image681611x_thumb11

Menjadi Kekasih Allah Ta’ala


  gaulislamedisi 251/tahun ke-5 (25 Ramadhan 1433 H/ 13 Agustus 2012)

 

Bulan Ramadhan (saat buletin ini terbit pada 13 Agustus 2012—bertepatan dengan 25 Ramadhan 1433 H) adalah kesempatan bagi kaum muslimin untuk berburu pahala berharap ‘perhatian’ dan ridho Allah Swt. Tentu agar amalan yang kita semai berbuah takwa. Nggak semata kita melakukan perbuatan baik, tetapi juga mengharap agar perbuatan baik tersebut menjadikan kita kian takwa. Insya Allah.

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, seorang tetangga pernah bilang kalo anaknya itu penurut, rajin, cinta dan berbakti kepada ortunya sepenuh hati. Sang tetangga tersebut karuan aja seneng bukan kepalang. Karena memang nikmat banget dicintai, dihargai, dan dihormati itu. Iya nggak?

Nah, apalagi Allah. Kalo ortu kita bisa cemburu gara-gara kita lebih percaya dan mengikuti pendapat orang lain, Allah tentunya lebih ‘cemburu’ lagi kalo kita nggak mau mengamalkan syariatNya. Rasulullah saw. bersabda: “Wahai umat Muhammad. Demi Allah saat hamba laki-laki berzina, dan saat hamba perempuan berzina, tidak ada yang lebih cemburu daripada Allah…” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam kisah yang sering kita dengar dan baca, Nabi Ibrahim begitu mencintai putranya. Luapan cinta yang tak tertahankan kepada putranya yang setelah puluhan tahun didambakannya. Ismail menjadi muara kehidupan bagi Nabi Ibrahim. Namun, Allah menguji cintanya dengan menurunkan perintah untuk mengurbankan anaknya. Aduh, orang tua mana yang hatinya nggak remuk kalo perintahnya seperti ini. Tapi, Nabi Ibrahim berhasil lulus ujian tersebut. Terbukti ia lebih mencintai Allah dengan menjalankan perintahNya ketimbang mencintai anak dan keluarganya. Nabi Ibrahim ikhlas melakukannya. Subhanallah.

Cinta kepada Allah itu mutlak, tiada sekutu bagiNya. FirmanNya: “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia” (QS ali Imaran [3]: 18)

Bahkan Allah memberi cap kafir kepada orang-orang yang menolak untuk menyembahNya. Allah berfirman: “Katakanlah: ‘Ta`atilah Allah dan RasulNya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir’.” (QS Ali Imran [3]: 32)

Menjadi kekasih itu butuh pengorbanan. Tentu, agar cinta yang kita berikan kepada kekasih kita bermakna. Itu sebabnya, mencintai Allah pun memerlukan pengorbanan. Seorang tokoh sufi bernama Bayazid Bustami mengatakan: “Cinta adalah melepaskan apa yang dimiliki seseorang kepada Kekasih (Allah) meskipun ia besar; dan menganggap besar apa yang diperoleh kekasih, meskipun itu sedikit.”.

Itu sebabnya, jangan heran kalo Rasulullah saw. berani menolak permintaan para gembong kafir Quraisy untuk menghentikan dakwahnya. Dengan kobaran cintanya yang menyala-nyala pada Allah Swt., Nabi Muhammad saw. mengatakan kepada pamannya: “Wahai pamanku, demi Allah seandainya matahari mereka letakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku supaya aku berhenti meninggalkan tugasku ini, maka aku tidak mungkin meninggalkannya sampai agama Allah menang atau aku yang binasa”. Duh, hebat banget semangatnya.

Selain berkorban, mereka yang mencintai Allah selalu bersyukur dan menerima terhadap apa-apa yang diberikan Allah. Bahkan ia akan selalu ridha terhadap Allah walaupun cobaan berat menimpanya.

Bro en Sis, jujur saja, kalo kita sedang jatuh cinta, menyebut namanya saja ada gejolak hebat di hati kita. Maka, jika Allah kita cintai, rasanya pantas jika kita pun bergetar menyebut namaNya. Firman Allah Swt.: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal,” (QS al-Anfaal [8]: 2)

Sobat muda muslim, yuk kita cintai Allah dengan sepenuh hati. Tunjukkan cinta kita kepadaNya dengan mentaati seluruh syariatNya. Amalkan perintahNya, jauhi laranganNya. Insya Allah kita bisa kok. Yakin sajalah.

Karena apa? Karena kita udah bisa membandingkan dengan fenomena kecintaan manusia kepada maklukNya. Begitu dahsyat, begitu mengagumkan rasa cinta yang tumbuh di antara makluk Allah. Mungkin kita udah dengar dan baca gimana hebatnya rasa cinta yang bersemayam di dada Qais dan Laila, atau dalam kisah Aladdin dan Putri Jasmine, juga dalam cerita Romeo and Juliet atau Rojali dan Juleha (Romeo and Juliet versi Indonesia), dan jangan lupa, dengan hebatnya rasa cinta di dada kita masing-masing kepada lawan jenis kita. Rasa cinta yang telah menggerakkan kita untuk ikhlas berkorban apa saja demi mendapatkan perhatian dan cintanya untuk kita. Betul?

