OSwebNet-new1

Blog “Episode Baru”

Di blog ‘episode baru’ ini, Anda bisa menikmati weblog saya lagi. Isinya lebih simpel dan fokus ketimbang blog ini. Menu download ebook, makalah presentasi dan juga rekaman talkshow di radio ada di sini. Selain itu, Anda bisa memantau jadwal saya mengisi beberapa acara. Siapa tahu kita bisa bekerjasama dalam beberapa event seputar bedah buku, talkshow remaja dan keislaman, serta workshop menulis dan jurnalistik, serta training motivasi untuk pengembangan diri bagi remaja muslim. Lanjutkan membaca Blog “Episode Baru”

Mengapa bingung menuliskan kalimat pertama?

Saya hampir selalu ditanya oleh murid-murid saya di kelas menulis kreatif  di beberapa lembaga (atau peserta kursus menulis online), dengan pertanyaan yang sama, “Saya bingung menulis kalimat pertama dalam tulisan, gimana caranya Pak?”

Meski tidak selalu menjawab dengan lafadz yang sama, tetapi inti dari solusi saya adalah sama: “Menulis kata pertama atau kalimat pertama boleh sembarang. Sesuka kita, selama masih nyambung dengan judul dan tentu saja isi tulisannya. Bebas saja tuliskan. Mau dimulai dari sapaan silakan, boleh dimulai dari kutipan seseorang atau kata permintaan dan kata tanya, tak dilarang juga jika dimulai dengan kalimat pertama dalam tulisan dengan cerita yang pernah kita alami. Bebas. Sebagaimana halnya ketika kita mau keluar rumah. Mau lewat pintu depan, mau via pintu samping atau pintu belakang, boleh juga melalui jendela kamar jika mau. Semuanya boleh. Silakan. Tak ada yang melarang. Intinya adalah keluar rumah. Begitu pun dengan menulis. Mulai dari kalimat pertama dari jalur mana saja, intinya adalah menulis ”

Pernah saya diketawain seorang murid saya sambil guyon, “dasar penulis bisa saja ngasih ilustrasi” Saya hanya tersenyum. Hmm… sebab memang menulis kata pertama sebenarnya tak ada aturan baku. Maka saya mengilustrasikan sebagaimana orang mau keluar rumah. Umumnya kan bebas. Wong dari rumahnya sendiri. Tanpa beban. Begitulah menulis, tulis dengan kalimat pertama apa pun selama itu nyambung. Tak perlu terbebani dengan perasaan khawatir salah atau kurang bagus. Ringan saja, sebagaimana mau keluar rumah. Hehehe…

Ya, menulis kata pertama dalam sebuah tulisan seringkali menjadi beban bagi para penulis pemula. Saya juga dahulu mengalami hal serupa. Macet di awal tulisan. Sibuk memikirkan kata pertama yang bagus dan enak dibaca. Pikiran kita hanya berputar-putar di situ. Tetapi karena jarang membaca, jarang membaca tulisan orang lain, dan tentu saja jarang melatih menulis, maka energi yang dihasilkan untuk berpikir tampak sia-sia karena tak jua mendapatkan si “kalimat pertama itu”.

Dari ilustrasi dalam jawaban saya di atas, bisa dipetakan contohnya sebagai berikut: Lanjutkan membaca “Mengapa bingung menuliskan kalimat pertama?”

Seputar Tulisan Resensi

Pertanyaan:

Boleh nggak mengambil resensi dari tulisan artikel orang lain atau dari blog pribadi orang lain? Sebenarnya apa saja yang boleh dijadikan resensi untuk membuat sebuah tulisan (artikel) dan yang nggak boleh juga apa aja ya?

Priya

Jawaban:

Terima kasih atas pertanyaan yang dikirimkan kepada pengasuh.

Jawaban saya atas pertanyaan Anda:

1. Maksudnya mengambil di sini apa? Jika yang dimaksud adalah sekadar mengambil tulisan tersebut kemudian menjadi koleksi pribadi untuk bahan tulisan atau tambahan informasi yang kita inginkan, silakan saja. Tapi sebaiknya bisa meminta ijin kepada yang bersangkutan jika memang si pemilik tulisan tersebut menuliskan pemberitahuannya di blognya atau di website miliknya. Saya pribadi, di blog mempersilakan siapa pun mengambil tulisan-tulisan saya secara gratis. Hanya saja, jika ingin menyebarkannya lagi kepada orang lain harus mencantumkan penulis dan sumbernya. Itu saja. Lanjutkan membaca “Seputar Tulisan Resensi”

Masih Dibuka Pendaftaran Kursus Menulis Online!

Assalaamu’alaikum wr wb Bagi teman-teman yang berminat mengikuti pelatihan menulis secara online. Kelas yang tersedia saat ini adalah: Kelas Penulisan NONFIKSI, FIKSI, dan SKENARIO. Mentor Kelas Nonfiksi (O. Solihin; Mentor Kelas FIKSI (Ria Fariana), dan Mentor Kelas SKENARIO (Nafiisah FB). Pendaftaran masih dibuka hingga 28 Februari 2010. Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik URL di bawah ini: 1. Kursus Menulis Online, Kelas NONFIKSI 2. Kursus Menulis Online, Kelas FIKSI 3. Kursus Menulis Online, Kelas SKENARIO Demikian informasi dari saya. Terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya. Salam, O. Solihin Lanjutkan membaca Masih Dibuka Pendaftaran Kursus Menulis Online!

