Islamic_flag_white_house

Mengapa Harus Bangkit?

Ketika Islam mencapai kegemilangan di masa Rasulullah dan Khulafa ar-Rasyiddin serta pemimpin-pemimpin setelahnya, umat Islam sedang getol-getolnya menjadikan Islam sebagai pedoman hidupnya. Islam udah menyatu dalam pemahaman dan tingkah laku kaum muslimin di masa lalu. Mereka sama sekali tak mau mele­paskan diri dari Islam. Islam maju, ketika umat­nya juga lengket dengan ajaran Islam. Daripada melepaskan akidah Islam, lebih baik nyawa mela­yang. Lebih mulia kok di hadapan Allah. Lanjutkan membaca Mengapa Harus Bangkit?

demoburuh

Hari Buruh, Demo Buruh

Menurut saya sih, problem perburuhan kuncinya justru ada di pemerintah. Jika pemerintah memberikan kesejahteraan yang benar dan baik maka saya pikir para pekerja (buruh) tak perlu selalu menuntut pemerintah menyesuaikan upah mereka yang dirasa kurang layak. Sederhana saja cara berpikirnya. Jika kebutuhan sandang, pangan dan papan semua warga negara dipenuhi dengan benar dan baik oleh negara, termasuk urusan kesehatan dan pendidikan digratiskan, saya pikir penghasilan yang dimiliki seorang pekerja akan utuh karena tak perlu dibagi untuk bayar kontrakan rumah, tak perlu pusing jika dirinya dan keluarganya sakit, tak akan bingung untuk membayar pendidikan anak-anaknya., termasuk tak akan direpotkan urusan biaya transportasi yang tentunya akan kian parah ketika bahan bakar minya dinaikkan. Lanjutkan membaca Hari Buruh, Demo Buruh

Nasihat untuk Waria

gaulislam edisi 189/tahun ke-4 (4 Rajab 1432 H/ 6 Juni 2011)


Sobat muda muslim, selama ini waria alias wadam alias banci emang amat akrab dengan dunia malam dan pinggiran jalan. Berbaur dengan para penjaja cinta dan hawa nafsu di keremangan malam dan temaram lampu jalanan. Biasanya begitu ada petugas tramtib, mereka larinya paling kenceng. Maklum, secara fisik mereka memang laki-laki. Tetapi kini para waria berani tampil beda. Ada yang pernah mencalonkan dirinya jadi anggota legislatif daerah, ada yang berani menulis buku menyuarakan pendapatnya memilih jadi waria, di televisi makin banyak orang yang memerankan (atau memang sudah?) jadi waria, ada penyelenggaraan khusus untuk kontes waria seperti gelaran Miss Waria, bahkan ada yang nekat akan menikah sesama waria. Wah, gimana jadinya ya kalo pria nikah dengan pria lagi? Ada-ada saja! Padahal manusia kan berkembang biak secara generatif, bukan vegetatif alias bertunas kayak pohon pisang atau membelah diri kayak molusca. Tul nggak?

Menurut Guru Besar Psikologi UGM Prof Dr Koentjoro, ketika ditanya alasan orang yang menjadi waria, hal itu bisa diakibatkan bila peran ibu dalam mengasuh anaknya lebih besar dan memperlakukan anak laki-laki layaknya perempuan. Mungkin dalam kehidupan keluarga mayoritas perempuan sehingga jiwa yang terbentuk adalah jiwa perempuan (www.jawapos.com, 08/06/2005)

Beliau juga menjelaskan bahwa, kecenderungan menjadi waria lebih diakibatkan oleh salah asuh atau pengaruh lingkungan sekitarnya. Bukan penyakit turunan atau karena urusan genetik. Ini pun diakui oleh Merlyn Sopjan—waria, penulis buku Jangan Lihat Kelaminku (Republika, 29/10/2004)

Bro en Sis, Allah Swt. hanya menciptakan dua jenis kelamin bagi manusia. Laki-laki dan wanita. Itu saja. Nggak ada jenis ketiga. Firman Allah Swt. (yang artinya):  “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah mencip­takan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (QS an-Nisâ [4]: 1)

Berdasarkan keterangan ayat ini amat jelas bahwa Allah Swt. hanya menciptakan manusia berpasangan, yakni laki-laki dan wanita. Nggak ada jenis ketiga. Apalagi yang sekarang disebut waria, yang emang udah jelas-jelas laki yang berlagak dan merasa menjadi perempuan. So, waria emang tidak diciptakan. Itu sebabnya, menjadi waria itu adalah berdosa. Lanjutkan membaca “Nasihat untuk Waria”

