Blog “Episode Baru”

Di blog ‘episode baru’ ini, Anda bisa menikmati weblog saya lagi. Isinya lebih simpel dan fokus ketimbang blog ini. Kalo mau berkunjung, silakan saja klik gambar di bawah ini:

Blog saya di "episode baru". Silakan kunjungi dan dapatkan nuansa yang berbeda dari beragam informasi yang dihadirkan di dalamnya


Roger Hadden: Trinitas Membawaku Memeluk Islam

Roger Hadden | Foto: www.republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Roger Hadden adalah seorang dokter gigi berasal dari Dungannon, Irlandia Utara. Ia membuka praktek dokter giginya di Inggris. Namun, ia telah lama tinggal di Skotlandia.

Hadden dibesarkan dari keluarga Kristen, dan ia adalah telah memutuskan menjadi Kristen sejak lahir. Meskipun dibesarkan dengan ajaran Alkitab, namun ia tidak terlalu mengikuti prinsip-prinsip yang diajarkan.

Hadden layaknya pemuda Inggris kebanyakan, sangat suka bersenang-senang tanpa mengenal batas. Ketika remaja ia mengaku tidak menjalankan agama apa pun, termasuk Kristen. “Saya selalu percaya bahwa Tuhan itu ada,” ujarnya.

Ia meyakini alam semesta ada penciptanya dan manusia tidak bisa menciptakan dirinya sendiri. Ketika terus berusaha berpikir tentang Tuhan dari waktu ke waktu, Hadden selalu terganjal dalam keyakinannya.

Ketika melanjutkan studi ke jenjang universitas, ia bertemu banyak Muslim. Pada saat itu ia dan teman-teman Muslimnya terus bergulat dalam diskusi yang membahas tentang keyakinan. Hadden sangat menikmati diskusi-diskusi tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu, Hadden ingin bersikeras memperdalam keagamaannya dan keyakinan Kristennya.

Ketika memasuki tahun terakhir kuliahnya di universitas, Hadden membuat rencana untuk mereformasi keyakinannya dan menjadi seperti orang tuanya dulu; Kristen taat. Dan ia memutuskan untuk memulai memahami bacaan Alkitab.

Ia memulainya dengan memantapkan konsep Trinitas, yang selalu mengganggu pikirannya. Karena pada waktu itu pemahaman agama Kristennya masih awam, kadang ia cukup bingung untuk berdoa. “Apakah doa saya akan ditujukan kepada Tuhan Bapa atau Yesus,” ujarnya. Continue reading


Sekolah Yes! Ngaji (juga) Yes!

gaulislam edisi 222/tahun ke-5 (29 Shafar 1433 H/ 23 Januari 2012)

Ada provokasi yang nggak bertanggung jawab bahwa kalo aktif ngaji katanya prestasi sekolah bisa jeblok. Ah, masak sih? Tapi faktanya, justru banyak yang ngajinya oke, sekolahnya juga oke tuh. Nggak percaya? Silakan saja survei sendiri (hehehe). Ketika saya sekolah lanjutan atas di sebuah sekolah kejuruan, pada akhir tahun 80-an hingga awal 90-an, di sekolah memang marak banget aktivitas pengajian. Tetapi alhamdulillah, banyak kawan-kawan saya dan juga adik kelas yang saya berprestasi juga di sekolahnya kok. Bahkan ada di antara mereka yang selalu dapet 10 besar di kelasnya dan ada pula yang malah jadi bintang pelajar. Keren kan?

Kalo saya sendiri? Alhamdulillah ya, bisa ngikutin pelajaran meski prestasinya sih nggak bagus-bagus amat (ini bukan ngeles, tapi kenyataan hehehe..). Tetapi yang pasti di sekolah saya bisa ngikutin pelajaran, ngaji juga insya Allah rajin sehingga alhamdulillah bisa menuliskan pengetahuan yang saya pahami dari ngaji ke dalam tulisan-tulisan saya. Beberapa di antaranya berhasil dibukukan (maaf numpang promo, silakan kunjungi blog saya di: www.osolihin.net). Makanya, dulu banyak pembaca buku-buku saya herman, eh, heran, karena sebagai lulusan sekolah kejuruan kimia malah nulis buku seputar remaja dan keislaman. Menurut pendapat mereka, nggak nyambung. Walah! Belum tahu mereka, kalo banyak juga di penerbitan media massa dan juga para penulis lainnya (khususnya yang menulis seputar keislaman) justru bukan alumnus dari bidang pelajaran yang dekat dengan menulis seperti bahasa dan agama, tetapi dari lulusan teknik, mipa, dan bahkan kedokteran. Ini membuktikan bahwa Islam tidak melakukan dikotomi terhadap ilmu. Ilmu umum oke, ilmu agama juga good! Hebat kan? Ciee.. bukan membela diri, tapi fakta banyak membuktikan itu. Hehehe..

