Noordin M Top Tewas? Ah, Nggak Seru!

Breaking News!

temanggung-reutersNoordin M Top dikabarkan tewas, seperti dalam berita ini. Ah, nggak seru tuh. Pasti nanti kasusnya kayak Dr Azhari. Nggak tahu orangnya kayak gimana ‘bentuk’ aslinya (karena cuma fotonya doang yang selama ini disebar ke khalayak ramai), eh, malah dikabarkan tewas setelah aksi pengepungan di Batu, Malang beberapa tahun lalu. Kejadian serupa menimpa Noordin M Top (*tapi benarkah dia jadi korban dalam penggerebekan di Temanggung ini? Masih simpang-siur).

Dengan melihat kenyataan seperti ini, kayaknya nggak seru, ah. Klimaksnya “cuma gitu aja”. Konflik yang udah dibangun bertahun-tahun hanya berakhir dengan “tewasnya orang yang selama ini diduga sebagai otak terorisme di Indonesia”. Tapi, ini memang bukan kisah di film atau novel.  Namun demikian, kecurigaan saya sejak lama bahwa jangan-jangan nama-nama tersebut hanya “karangan” pihak tertentu saja, nyaris terbukti. So, Dr Azhari dan Noordin M Top sebenarnya “nama yang orangnya sendiri tak pernah ada”. Ya, sejatinya mereka nggak pernah ada. Dugaan saya selama ini, justru sejak Bom Bali yang “bermain” adalah adu kuat opini dan aksi antar intelijen. Intelijen lokal yang ‘dikadalin’ intelijen asing.  Intelijen lawan intelijen. Targetnya membentuk opini bahwa Islam dan kaum muslimin adalah teroris. Mereka yang taat beribadah, pendiam, pake nama islami, dan segala aksesoris Islam lainnya, adalah patut dicurigai. Selama ini kan memang begitu. Sampe-sampe ada muslimah yang hendak bikin paspor aja dipersulit gara-gara yang bersangkutan mengenakan kerudung.

Menurut saya, ini persoalan “perang opini”. Kritikus pers Moris Wolfe pernah menyatakan bahwa merubah pikiran orang itu lebih mudah dan murah dari pada merubah realitas sendiri. Sehingga persoalan-persoalan yang dilansir media massa membentuk peta pemikiran (politik) dalam masyarakat atau yang disebut Austine Ranney sebagai “cognitive maps”.

Juga seperti yang diungkap Noam Chomsky tentang pengontrolan pikiran kita oleh Sang Adidaya merupakan suatu hal yang sangat erat dengan media massa yang dikendalikannya. AS menggunakan media massa untuk mengontrol pikiran dengan penggunaan kata-kata dan pemberian makna-makna tertentu. Kata-kata yang digunakan tersebut disebut Newspeak**. Secara jelas Noam Chomsky menyebut sistem kendali pikiran tersebut adalah “The American Ideological System”. Ini karena sang pengendali media dunia adalah Amerika. Setidaknya untuk saat ini.

Gimana menurut Anda?

Salam,

O. Solihin

*gambar diambil dari sini

**Newspeak terjemahan bebasnya “omongan gaya baru” digunakan George Orwell (1984) untuk menunjukkan pada manipulasi pengertian yang lazim atas suatu kata atau istilah oleh pemerintahan otoriter guna menyesatkan kesadaran rakyat akan kenyataan yang dimaksud oleh kata atau istilah tersebut.