32885-0_663_382

Manusia Saling Membutuhkan

32885-0_663_382Sobat, kita tak pernah sendiri dalam hidup ini. Selalu ada teman-teman dan orang-orang di sekeliling kita. Selalu ada orang lain yang mengingatkan kita di kala kita lupa. Akan ada orang lain yang selalu memberikan pertolongan di saat kita susah. Banyak orang lain yang akan menemani kita dalam hidup ini. Ya, kita tak pernah sendiri. Itu sebabnya, kita saling membutuhkan.

Kita bisa berbagi cerita, kita bisa berkumpul bersama, kita bisa saling mengisi hidup ini dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Keluarga dan teman adalah mereka yang dekat sekali dengan kita. Meski kadang dipisahkan jarak, tapi tak membuat kita kehilangan kontak batin. Komunikasi jalan terus dan hubungan itu tetap terjaga.

Ketika kita berada dalam lingkungan yang asing sekali pun, sejatinya tetap kita tak sendiri. Selama kita berada dalam komunitas manusia. Akan selalu ada uluran tangan dari pihak lain, meski kadang kita nggak saling kenal. Pernah ada seorang pengendara motor yang terjatuh ketika ia tak bisa menaikkan motornya karena kehilangan keseimbangan di sebuah tanjakan kecil di area parkir Masjid Raya Bogor. Serta merta orang-orang di sekitarnya segera menolong tanpa perlu menunggu lama. Ya, kita memang tak sendiri dan akan spontan untuk saling membantu, karena kita memang saling membutuhkan satu sama lain.

Suatu hari di lingkungan tempat tinggal saya dihebohkan oleh kabar tentang sebuah kebakaran. Tentu saja saya sendiri kaget, apalagi beberapa tetangga dari kalangan ibu-ibu ngasih tahu sambil diiringi tangisan. Kontan saja, saya segera menghambur keluar. Benar saja. Begitu saya sampe di TKP, sudah banyak warga lain yang berdatangan dan siap memberikan bantuan. Tanpa pikir panjang kami segera membantu memadamkan api yang berkobar di sebagian bangunan rumah itu.

Perhatian dan kepedulian dari orang lain kepada kita, adalah wujud nyata bahwa kita tak sendiri dalam hidup ini. Ketika ada sebagian dari saudara atau teman kita yang kebetulan berbuat maksiat, pasti akan ada sebagian yang lain mengingatkannya. Jangan dipandang sebagai bentuk kebencian ketika ada orang yang menurut kita sepertinya ‘ikut campur’ urusan kita. Anggap saja sebagai bentuk cintanya kepada kita. Sekaligus kian menegaskan bahwa karena kita tak sendiri dalam hidup ini, maka kita juga harus senantiasa interospeksi dengan apa yang telah kita lakukan. Bagaimana pun juga, yang kita lakukan pasti akan menarik perhatian orang lain di sekeliling kita. Mulai dari yang sekadar ingin tahu sampe mereka yang ingin menolong mengingatkan kita.

Dalam hidup ini kita selalu membutuhkan orang lain di sekitar kita. Sekecil apapun kontribusi mereka, adalah sebuah anugerah yang sangat bernilai bagi hidup kita. Bayangkan jika di dunia ini kita hidup masing-masing tanpa mengenal aturan bermasyarakat. Masing-masing individunya cuek semua. Kayaknya seperti tinggal di kota mati deh (atau malah di hutan sendirian?). Mengerikan bukan?

Beruntung sebagai seorang muslim, kita diajarkan oleh Allah Swt. dan RasulNya untuk senantiasa saling mengingatkan dengan saudara yang lain. Firman Allah Swt., “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS al-‘Ashr [103]: 1-3)

Jelas, ayat ini mengajarkan kita untuk saling menasihati dengan sesama. Ini menunjukkan bahwa kita tak sendiri dalam hidup ini. Semoga keimanan dan amal sholeh kita dihiasi juga dengan memberikan perhatian berupa nasihat kepada orang lain. Sekali lagi, ini karena kita memang tak sendiri dalam hidup ini. Dan, perlu diingat, bahwa orang lain adalah ibarat cermin bagi kita. Mereka akan merespon setiap perilaku kita. Ibarat cermin, maka orang di sekitar kita akan memberikan tanggapan kepada kita begitu kita menampilkan aksi di depan mereka.

Jika kita berbuat salah, mereka akan mengingatkan kita dan berusaha membenarkan kelakuan kita. Karena sangat boleh jadi saat itu kita memang sedang lupa bin khilaf. Bayangin deh kalo nggak ada orang lain yang merespon tingkah kita, mungkin kita kebablasan. Sama seperti halnya ketika kita nggak pernah bercermin, kita nggak tahu wajah kita penuh jerawat apa nggak, kumis kita udah tumbuh nggak beraturan pun kita nggak tahu, letak kerudung yang kurang bagus juga nggak bakalan tahu, termasuk apakah wajah kita ganteng or cantik nggak ketahuan. Iya kan?

Kita cuek aja jalan. Parahnya, begitu kita bercermin, ternyata ketika cermin menampilkan buruk muka kita, malah cemin yang dibanting dan dihancurkan. Aneh kan? Sama halnya dengan orang yang biasa maksiat terus diingetin, malah yang ngingetin kena sasaran marahnya. Atau, bisa juga ada orang yang udah diingatkan tentang kekeliruannya dalam membuat keputusan, malah orang yang ngingetin yang kena semprot, padahal ia telah gagal karena kesalahannya sendiri. Sama juga seperti kita pas ujian gagal malah menyalahkan soalnya yang sulit, padahal kitanya aja yang nggak pernah belajar. Ih, malu dong!

Salam,
O. Solihin
Ingin berkomunikasi dengan saya? Silakan via Twitter di @osolihin

*Gambar dari sini