Bro en Sis, ngomong-ngomong soal sekolah dan pengajian, jujur saya seneng banget ngeliat maraknya pengajian di sekolah umum. Maklum, udah kadung banyak orang ngasih label kalo sekolah umum tuh identik banget dengan mereka yang kayaknya rada-rada menomorduakan aktivitas nyari ilmu agama ini. Sebab, biasanya di sekolah umum siswanya lebih fokus dengan pelajaran yang umum juga. Tapi sekarang, harap disingkirkan anggapan itu dari direktori di pikiranmu. Terus di kotak ‘recyle bin’ di otakmu di-empty pula. Biar bener-bener ilang! Kenapa? Bejibun kegiatan dan simbol-simbol Islam sekarang mencolok banget di sekolah-sekolah umum! Alhamdulillah. Semoga nanti tambah semarak. Continue reading


Sharing Penulisan: “Mengubah Ide Jadi Tulisan”

Assalaamu’alaikum wr wb

Bagi teman-teman yang ingin sharing seputar penulisan bersama saya, insya Allah akan diadakan pada Sabtu, 28 Januari 2012. Mulai pukul 20.00 hingga 22.00 WIB melalui fasilitas chat Yahoo! Messenger dengan model conference. GRATIS! Ini memungkinkan untuk bisa dihadiri lebih banyak orang.

Jika mau, konfirmasi kehadiran bisa dimulai sejak diumumkannya acara ini di blog, twitter maupun facebook saya hingga 1 jam menjelang acara pada 28 Januari 2012, pukul 20.00 WIB. Jadi, silakan dari sekarang kirim ID YM Anda via email: sholihin@mail.ru. Atau mau via SMS juga boleh (ke: 0817-9949470). Insya Allah akan saya invite untuk masuk ke Conference di Yahoo! Messenger. **Bagi yang sudah mendaftar pada sharing penulisan sebelumnya, otomatis akan diundang.

Semoga bermanfaat.

Salam,

O. Solihin


Mengapa bingung menuliskan kalimat pertama?

Saya hampir selalu ditanya oleh murid-murid saya di kelas menulis kreatif  di beberapa lembaga (atau peserta kursus menulis online), dengan pertanyaan yang sama, “Saya bingung menulis kalimat pertama dalam tulisan, gimana caranya Pak?”

Meski tidak selalu menjawab dengan lafadz yang sama, tetapi inti dari solusi saya adalah sama: “Menulis kata pertama atau kalimat pertama boleh sembarang. Sesuka kita, selama masih nyambung dengan judul dan tentu saja isi tulisannya. Bebas saja tuliskan. Mau dimulai dari sapaan silakan, boleh dimulai dari kutipan seseorang atau kata permintaan dan kata tanya, tak dilarang juga jika dimulai dengan kalimat pertama dalam tulisan dengan cerita yang pernah kita alami. Bebas. Sebagaimana halnya ketika kita mau keluar rumah. Mau lewat pintu depan, mau via pintu samping atau pintu belakang, boleh juga melalui jendela kamar jika mau. Semuanya boleh. Silakan. Tak ada yang melarang. Intinya adalah keluar rumah. Begitu pun dengan menulis. Mulai dari kalimat pertama dari jalur mana saja, intinya adalah menulis “

Pernah saya diketawain seorang murid saya sambil guyon, “dasar penulis bisa saja ngasih ilustrasi” Saya hanya tersenyum. Hmm… sebab memang menulis kata pertama sebenarnya tak ada aturan baku. Maka saya mengilustrasikan sebagaimana orang mau keluar rumah. Umumnya kan bebas. Wong dari rumahnya sendiri. Tanpa beban. Begitulah menulis, tulis dengan kalimat pertama apa pun selama itu nyambung. Tak perlu terbebani dengan perasaan khawatir salah atau kurang bagus. Ringan saja, sebagaimana mau keluar rumah. Hehehe…

Ya, menulis kata pertama dalam sebuah tulisan seringkali menjadi beban bagi para penulis pemula. Saya juga dahulu mengalami hal serupa. Macet di awal tulisan. Sibuk memikirkan kata pertama yang bagus dan enak dibaca. Pikiran kita hanya berputar-putar di situ. Tetapi karena jarang membaca, jarang membaca tulisan orang lain, dan tentu saja jarang melatih menulis, maka energi yang dihasilkan untuk berpikir tampak sia-sia karena tak jua mendapatkan si “kalimat pertama itu”.

