak Kusmanto, Mbak Mimin dan Mbak Woro) yang memberikan kesempatan kepada saya untuk menerbitkan buku ini dan nggak bosan ‘ngomporin’ dan mengarahkan saya, serta setia nunggu karya-karya saya (ciee..). Pokoknya, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut mendukung terbitnya buku ini. Semoga semua kebaikan dan bantuan selama proses penerbitan dan penyebaran buku ini menjadi amal ibadah yang insya Allah akan memberatkan timbangan amal baik di akhirat kelak. Amin.

Bogor, 12 Februari 2006

O. Solihin


[1] Republika, 27 Juli 2004===

Seputar tema yang dibahas

  • Bagian Satu: ISLAM Bikin Bangga [bangga bukan sombong; alasan untuk bangga jadi Muslim; Islam mencerahkan, petunjuk bagi pencari kebenaran; Islam meninggikan derajat manusia; Islam mengajarkan etika]
  • Bagian Dua: ISLAM Adalah Ideologi [ideologi-ideologi di dunia; perang peradaban; ketika Islam sebagai ritual belaka; ayo bangkit!]
  • Bagian Tiga: ISLAM Menghargai Manusia [memelihara: keturunan; akal; kehormatan; nyawa; harta; agama; keamanan; dan negara]
  • Bagian Empat: Ketika ISLAM Digdaya [Rasulullah saw. revolusioner sejati; dakwah dan jihad; masa kegemilangan Islam]
  • Bagian Lima: Agar Kita Tetap Bangga [kenali Islam lebih dalam; kuatkan terus sinyal perjuangan; jangan berhenti mencintai Islam; jangan pernah merasa ‘tertuduh’]

4 pemikiran pada “Yes! I am MUSLIM

    1. ‘alaikumussalam wr wb
      Ok. salam kenal juga ya. Terima kasih sudah membaca buku2 saya 🙂
      Silakan tema2 di buku2 saya dijadikan bahan untuk dakwah di sekolah. Semoga bermanfaat dan barokah buat semuanya. Terima kasih ya. 🙂

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s