55549ce20423bdf7658b4567

Menulis, Buku, dan Ilmu

Alhamdulillah, ada kesempatan untuk corat-coret di blog pribadi saya ini. Akhir-akhir ini saya memang cukup jarang menulis di blog. Bukan saja karena saya punya keasikan yang lain, yakni mengurus keluarga (ciee..), bekerja, termasuk ada mainan baru di sosmed yang lain. Tetapi yang pasti saya hanya sedang malas. Wah, sebenarnya ini berbahaya. Malas tak boleh dipelihara. Bisa membuat kreativitas kita terpenjara. Nah, agar rasa malas itu sirna, saya mencoba sekadar mencorat-coret saja di blog saya kali ini. Judulnya: Menulis, Buku, dan Ilmu.

Sebenarnya tema yang berat, kalo mau dibawa berat. Tetapi saya mencobanya untuk menjadikannya ringan. Namun, bukan berarti ringan tak ada isinya. In sya Allah tetap ada isinya. Semoga saja menarik, syukur-syukur sih bisa bermanfaat buat semuanya.

Ini semua berawal dari kebiasaan saya menulis sejak SMP. Saya senang sekali menulis, terutama di buku harian. Di kelas saya, waktu kelas 2 SMP, hanya saya satu-satunya anak cowok yang punya buku harian. Di akhir tahun 80-an itu, tentu saja menulis buku harian bagi saya sangat seru. Saya bisa mencurahkan isi hati saya melalui buku harian itu. Susah-senang, ditulislah semua peristiwa. Tentu, hanya ingin dinikmati sendiri semua kisah tersebut. Itu sebabnya, banyak buku harian kala itu ada gemboknya. Orang lain sama sekali tak boleh menyentuhnya, apalagi melihatnya.

Berbeda dengan saat ini, ketika media sosial sudah menjadi teman main masa remaja, bahkan para orang tua juga bisa ‘khusyu’ nunduk terus di hadapan gadget kesayangannya. Bercengkerama dengan teman di dunia mayanya. Sepertinya mereka menikmati (termasuk saya, barangkali). Jika di buku harian zaman dulu saya dan mungkin banyak remaja lainnya menyembunyikan rapat isi hatinya, kini remaja dan para orang tua bisa bebas menumpahkan isi hatinya dan bahkan perasaan marahnya kepada orang lain serta tak sedikit yang mengutuki nasibnya sendiri tanpa malu diketahui banyak orang karena memang sengaja diposting ke media sosial.

Ya, di media sosial saat ini banyak tulisan. Kita terbiasa menulis. Zaman saya SMP punya buku harian dan sering ditulisi. Itu artinya, menulis seharusnya sudah menjadi kebiasaan yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan kita. Namun, mengapa kita masih juga sulit menuliskan sesuatu yang bermanfaat? Mungkin, karena kita tak terbiasa menyebarkan manfaat. Bisa jadi juga, karena banyak di antara kita yang masih fokus bahwa menulis hanya sekadar melampiaskan kekesalan pribadi, sebagaimana kini bertebaran di media sosial.

Padahal, jika kita menuliskan hal-hal bermanfaat untuk orang lain, dan itu jumlahnya banyak karena seringnya kita menulis, ada kesempatan itu dibukukan. Buku? Ya, setiap orang bisa saja membuat buku. Menulis buku dari kumpulan cerita dan peristiwa yang sudah dituliskannya. Dari 40 lebih buku yang sudah saya tulis, banyak di antaranya adalah bagian dari cerita dan kisah hidup yang pernah saya alami. Pengamatan saya terhadap lingkungan, merekam jejak obrolan dengan kawan, merasakan hari-hari berat dalam sebuah episode kehidupan, menuliskan kembali hasil bacaan dari buku-buku yang saya pelajari, dari hasil diskusi dengan banyak teman. Semua itu bisa dituliskan dan alhamdulillah ada yang kemudian saya bukukan.

Tulisan yang dibukukan akan lebih mudah untuk dinikmati banyak orang. Bukan saja karena terangkum dalam satu bundel, tetapi biasanya buku merupakan jalinan informasi dan opini yang dibuat agar utuh untuk membicarakan atau membahas sebuah tema. Tujuannya, agar pembaca mudah memahami suatu masalah. Di situlah, ilmu yang kita miliki bisa memberi manfaat bagi pembaca.

Maka, saya menyarankan kepada teman-teman, mulailah menulis dan buatlah sebanyak mungkin tulisan yang bermanfaat dan berkualitas baik. Semoa saja, suatu saat bisa dibukukan dan ilmu yang kita tularkan kepada orang lain menjadi bagian dari pahala yang terus mengalir hingga akhir zaman, meski kita sudah tak ada lagi di dunia ini. In sya Allah.

Salam,

O. Solihin

*gambar dari sini