Dari ilustrasi dalam jawaban saya di atas, bisa dipetakan contohnya sebagai berikut: Continue reading


Viacheslav Polosin, Pastor yang Memeluk Islam

Viacheslav Polosin | Foto: www.republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Viacheslav Polosin adalah seorang pastor yang masuk dalam jajaran pejabat tinggi di Gereja Ortodoks Rusia.

Pria kelahiran Moskow, 26 Juni 1956 ini, mulai bekerja untuk Gereja Ortodoks pada 1980 sebagai seorang “Reader” (bertanggungjawab membacakan kutipan-kutipan kitab suci dalam peribadatan).

Lulus dari Universitas Moskow, Fakultas Filsafat, Jurusan Sosiologi pada 1978, ia kemudian belajar teologi di sebuah seminari di Moskow. Lulus dari sana pada 1983, Polosin ditunjuk sebagai diaken (mengerjakan tugas-tugas pelayananan gereja), dan kemudian diangkat menjadi pastor.

Polosin bertugas menjadi pastor di sejumlah paroki di kawasan Asia Tengah sampai tahun 1985. Ia pernah menjadi kepala gereja di Kota Dushanbe, tapi kemudian dideportasi dari wilayah itu oleh otoritas pemerintahan Soviet karena dinilai membangkang pemerintahan komunis Soviet. Ia lalu bekerja sebagai penerjemah paruh waktu di Departemen Penerbitan Kantor Keuskupan di Moskow.

Juni 1988, ketika penindasan terhadap agama oleh pemerintah Soviet mulai reda, Polosin kembali menjadi pendeta di sebuah gereja baru yang nyaris roboh di kota Obninsk, wilayah Kaluzhsky. Ia menjalankan tugasnya sebagai pendeta hingga dipromosikan menjadi imam agung pada 1990. Continue reading


Amr bin Ash, Sang Pembebas Mesir

Ada tiga orang pemuka Quraisy yang sangat menyusahkan Rasulullah SAW disebabkan sengitnya perlawanan mereka terhadap dawah beliau dan siksaan mereka terhadap sahabatnya.

Oleh sebab itu, Rasulullah SAW selalu berdoa dan memohon kepada Allah agar menurunkan azabnya pada mereka. Tiba-tiba, tatkala beliau berdoa dan memohon, turunlah firman Allah: “Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.” (QS Ali Imran: 128)

Rasulullah SAW memahami bahwa maksud ayat itu ialah menyuruhnya agar menghentikan doa permohonan azab dan menyerahkan urusan mereka kepada Allah semata. Kemungkinan, mereka tetap berada dalam keaniayaan hingga akan menerima azab-Nya. Atau mereka bertaubat dan Allah menerima taubat mereka hingga akan memperoleh rahmat karunia-Nya.

Amr bin Ash adalah salah satu dari ketiga orang tersebut. Allah memilihkan bagi mereka jalan untuk bertaubat dan menerima rahmat, maka ditunjuki-Nya mereka jalan untuk menganut Islam. Dan Amr bin Ash pun beralih rupa menjadi seorang Muslim pejuang, dan salah seorang panglima yang gagah berani.

Para ahli sejarah biasa menggelari Amr bin Ash sebagai “Penakluk Mesir”. Namun gelar ini tidaklah tepat, yang paling tepat untuk Amr adalah “Pembebas Mesir”. Islam membuka negeri itu bukanlah menurut pengertian yang lazim digunakan di masa modern ini, tetapi maksudnya ialah membebaskannya dari cengkraman dua kerajaan besar yang menjajah negeri ini serta rakyatnya dari perbudakan dan penindasan yang dahsyat, yaitu imperium Persi dan Romawi.