Kita yang belum juga mau mengerti

Assalaamu’alaikum wr wb

Ada seorang ibu yang ditanya, “Kenapa sih mengenakan kerudungnya cuma sesederhana itu?” Jawabannya juga sesederhana yang dipahaminya, “Ini lagi mode. Lagian nggak usah fanatiklah. Jangan mempersulit diri. Bagi saya yang sudah tua ini, yang penting membedakan diri dengan ABG. Nggak perlu pake gamis-gamis segala. Ribet.”

Hmm… pernyataannya justru mengundang masalah. Kesalahan si Ibu tersebut tidak murni seratus persen akibat ketidaktahuannya. Tetapi juga dia melihat ke sekitarnya. Masih banyak yang mengenakan busana muslimah sebatas itu. Meski sebenarnya banyak juga yang sudah sempurna lengkap dengan jilbabnya. Tetapi si ibu sepertinya memilih fakta yang sesuai seleranya untuk dijadikan dalil pemuas nafsunya.

Kisah lainnya, seorang remaja pernah ditanya: “Kenapa sih main gim melulu setiap kali ke warnet?” Jawabannya, “Refreshing lah. Kan kita perlu rileks dalam hidup ini.” Ia lupa, bahwa saat saya tanya kepada petugas warnet ia mengatakan bahwa ada anak yang setiap harinya main gim online minimal 5 jam. Saya kemudian berpikir ulang, “rileks dari masalah apa jika setiap hari kerjaannya lebih banyak main gim online?”

Pada cerita lain ada seorang bapak, sudah tua, yang hampir setiap malam hobinya main gaple. Entah ini hobi atau pekerjaan. Yang pasti dia identik dengan kartu gaple. Dulu, masa-masa saya ikutan ngeronda, ada saja orang ini. Tentu dengan kartu gaple setianya. Saya dan beberapa orang bapak yang kebagian tugas memilih keliling kampung meronda ketimbang ngetem di pos kamling dan menyaksikan kebiasaan beberapa orang main gaple. Lanjutkan membaca “Kita yang belum juga mau mengerti”

Kreasi Astronomi al-Khujandi

Ilustrasi | Foto: http://www.eng.fsu.edu/

Beragam instrumen astronomi tercipta. Sejarah mencatat observatorium pernah berdiri di Baghdad pada abad kesembilan. Umat Islam juga mencipta astrolabe yang digunakan untuk menentukan letak matahari dan bintang. Di luar itu, masih ada lagi instrumen astronomi kreasi ahli astronomi Muslim. Kreasi itu adalah sextant.

Alat ini berfungsi untuk mengukur kecondongan dataran garis ekliptik secara lebih akurat. Sextant dinding dirancang oleh seorang astronom Muslim bernama Abu Mahmud Hamid al-Khujandi. Ia terlahir pada 940.

Nama belakangnya, Khujandi, dinisbatkan terhadap kota asalnya Khudzhand di Rey, Persia. Wilayah kota itu tepatnya berada di tepian Sungai Syrdara. Masa awal kehidupannya tidak banyak diketahui. Namun melalui komentar Nasir al-Din al-Tusi, astronom terkemuka dari abad ke-10, tersingkap bahwa tokoh itu juga seorang ahli matematika andal.

Seperti ditulis sejarawan sains JJ Connor dan EF Robertson dalam buku The Impact of Muslim Science, karier intelektual al-Khujandi berlangsung seiring era kekuasaan Dinasti Buwaihi. Saat itu, pemimpinnya adalah Ahmad ad-Dawlah, yang naik tahta pada 945. Al-Khujandi pun mengabdikan diri pada salah satu keturunan dinasti ini, yakni Fakhr ad-Dawlah (976-997).