Nah, dengan kenyataan seperti ini saja, rasa cinta di antara kita kepada lawan jenis kita itu belum ada ‘sekukunya’ cinta Allah Swt. kepada makhlukNya. Belum. Cinta Allah Ta’ala jauh lebih besar kepada kita. Itu sebabnya, kita yang seharusnya berusaha untuk tampil lebih sempurna di hadapan Allah untuk dinilai sebagai kekasihNya. Bukankah dengan lawan jenis juga kita sering begitu?

 

‘Mencuri’ perhatian Allah Ta’ala

Guys, untuk ‘mencuri’ perhatian Allah insya Allah nggak sulit. Karena Allah sudah memberikan segalanya buat kita, termasuk jalan hidayah untuk menyembahNya. Itu sebabnya, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah, dalam kitab Miftahu Daarissa’aadah, diterjemahkan dengan judul: Kunci Kebahagiaan. Hlm 87, menjelaskan bahwa mengikuti petunjuk Allah Swt. adalah membenarkan pemberitahuanNya tanpa menampakkan keraguan yang merusak pembenaran itu, serta melaksanakan perintahNya tanpa adanya hawa nafsu yang menjadi penghalang. Kedua hal ini merupakan inti keimanan, yaitu pembenaran berita dan ketaatan terhadap perintah. Kemudian kedua hal tersebut diikuti dua perkara. Yaitu meniadakan keraguan yang menghalangi dan mengotori kesempurnaan itu, serta menolak hawa nafsu yang menyesatkan dan menggoda yang menghalangi kesempurnaan pelaksanaan syariatNya.

Lebih lanjut Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa mengikuti petunjuk Allah Swt. mengandung empat perkara: Pertama, membenarkan pemberitahuanNya. Kedua, berusaha sekuat tenaga untuk menolak dan melawan segala keraguan yang dibisikkan setan-setan dari jenis jin dan manusia. Ketiga, menaati perintahNya. Keempat, melawan hawa nafsu yang menghalangi seorang hamba dalam menyempurnakan ketaatan.

Sekarang coba kita bandingkan dengan urusan cinta kita kepada lawan jenis kita berdasarkan empat perkara ini. Jika kita cinta kepada lawan jenis kita, nyaris segala sesuatu tentang dia atau yang berasal dari dia, kemungkinan besar kita akan membenarkannya. Meski berita yang santer dari orang-orang dengan infopnya yang cenderung ingin merusak hubungan cinta kita dengan kekasih kita, kita tetap cuma percaya kepada kekasih kita. Mungkin dengar juga kabarnya, tapi hati kecil kita tetep nggak rela jika kekasih kita dijelek-jelekkin. Nah, apalagi jika yang menjadi kekasih kita adalah Allah. Tul nggak?

Kemudian tentang menolak dan melawan keraguan. Ketika kita sudah mendapatkan kekasih hati, sebisa mungkin kita akan bertahan di satu hati (umumnya kan gitu, kecuali kalo yang udah nikah kali yee, khususnya laki-laki, karena ia boleh poligami, ehm..). Kita akan menolak segala provokasi pihak ketiga tentang hubungan kita dengan kekasih kita. Bahkan kita akan melawan setiap ada upaya yang akan membuat kita ragu kepada kekasih kita. Nah, apalagi jika kekasih kita adalah Allah.

Oya, soal menaati perintah mungkin kalo urusannya dengan lawan jenis bisa diterjemahkan dengan bahasa “keinginan”. Yup, karena kita ingin tampil sempurna di hadapan kekasih kita, maka kita akan benar-benar total untuk memberikan segalanya, termasuk memenuhi keinginannya. Iya kan? Orang kata kekasih kita minta dibeliin baju pun kita penuhi, meski untuk membelinya kita rela minjem duit ke teman kita. Karena apa? Karena cintanya kita kepadanya. Nah, apalagi jika yang kita cintai adalah Allah Swt. Iya kan?

Nah, termasuk soal hawa nafsu yang bisa menghalangi ketaatan kita kepada kekasih kita. Kita ngerasa banget kok kalo kita tuh suka ada aja halangan-halangan yang bisa menggerus ketataan atau dalam bahasa kita untuk urusan hubungan dengan lawan jenis ini kita terjemahkan dengan istilah “kesetiaan”. Karena nyadar soal itu, maka meski banyak halangan yang akan merampas kesetiaan kita kepada kekasih kita, kita akan berusaha sebisa mungkin untuk setia. Misalnya aja, kekasih kita minta kita ketemuan di suatu tempat, sementara waktu yang diminta itu bentrok dengan jadwal lain yang udah kita buat, eh, seringkali kita harus menggeser jadwal kita itu demi nunjukkin kesetiaan kepada kekasih kita. Tuh, hebat bener ya? Kita pikir, apalagi kesetiaan (baca: ketaatan) kepada Allah Swt. tentunya akan lebih besar lagi kita tunjukkan. Karena apa? Karena Allah sudah begitu besar cintaNya kepada kita. Oke?

Sobat muda muslim, semoga tulisan ini menjadikan kita tambah wawasan, atau paling nggak sekadar mengingatkan lagi akan pentingnya keimanan dan kecintaan kepada Allah Swt. Jadi, mulai sekarang kita tekadkan dalam hati untuk: “tidak akan pernah berhenti mencintaiNya”. [solihin | Twitter: @osolihin | Blog: http://www.osolihin.net]

Satu pemikiran pada “Menjadi Kekasih Allah Ta’ala

Kantunkeun Balesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s