Mesir sendiri, ketika pasukan perintis tentara Islam memasuki wilayahnya, merupakan jajahan dari Romawi, sementara perjuangan penduduk untuk menentangnya tidak membuahkan hasil apa-apa. Maka tatkala dari tapal batas kerajaan-kerajaan itu bergema suara takbir dari pasukan-pasukan yang beriman: “Allahu Akbar, Allahu Akbar“, mereka pun dengan berduyun-duyun segera menuju fajar yang baru terbit itu lalu memeluk Agama Islam yang dengannya mereka menemukan kebebasan mereka dari kekuasaan kisra maupun kaisar.

Jika demikian halnya, Amr bin Ash bersama anak buahnya tidaklah menaklukkan Mesir. Mereka hanyalah merintis serta membuka jalan bagi Mesir agar dapat mencapai tujuannya dengan kebenaran dan mengikat norma dan peraturan-peraturannya dengan keadilan, serta menempatkan diri dan hakikatnya dalam cahaya kalimat-kalimat Ilahi dan dalam prinsip-prinsip Islami.

Amr bin Ash tidaklah termasuk angkatan pertama yang masuk Islam. Ia baru masuk Islam bersama Khalid bin Walid tidak lama sebelum dibebaskannya kota Makkah. Continue reading


Pacaran Itu Nafsu, Bukan Cinta!

gaulislam edisi 221/tahun ke-5 (22 Shafar 1433 H/ 16 Januari 2012)

Waduh, tema pacaran lagi dah. Hehehe.. nggak apa-apa lah. Kan banyak juga yang belum tahu. Bagi kamu yang udah tahu jangan bosen. Saya aja nulisnya ampir bosan. Cuma gimana lagi, dakwah memang begitu. Kita seringkali menyangka bahwa apa yang sudah kita sampaikan secara sering akan mudah dipahami orang. Ternyata nggak. Ada yang memang belum pernah baca, ada yang baru tahu dan belum paham. Banyak alasan. Tetapi yang pasti, pembaca gaulislam setiap pekannya bertambah dan banyak yang baru tahu. Selain itu, karena tak semua bisa mengakses website maka edisi cetak ini jadi andalan mereka untuk mendapatkan informasi. Tak mengapa, yang penting ada beda rasanya dalam setiap edisi yang membahas tema sejenis. Tul nggak?

Oya, mungkin kamu kaget ya dikatain bahwa pacaran itu nafsu, bukan cinta. Padahal, kalo makan saja nggak nafsu kan jadinya nggak enak makan. Hehehe… beda persoalan, Bro en Sis. Ini soal cinta dan nafsu jelas berbeda. Nafsu umumnya cenderung membuat orang ingin melakukan sesukanya, sementara cinta masih berpikir apakah yang dilakukannya benar atau salah menurut aturan yang berlaku, khususnya ajaran agama kita, Islam. Nah, edisi kita kita bakal bahas seputar cinta, nafsu, dan juga pacaran. Yuk ah, tancap gas!

Saat jatuh cinta
Ada sebuah puisi yang pernah diposting seorang anggota milis, jaman saya mengelola milis Majalah Permata antara tahun 2001 hingga 2004. Ini ada penggalan puisinya yang dikirim Astari Sekar Ayu:

Rabbi…/ Aku punya pinta/ Bila suatu saat aku jatuh cinta/ Penuhilah hatiku dengan bilangan cintaMu/ yang tak terbatas/ Biar rasaku padaMu tetap utuh
Pernah jatuh cinta? Bagaimana rasanya? Pasti senang dong ya. Enak aja bawaannya. Hidup berasa nikmat banget. Rasanya nggak mantep kalo nggak cerita kepada teman-teman kalo kita sedang jatuh cinta. Biar teman-teman juga merasakan apa yang sedang kita rasakan. Bila perlu, kita cerita kepada siapa saja tentang orang yang sedang kita cintai meski orang yang kita cintai itu tak tahu bahwa dia sedang kita cintai. Kita begitu percaya diri dan mulai mencari cara untuk mendekatinya. Continue reading


Yakin Agama Bukan Materi, Paul Martin Bersyahadat di Toko Es Krim

Paul Martin | Foto: www.republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, LEEDS – Lelaki Inggris itu masih seorang mahasiswa ketika ia memutuskan beralih memeluk Islam empat tahun lalu. Tempatnya bersyahadat pun tak biasa yakni di toko es krim di kota Manchester.

Paul Martin, 27 tahun, bosan menyaksikan gaya hidup hedonis dari banyak teman-temannya di universitas. Alih-alih ia tertarik dengan aktivitas mencari ilmu dan pengetahuan, kegiatan yang ia sebut titik utama Islam.