Menulis Skenario, Yuk!

Assalaamu’alaikum wr wb Insya Allah mulai Maret 2010, Kursus Menulis Online akan mengadakan kelas baru, yakni pelatihan khusus Menulis SKENARIO (angkatan 3). Pelatihan insya Allah berlangsung 2 (dua) bulan, yakni Maret – April 2010. Materi yang akan diberikan di pelatihan ini adalah: Ide dan mengaplikasikannya ke basic story; Sinopsis yang Mencuri Perhatian; Seceneplot dan contoh-contohnya; Istilah-istilah dalam pembuatan Skenario; skenario dan contoh-contohnya. Mentor yang akan membimbing Anda untuk Kursus Menulis Online kelas Menulis Skenario ini adalah Nafiisah FB, cerpenis dan penulis skenario untuk sinetron islami.  Buku yang pernah ditulis dan diterbikan: “Rumah: Istana Bagi Perempuan Berkarya” (AP Publishing House); “Girl … Lanjutkan membaca Menulis Skenario, Yuk!

Mau Belajar Menulis Cerpen?

Assalaamu’alaikum wr wb Insya Allah dibuka kembali Kursus Menulis Online Kelas Penulisan FIKSI (angkatan 4). Pelatihan insya Allah berlangsung 2 (dua) bulan, yakni Maret – April 2010. Materi yang akan diberikan di pelatihan ini adalah: Menggarap tema; Mengatur plot; Setting cerita; Realitas imajinatif; mengemas konflik, mengemas dialog, sudut pandang (point of view), dan menggarap karakter tokoh. Mentor yang akan membimbing Anda untuk Kursus Menulis Online kelas FIKSI ini adalah Ria Fariana, cerpenis dan novelis. Novel yang pernah ditulisnya dan diterbitkan antara lain: SILUET SENJA dan MUTIARA. Buku lainnya yang pernah ditulis dan diterbitkan adalah: NO MAN NO PAIN dan CEWEK … Lanjutkan membaca Mau Belajar Menulis Cerpen?

Tulisan Asyik, Pembaca Tertarik

[kiat menulis untuk pembaca remaja]

Aktivitas menulis termasuk salah satu dari sekian banyak aktivitas yang bisa menyenangkan. Menulis tidak saja menyenangkan, tapi juga sekaligus menyegarkan semangat hidup. Betapa tidak, menulis menumbuhkan kebahagiaan tersendiri bagi penulisnya karena sudah bisa berbagi apa saja dengan pembacanya. Itu sebabnya, agar informasi itu bisa sampai ke pembaca dengan baik, benar, dan menghibur diperlukan kiat-kiat khusus yang sebetulnya bisa dipelajari melalui latihan rutin. Sebab, menulis itu adalah bagian dari keterampilan, maka jika kita terus melatih diri untuk mengembangkan kemampuan, insya Allah akan banyak peluang untuk melakukan inovasi terhadap tulisan yang kita buat.

Tulisan paling asyik menurut saya adalah tulisan yang bisa mengena di hati pembaca kita. Itu sebabnya, segmentasi sangat diperlukan. Karena memang kita tidak bisa menjangkau semua lapisan pembaca dengan gaya tulisan tertentu. Tulisan-tulisan saya lebih banyak diarahkan untuk konsumsi remaja. Tentunya ada alasan. Pertama, karena pasar remaja sangat besar. Kedua, ingin berbagi ilmu dan pengalaman dengan teman-teman remaja, mengingat mereka adalah generasi harapan di masa depan. Berbagi ilmu dan pengalaman ini sangat penting, karena sebagian besar teman remaja memang membutuhkannya. Apalagi di tengah gempuran budaya asing yang tak bisa dengan mudah dihindarinya. Pendek kata butuh bimbingan dan arahan. Alasan seperti inilah yang membuat saya lebih fokus mengarahkan tulisan untuk konsumsi remaja. Lanjutkan membaca “Tulisan Asyik, Pembaca Tertarik”

Menulis hal-hal kecil

Assalaamu’alaikum wr wb

Apa yang Anda pikirkan sebelum menulis? Apa saja tema yang hendak ditulis? Apa ide yang ada di pikiran saat ingin menulis? Sederet pertanyaan ini perlu dijawab. Beberapa teman yang pernah saya tanya tentang hal itu mengaku ingin menulis yang bagus, berharap bisa menulis yang mencerahkan, bisa menulis hal-hal besar, bisa menulis sesuatu yang berat agar terlihat nyata intelektualitasnya sebagai penulis. Well. Keinginan seperti itu sah-sah saja. Boleh-boleh saja. Tak ada yang melarang. Tapi, kita harus mengukur diri dan interospeksi: “siapa kita saat ini?”

Bukan bermaksud membuat pesimis kawan-kawan yang hendak menulis. Tidak. Tapi kita perlu berpikir bahwa orang yang mahir menulis hal-hal besar, besar kemungkinan pernah menulis hal-hal kecil, atau memang terbiasa menulis hal-hal kecil. Sebabnya, keterampilan manusia biasanya berjenjang: dari yang ringan terlebih dahulu, yang sedikit berat, dan berat, plus sangat berat. Hal ini wajar, karena memang manusia terbiasa melakukannya dengan cara “berurutan”, dari mudah ke sulit. Bukan sebaliknya. Lanjutkan membaca “Menulis hal-hal kecil”