“Menculik Miyabi”

Assalaamu’alaikum wr wb

Teman-teman, saya ‘nemu’ tulisan oke nih. Sengaja saya copy-paste dari FB teman. Karena isinya menarik dan bagus, plus boleh di-share ke mana-mana, maka saya masukkan di blog saya ini. Selamat membaca ya…

Salam,

O. Solihin

====

Sumber tulisan: Ini copas dari NOTE FB teman

“Menculik Miyabi”
Saya bayangkan beberapa bulan setelah film “Menculik Miyabi” dirilis, teman-teman kecil saya yang duduk di SD, teman-teman remaja yang duduk di SMP dan SMA dengan girang akan saling bertanya “Sudah nonton Miyabi?”. Ada dua kemungkinan yang mereka maksud dengan pertanyaan itu, pertama sudahkah menonton film “Menculik Miyabi” atau sudahkah menonton film porno Miyabi. Kemanapun pertanyaan itu berlabuh, nama Miyabi akan lebih santer diucapkan dibanding sebelumnya yang hanya ditemukan di pojok kamar gelap, bilik warnet atau disela cekikikan penikmat film porno.

Sungguh saya penasaran mengapa Maxima Picture—rumah produksi yang akan menghelat film itu—mendatangkan Miyabi meski dengan ongkos yang besar. Secara ekonomis, mungkin mereka sudah menghitung Miyabi akan menaikan tingkat penjualan film sampai derajat tertentu. Ini sebanding dengan prinsip ekonomi, bahwa keuntungan harus lebih besar daripada ongkos produksi. Besarnya keuntungan dalam industri film tentu saja berbanding lurus dengan tingkat penjualan (keping cd) film itu. Artinya, secara ekonomis mereka sudah mengukur banyaknya penonton dan bioskop yang akan memutar film itu.

Mendatangkan Miyabi sebagai salah satu pemeran dalam “Menculik Miyabi” terkait erat dengan isi cerita tentang tiga mahasiswa Indonesia yang keranjingan menonton film pornonya. Saat tiga mahasiswa tersebut mengetahui Miyabi—bintang film porno pujaannya—singgah di Indonesia, mereka berniat menculiknya. Artinya, film ini secara langsung tetap menghubungkan Miyabi dengan profesinya sebagai bintang film porno Jepang. Hubungan langsung antara profesi sebenarnya (realitas) dengan kisah film “Menculik Miyabi” (imajinasi) memperbesar ruang dimana ikon pornografi melenggang kangkung di ruang publik sebagai hiperealitas yang nyata tapi kabur. “Miyabi” akan menjadi kata yang ringan diucapkan, dimana dan kapanpun berada. Sekali lagi, ia tak lagi hidup di pojok kamar yang gelap atau bilik warnet, ia menjadi hidup di tengah-tengah ruang keluarga, sekolah, warung, pasar dan seterusnya. Continue reading ““Menculik Miyabi””