Perjumpaannya dengan seorang Muslim yang lebih tua lantas mengubah hidupnya.

“Saya suka cara para pelajar Muslim membawakan diri mereka. Sangat indah untuk berpikir bahwa ada orang yang hanya memiliki satu pasangan dan bersetia selama hidupnya dan tidak melakukan perbuatan yang bisa menyakiti tubuh,” ungkapnya.

Paul mengaku lebih menyukai gaya hidup Islami dan ia pun mencoba mengkaji Alquran. “Saya kagum melihat keutaman dalam Islam ternyata pada ilmu,” ungkapnya lagi.

Seorang teman Muslimnya kemudian mengenalkan Paul dengan seorang dokter Muslim yang beberapa tahun lebih tua. “Kami pergi dan berbincang di kedai kopi. Beberapa pekan kemudian kami mampir ke restoran es krim dan di sanalah saya mengutarakan keinginan menjadi Muslim,” tuturnya.

Dalam toko es krim itu pula dituntun si dokter dan disaksikan dua temannya, Paul mengucapkan syahadat. “Saya tahu beberapa orang ingin melakukan dengan formal di dalam masjid, tapi saya berpikir agama bukanlah materi, melainkan apa yang ada dalam hatimu,” ungkapnya.

Paul mengaku tak pernah ke masjid sebelum menjadi Muslim. Pasalnya, kadang ia merasa terintimidasi. ‘Maksudnya, saya selalu berpikir tidak masuk kriteria seorang Muslim. Namun tak ada yang tak mungkin, anda bisa menjadi Muslim Inggris dan tetap mengenakan celana jins, kaos, kemeja, juga jaket,” ungkapnya. Kini, imbuhnya, di masjid yang kerap ia sambangi di Leeds, banyak bahasa diucapkan dan juga banyak jamaah mualaf dari berbagai kebangsaan.

Saat memeluk Islam, Paul mengakui tak serta merta memberi tahu keluarnganya. “Saya tak bisa sekedar pulang lalu berkata saya sudah jadi Muslim. Ada proses bertahap,” tuturnya.

Ia pun mengalami proses panjang sebelum beralih menjadi Muslim ketika ia mulai tak menyantap babi dan tidak menenggak alkohol lagi. “Tapi kami masih menggelar makan malam bersama di Hari Ahad, namun hanya menyediakan kambing, itu pun halal.” tutur Paul.

“Terus terang jika dulu ada seorang teman di kampus berkata, ‘Kamu akan menjadi Muslim,’ saat itu saya tidak akan mempercayainya meski berjuta tahun lamanya. Itu lompatan tak terbayangkan dan berlebihan,” ujarnya. “Namun kini, siapa yang bisa menduga dan saya baru saja kembali dari menunaikan ibadah Haji.” [republika]


Kepada Para Aktivis Dakwah

gaulislam edisi 220/tahun ke-5 (15 Shafar 1433 H/ 9 Januari 2012)

Ba’da salam dan tahmid. Bro en Sis yang insya Allah dimuliakan Dzat yang Mahamulia, saya berharap semoga kalian semua berada dalam lindungan Allah Ta’ala. Senantiasa bersyukur dan bersabar atas segala yang telah diberikanNya kepada kita. Kita yang lemah dan tak berdaya, meski hanya untuk mengatur detak jantung dan hembusan nafas ini. Semoga kita menjadi hambaNya yang pandai ‘mencuri’ perhatianNya dan menjadi kekasihNya.

Kita berharap agar apa yang kita lakukan dalam keseharian kita senantiasa sesuai dengan petunjukNya dan petunjuk RasulNya. Berserah diri dengan segala ketentuanNya dan menjadi pejuang untuk membela agamaNya.
Sobat muda muslim pembaca setia gaulislam, Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad [47]: 7)
Semoga ayat ini selalu mengingatkan kita semua bahwa perjuangan kita dalam menegakkan syariat Islam dan meninggikan agama Allah ini, bukanlah kesia-siaan. Semoga ayat ini tertanam kuat dalam hati dan pikiran kita, agar perjuangan dakwah Islam ini senantiasa menjadi tujuan utama dalam kehidupan kita. Sekaligus menghibur kita bahwa apa yang kita lakukan menjadi bagian dari amalan yang akan memberatkan hitungan amal baik kita di akhirat nanti. Menjadi sarana untuk mengantarkan kita ke surgaNya. Insya Allah. Continue reading


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 874 other followers