Menurut JJ Connor dan EF Robertson, sang penguasa mendukung penuh al-Khujandi dalam mengembangkan bidang astronomi. Berbekal restu tersebut al-Khujandi lantas membangun fasilitas observatorium pribadi yang cukup besar di Kota Rey. Lanjutkan membaca “Kreasi Astronomi al-Khujandi”

Ideologi Suporter Sepakbola

logo-gi-3 gaulislam edisi 140/tahun ke-3 (16 Rajab 1431 H/ 28 Juni 2010)


Kamu pasti pernah tahu kan gimana aksi-aksi suporter sepakbola dalam mendukung klub atau timnas pujaannya? Mereka bela-belain datang ke stadion jika klub pujaannya bertanding. Ada yang memang bayar masuk ke stadion untuk nonton, nggak sedikit juga yang cuma ngeramein jalanan aja karena nggak punya ongkos untuk beli tiket pertandingan. Para suporter ini nyaris memiliki semua atribut klub kebanggaannya: kaos, slayer, stiker, bendera, dan sejenisnya. Selain itu, mereka ada yang rela mati demi membela klub pujaannya dan juga rela melakukan kerusakan dalam melampiaskan kegembiraan (apalagi kekecewaan).

Rasanya masih membekas dalam ingatan ketika final Liga Indonesia tahun 1998. Saat itu, ribuan suporter Persebaya yang dikenal sebagai bonek, alias bodo dan nekat, eh, maksudnya bondo (modal) nekat, turun ke jalanan begitu timnya berhasil menggulingkan Persib Bandung. Toko-toko dijarah, puluhan mobil dibakar. Bahkan aparat keamanan pun kerepotan mengawal mereka sampe Stasiun Senen. Keberingasan belum selesai, kawasan sepanjang jalur kereta Jakarta-Cirebon dihujani batu oleh para suporter brutal ini. Gila!

BTW, artikel ini adalah sebagai pelengkap dari edisi 138 lho. Waktu itu saya menjanjikan akan menulis lanjutannya tentang sepakbola dan pembahasan yang dikaitkan dengan Islam. So, dengan demikian janji itu insya Allah udah terlunasi. Jadi kamu nggak nunggu-nunggu dan tuntas sudah rasa penasaran kamu dengan adanya gaulislam edisi 140 ini. Ok?

Bro en Sis, nuansa ashobiyah (bangga dengan kelompok atau kesukuannya) juga kentara kok dalam polah para suporter. Saya pernah baca di jalan ada anak Viking yang di kaosnya ada tulisan: “Aing Persib, Sia Naon?” Hehehe.. itu artinya “gue Persib, elu apa?” Nggak ketinggalan suatu ketika ada suporter Persija yang saya lihat di kaos bagian belakangnya tertulis: “Kuserahkan hidup-matiku hanya untuk Persija” Waduh! Lanjutkan membaca “Ideologi Suporter Sepakbola”

Tak Kenal Maka Tak Benci

logo-gi-3 gaulislam edisi 119/tahun ke-3 (17 Safar 1431 H/1 Februari 2010)

Pepatah yang sering kita dengar adalah: “tak kenal maka tak sayang”. Ya, kalo kita nggak kenal sama seseorang, kita nggak akan sayang. Begitupun kalo kita nggak kenal sama Islam, maka kita nggak akan bisa sayang sama Islam. Apalagi sampe menjadi pembela dan pejuangnya. Iya nggak sih?

Bro en Sis, selain pepatah yang udah bertahun-tahun kita hapal itu, kita juga perlu membudidayakan (idih, emangnya lele dumbo?), maksudnya mensosialisasikan pepatah: “tak kenal maka tak benci”. Sebenarnya nggak ada yang aneh dengan istilah ini. Sebab hanya lawan kata saja dari pepatah pertama. Ya, ini juga kudu kita pahami. Bahwa kita nggak bakalan benci sama seseorang kalo kita nggak kenal siapa dirinya. Kita nggak bakalan benci sama ide-ide yang bertentangan dengan Islam, kalo kita nggak mengenalnya. Iya nggak sih?

Coba, kamu pasti nggak bakalan ngerasa benci setengah idup sama Si Babeh sang penjagal itu. Sebelumnya apa pernah kamu tahu siapa doi? Nggak juga kan? Baru deh setelah media massa ramai menjadikan doi sebagai berita kita jadi tahu kesadisan doi. Kita benci banget karena doi tega-teganya membunuhi anak-anak jalanan dan bahkan mensodominya. Bejat bener tuh orang! (hehe..ini salah satu rangkaian kalimat yang spontan keluar dari mulut kita atau nengalir deras dalam tulisan kita). Kenapa bisa benci? Karena udah mengenalnya, atau minimal mengetahui perilakunya yang bejat itu. Iya kan? Lanjutkan membaca “Tak Kenal Maka Tak Benci”